Browsed by
Month: May 2015

Rabu, 20 Mei 2015

Rabu, 20 Mei 2015

 

 

Injil Yohanes hendak menegaskan bahwa dunia ini dikuasai oleh kegelapan. Yesus berdoa agar para murid menjadi kuat dalam memegang kepercayaan dan penyerahan diri mereka kepada Yesus kristus. Yesus berdoa antara lain dengan kata-kata, “Aku tidak meminta supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat. … Kuduskanlah mereka dalam kebenaran;… ”

Dalam masa menjelang perayaan Pentakosta ini marilah kita memohon diturunkannya karunia pengudusan atau kesalehan kepada kita. Karunia kesalehan adalah karunia Roh Kudus yang membuat hubungan kita dengan Allah seperti hubungan Yesus dengan Allah Bapa. Di dalamnya terdapat hubungan kasih persaudaraan dan persatuan yang tak terpisahkan. Karunia kesalehan atau pengudusan ini akan menggabungkan kita ke dalam keluarga para Kudus. Hal ini akan membuat kita semakin menghormati Bunda Maria, para Malaikat, para Kudus, ajaran gereja dan pemimpin gereja. Karunia ini akan semakin membawa kita mencintai Kitab Suci dan bermurah hati pada sesama yang membutuhkan bantuan. Kita akan dengan gembira saling menopang, membantu dan solider dengan yang menderita.

Keluarga-keluarga dewasa ini sangat membutuhkan karunia kesalehan ini. Tidak sedikit keluarga terjebak dan menjadi kurban perkembangan ekonomi dunia yang memaksa mereka untuk lebih banyak memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari khususnya membayar tagihan-tagihan seperti telepon, listrik, asuransi, bensin, maintenance bangunan, dan seterusnya.

Keluarga-keluraga bukannya tidak punya hati lagi pada Tuhan, namun kelelahan fisik setiap hari membuat mereka ketika pulang sampai di rumah sudah tidak ada cukup tenaga untuk saling menopang dan membantu lagi melainkan sering malah muncul rasa kesal, marah dan kecewa tanpa sebab. Dalam keadaan seperti ini tidaklah mengherankan kalau hasrat untuk berdoa memohon pengudusan menjadi tertimbun oleh kekuatiran dan kekecewaan yang sebenarnya tidak perlu.

Bagaimana kita menghadapi dan menghidupi hidup kita dalam atmosfer dunia seperti ini? Kita perlu belajar dari para kudus yang dalam keadaan apapun mereka tidak kehilangan iman dan doa. Bahkan

seperti Santa Katarina dari Alexandria seorang martir dari abad ke tiga yang sebelum di bunuh oleh tentara Romawi dengan dijepitkan di antara dua roda yang dipasangi anak-anak panah, ia menyempatkan dirinya untuk mengajar agama pada para penjaga penjara sehingga ada dari antara para penjaga itu bertobat dan menjadi percaya pada Kristus, penyelamat dunia.

Selasa, 19 Mei 2015

Selasa, 19 Mei 2015

 

Salah satu keprihatinan dalam mempersiapkan pasangan calon pernikahan katolik adalah semakin banyaknya kawin beda agama dan beda gereja. Memang harus diakui bahwa penganut agama Katolik adalah minoritas, sehingga tidak sedikit orang Katolik yang mengalami kesulitan mencari pasangan seiman. Keprihatinan itu semakin diperparah dengan kenyataan bahwa seringkali setelah pernikahan dengan dispensasi beda agama atau gereja ternyata pihak Katolik tidak berusaha dengan gigih mempertahankan iman dan janji perkawinan untuk membaptiskan dan mendidik anak-anak mereka dalam gereja dan ajaran Katolik. Pihak Katolik memiliki toleransi yang terlalu besar kepada agama pasangannya sehingga mengorbankan penghayatan dan pewujudan iman pihak Katolik.

Petikan Injil hari ini menggugah pemikiran kita akan kebenaran Sabda Yesus, “… AnakMu akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepadaNya. Inilah hidup kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus

yang telah Engkau utus.” Dalam masa mempersiapkan kedatangan Roh Kudus ini, marilah kita mohon turunnya karunia pengertian, yang memungkinkan kita untuk mengerti kedalaman misteri iman. Karunia ini sangat penting kita miliki agar kita mengerti sungguh-sunguh apa yang sebenarnya diajarkan oleh Yesus Kristus dan misteri iman seperti apakah yang harus kita percayaai.

Tidak sedikit orang yang mengatakan “I am a spiritual person, but not a religious one” artinya seseorang yang mengaku tetap percaya pada Allah namun tidak pergi ke gereja atau seseorang yang tetap datang menghadiri Perayaan Ekaristi secara regular namun menolak beberapa ajaran iman Gereja Katolik khususnya mengenai ajaran moral. Kita sangat membutuhkan karunia pengertian yang mendalam akan misteri iman itu. Karunia pengertian itu memberikan suatu gamaran yang jelas akan tujuan akhir hidup kita sebagai orang beriman, yakni kesatuan mesra dengan Allah. Dengan karunia pengertian itu kita akan mendorong diri kita yakni pikiran, kehendak, perkataan dan perbuatan kita ke arah surga.

Marilah kita berdoa dengan pemazmur, “Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang TauratMu; aku hendak memeliharanya dengan segenap hati.” (Mzm 119:34).

Senin, 18 Mei 2015

Senin, 18 Mei 2015

 

Dalam buku Katekismus Gerja Katolik nomor 1606 disebutkan bahwa, “Tiap manusia mengalami yang jahat dalam lingkungannya dan dalam dirinya sendiri. …mereka selalu diancam oleh perselisihan, nafsu berkuasa, ketidaksetiaan, kecemburuan, dan konflik,”. Penderitaan dan kesusahan yang dialami manusia merupakan misteri, dalam arti kita tidak pernah akan mendapatkan suatu jawaban yang “memuaskan” hati kita terhadap pertanyaan, bagaimana mungkin manusia yang sudah ditebus oleh darah Kristus masih haris mengalami penderitaan, sakit dan beratnya mencari nafkah.

Kendati demikian kita melihat dan mengalami bahwa kita tetap bertahan, memang ada beberapa orang yang tidak mampu bertahan menghadapi penderitaan, walaupun sudah sangat tergoncang oleh konflik. “… bahwa kamu dicerai-beraikan, …”. Yang menjadi kekuatan kita unruk bertahan tidak lain dan tidak bukan adalah pertolongan rahmat, yang Allah berikan karena kerahimanNya yang tidak ada batasnya. Tanpa bantuan rahmat ini kita tidak mampu bertahan dalam kesetiaan iman kepada Kristus.

Ketika kita mengalami penderitaan dan kesusahan, baik karena kesalahan kita sendiri maupun karena orang lain, kita mengalami berada jauh dari penghiburan. Kita menjadi sedih karena kehilangan kepercayaan diri dan yang muncul di pikiran kita hanyalah kesulitan-kesulitan hidup belaka. Bahkan kita akan merasakan kesendirian dan kesepian karena kita ditinggalkan oleh teman-teman dekat kita atau kita merasa ditinggalkan oleh teman-teman dekat kita, padahal kenyataannya tidak demikian. Teman-teman kita tetap dekat dan memperhatikan kita. Namun karena pikiran kita sudah terobsesi dengan kesulitan-kesulitan, maka yang ada dalam pikiran kita adalah rasa tidak percaya bahwa kita masih mempunyai teman.

Teman kita sejati adalah Kristus sendiri yang menyebut kita sebagai sahabat-sahabatNya (lih Injil Minggu Paskah VI tahun B- Yoh 15:9-17). Bahkan Yesus menjamin bahwa Allah Bapa sendiri yang akan turun tangan menolong dan menghibur kita. “…hatimu berdukacita. … Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, penghibur tidak akan datang kepadamu.” (Yoh 16:5-11).Melalui petikan-petikan dari Injil Yohanes kita semakin diyakinkan bahwa hidup kita ini tidaklah hidup sendirian, melainkan Kristuslah yang hidup. Setiap kali kita merayakan Ekaristi kita menyambut Tubuh Kristus yang menemani kita mengarungi kehidupan dengan segala kekurangannya akibat pengaruh dosa.

Minggu, 17 Mei 2015

Minggu, 17 Mei 2015

 

Injil Yohanes hendak menegaskan bahwa kekuatan kegelapan yang jahat senantiasa hadir dan mengancam kesatuan hidup para murid yang berkumpul bersama dalam beribadat dan berbagi pengalaman iman akan kabar gembira yakni pengalaman iman bagaimana Allah menyelamatkan umat manusia. Satu-satunya jalan yang perlu para murid usahakan agar kesatuan umat beriman terjamin adalah dengan saling menopang, membantu dan berdoa bersama.

Dalam petikan Injil hari Minggu Paskah ke tujuh tahun B ini kita mendapatkan penghiburan bahwa ternyata Yesus lebih dahulu mendoakan para murid sebelum para murid harus menerima kenyataan hidup beriman yang tidak bisa lepas dari konflik, perselisihan, kecemburuan, ketidaksetiaan, keinginan menyerang dan mengalahkan orang lain, yang sangat mengancam persatuan umat. Dalam petikan Injil tentang doa Yesus kelihatan sekali keprihatinan Yesus akan bahaya yang mengancam kesatuan para murid.

Selain doa Yesus yang menyelamatkan kesatuan para murid, tentu saja bisa kita bayangkan dan ketahui bahwa para murid tidak hanya berdiam diri mengalami ancaman-ancaman yang mau menggagalkan rencana Allah. Para murid justru semakin giat dalam sikap solider satu dengan yang lain dan saling menguatkan dalam membagikan kabar gembira. Hal-hal itu bisa menjadi contoh bagi kita mengenai betapa mendesaknya keikutsertaan segenap umat untuk terlibat dalam doa-doa di lingkungan-lingkungan termasuk, pendalaman Kitab Suci. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kalau ada pendalaman iman, dimana kita mendapatkan masukkan mengenai makna petikan-petikan dari Kitab Suci dan saling berbagi kabar gembira hanya dihadiri oleh beberapa orang anggota umat lingkungan, namun kalau pesta Natal banyak umat yang datang.

Demikian juga perselisihan dan kecemburuan karena orang memiliki kebutuhan psikologis menyerang dan mengalahkan yang lain dengan kehendak untuk menguasai orang lain atau umat, menjadi ancaman serius pada kesatuan umat Katolik di lingkungan dan paroki. Ada orang-orang yang belum bisa memaafkan mereka yang menyakiti hati dengan demikian masih menyimpan luka-luka batin yang membuat mereka menjadi marah atau sebaliknya bersikap apatis, tidak bersedia teribat bagi terciptanya persatuan umat beriman.

Dengan DoaNya Yesus mengingatkan para murid termasuk kita untuk tidak memendam hal-hal yang negative seperti perselisihan, kecemburuan, ketidaksetiaan, kemarahan dan luka-luka batin. Kita diutus untuk menyebarkan kabar gembira. Marilah kita tanamkan kabar gembira itu pertama-tama kepada diri kita sendiri sehingga kita disembuhkan dari luka-luka batin yang merupakan ancaman serius pada persatuan umat beriman. Bahasa yang dipakai dalam petikan Injil hari ini adalah, “… supaya mereka pun dikuduskan …” Kata dikuduskan ini adalah tindakan Yesus sendiri yang menyingkirkan kekuatan iblis yang mengancam kesatuan dan kedamaian hidup para muridNya.

Marilah kita memberikan tempat dalam hati kita agar Kristus berkenan menguduskan kita dengan menyingkirkan kekuatan jahat yang hanya mendatangkan perpecahan yang menjadi ancaman serius paguyuban umat beriman.

Sense of belonging

Sense of belonging

Perayaan Yesus naik ke surga

John 16:27-28

Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah. Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.”

“Sense of belonging” adalah salah satu kebutuhan dasar psikologis manusia. Setiap orang memiliki rasa memiliki dan dimiliki oleh orang lain, keluarga, kelompok, atau negara. Rasa memiliki dan dimiliki memberi rasa aman dan stabilitas pada seseorang. Sense of belonging juaga memberi makna pada hidup dan aktivitas yang kita lakukan setiap harinya. Mengapa kita mau bekerja, berkurban waktu dan tenaga untuk keluarga atau kelompok sosial, Gereja, dan masyarakat? Tidak hanya uang yang didapat, tapi ada perasaan bahwa kita merasa dimiliki dan memiliki tanggungjawab untuk berbuat sesuatu bagi mereka yang menjadi bagian dari kelompok kita.

Sebaliknya ketika sense of belonging itu hilang, kita akan tak punya dorongan untuk berbuat sesuatu bagi orang lain atau kelompok yang kita tak merasa terikat padanya.

Kenaikan Yesus ke Surga memberi kita pengertian bahwa tujuan akhir hidup kita adalah surga. Yesus merasa dimiliki dan memiliki Allah Bapa, sehingga ia harus  kembali padaNya. Setiap kali Yesus berkata, “Tinggalah dalam kasihku!” “Akulah pokok anggur dan kamu rantingnya” “Siapa yang tinggal dalam aku akan berbuah banyak!” Itulah bahasa sense of belonging. Kita menemukan arah, tujuan, dan kepada siapa kita merasa dimiliki dan memiliki.

Sekarang ini banyak orang kehilangan “sense of belonging” tercabut dari keluarga, masyarakat, dan negaranya. Ratusan imigran dari Pakistan dan Bangladesh sekarang ini terapung-apung tak menentu di selat Andaman, antara Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Singapura. Sebagian dari mereka mati kelaparan dan kekurangan air bersih. Mereka kelompok Rohingnya, lari dari rumah dan negaranya karena konflik agama.

Malaysia tak mau menerima mereka. Thailand hanya menjatuhkan bantuan air dan makanan dari helikopter dan meninggalkan mereka di lautan. 3 hari lalu, polisi laut Indonesia juga menolak mereka. Mereka tidak diterima karena miskin, tak berpendidikan, dan kehadiran mereka bisa memicu persoalan sosial dan ekonomi dari negara yang menerimanya. Mereka kehilangan “sense of belonging.”

Beberapa hari lalu, 580 imigrant rohingya mendarat di Aceh, ditampung di tempat sementara, diperiksa kesehatannya, dan menunggu langkah selanjutnya dari PBB dan Indonesia untuk menolong mereka..

Hari ini kita berdoa bagi mereka yang kelilangan “sense of belonging”, tak merasa memilik dan dimiliki oleh keluarga, kawan, masyarakat, dan negaranya…kita doakan para imigran yang tak memiliki siapa-siapa. semoga meraka ingat bahwa Tuhan masih memiliki mereka!

Translate »