Browsed by
Month: June 2015

Pencitraan

Pencitraan

 

2Kor 9:6-11; Mat 6:1-6.16-18

Pencitraan sudah menjadi persepsi umum, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di mana-mana. Orang melakukan pencitraan untuk meraih keuntungan politis dan ekonomis agar menjadi presiden, gubernur, bupati, direktur, dll. Di Indonesia ada profesor, rektor universitas, dan pegawai dengan ijazah-ijazah palsu. Pencitraan telah menjadi panglima kesuksesan.

Tetapi kesuksesan seperti ini palsu, dibuat-buat, tidak bertahan. Sama halnya dengan orang yang memberi agar dilihat dan puji. Berdoa di jalan-jalan atau di rumah ibadat dengan suara keras dan banyak kata-kata agar dilihat orang. Pura-pura puasa agar dianggap suci.

Kehidupan keagamaan yang dicirikan oleh kemunafikan ini harus dibasmi karena mengkhianati kebenaran dan tidak membawa kebahagiaan sejati. Sementara kebahagiaan sejati itu datang dari Allah: Your Father who sees what is hidden will repay you!

Semoga, teguran keras Yesus ini membuka mata kita agar lebih peka terhadap tawaran keselamatan Allah. Orang benar dikasihi Allah dan menjadi sahabat-Nya.

Rahmat melampaui kemustahilan

Rahmat melampaui kemustahilan

Autumn weather September 29

2Kor 8:1-9; Mat. 5:43-48

 

Di dalam perjanjian lama, mencintai musuh itu tidak lazim bahkan tidak dibenarkan oleh agama seperti dikatakan Mz 139:21.

Justifikasi ini mengambil bentuk yang paling radikal dengan memasukkan Tuhan, bahkan menyamakan Tuhan dengan agama tertentu.

Yesus mendorong para murid untuk melampaui batas- batas kebiasaan yang dibenarkan secara sepihak, dan bahkan dikekalkan, lalu diberlakukan untuk semua yang tidak serumpun dan berbeda keyakinan.

Terhadap institusionalisasi kekerasan yang dilegalkan, Yesus melakukan transformasi fundamental melalui dua tawaran mustahil, artinya bisa dilakukan dengan tidak melakukannya: mengasihi musuh dan berdoa baginya.

Terhadap dua tawaran ini muncul pertanyaan, mana mungkin mengasihi orang yang membawa ancaman bagi hidup saya atau pernah melakukan kekerasan terhadap saya?

Dalam bacaan pertama, St Paulus mengingatkan umat di Korintus bahwa kemalangan-kemalangan manusiawi hanya dapat diatasi dengan dengan apa yang dialaminya sebagai perbuatan-perbuatan ajaib dari rahmat Tuhan sendiri, yakni keyakinan bahwa Allah bekerja dan mentransformasi kesusahan-kesusahan yang dialami umat yang dilayaninya sehingga memampukan mereka mengambil bagian dalam hidup dan perbuatan-perbuatan ilahi Yesus sendiri.

Rahmat kasih dan doa, dikuatkan oleh iman akan Yesus mampu mengubah hati yang keras dan gelap menjadi terang dan lembut. Dengan berdoa kita berkomunikasi, masuk dalam relasi personal dengan Allah. Dengan berkomunikasi dengan Allah kita masuk ke dalam dan berelasi dengan kasih, karena ‘Allah adalah kasih.’

Sesungguhnya Yesus mentransendensi para murid-Nya untuk masuk dan mengalami misteri kesempurnaan Ilahi, dari mana kasih itu datang, kasih yang lebih luas dan merangkum semua anak-anak Allah, yakni kasih Bapa, penerbit matahari dan penurun hujan bagi semua orang.

 

Tuhan Yesus,

Terima kasih karena kasih dan doamu yang mampu mengubah permusuhan menjadi persahabatan, kebencian menjadi kasih dan keakraban, perang menjadi damai dan kebebasan oleh rahmat pengampunan dan belas kasihmu yang tiada batas! Amen.

Menguatkan anti-kekerasan

Menguatkan anti-kekerasan

 

Ideal Injil tentang anti kekerasan bukan sebuah seruan bombastis. Tetapi seruan kebenaran untuk memakainya sebagai senjata, kuasa melawan yang jahat dan menebarkan kebaikan bagi sesama. Apapun harga yang harus dibayar, kekerasan itu evil, jahat!

St. Paulus memberi kita sejumlah pengalaman yang dialaminya sendiri: dipukul oleh musuh-musuhnya tapi tidak balik membalas. Ia percaya akan kekuatan Tuhan dalam dirinya.

Kita diajak oleh Tuhan hari ini untuk memeriksa motif-motif pribadi dalam diri yang bisa mendatangkan yang jahat terhadap diri dan orang di dekat kita. St Paulus menginspirasi kita untuk mempraktikkannya dalam hidup sehari-hari.

Sering ketika kita mendapat perlakuan tak adil, kita akan bertanya: apa salah saya? Pertanyaan ini bisa menjadi titik berangkat untuk masuk ke dalam diri, dan bertemu dengan sifat-sifat kekerasan yang masih melekat dalam jiwa kita. Bila kita bisa menemukan akar-akar sifat jahat ini, akan membantu kita mudah mencari jalan keluar saat kita menghadapi kesulitan. Komunikasikan hal-hal jahat yang masih mendera jiwa, dengan kawan dan Tuhan yang dipercaya, dalam doa.

Ada keyakinan tertentu dalam diri yang untuk waktu yang begitu dalam tidak disadari, ditutup-tutupi, menjadi luka tak tersembuhkan, ternyata menghukum kita dari dalam. Yesus menyebutnya, mosaic law, yang menghalalkan mata ganti mata, gigi ganti gigi.

Ada banyak mosaic law dalam diri, cambuk, potong tangan, hukum gantung, hukuman mati, bunuh orang, human trafficking, slavery, radicalism. Gosip, white lie, bullying ….

Merusak nama orang, bunuh karakter-karakter baik orang lain. Membuat jiwa orang menjadi kerdil, lemah, dan kehilangan semangat hidup.

Bahasa-bahasa kekerasan fisik dan non-fisik seperti ini tidak membahagiakan, non-injili, diwarisi dari kitab suci, malah!

Yesus bilang semua ini datangnya dari si jahat (Mt 5, 37). Semoga Tuhan selalu menjauhkan kita dari lingkaran setan ini!

KESETIAAN MENGIKUTI KRISTUS

KESETIAAN MENGIKUTI KRISTUS

 

 

2 Kor 5:14-21

Mat 5:33-37

 

Yesus mengajak para muridNya untuk tidak ragu-ragu lagi dalam menjalankan seluruh kebenaran yang bersumber dari iman. Ketika orang yakin dan menjalankan dengan kesungguhan hati dalam berbuat baik, maka akan muncul buah-buah yang bisa dirasakan oleh orang lain. Jika seseorang ragu-ragu, ia akan mudah jatuh dalam kesalahan dan dosa. Oleh karena itu jika iman kuat dan mantap, maka kita akan bisa menghadapi semua tantangan yang ada.

 

Ketika kita membela kebenaran dan kebaikan maka perlu dilakukan dengan sepenuh hati, setia dan konsisten. Dengan demikian maka kita mewartakan iman secara nyata. Yesus ingin para muridNya selalu mengatakan YA pada yang baik dan yang benar dan TIDAK pada hal-hal yang berdosa. Sebagai murid Kristus tidak mengenal berdiri diantara yang benar dan yang salah sehingga membuat diri bimbang dan ragu. Jika seseorang berada dalam keraguan maka ia akan selalu terombang-ambing, takut, dan mudah jatuh dalam kesalahan/dosa.

 

Bagaimana agar orang bisa mantap dalam berpihak pada yang benar? Hal itu bisa terjadi ketika orang percaya pada Kristus dan setia kepada Nya. Relasi yang dekat dengan Kristus menjadi fondasi hidup semua orang beriman.

 

Tuhan Yesus, tambahkanlah selalu iman kepada kami, agar kami selalu setia melakukan yang baik dan yang benar seturut dengan kehendak Mu. Teguhkan kami selalu dengan kasihMu agar kami tidak ragu untuk selalu melakukan kehendak Mu. Demi Kristus Tuhan dan penyelamat kami, Amin.

HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHA KUDUS

HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHA KUDUS

 

 

Hos 11:1.3-4,8c-9

Ef 3:8-12,14-19

Yoh 19:31-37

 

Tiga hari sebelum Yesus bangkit, hari Jumat Yesus harus menghadapi pengadilan yang tidak adil, dihina, disiksa, dan disalibkan. Yesus dengan tetap setia melewati semua itu demi kasihNya kepada manusia. Yesus memberikan Kasih Nya sampai wafat di Salib. Tidak ada cinta yang lebih besar selain cinta Tuhan Yesus kepada kita. Cinta yang kita trima dari Yesus adalah cinta yang tulus dan tanpa pamrih.

 

Dengan demikian kita semakin sadar bahwa Yesus memiliki Hati penuh dengan belas-kasih. Oleh karena itu jika kita dekat denganNya, maka Kasih nya akan tinggal dalam hidup kita. Ketika hati dipenuhi dengan belas kasih Nya, maka kita akan bisa berempati kepada orang yang menderita, sabar dalam kesesakan, murah hati dalam memberikan pengampunan, dan selalu ada damai di dalam hidup. Semua itu karena belas kasih Allah tinggal dalam diri kita.

 

Hari ini kita didorong untuk semakin dekat dengan Nya. Kesibukan apa pun yang kita miliki, bukan berarti bisa menjadi alasan untuk menjauhkan diri dengan Kristus. Dia adalah fondasi hidup kita, maka semakin kita dekat dengan Nya, hati kita akan dipenuhi oleh belas-kasih Nya. Marilah kita selalu membuka hati untuk Kristus.

 

Tuhan Yesus yang Maha Kasih, kami bersyukur atas semua yang telah Engkau anugerahkan kepada kami. Ampunilah kami orang yang selalu merasa kurang dan jarang bersyukur. Semoga Kasih Mu selalu kami rasakan setiap hari, agar penuhlah hidup kami dengan suka-cita dan akhirnya kami wartakan kasih dan suka-cita tersebut kepada sesame kami. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Translate »