Browsed by
Month: August 2015

BELAS KASIH TUHAN

BELAS KASIH TUHAN

 

Peringatan Wajib St. Monika

1Tes 3:7-13

Luk 7:11-17

Yesus menujukkan sesuatu yang selalu menjadi motivasi Nya dalam setiap tindakan yang Dia lakukan, yaitu “Belas-kasih”. Ketika Yesus bertemu dengan seorang janda yang kehilangan anak laki-lakinya, Yesus berkata : “Jangan menangis”. Lalu Yesus menghidupkan kembali anaknya. Itulah yang dibuat Yesus kepada orang yang menderita. Sikap “Belas-kasih” ini melekat dalam diri Yesus Kristus. Dia melaksanakan kehendak BapaNya untuk menyatakan bahwa Kerajaan Allah hadir untuk manusia. Kerajaan Allah tersebut dibangun atas dasar Belas kasih. Oleh karena itu ketika orang hidup dalam cinta kasih, ia hidup dalam Kerajaan Allah.

Kerajaan Allah bisa dirasakan saat ini dalam keluarga dan lingkungan ketika semua hidup dengan saling mengasihi. Yesus memulai membangun Kerajaan Allah tersebut pertama-tama dengan memperhatikan mereka yang lemah dalam komunitas. Yang lemah diperhatikan oleh Yesus karena cinta kasih medorong seseorang untuk peduli pada penderitaan orang lain. Kasih bukan sesuatu yang egois. Kasih selalu mendorong kita untuk peduli pada sesengsaraan sesamanya. Kasih selalu mencari mereka ; pribadi-pribadi yang susah, menderita, dan tersingingkirkan.

Belas-kasih Allah akan tinggal dan tumbuh berkembang dalam diri pribadi yang rendah hati. Bagaikan tanah yang subur, demikianlah pribadi yang rendah hati. Tanah yang subur memiliki kemampuan untuk menumbuhkan benih yang berkualitas sehingga menjadi tanaman/pohon yang kuat, dan berbuah lebat. Demikian juga dengan orang yang rendah hati akan menjadi pribadi yang kuat dan siap melayani dan menyebarkan cinta kasih Tuhan dimanapun ia berada.

Tuhan Yesus Yang Maha Kasih, Engkau telah menunjukkan kepada kami betapa besar cintaMu kepada kami orang yang lemah dan berdosa ini. Ajarilah kami untuk mengerti dan melaksanakan kehendakMu, yaitu menyebarluaskan cinta kasihMu kepada semua orang yang ada disekitar kami. Engkaulah Tuhan dan pengantara kami, Amin.

MENOLAK KEMUNAFIKAN

MENOLAK KEMUNAFIKAN

 

Yakobus Retouret, Zefyrinus Namuncura

1 Tes 2:9-13

Mat 23:27-32

Yesus mengajak para murid untuk lebih berhati-hati terhadap praktek hidup yang munafik, seperti ditujukan pada diri orang Farisi. Mereka dari luar tampak sangat baik, namun di dalam hati penuh mereka dikuasi oleh kesombongan, kebencian dan kejahatan. Kemunafikan adalah pola hidup yang penuh dengan sadiwara dan kebohongan. Oleh karena itu Yesus sangat menekankan supaya para muridNya tidak terseret pola hidup yang demikian.

Bagaimana agar orang tidak jatuh pada kemunafikan? Yaitu dengan mau terbuka dan percaya kepada Tuhan Yesus. Dia datang untuk menolong dan mengangkat manusia dari belenggu dosa. Yesus adalah Tuhan yang menjadi sumber dan pusat hidup kita. Relasi dengan Yesus memiliki dampak positif terhadap kita. Pertama-tama Yesus mampu mengubah pribadi manusia menjadi rendah hati. Dia sejak semula sangat menekankan sikap tersebut. Yesus sendiri yang walaupun dalam rupa rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai miliki yang harus dipertahankan. Ia mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. (Flp 2:6-7).

Ketika relasi kita dengan Yesus terjadi begitu dekat maka proses tranformasi akan terjadi dalam diri kita. Dia akan mengubah diri kita menjadi rendah hati dan penuh dengan belas kasih. Jika seseorang menanggap dirinya dekat dengan Allah tetapi sikapnya masih keras hati, jahat dan tidak peduli terhadap orang lain, maka orang tersebut tidak mengenal siapa Allah yang sebenarnya. Orang yang rendah hati adalah pribadi yang menolak kemunafikan, seangkuhan dan kesombongan.

Tuhan Yesus yang Maha Kasih, Engkau telah datang untuk menyelamatkan kami. Ajarilah kami untuk bisa semakin menyerupai Mu, dalam hati, pikiran dan perbuatan kami. Agar kami tidak menjadi orang yang munafik, sebaliknya menjadi pribadi yang rendah hati dan selalu siap melayani dan memuliakan nama Mu. Sebab Engkaulah juru selamat kami, kini dan sepanjang masa, Amin.

MENJAGA HATI

MENJAGA HATI

 

St. ludovikus, St Yosef dari Calasanz

1Tes 2:1-8

Mat 23:23-26

Yesus mengetahui apa yang ada di dalam hati orang Farisi. Sekalipun mereka sangat ketat dalam menegakkan aturan-aturan hukum Taurat, namun hati mereka berbeda jauh dari apa yang mereka kerjakan. Akhirnya semua yang dilakukan menjadi sesuatu yang formalitas dan kemunafikan karena hati mereka tetap keras, tidak peduli, suka merendahkan orang lain, sombong dan jahat.

Orang Farisi lebih sibuk mengurusi hal-hal diluar dirinya yang menyangkut aturan-aturan yang dilaksanakan tanpa melibatkan hati nurani. Padahal yang terpenting adalah keadilan dan belas kasih, namun hal itu mereka abaikan. Yesus mangajak para muridNya agar menjauhi sikap dan praktek hidup yang demikian. Oleh karena itu, pertama-tama yang perlu ditata adalah “hati”. Jika hati bersih, tulus dan penuh kasih, maka apa yang dikerjakan semua akan baik dan mendatangkan damai sejahtera. Sebaliknya jika hatinya jahat maka apa yang dipikirkan dan yang dilakukan adalah kejahatan-kejahatan.

Yesus mendorong para muridNya pertama-tama mengutamakan “Hidup dalam Kasih”. Hal itu sangat jelas dan simple. Persoalannya ; sesuatu yang SIMPLE tersebut menjadi rumit karena manusia dikuasai oleh ambisi, kesembongan dan kejahatan.

Allah yang Maha Kasih, kami bersyukur atas segala yang kasih karunia Mu. Anugerahkan sikap ketulusan hati agar kami tidak jauh dari sikap munafik. Kami percaya bahwa hanya dalam kuasaMu kami bisa hidup dengan kasih dan siap menegakkan keadilan dan kebenaran. Demi Kristus, Tuhan dan penyelamat kami. Amin.

SEJARAH PANGGILAN

SEJARAH PANGGILAN

 

Pesta St. Bartolomeus Rasul

Why 21:9b-14

Yoh 1:45-51

Panggilan menjadi murid Kristus untuk setiap orang memiliki sejarahnya sendiri-sendiri. Seperti yang terjadi pada Natanael, ia mengenal dan percaya kepada Yesus Kristus, karena dikenalkan oleh Filipus. Natanael kagum dan percaya setelah Yesus mengatakan dan tahu sesuatu yang ia rahasiakan selama ini. Semua itu adalah sejarah dan latar belakang Natanael dan alasan mengapa ia percaya dan mengikuti Kristus. Setiap pribadi memiliki sejarah panggilan yang unik dan berbeda. Namun sekalipun sejarah panggilan berbeda-beda Yesus memiliki tujuan yang sama pada mereka, yaitu agar para murid Nya mau membuka hati, percaya dan mengikuti Nya.

Yesus terbuka bagi siapa saja yang mau mengikuti Nya, bahkan sekalipun masa masa lalu seseorang miliki sejarah yang hitam, Yesus tetap membuka diri, asalkan mereka mau terbuka, bertobat dan bersedia menyangkal diri, mengikuti Kristus dan memanggul salib bersama Dia. Artinya menjadi murid Kristus harus siap berkurban untuk bisa hidup dalam iman, harapan dan kasih. Namun pengurbanan yang dilakukan karena iman dan kebenaran akan selalu menjadi berkat, mendatangkan kebaikan bagi banyak orang dan memuliakan Nama Allah.

Allah yang Maha kasih, terima kasih atas anugerah panggilan yang kami terima. Semua terjadi karena Engkau mencintai kami. Teguhkanlah iman kami, agar kami siap selalu berkurban untuk melakukan kehendak Mu, agar Nama Mu kami muliakan serta dan agar kasih Mu hadir dalam kehidupan kami. Demi Kristus, Tuhan dan penyelamat kami, Amin.

SIAP MENJADI PELAYAN

SIAP MENJADI PELAYAN

 

Peringatan wajib SP Maria, Ratu

Rut 2:1-3,8-11.4:13-17

Mat 23:1-12

Yesus mendorong para muridNya untuk memiliki sikap yang sangat penting untuk bisa menerima kedamaian dan kebahagiaan kekal, yaitu “kerendahan hati”. Yesus mengambil contoh orang-orang Farisi, sekalipun mereka rajin berdoa ditempat-tempat umum dan dengan ketat menjalankan aturan-aturan agama namun tidak memiliki kerendahan hati maka semua yang dilakukan tersebut tidak berarti apa-apa, tidak memuliakan Allah, namun hanya untuk mencari nama atau penghormatan dari orang lain.

Sikap “rendah hati” dengan demikian menjadi media/alas dimana iman ditumbuhkan dan akhirnya berbuah dalam banyak perbuatan kasih. Dari sana orang akan memiliki keberanian untuk mengosongkan dirinya untuk bisa melayani dan berbagi suka cita bagi orang-orang yang menderita dan miskin. Dengan demikian kerendah hati bukan berarti orang yang tidak percaya diri atau minder, namun ia adalah pribadi yang berani mengambil sikap sebagai “hamba”.

Ketika seseorang mampu menempatkan diri sebagai “hamba” orang tidak akan menuntut, mudah menghargai orang lain, tidak bersikap sombong, tidak merasa diri hebat, tidak merasa diri paling benar dan menanggap orang lain lebih rendah. Sikap seperti inilah yang diperlukan bagi siapa saja yang menjadi murid Kristus, sabab Dia datang ke dunia bukan untuk dilayani namun untuk melayani.

Sudah selayaknya kita sebagai murid-murid Kristus juga berusaha untuk siap selalu melayani Tuhan dengan setia, menegakkan kebenaran dan memperhatikan orang-orang yang menderita, sakit dan berkekurangan.

Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah hadir dan menunjukkan betapa kami sangat berharga, karena Engkau telah mencintai kami orang yang berdosa ini. Semoga kami selalu sadar akan semua pengurbanan yang telah Engkau berikan kepada kami, agar kami pun tergerak untuk selalu hidup dalam cinta kasih dan siap melayani kepada semua yang membutuhkan pertolongan. Demi Kritus, Tuhan dan penyelamat kami. Amin.

Translate »