Browsed by
Month: August 2015

Menegur saudara

Menegur saudara

Bacaan Matius 18: 15-20

Seorang rekan menjadi marah besar dan malu karena diperingatkan di depan umum oleh sahabatnya. Maksud sahabatnya baik, tapi karena dia dipermalukan didepan orang banyak, orang ini memutus hubungan pertemanan mereka. Tak ada lagi pembicaraan.

Yesus mengigatkan kita bagaimana sebaiknya kita menegur serta menasehati orang yang berbuat salah atau berdosa. Pertama, “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.” Tegurlah teman itu secara pribadi, tak perlu menceritakan pada orang lain kekurangan dan kesalahannya. Bila teman itu menuruti nasehat yang diberikan, kita telah menyelamatkannya.

Apabila dia tidak memperdulikan nasehat dan teguran pribadi, “Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.” Bawalah beberapa saksi yang memahami persoalan kita ini. Jangan bawa orang yang malah membuat masalah semakin keruh dan besar. Pilih orang yang bijak, bisa dipercaya, dan dipandang baik oleh orang yang akan kita tegur.

Selanjutnya bila dia tetap keras kepala tidak mau mendengarkan, bawalah dia pada kelompok orang yang lebih besar, “Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat.” Selanjutnya jika orang ini tetap tidak mau bertobat, berarti dia tak ingin diselamatkan!

Santo Mateus mengisahkan bagaimana praktik jemaat perdana yang saling mengigatkan orang, tidak mempermalukan. Setiap orang memiliki tanggungjawab untuk membantu orang tumbuh lebih baik, bersedia menegur dan mengingatkan dengan bijaksana untuk menyelamatkan orang lain.

Oleh karenanya, tegurlah orang lain dengan bijaksana. Jangan sebarkan dosa dan kekurannyannya di depan umum!

Iman Biji Sesawi

Iman Biji Sesawi

Hari Raya Peringatan Santo Dominikus

Ulangan 6:4-13
Mazmur 18
Matius 17:14-20

mustard-seed-601-x-400

Siapa yang tidak mau mengalami atau menyaksikan mujizat? Apalagi kalau mujizat itu dalam bentuk penyembuhan. Di mana-mana kalau yang namanya misa penyembuhan pasti gereja menjadi penuh. Apalagi kalau yang datang adalah tokoh yang terkenal mempunyai kuasa penyembuhan. Kadang kita pun ingin bisa membuat orang lain sembuh, terutama orang-orang yang kita cintai. Tapi seringkali juga kita tidak melihat ada kesembuhan yang berarti. Apakah itu berarti iman kita yang kurang, seperti yang dituduhkan Yesus pada para muridnya yang tidak berhasil menyembuhkan orang yang kerasukan setan?

Bisa jadi Matius menulis Injilnya juga dengan maksud menjawab pertanyaan yang sama dari umat yang hidup di jamannya. Jika jaman Yesus dan para rasul banyak sekali mujizat penyembuhan terjadi, kenapa sekarang jarang? Jawabannya adalah karena mereka kurang imannya, bahkan lebih kecil daripada biji sesawi (mustard seed) yang sangat kecil itu.

Tapi apakah sebenarnya iman itu? Iman bukanlah sesuatu yang membuat kita menjadi kuat sehingga bisa berkuasa mengusir setan atau menyembuhkan penyakit. Iman pertama-tama membuat kita bisa melihat sesuatu yang tidak langsung nyata, seperti karya agung Tuhan di balik semua kejadian di dunia ini. Karena itu dalam Kitab Ulangan hari ini Musa menyerukan umat Israel supaya selalu ingat bahwa tangan Tuhan ada di belakang semuanya: kota dan rumah yang dibangun, sumur yang digali, kebun yang ditanam. Kelihatannya memang manusia yang membuat semua itu, tapi sebenarnya itu semua adalah anugerah Tuhan.

Karena itu, mungkin beriman yang lebih baik adalah kesadaran akan kebesaran Tuhan dan bahwa semuanya adalah anugerah. Kalau sampai ada mujizat yang tertahan, mungkin itu karena kita sendiri yang menghalanginya. Doa dari Father Mychal Judge, OFM, romo chaplain dari pemadam kebakaran di New York City yang tewas ketika membantu para petugas pemadam pada tragedi 11 September 2001, sangat tepat untuk kita doakan bersama:

Lord, take me where you want me to go,
let me meet who you want me to meet,
tell me what you want me to say,
and keep me out of your way.

(Tuhan, hantarkan aku kemanapun Engkau mau aku pergi
pertemukan aku dengan siapapun yang Engkau mau aku temui
katakan padaku apapun yang Engkau mau aku wartakan
dan jangan biarkan aku menghalangi jalanMu)

Menyangkal Diri

Menyangkal Diri

Ulangan 4:32-40
Mazmur 77
Matius 16:24-28

Kata “menyangkal diri” seringkali digunakan kita orang Kristen. Kadang istilah ini digunakan untuk menggambarkan penderitaan yang kita tempuh demi mengikuti Kristus. Menyangkal diri menjadi semacam jalan untuk bisa menjadi murid Yesus yang baik. Tapi jika ini langkah pertama kita, mencari suatu bentuk penderitaan supaya kita bisa lebih dekat Yesus, maka kita akan kehilangan langkah pertama sebenarnya yang lebih mendasar.

Dalam Injil hari ini Yesus mengatakan bahwa barangsiapa mau mengikutiNya, ia harus menyangkal dirinya. Kalau kita lihat lebih teliti, langkah pertama bukanlah menyangkal diri, melainkan kemauan untuk mengikuti Yesus. Menyangkal diri tanpa didasari kerinduan untuk ikut dekat dengan Yesus menjadi tidak ada artinya.

Kalau kita lihat lebih jauh lagi, Yesus pun berbuat demikian. Ia tidak turun ke dunia untuk mati sengsara di salib supaya kita lebih cinta padaNya, tetapi justru karena dia mengasihi kita begitu hebatnya maka dia mau hidup bersama kita, merasakan segala kebahagiaan dan kesedihan kita. Ia menyangkal diri dengan tidak mempertahankan status keilahianNya (Filipi 2:6) tetapi memilih hidup sebagai hamba. Dia tidak harus menyangkal diri sampai mengorbankan nyawaNya, tapi Dia bersedia melakukannya sebagai bentuk kasih paling besar bagi kita para sahabatNya (Yoh 15:13).

Sebelum kita menyangkal diri, marilah kita berintropeksi diri dulu. Sudahkah kita benar-benar mencintai Tuhan dan sesama kita? Apakah kita mencari-cari cara menyangkal diri semata-mata untuk memuaskan diri sendiri bahwa kita sudah melakukan sesuatu yang luar biasa? Atau apakah kita bersikap terbuka untuk menerima salib kita apapun bentuknya yang datang pada kita demi cinta kita pada Tuhan?

Berubah Rupa

Berubah Rupa

Hari Raya Transfigurasi Yesus

Ulangan 7:9-10, 13-14
Mazmur 97
2 Petrus 1:16-19
Markus 9:2-10

Hari ini kita merayakan Transfigurasi, peristiwa di mana Yesus berubah rupa menjadi begitu bercahaya dan penuh kemuliaan di hadapan para muridnya. Tapi pada tanggal ini juga, tepat 70 tahun yang lalu, bom nuklir pertama dijatuhkan oleh Amerika Serikat di Hiroshima, Jepang. Tiga hari kemudian Nagasaki mengalami nasib yang sama. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, bom atom yang berkekuatan begitu besarnya dipakai dalam perang. Akibatnya sangat luas. Dengan bom itu, Perang Dunia II berakhir dengan menyerahnya Jepang. Bagi kita orang Indonesia, saat itu digunakan untuk memproklamirkan kemerdekaan negara kita. Tapi bagi bangsa Jepang, puluhan ribu orang mati seketika atau menjadi cacat seumur hidupnya. Efek radiasi pun mempengaruhi lingkungan hidup dan generasi selanjutnya.

Dengan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki itu, seluruh dunia berubah rupa, mengalami transfigurasi. Mungkin pertama kali memang perang kepanjangan berakhir. Tapi selanjutnya, blok Amerika Serikat dan blok Uni Soviet mengalami perang dingin dengan saling mengancam akan menggunakan nuklir. Sampai saat ini pun senjata nuklir masih menjadi masalah pelik. Terakhir, negara Iran harus berjanji tidak akan menggunakan teknologi nuklir mereka untuk membuat senjata.

Dunia yang mengandalkan senjata nuklir untuk mempertahakan kekuatan dan dominasi adalah dunia yang mengalami bukan transfigurasi, tapi disfigurasi, berubah rupa menjadi cacat dan tidak berbentuk. Cahaya gemilang dari bom atom tidak menunjukkan kemuliaan Tuhan tapi ketakutan dan keserakahan manusia yang merusak ciptaan Tuhan.

Marilah kita gunakan kesempatan ini untuk hening sejenak dan berdoa bersama untuk mengakhiri senjata nuklir di dunia.
https://www.youtube.com/watch?v=F-UZJWkXi3c

Translate ยป