Browsed by
Month: October 2015

Yesus melancarkan kecaman keras

Yesus melancarkan kecaman keras

Yesus melancarkan kecaman keras

Rm 2:1-11; Luk 11:42-46

Yesus terus melancarkan kritikan terhadap kaum farisi dan bahkan dengan nada yang lebih keras. Para ahli taurat pun tidak luput.

Kecaman Yesus berkaitan dengan dua macam kerakusan: uang dan kuasa. Bagi Yesus, para farisi lebih memusatkan perhatian pada pajak persepuluhan ketimbang makna sejati sebuah persembahan yakni keadilan dan kasih akan Allah. Misalnya, uang derma yang diperuntukkan untuk membangun gereja justru dihabiskan oleh para pelayan gereja.

Kecaman kedua berkaitan dengan kuasa, yakni pemakaian jabatan dan simbol religius dengan maksud agar dihormati. Misalnya, imam ditempeleng karena tidak mencium cincin uskup! Atau pastor memakai mimbar gereja bahkan pasar untuk mencari popularitas diri!

Mendengar kecaman Yesus, para ahli taurat merasa tersinggung. Yesus pun mengecam mereka dengan sangat keras karena mereka menaruh beban-beban berat, yakni aturan dan hukum yang mereka buat dan memberlakukannya pada orang lain, tapi mereka sendiri tidak menyentuhnya dengan ujung jari pun.

Kecaman Yesus bukanlah kritik semata melainkan kutukan(!) terhadap orang yang menawarkan agama kematian. Yesus mengumpamakannya dengan kubur: orang berjalan kian-kemari di atasnya, tapi tidak sadar bahwa bagian dalamnya bersisi orang-orang mati. Dewasa ini para teroris bisa dikategorikan sebagai pewaris utama kepercayaan ini. Dengan memakai logika kematian, dan dipicu oleh formula-formula suci, mereka membenarkan pembunuhan sebagai alternatif aman masuk ke surga.

Yesus makan di rumah orang farisi

Yesus makan di rumah orang farisi

Yesus makan di rumah orang farisi

Rm 1:16-25; Lk 11:37-41

 

Di dalam Injil, para farisi sering disebut bersamaan dengan para ahli taurat. Dua kelompok ini adalah kelas atas dalam tatanan sosio-religius masyarakat Yahudi. Diikuti oleh kelompok saduki, semacam kelas menengah, termasuk para imam yang urus Bait Allah. Para penarik pajak seperti Zakheus juga masuk kelas ini. Kelas bawah seperti para tukang, para budak dan buruh harian. Mereka ini penghasilannya kecil dan tidak cukup untuk keesokan harinya. Hidup mereka amat bergantung pada pemilik dan tuan-tuan tanah.

Ada kelompok paling bawah lagi yang tak berpenghasilan apa-apa tapi masih hidup! Mereka bergantung semata-mata pada uluran tangan orang lain: para peminta, orang cacat dan buta ….

Orang-orang farisi, secara khusus para ahli taurat memegang otoritas dalam menafsir kitab suci, membuat, menetapkan dan memberlakukan hukum untuk hidup keagamaan. Jadi Yesus diundang untuk makan di rumah kelas atas.

Bahaya terbesar dari para pembuat hukum adalah menafsirkan hukum dan memberlakukannya semata-mata untuk kepentingan kelas atas tanpa memperhatikan masyarakat bawah, tidak terdidik, buta huruf, tidak tahu apapun tentang hukum. Mereka ini adalah korban pertama ketidakadilan hukum yang diproduksi oleh para legislator.

Yesus masuk ke dalam rumah orang yang berasal dari kelas elite. Ia duduk di meja dan makan. Saat mulai makan si tuan rumah memperhatikan Yesus. Ternyata Yesus tidak cuci tangan terlebih dahulu. Makan tanpa cuci tangan, melawan hukum. Haram. Yesus dianggap najis, berdosa.

Serangan Yesus tidak tanggung-tanggung kepada tuan rumah. Hey, farisi! Piring dan gelas engkau bersihkan bagian luarnya, tapi bagian dalam penuh dengan barang-barang curian dan kejahatan.

Hati kita sering kali dipenuhi oleh banyak hukum yang dibuat oleh manusia. Mau buat ini salah, itu salah. Takut kepada hukum, aturan, agama. Akibatnya adalah rasa takut dan cemas yang terus menghantui diri kita. Karena itu gambaran tentang Allah yang disembah adalah allah aturan-aturan, allah hukum-hukum, allah farisi, allah yang diciptakan sendiri.

Tapi Yesus tidak ingin melihat kesalehan manusia yang dibuat-buat, palsu. Yesus mengkritik dan membongkarnya: Bukankah Dia yang menciptakan bagian luar, juga menciptakan bagian dalam?

Dengan ini Yesus sesungguhnya menawarkan dalam diri-Nya wajah Allah yang hadir sebagai seorang pribadi, yang menyatu dalam hidup manusia. Yesus menawarkan kewajaran, hidup yang sehat, didorong oleh nurani yang otentik, agar melahirkan pribadi-pribadi yang hidup dan berbuah oleh kasih, sukacita dan kebebasan sebagai anak-anak Allah.

Yesus, bukan Engkau yang menjadi tamu di rumahku,

melainkan akulah yang Engkau undang masuk ke dalam kediaman Ilahi-Mu,

rumah abdi Bapa, Pemilik dan Tuan Rumah yang sesungguhnya.

Amen!

 

 

Dipanggil kepada pertobatan yang benar

Dipanggil kepada pertobatan yang benar

Dipanggil kepada pertobatan yang benar

Rm 1:1-7; Luk 11:29-32

Dalam diri Paulus dan Yunus, bisa dilihat dua pribadi unik yang dipanggil kepada pertobatan.

Yunus tanpa kepercayaan diri lari dari hadapan Allah ketika dipanggil untuk menjadi nabi bangsa Ninive. Paulus dengan penuh keyakinan pergi ke Damaskus untuk menobatkan sekte Kristen yang ada di sana untuk kembali kepada iman bangsanya sendiri.

Paulus merasa benar di hadapan Allah. Yunus sebaliknya merasa tak berdaya.

Keunikan itu terletak pada pengalaman pertobatan masing-masing. Yunus dihantam badai laut, ditelan dan mati di dalam perut ikan karena tidak mau masuk ke Ninive. Akan tetapi ia diselamatkan oleh Allah yang menguatkan hatinya untuk menerima tugas kenabian mewartakan kebenaran bagi orang-orang berdosa.

Paulus memimpin pasukan menuju ke Damaskus untuk membasmi umat Kristen. Di tengah jalan ia dihadang oleh cahaya yang jatuh dari langit. Ia jatuh dari kuda yang ditumpanginya, menjadi buta dan tak berdaya. Misinya untuk menghancurkan orang-orang Kristen gagal total. Ia sebaliknya merobah haluan dari seorang pembenci dan penganiaya kepada pengikut Kristus yang setia.

Secara khusus, Paulus menyebut dirinya hamba Kristus, pelayan Injil yang setia bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Melalui rahmat permandian, ia mengalami pemurnian diri secara total. Dengan iman yang benar akan Kristus ia memiliki hati yang lebih terbuka akan kasih dan rahmat Ilahi sebagai sumber keselamatan. Keyakinannya berubah: “bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20).

Seperti Paulus dan Yunus, kita diingatkan bahwa menjadi murid Tuhan menuntut pertama-tama pertobatan batin. Kita dipanggil untuk keluar dari kerapuhan dan pengakuan akan keberdosaan diri: dari gambaran diri yang salah, cari aman, tidak mau ambil risiko. Menjadi naïf. Tiada keyakinan akan kuasa Allah. Rahmat pertobatan membawa kita untuk menerima gambaran diri yang benar, berani mengambil risiko dan tanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan. Jiwa yang telah dibebaskan menemukan, kembali kepada diri sendiri. Melaluinya Roh Allah dibiarkan bekerja: menuntun dan membentuk kita agar berani dan bijak untuk mengatakan kebenaran dan mengutuk kesalahan, menjadi tanda keberpihakan dan persekutuan dengan orang-orang kecil, tertindas dan terpinggirkan.***

Belajar untuk berbahagia

Belajar untuk berbahagia

Hari Sabtu 10 Oktober 2015

Yl. 3:12-21

Luk. 11:27-28

“Belajar untuk berbahagia “

Menarik sekali bacaan injil hari ini, dimana seorang wanita memuji sang ibu yang melahirka Yesus; “”Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau,” akan tetapi respons Yesus sangat tidak diduga oleh wanita tersebut dan orang-orang yang ada bersama Yesus. “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”

Jawaban Yesus ini tentu saja tidak merendahkan ibu atau saudara-saudaranya, melainkan Yesus mau mengatakan kepada kita bahwa relasi/hubungan kita dengan Dia mendapat berkat kalau apa yang kita dengar dari padaNya kita pelihara dan wujud nyatakan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dengan pernyataan tersubut, Yesus juga mengajak kita semua untuk menjadi keluarga tidak hanya terbatas pada keluarga dekat. Kita mesti terbuka membagun relasi kekeluargaan yang lebih luas dengan orang diluar keluarga dekat kita. Bahkan lebih dari itu berani keluar dari rasa nyaman kita, membangun relasi dengan orang-orang miskin dan terlantar.

Dalam kunjunganya bebarapa waktu lalu di US, Pope Francis menunjukan contoh yang sangat baik bagaimana kita menjadi bagian dari orang-orang miskin disekitar kita. Pope Francis mengajak kita semua untuk membuka hati kita kepada orang yang lapar, miskin dan terasing. Orang-orang tersebut dapat kita temukan disekitar kita bahkan dalam rumah kita sendiri. Baik dalam rumah kita sendiri atau diluar lingkungan kita, kita dipanggil untuk merangkul mereka semua sebagaimana kita sendiri dirangkul oleh Tuhan.

Dalam hidup kita sehari-hari mungkin kita pernah bertanya: apa yang Yesus mau dari saya? Yesus mau sebuah relasi yang inti denganNya. Yesus merindukan senuah kedekatan relasi, relasi kekeluargaan dengan kita. Yesus menghendaki agar kita mau terbuka dan mau berserah kepadaNya terutama dalam saat dimana kita tidak mampu mengahadapi persoalan kita. Yesus tahu kelemahan manusia kita, Dia mengerti akan keterbatasan kita. Oleh karena itu Dia selalu mengundang kita untuk untuk datang kepadaNya. “Datanglah kepadaku, wahai kamu yang memikul beban berat, Aku akan meringankan bebanmu.”

Terbukakah kita untuk minta pertolongnNya? Atau masihkah kita merasa mampu untuk menghadapinya sendiri?

Mari kita buka mata, hati dan pikiran kita, datang kepada Tuhan untuk minta kekuatanNya agar kita mampu menjadi pengikutNya yang setia, mau memelihara dan melaksanakan apa yang telah kita dengar daripadaNya.

Translate »