Browsed by
Month: March 2016

The Seven Last Words of Christ. Sabda Keempat

The Seven Last Words of Christ. Sabda Keempat

Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku ? (Mark  15:34, Mat 27:46, cf Mazmur 22:1)

Allah adalah Yang Dipertuan Kehidupan,
Maha Baik dan Benar,
Sang Penjamin Kebahagiaan dan Kedamaian.

Dimanakah Dia manakala dihadapan kita dihamparkan
kehancuran hati, penderitaan, dan kematian?

Bagaimana mencerna
penganiayaan,
pengkhianatan,
kesemena-menaan,
nasib malang,
sakit derita,
kesayangan hati yang tiba-tiba direnggut pergi tak kembali…
yang membawa Si Jahat begitu dekat,
yang meredupkan sinar harapan dan terang…?

Derita Sang Anak Manusia adalah pemenuhan nubuat para Nabi
(Markus 14:21,49; Matius 26:54; 1 Korintus 15:3; Kebijaksanaan 2:12-18; Yesaya 52:13-53:12).
Dia membenamkan diri dalam kemanusiaan sedalam-dalamnya hingga merasuki pula pengalaman gelap kita.

Sang Jalan, Kebenaran dan Hidup menunjukkan,
Dia menyatu dalam jeritan kita, “Ambillah cawan (penderitaan) ini dari padaKu”,
untuk mengundang kita berteguh bersamaNya,
“Namun janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki” (Markus 14:35-36; Matius 26:39).
Dalam segala, suka dan duka,
ini bukan (melulu) tentang aku,
melainkan tentang kehendakNya,

Guru,
Engkau tidak membebaskan kami dari segala kesulitan dan penderitaan hidup,
Engkau berjalan bersama kami dalam mengarunginya.
Bukan kemudahan yang Kau janjikan (Maz 66:10, 2 Kor 12:7-10, Yak 1:12),
Namun penyertaan (Yes 43:2, Mat 28:20, Yoh 14:16), kekuatan (2 Tim 1:7), dan pengajaran rohani (Yoh 14:26, 16:13).

Ketaatan Santu Yosef

Ketaatan Santu Yosef

image1Mat 1:1-16, 18-21, 24a
Matius dan Lukas adalah dua Injil berbeda yang secara khusus berbicara tentang Santu Yosef, meskipun tidak lebih banyak diceritakan tentangnya seperti Maria, Ibunda Yesus.
Injil Matius pertama sekali menyebut Yosef dalam hubungan dengan silsilah keluarganya dari Abraham hingga Daud, dan Yosef sendiri dari Yakub. Kemudian disebutkan  bahwa  Yosef adalah suami Maria.
Sedangkan dalam Injil Lukas, Yosef pertama kali diperkenalkan dalam kisah tentang anunsiasi, yakni pemberian kabar gembira oleh malaikat kepada Maria tentang kelahiran Yesus. Di sana Yosef diperkenalkan bukan sebagai suami tetapi baru sebagai tunangan Maria.
Dalam Mat 1:19 disebut bahwa Yosef adalah orang benar dan taat dalam menjalankan hukum Allah. Ia taat dengan memberi nama Yesus sesuai yang dikatakan oleh Allah. Ia juga taat dengan membawa anaknya untuk disunat pada hari kedelapan setelah kelahiran. Selain itu ia juga mempersembahkan Yesus ke Bait Allah untuk purifikasi atau penyucian.
Kemudian saat Yesus berumur dua belas tahun, ia membawa-Nya ke Jerusalem untuk merayakan Paskah. Ketika itu Yesus hilang dan Yosef mencari-Nya bersama ibu-Nya sampai dapat. Ketika Yesus katakan kenapa mereka mencari Dia, meski sebagai seorang ayah, Yosef tetap menghargai pendapat Yesus (Luk 2:49).
Tapi Yosef bukan hanya taat pada hukum Allah melainkan juga hukum penguasa dunia dengan berpartisipasi dalam sensus penduduk meskipun saat itu Maria sedang hamil tua. Ketaatan dan kesetiaan Yosef sudah diuji saat ia curiga dengan kandungan misterius Maria dan berniat untuk bercerai. Akan tetapi Allah tidak membiarkan dia mengikuti niatnya itu. Ia tetap menerima Maria sebagai isterinya (Mat 1:20). Ia juga taat pada Allah dengan berani tinggalkan tanah airnya dan lari ke Mesir karena Yesus mau dibunuh Herodes (Mat 2:13). Yosef terus menunjukkan ketaatannya pada Allah dengan menunggu sampai waktu yang ditentukan untuk kembali lagi ke Israel dan menetap di Nazaret (Mat 5:20).
Pertanyaan manusiawi: Bagaimana ia bisa bergumul dengan semua kenyataan ini?
Ditemukan bahwa dalam Injil Yosef tidak pernah katakan sepatah kata pun.
Santu Yosef hanya taat dan setia pada rencana Allah, mencintai keluarganya dan pekerjaannya. Dalam kesenian ia sering diukir sebagai ayah yang melindungi keluarga kudus. Ia juga dilukiskan sebagai seorang pekerja karena keahliannya dalam pertukangan. Tapi selain itu juga Santu Yosef diukir sedang tidur dan diilhami oleh Allah lewat mimpi.
Santo Yosef berkatilah kami untuk tetap setia dan taat dengan setiap pekerjaan yang dipercayakan, sekecil apapun, demi kemuliaan Tuhan dan kebaikan sesama. Amen!
The Seven Last Words of Christ. The Third Word.

The Seven Last Words of Christ. The Third Word.

“Ibu, lihatlah, ini anakmu!” (Yoh 19:26)
See, O woman! here behold thy Son beloved.

….let Thy Mother, the Blessed Virgin Mary, whose holy soul was pierced by a sword of sorrow at the hour of Thy Passion, implore Thy mercy for us, both now and at the hour of our death…

Dari rahim seorang ibu kita hadir di dunia,
meski kita tak melihatnya,
dan ingatan kita betapa pendeknya,
kita mengerti betapa sebuah kelahiran dan pertumbuhan,
membutuhkan cinta kasih dan pengorbanan,
peluh dan air mata,
seorang ibu.

Sang Anak Manusia,
sebelum kembali ke rahim bumi,
menyerahkan para muridNya ke tangan Sang Bunda:
Usaplah air mata dukamu, Ibu…
dan cukuplah remuk redam hatimu…
Mereka akan menjagamu,
dan Ibu akan menjadi Bunda mereka,
sepanjang masa…

Menjadi tanda dan sarana keselamatan

Menjadi tanda dan sarana keselamatan

John 8:51-59
Dalam agama Yahudi menghujat Allah hukumannya lempar dengan batu sampai mati.
Yesus memberi dua bukti kenapa Ia adalah Putra Allah.
Pertama, Yesus merujuk Mazmur 82:6 tentang para hakim yang digelari “allah” karena mereka dipilih dan diutus oleh Allah untuk bertindak atas nama Allah. Yesus mengklaim bahwa Ia adalah Putra, diurapi dan diutus oleh Bapa.
Kedua, mukjizat-mukjizat yang dikerjakan Yesus adalah bukti bahwa Allah hadir dalam diri Putra-Nya. Karena alasan ini sekurang -kurangnya mereka percaya akan apa yang dikerjakan-Nya.
Kita mengenal Allah dan dipanggil masuk ke dalam misteri hidup Ilahi karena sakramen pembaptisan sebagai pintu masuk dalam persekutuan Ilahi. Hal ini ditandai dengan formula permandian itu sendiri: “(N)…. Aku membaptis engkau dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.” Air dan minyak pembaptisan adalah simbol dan tanda penyucian oleh Allah sendiri yang bekerja melalui Roh Kudus dalam diri utusan-Nya.
Semua sakramen yang diterimakan kepada kita adalah sarana dan tanda-tanda Ilahi bagi pengudusan dunia.
Semoga kita menjadi tanda dan sarana yang berkenan bagi kemuliaan Allah dan kebahagiaan sesama. Menjadi tanda dan sarana keselamatan, bukan untuk menghakimi dan menghujat. Amen.
Translate »