Browsed by
Month: March 2016

The Seven Last Words of Christ. Sabda Kedua.

The Seven Last Words of Christ. Sabda Kedua.

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus”  (Luk 23:43)

Keadilan Yang Ilahi bukanlah neraca mata ganti mata, gigi ganti gigi. Belas kasihNya menelisik setiap gerak hati yang merindukan kesatuan sejati bersamaNya, setiap nafas yang mendesahkan kehendak tinggal dalam Dia dan Dia tinggal dalamnya. Mari kalian yang letih lesu dan berbeban berat, didera badai hidup yang memporakporandakan perahumu, menyimpangkannya jauh dari arah tujuan: datanglah kembali pada Dia yang menantimu dan mencarimu penuh rindu. Karena hari ini juga, engkau ada bersama-sama denganNya di dalam Firdaus. Di dalam relasi yang tak menghitung-hitung masa lalu dengan presisi tinggi. Di dalam tatapan mata kasih yang menawarkan keteduhan dan damai sejati dan abadi sebagai hadiah cuma-cuma sebagaimana hidup dan ada itu sendiri. Mari, datanglah. Mari, pulanglah.

 

Yesus, Abraham dan nabi-nabi

Yesus, Abraham dan nabi-nabi

John 8:51-59
Pertentangan Yesus dan orang-orang Yahudi semakin genting. Kali ini Yohanes membawa kita untuk mendekati beberapa klaim Yesus yang menimbulkan pertentangan tajam.
Pertama, Yesus mengatakan bahwa siapa yang mendengarkan dan memelihara Sabda-Nya tidak akan mati karena apa yang dikuatkan-Nya datang dari Allah. Menanggapi Yesus, orang-orang Yahudi berkata bahwa Abraham, tokoh dan panutan iman serta patriark pertama darinya  lahir bangsa Yahudi bisa mati.
Kedua, Yesus mengklaim mengenal Allah secara pribadi karena Ia sendiri datang dari Allah. Tapi orang-orang Yahudi menjawab bahwa semua revelasi Allah terpenuhi dalam Lima Kitab Musa dan dalam diri Nabi-nabi.
Ketiga, Yesus mentaati Allah secara khusus melalui kata dan perbuatan serta seluruh ajaran-Nya. Orang-orang Yahudi merespon bahwa para nabi mentaati Allah tanpa cela.
Keempat, Yesus sudah ada sebelum Abraham. Orang Yahudi merespon bahwa umur Yesus belum lima puluh tahun.
Orang-orang jengkel dan karena itu berusaha melempar Yesus dengan batu. Tapi Yesus lenyap dari antara mereka.
Untuk kita renungkan: bagaimana dengan ketaatan kita terhadap ajaran-ajaran Yesus? Sungguhkah kita beriman pada Yesus sebagai Putra Bapa? Ataukah kita marah dan jengkel dengan kehadiran dan ajaran-ajaran Yesus? Dalam hal apa saja kita sering mengabaikan ajaran-ajaran Yesus?
Berilah kami hati yang sabar dan kepala yang dingin ya Tuhan dalam menghayati perintah dan ajaran-ajaranMu. Amen.
The Seven Last Words of Christ . Sabda Pertama.

The Seven Last Words of Christ . Sabda Pertama.

Bapa, ampuni mereka karena  mereka tak tahu apa yang mereka lakukan (Luk 23:34)

Siang itu mentari mungkin ingin menyembunyikan diri. Ada yang lebih panas dari sengat sinarnya: keberingasan hati kerumunan orang-orang di hadapan Pilatus yang berteriak-teriak mengobar-kobarkan kebencian seraya menunjuk-nunjuk Sang Putra Manusia yang terbelenggu tak berdaya: Ambillah Dia! Salibkan Dia! Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami! (Mat 27:25). Sang mentari malu, karena terangnya tidak bisa menemus kegelapan yang menyelimuti mata batin para hakim dalam persekutuan jahat mereka: pokoknya Dia harus mati!

Adakah yang lebih kejam daripada menganiaya dan membunuh orang yang tak bersalah, atas nama kebenaran yang hanyalah hiasan pemulas pusaran nafsu-nafsu jahat yang berkelidan? Lebih lagi, Sang korban adalah Dia yang telah menyembuhkan yang cacat dan luka, yang menghibur yang berbeban berat dan berduka, yang mengajarkan olah hati yang penuh cinta kasih, sabar dan sederhana.

Di atas kayu salib hina, Dia laksanakan yang Ia wartakan: mengasihi orang yang memusuhiNya dan berdoa untuk orang-orang yang menganiaya Dia (cf. Mat 5:44): Bapa, ampuni mereka karena  mereka tak tahu apa yang mereka lakukan (Luk 23:34). Duhai hati yang seluas cakrawala!

Ah… Andai mereka tahu apa yang mereka lakukan… Andai kita selalu tahu dan sadar akan apa yang kita lakukan…

 

Dipanggil kepada kebebasan sejati

Dipanggil kepada kebebasan sejati

John 8:31-42
Dalam Injil hari ini Yesus mempertentangkan antara orang percaya dan tidak percaya seperti budak dan orang merdeka.
Budak, slave tidak memiliki kebebasan karena free will-nya diperdaya, dikendalikan oleh dosa, yakni kekuatan jahat. Sebaliknya, orang merdeka memiliki kebebasan karena free will-nya tidak dikuasai oleh dosa melainkan oleh Allah.
Jadi kebebasan dalam artinya yang benar dan mendalam adalah kebebasan rohani yakni ketaatan radikal pada kehendak Allah. Kebebasan ini ditentukan bukan oleh determinasi alam, nafsu dan keinginan manusia. Kebebasan yang benar bagi orang Kristen adalah penerimaan total dan personal kasih Allah yang berbicara dan bertindak melalui Putra-Nya Yesus.
Inilah definisi kemuridan yang dihayati setiap pengikut Kristus, yakni ketaatan total akan kuasa dan penyelenggaraan kasih Allah dalam hidup kita sehari-hari.
Sedangkan ketidakpedulian orang-orang Yahudi yang tak percaya pada Yesus menjadi bukti tiadanya iman. Mereka berkeras kepala bahwa mereka percaya akan Allah bapak mereka Abraham, tapi Yesus mengatakan dengan tegas pula kalau mereka adalah budak dosa dan maut karena menolak Yesus Putra Allah dan karena mereka mau membunuh-Nya.
Semoga kuasa Roh Allah menguduskan dan menguatkan kehendak hati kita yang lemah oleh dosa-dosa agar kasih dan kebenaran Kristus makin dikenal dan terima demi kemulian Tuhan dan sesama. Amen.
Ular tembaga dan salib keselamatan

Ular tembaga dan salib keselamatan

image1
Bil 21:4-9
John 8:21-30
Bacaan-bacaan hari ini mengingatkan saya akan satu pengalaman bersama satu keluarga sehabis makan malam bersama yang menyenangkan di sebuah restoran.
Sehabis makan bersama kami berpamitan. Di luar restoran, satu mobil ambulance sedang parkir. “Hanya mobil seperti ini yang boleh parkir di redline,” kataku. “Yes, for emergency,” kata Matthew, salah satu anak keluarga ini. Kami terus bergerak dan di bagian samping mobil terdapat sebuah lukisan. Nicole, putri bungsu Rick dan Vicki, melihatnya dan bertanya apa arti lukisan itu. Bagi saya, ambulance biasanya ada redcross. Tapi Rick mengingatkan kami akan salah satu kisah Moses dan orang-orang Yahudi ketika mereka mengembara di padang gurun dengan maksud untuk menjelaskan makna simbol pada ambulance itu yakni sebagai Medical Symbol.
Orang-orang Yahudi marah dan komplain kepada Moses karena tidak ada makanan dan air. Mereka menyeberang Laut Merah dan berusaha memasuki tanah yang sudah dijanjikan Allah tapi harus berhadapan dengan bangsa-bangsa lokal Filistin. Mereka kehabisan makanan dan air. Juga tidak suka manna, makanan yang diberikan oleh Allah. Terus marah… dan marah.
Akibat dari itu, Allah mengirim ular-ular dan menggigit mereka. Banyak mati karena terkena gigitan ular berbisa. Maka orang-orang Yahudi menyuruh Moses untuk berdoa memohon agar Allah tidak mengirim ular-ular itu lagi sehingga mereka bisa hidup. Moses berdoa, dan Allah memintanya untuk membuat ular dari tembaga dan melingkarkannya pada satu tiang agar setiap orang yang melihatnya tetap hidup meski terkena gigitan ular.
Di sini ular tembaga yang diperlihatkan oleh Moses menjadi semacam anti racun. Obat yang menyembuhkan yang kini menjadi simbol medis dan para dokter. Bahkan lebih dari itu, agar orang-orang Yahudi itu tetap hidup. Jadi ada semacam hubungan antara sikap ketidaksabaran dan iman, keselamatan dan ketiadaan iman akan Allah. Meski demikian Allah tetap sabar dengan memberi tanda dan peringatan. Lewat para nabi Allah mendampingi umat-Nya agar tetap selamat.
Dalam Injil hari ini Yesus mengingatkan orang-orang yang tidak beriman akan bernasib seperti orang-orang Yahudi ketika mereka menderita di gurun pasir. Dosa keangkuhan dan prejudis membuat mereka tidak mengalami kehadiran Allah dalam hidup ini.
Yesus mendeklarasikan diri sebagai Mesias “Akulah Dia” – bahwa sama seperti ular ditinggikan di padang gurun, demikian juga diri-Nya akan ditinggikan melalui salib. Salib adalah simbol dosa dan kematian. Hanya orang berdosa yang dihukum mati di salib. Tetapi Yesus tidak berdosa sama sekali. Yesus menerima salib justru karena dosa kita manusia. Inilah misteri salib. Yakni dengannya dosa dan kematian dikalahkan oleh Yesus. Dan mereka yang percaya, beriman pada Yesus akan tetap hidup. Salib adalah obat, sarana keselamatan. Salib adalah makanan orang Kristen. Memandang Yesus yang tersalib, bersatu dalam penderitaan-Nya adalah jalan menuju keselamatan.
Selama masa prapaskah yang masih tersisa ini, kita merenungkan juga jalan salib Yesus. Setiap kali mengikuti jalan salib kita merenung tentang penderitaan Yesus tapi terutama kita diingatkan akan dosa dan penderitaan kita sendiri: penyakit yang kita alami, tidak sabar dalam pekerjaan dan tugas, suka ngomel, marah, dll. Kita menyatukan penderitaan kita dengan penderitaan Kristus. Kita tidak bisa menyembuhkan diri sendiri tanpa bantuan Tuhan. Lewat sesama, teman, bahkan orang asing sekalipun, Tuhan bisa datang menjumpai kita. Di balik penderitaan ada kegembiraan dan hidup. Semoga dosa-dosa kita diampuni oleh Tuhan, dan kita dimampukan agar sanggup memberi ampun atas sesama yang membutuhkan pengampunan kita.
Translate »