Ular tembaga dan salib keselamatan

Ular tembaga dan salib keselamatan

image1
Bil 21:4-9
John 8:21-30
Bacaan-bacaan hari ini mengingatkan saya akan satu pengalaman bersama satu keluarga sehabis makan malam bersama yang menyenangkan di sebuah restoran.
Sehabis makan bersama kami berpamitan. Di luar restoran, satu mobil ambulance sedang parkir. “Hanya mobil seperti ini yang boleh parkir di redline,” kataku. “Yes, for emergency,” kata Matthew, salah satu anak keluarga ini. Kami terus bergerak dan di bagian samping mobil terdapat sebuah lukisan. Nicole, putri bungsu Rick dan Vicki, melihatnya dan bertanya apa arti lukisan itu. Bagi saya, ambulance biasanya ada redcross. Tapi Rick mengingatkan kami akan salah satu kisah Moses dan orang-orang Yahudi ketika mereka mengembara di padang gurun dengan maksud untuk menjelaskan makna simbol pada ambulance itu yakni sebagai Medical Symbol.
Orang-orang Yahudi marah dan komplain kepada Moses karena tidak ada makanan dan air. Mereka menyeberang Laut Merah dan berusaha memasuki tanah yang sudah dijanjikan Allah tapi harus berhadapan dengan bangsa-bangsa lokal Filistin. Mereka kehabisan makanan dan air. Juga tidak suka manna, makanan yang diberikan oleh Allah. Terus marah… dan marah.
Akibat dari itu, Allah mengirim ular-ular dan menggigit mereka. Banyak mati karena terkena gigitan ular berbisa. Maka orang-orang Yahudi menyuruh Moses untuk berdoa memohon agar Allah tidak mengirim ular-ular itu lagi sehingga mereka bisa hidup. Moses berdoa, dan Allah memintanya untuk membuat ular dari tembaga dan melingkarkannya pada satu tiang agar setiap orang yang melihatnya tetap hidup meski terkena gigitan ular.
Di sini ular tembaga yang diperlihatkan oleh Moses menjadi semacam anti racun. Obat yang menyembuhkan yang kini menjadi simbol medis dan para dokter. Bahkan lebih dari itu, agar orang-orang Yahudi itu tetap hidup. Jadi ada semacam hubungan antara sikap ketidaksabaran dan iman, keselamatan dan ketiadaan iman akan Allah. Meski demikian Allah tetap sabar dengan memberi tanda dan peringatan. Lewat para nabi Allah mendampingi umat-Nya agar tetap selamat.
Dalam Injil hari ini Yesus mengingatkan orang-orang yang tidak beriman akan bernasib seperti orang-orang Yahudi ketika mereka menderita di gurun pasir. Dosa keangkuhan dan prejudis membuat mereka tidak mengalami kehadiran Allah dalam hidup ini.
Yesus mendeklarasikan diri sebagai Mesias “Akulah Dia” – bahwa sama seperti ular ditinggikan di padang gurun, demikian juga diri-Nya akan ditinggikan melalui salib. Salib adalah simbol dosa dan kematian. Hanya orang berdosa yang dihukum mati di salib. Tetapi Yesus tidak berdosa sama sekali. Yesus menerima salib justru karena dosa kita manusia. Inilah misteri salib. Yakni dengannya dosa dan kematian dikalahkan oleh Yesus. Dan mereka yang percaya, beriman pada Yesus akan tetap hidup. Salib adalah obat, sarana keselamatan. Salib adalah makanan orang Kristen. Memandang Yesus yang tersalib, bersatu dalam penderitaan-Nya adalah jalan menuju keselamatan.
Selama masa prapaskah yang masih tersisa ini, kita merenungkan juga jalan salib Yesus. Setiap kali mengikuti jalan salib kita merenung tentang penderitaan Yesus tapi terutama kita diingatkan akan dosa dan penderitaan kita sendiri: penyakit yang kita alami, tidak sabar dalam pekerjaan dan tugas, suka ngomel, marah, dll. Kita menyatukan penderitaan kita dengan penderitaan Kristus. Kita tidak bisa menyembuhkan diri sendiri tanpa bantuan Tuhan. Lewat sesama, teman, bahkan orang asing sekalipun, Tuhan bisa datang menjumpai kita. Di balik penderitaan ada kegembiraan dan hidup. Semoga dosa-dosa kita diampuni oleh Tuhan, dan kita dimampukan agar sanggup memberi ampun atas sesama yang membutuhkan pengampunan kita.
Comments are closed.
Translate ยป