Browsed by
Month: March 2016

Jumat, 4 Maret 2016

Jumat, 4 Maret 2016

 

Hosea 14:2-9, Mark 12:28-34

Kami mencintai-Mu, Ya Allah; dan kami rindu mencintaimu lebih sungguh. Anugerahkan kepada kami rahmat supaya kami mencintai-Mu seperti yang kami rindukan, bersama segenap kekuatan dan hidup kami. O Sahabat yang terkasih, yang begitu mencintai dan menyelamatkan kami, yang pikiran tentang Dikau begitu indah dan bertumbuh semakin menakjubkan, datanglah bersama Kristus and tinggallah dalam hati kami, sehingga Engkau tetap menjaga bibir kami, langkah kami, pekerjaan kami dan kami tak perlu khawatir baik akan jiwa kami maupun badan kami karena Dikau tho menjaga kami. Berikan kami cinta, rahmat termulia dari segala rahmat, rahmat yang tidak mengenal musuh dan musim.Hujaini hati kami dengan cinta yang murni, lahir dari belaskasih-Mu kepada kami, sehingga kami juga bisa mencintai sesama kami sebagaimana Engkau mencintai kami. Ya Bapa yang mahakasih dari putera yang penuh cinta Yesus Kristus, dari-Mu segala cinta mengalir, biarkan hati kami membeku dalam dosa, hati kami yang dingin terhadap-Mu dan dingin terhadap sesama, dihangatkan kembali dalam api kasih ilahi-Mu. Bantulah dan berkatilah kami dalam Yesus, Putera-Mu.

Pada awal permenungan ini, saya mengutip sebuah doa yang begitu indah menyentuh hati yang digubah oleh St. Anselmus. Doa ini dapat menjadi sebuah representasi dari betapa merindunya umat manusia terhadap kasih Allah, bahwa kerinduan terhadap kasih Allah itu adalah sebuah kerinduan universal yang berada di dalam hati sanubari yang paling dalam seluruh umat manusia sepanjang sejarah.

Kepada para pendengar dan juga penentang (dan penantangnya), Yesus menyampaikan pesan sederhana ini: “Apa yang Allah tuntut dari kita sesederhana ini: cintailah sebagaimana Allah mencintai. Allah itu adalah cinta dan segala yang Dia ucapkan dan dia kerjakan sungguh mengalir dari kasih-Nya yang tak kenal batas kepada manusia. Tuhan terlebih dahulu mencintai kita dan cinta kita kepada-Nya adalah jawaban terhadap rahmat dan kebaikannya yang sedemikian berlimpah bagi hidup kita. Cinta kepada Allah mesti pula membakar dan menyemangati kita untuk mencintai sesama secara lebih sungguh. Panggilan kita adalah menemukan wajah Allah yang penuh kasih dalam wajah sesama yang kita cintai dan sesama yang mencintai kita. Yesus bahkan menantang kita untuk melampaui batas. Cintailah musuhmu. Temukan wajah kasih Allah dalam wajah musuhmu. Ini adalah sebuah revolusi hati dan transformasi mental. Revolusi hati dan transformasi semonumental ini tentu membutuhkan komitmen, kesetiaan dan dedikasi. Kerendahan hati kita untuk sujud tunduk menyembah memohon rahmat kasih yang total dari Tuhan adalah kunci bagi penyempurnaan hidup kita. Semakin kita mengenal dan mencintai Allah dan kebenaran-Nya semakin kita akan mencintai apa yang Dia cintai dan menolak segala sesuatu mengarah kepada kebencian dan berlawanan dengan kehendaknya. Amin

Kamis, 3 Maret 2016

Kamis, 3 Maret 2016

 

Yeremia 7:23-28; Lukas 11:14-23

Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.”

Kita menyadari bahwa kalau kita tidak bersama Kristus, kita melawan Kristus. Menjadi orang Katolik tidak selalu berarti bahwa kita bersama Kristus senantiasa. Katolik tanpa kedekatan dengan Kristus dalam doa, dalam pembacaan Kitab Suci dan dalam tindakan cinta kasih adalah sebuah kebohongan dan salah kaprah. Yesus dalam keseluruhan Injil kita kenal sebagai seorang nabi, Allah dan manusia yang mau ajak setiap orang untuk tidak berpuas diri dengan apa yang ada di permukaan pada level superfisial. Yesus ingin supaya kita masuk dan menyelam lebih dalam dan lebih jauh terutama dalam kaitannya dengan pilihan kita terhadap setiap keputusan dalam kehidupan pribadi kita.

Perlindungan terbaik yang akan menghantar kita kepada kedamaian yang total menurut Kitab Suci adalah ketika kita datang dan mendekatkan diri kita kepada Allah dan menyandarkan prinsip kehidupan kita kepada Allah. ” Dengarkanlah suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku, dan ikutilah seluruh jalan yang Kuperintahkan kepadamu, supaya kamu berbahagia (all will be well with you)! Bdk. Yeremia 7:23.

Kita juga mesti menyadari bahwa perjuangan untuk menjatuhkn pilihan kepada kebaikan atau kejahatan, turut kemauan Allah atau kemauan diri sendiri, Jalan Allah atau jalanku, tidak dapat begitu saja kita menangkan dengan kekuatan manusiawi kita sendiri. Kita membutuhkan Allah dan rahmat-Nya. Musuh kita, setan dan wajah kejahatannya, bisa begitu mengelabui dan berkonspirasi dengan dunia dan kesenangan duniawi yang memerangkap kita ke dalam keinginan-keinginan yang sesat dan penuh dosa. St. Petrus mengingatkan kita dalam suratnya bahwa kita perlu bersiaga selalu. sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari jiwa-jiwa yang dapat ditelannya (1 Peter 5:8-9). Allah menawarkan kepada kita rahmat dan perlindungan jika kita juga terbuka dan rindu untuk Dia sentuh dan Dia ubah menjadi instrument untuk bertahan terhadap setiap kekuatan dan godaan jahat yang datang dalam hidup kita. Sebab TUHAN ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu, alapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu; sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. (Mazmur 91:9-11)

Rabu, 2 Maret 2016

Rabu, 2 Maret 2016

 

Ulangan 4:1,5-9; Matius 5:17-19

Keselamatan dan penebusan kita itu seringkali bergantung pada bagaimana kita melihat hukum yang sudah Allah canangkan kepada kita. Apakah kita melihat secara positif sebagai hal yang penting untuk mengatur dan menata kehidupan kita atau sebaliknya kita melihat hukum Allah tersebut sebagai hal yang mengkerangkeng dan membatasi kebebasan kita?

Sikap dan disposisi Yesus terhadap Hukum Taurat atau tepatnya hukum yang Allah canangkan mungkin dapat terangkum secara utuh dalam Mazmur 119: Betapa kucintai hukum-Mu, Ya Allah! Aku merenungkannya sepanjang hari. Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan.

Yesus tentunya paham bahwa hukum orang Yahudi itu merujuk pada sepuluh perintah Allah dan kelima Kitab Musa (Taurat). Kesepuluh perintah Allah dan Taurat menjelaskan secara detail perintah dan penetapan Allah untuk umat-Nya, juga keseluruhan pengajaran dan cara hidup yang Allah berikan kepada Israel. Sayangnya, bahwa para ahli taurat kerap kali menambahkan pelbagai macam hal kecil untuk membuat Hukum Taurat menjadi sukar dan bahkan melenceng dari maksud Allah sendiri. Itulah sebabbnya Yesus seringkali menantang dan berargumentasi dengan mereka. Bukan karena Yesus membenci mereka tetapi karena Yesus mau meluruskan kekeliruan pemahaman mereka terhadap Hukum Taurat. Yesus tidak ingin Hukum Taurat (yang merupakan hasil tafsiran) justru disalahgunakan untuk membebankan orang Israel yang sudah sejak semula dijajah oleh kekaisaran Romawi. Yesus tidak ingin sebuah sistem politik yang sudah jahat semakin dikriminalisasikan oleh sistem hukum religius yang berbelit-belit dan kontraproduktif.

Untuk Yesus, esensi (hal yang paling utama) dari setiap hukum yang Allah gariskan adalah cinta, hormat, dan respek terhadap Allah, terhadap orang tua, terhadap kehidupan, terhadap nama baik orang lain, terhadap diri sendiri, terhadap tetangga dan saudara/imu. Takzim dan respek terhadap Allah, diri sendiri dan sesama adalah dasar dari setiap hukum karena dia berasal dari Allah yang adalah Kasih itu sendiri. Setiap orang yang berkata dan bertindak melawan kasih terhadap diri sendiri dan sesama, dia melawan Allah.

Telah Meninggal Dunia Romo Hario Subianto CM

Telah Meninggal Dunia Romo Hario Subianto CM

IMG_6287 d7b682e184491d5750f291acdb2542d9Telah meninggal dunia saat perjalnan ziarah ke Yerusalem , disaat Beliau berendam di laut Mati  pada hari Senin Feb 29 , 2016 kira2 jam 20:00 pm WIB .

Konon cerita seorang Ibu, beliau pernah mengatakan kalau ingin meninggal di Yerusalem seperti Yesus…. Selamat Jalan Romo Hario… Doa kami menyertai kepergianmu menghadap Bapa di Surga , Terima kasih atas pengabdianmu dan pengorbananmu selama ini… Amin

 

Refleksi Pra Paskah

Refleksi Pra Paskah

PRAPASKAH- WAKTU BELAS KASIH KERAHIMAN ALLAH

Saya ingin memulai refleksi ini dengan mengutip tema dari sebuah renungan yang dibawakan oleh Romo Antonius Galih di lubuk hati tanggal January 26 yang lalu. Saya sangat terkesan dengan inti yang sangat menarik mengutip wawancara dengan Paus Fransiskus sempena year of Mercy. ( silakan baca bagi yang belum baca)

Temanya berbunyi “Dosaku kok sama terus??!!” Sebuah keluhan yang sangat biasa dan sering kita dengar dari banyak orang atau mungkin kita juga mengeluh hal yang sama terutama pada saat mau maju ke kamar pengakuan dosa. Sehingga waktu berahmat dan waktu belas kasih Allah tersia-siakan oleh keluhan-keluhan kita.

Setiap hari, tetapi secara khusus dalam masa Prapaskah, orang Kristen harus berjuang dalam peperangan rohani melawan dosa dan diajak untuk lebih banyak melakukan pemeriksaan batin memperbaiki diri dan bertobat. Dan untuk melakukan pemeriksaan batin kita memerlukan kebijaksanaan Ilahi iaitu penerangan Roh Kudus dengan berdoa memohon rahmatNya untuk menerangi pikiran dan seluruh tindakan kita. Bukan mengandalkan kekuatan kita. Apakah kita menyadari bahwa kesedihan yang paling besar dialami oleh banyak orang di abad ini adalah ketidaktahuan akan kebijaksanaan Ilahi ini? Padahal kita hidup dalam zaman yang serba canggih, bisa dikatakan bahwa manusia berada dipuncak jaya dengan segala kecanggihan yang diciptakannya dengan tanda kutip diterimanya dari Atas. Dan yang paling menyedihkan banyak anak-anak muda bahkan orang tua tidak tahu dari mana dan apa makna dari kehidupannya. Sehingga banyak yang jatuh dalam keputusasaan dan kehilangan semangat dan terpuruk dalam kelemahan dan kesedihan yang berlebihan. Sehingga kerahiman yang ditawarkan setiap hari oleh Tuhan tidak disadari. Nah di tahun kerahiman ini dan secara khusus di masa prapaskah ini kita di panggil untuk memberi motivasi dan semangat kepada orang-orang seperti ini.

Kita memang lemah tetapi janganlah berhenti dalam kelemahan kita. Lihat contoh dari Injil Lukas 15 mengenai anak yang hilang… dia berkata [] aku akan akan bangkit!!! Dan pergi kepada bapaku dan apa yang terjadi adalah sebuah surprise yang tidak diduganya, Sang Bapa sudah lama menunggu dan BERLARI MENDAPATKAN dia dan mengembalikan martabatnya sebagai anak yang dikasihi. Inilah misteri pandangan kasih Bapa!

Dalam bulla Tahun Yubileum Kerahiman ( Misericordiae vultus ) Paus Fransiskus menulis “ Kita perlu terus-menerus merenungkan misteri kerahiman. Ia adalah sebuah sumber sukacita, ketenangan, dan kedamaian.Keselamatan kita tergantung padanya. Kerahiman : kata tersebut mengungkapkan sungguh-sungguh misteri Tritunggal Mahakudus. Kerahiman : tindakan utama dan tertinggi yang olehnya Allah datang untuk menemui kita..”

Bukankah ini suatu kebahagiaan bagi kita bahwa Allah sendirilah yang datang menemui kita!

Allah sendirilah yang datang menemui kita dalam diri Yesus PuteraNya yang memanggul salib untuk kita karena kasih. Marilah kita sungguh-sungguh menyadari bahwa di setiap waktu dan terlebih di masa prapaskah inilah merupakan waktu belas kasih kerahiman Allah.

Translate »