Browsed by
Month: May 2016

JANGAN TAKUT

JANGAN TAKUT

 

Kis 19:1-8

Yoh 16:29-33

Pengenalan para murid tentang siapa Yesus, semakin lama semakin jelas bahwa Yesus adalah Mesias. Mereka bisa mengerti apa yang dikehendaki Yesus karena iman/kepercayaan kepada Tuhan Yesus. Iman bertumbuh karena komitmen komunikasi dengan Tuhan yang dipelihara dalam ketekunan. Buah yang bisa dirasakan dari relasi dengan Kristus adalah damai dan suka cita.

Damai dan suka-cita yang datang dari relasi dengan Kristus tidak akan diambil oleh apapun. Sekalipun mengalami tantangan yang berat, orang yang dekat dengan Kristus akan tetap tambah yang merasakan damai. Sebagai murid-murid Kristus, kita diutus untuk hidup dalam kebenaran karena iman akan Kristus yang telah mengajarkan cinta kasih sebagai hukum yang utama. Semakin kita mengenal dan dekat dengan Kristus maka semakin mengalir kasih Nya kepada hidup kita. Namun hal itu bukan berarti kita tidak lepas dari kesulitan dan tantangan hidup.

Sekalipun kita harus menghadapi tantangan namun kasih Kristus menjadi kekuatan yang menumbuhkan harapan dan suka cita. Oleh karena itu, kita tidak perlu takut karena Yesus Kristus telah hadir mengalahkan segala kekuatan jahat dan Dia menganugerahkan damai sejahtera serta menyertai sampai selama-lamanya bagi semua yang percaya kepada Nya.

Marilah Berdoa,

Allah yang Maha kasih, terima kasih atas kasih Mu yang terus mengalir dalam hidup kami. Ajarilah kami untuk mengenali kehadiran Mu dalam setiap peristiwa hidup. Dengan demikian kami tidak akan pernah kehilangan harapan dan damai. Demi Kristus Tuhan dan Penyelamat kami, Amin.

Pulang

Pulang

8 Mei 2016

Kisah Para Rasul 18:23-28
Mazmur 47
Yohanes 16:23-28

Situasi pengungsi di dunia saat ini amat parah. Mereka yang terpaksa harus meninggalkan tanah air mereka karena peperangan, kekerasan, atau kemiskinan yang kronis terkadang harus menempuh jalur yang berbahaya untuk pindah ke negara lain. Setelah itu pun kebanyakan harus tinggal di tenda-tenda pengungsian dengan fasilitas yang sangat minimum. Bayangkan mereka yang berharap bisa pulang kembali, jika saja keadaan di negara mereka bisa lebih baik. Bayangkan anda tidak bisa kembali ke tempat kelahiran anda, tempat anda dibesarkan di mana terkandung banyak memori suka dan duka dengan keluarga dan teman-teman.

Yesus berpesan dalam Injil hari ini bahwa Ia datang dari Bapa dan akan kembali pada Bapa. Kita manusia pun sama-sama berasal dari Allah. Tetapi kita sudah lama terpisahkan dari Allah. Karena dosa, kita menjadi seperti pengungsi yang kehilangan arah dan tidak bisa kembali pada Bapa. Semuanya berubah ketika Yesus datang ke dunia, hidup dan wafat dalam sengsara dan bangkit. Ia adalah jalan, terang, dan kebenaran (Yohanes 14:6). Ia adalah jalan bagi kita supaya bisa pulang kembali ke rumah abadi kita bersama Bapa (Yohanes 14:2).

Jalan itu tidak lain adalah jalan salib Yesus, yang mengantarkan kita pada kebangkitan dan hidup abadi. Jalan yang tidak mungkin bisa kita jalani sendiri kalau tidak dikuatkan Roh Kudus yang dikirimkan Yesus setelah Dia kembali pada Bapa. Seperti pengungsi yang sudah lama terpisah dari tanah airnya, kita menantikan saat di mana kita bisa pulang, saat kita bisa merasakan kembali kepenuhan hidup dalam kasih Allah Tritunggal.

Doa! ahh hal yang tidak penting… betapa remehnya kita menganggap persahabatan dengan Allah.

Doa! ahh hal yang tidak penting… betapa remehnya kita menganggap persahabatan dengan Allah.

Prioritas ialah seberapa pentingnya kita menganggap satu hal.

Dan orang Kristen yang mengabaikan doa telah kehilangan prioritasnya!

Kita menyadari bahwa doa adalah bagian penting dalam kehidupan rohani namun tidak selalu kita setia melakukannya. Ada saja halangan untuk berdoa dan kerinduan itu tidak selalu muncul. Yang menyebabkan hal itu terjadi ialah karena kita orang berdosa, kita merupakan target serangan iblis yang senantiasa berupaya menjauhkan kita dari Tuhan, kita kurang dapat mengatur waktu dengan baik, seringkali kita kehilangan keseimbangan hidup dan kita tidak mementingkan doa dan lebih mementingkan tindakan langsung.

Banyak orang percaya bertekad mereka akan berdoa kalau mereka mempunyai waktu. Tetapi tiap minggu, mencari Kristus menjadi kurang penting bagi mereka daripada mencuci mobil, membersihkan rumah, mengunjungi teman, makan di luar, pergi belanja, menonton, olah raga dan lain sebagainya. Mereka cuman tidak menyediakan waktu untuk berdoa.

Mungkin memang benar ia sibuk sekali. Namun yang menjadi soal bukanlah kesibukan, melainkan siapakah Yesus itu bagi dia. Bila Yesus sungguh berharga bagi dia, pastilah ia akan menemukan waktu bagi-Nya. Yesus sendiri dalam hidup-Nya seringkali amat sibuk, sehingga kadang-kadang bahkan tidak sempat makan, karena orang banyak sekali. Namun biarpun demikian Ia menyempatkan diri pada malam hari pergi ke gunung untuk berdoa, atau kadang-kadang pagi-pagi sebelum fajar menyingsing Ia telah naik ke bukit untuk berdoa. Yesus sangat sibuk, namun ia mengambil banyak waktu untuk berdoa, karena doa justeru merupakan napas hidupNya. Ia menjadikan perjumpaan dengan Bapa-Nya dalam doa itu prioritas-Nya yang pertama. Karena itu dalam segala kesibukan-Nya Ia telah menemukan tempat dan waktu untuk berdoa. Keduanya perlu. Kalau kita gagal menemukan-Nya, kita juga akan gagal dalam berdoa dan itu berarti awal kegagalan hidup kita.

 

Manusia memang tidak berbeda pada jaman Nuh dan Lot. Prioritas utama mereka adalah makan dan minum, beli dan jual, kawin dan memperhatikan keluarga mereka. Mereka tidak punya waktu untuk mendengarkan pesan Tuhan tentang penghakiman yang akan tiba. Sehingga tidak ada yang siap pada saat penghakiman itu tiba!

Kenyataannya, tidak ada yang berubah selama berabad-abad. Untuk sebagian besar orang Amerika, bahkan di seluruh belahan dunia, Tuhan tetap menempati tempat paling bawah dari daftar prioritasnya. Dan prioritas utama adalah penghasilan, keamanan, kesenangan, keluarga. Tentu saja, untuk banyak orang, persahabatan dengan Tuhan di dalam doa tidak ada dalam daftarnya. Tetapi itu tidak menyedihkan Tuhan, namun secara realitas betapa kecilnya Tuhan dihargai oleh anak-anak-Nya sendiri!

Banyak orang menyangka bahwa kalau dia memiliki penghasilan yang baik, menemukan kesenangan hidup duniawi,  maka dia akan bahagia dalam hidupnya. Namun, dengan berjalannya waktu dan meningkatnya usia, kebahagiaan yang semu itu tidak selamanya mereka kecapi. Kekosongan hidup, kesepian, kebingungan malah semakin menguasai hidup mereka karena tidak pernah mengalami perjumpaan dengan Tuhan secara pribadi.

Ada satu hal yang menjadikan hidup kita ini indah, berarti dan berhasil, yaitu persahabatan yang mesra dengan Allah. Tanpa itu segalanya akan menjadi kosong, sebaliknya persahabatan tersebut akan menjadikan hidup kita sungguh-sungguh indah. Persahabatan ini adalah karunia Allah yang telah mengasihi kita lebih dahulu (1 Yoh 4:10) dan yang menjadikan kita sahabat-sahabat-Nya (Yoh 15:15). Persahabatan itu muncul dari pemberian yang timbal balik: anugerah doa dan persembahan waktu. Anugerah doa berasal dari Roh Allah yang harus kita terima dengan hati yang murni dan penuh syukur. Persembahan waktu adalah bagian kita: kita harus mempersembahkan waktu kita yang terbaik kepada Allah dengan sukacita.

 

Persahabatan yang mesra membutuhkan kesendirian, untuk berada berdua dengan sang sahabat, supaya dapat berbicara secara mendalam dan mesra. Persahabatan dengan Allah tidak akan berkembang bila kita tidak berusaha berada sendirian dengan Allah tanpa diganggu. Karena itu Tuhan Yesus memberikan petunjuk ini: “Bila kamu berdoa, masuklah ke dalam kamarmu dan kunci pintunya dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat yang tersembunyi” (Mat 6:6). Dan bila Yesus hidup pada zaman kita, Ia pasti akan menambahkan: “matikan radio, tv dan tilpun lebih dahulu, baru berdoa. Perjumpaan dengan Allah dalam doa ini harus menjadi prioritas kita yang top. Bila kita menghargai persahabatan ini sungguh-sungguh, kita tidak akan membiarkan perjumpaan itu  diganggu. Perjumpaan yang teratur itu akan memberikan arti yang mendalam kepada hidup kita.

Memang, cintakasih menuntut adanya prioritas. Bila kita menyadari hal ini banyak persoalan dalam hidup akan terpecahkan. Bila kita sangat sibuk dengan pelbagai macam tugas atau pekerjaan, jangan mencari waktu yang luang, melainkan harus mengubah prioritas kita. Yang kita perlukan adalah meninjau kembali prioritas kita. Seorang ayah yang sedang bepergian dan dari rumah tiba- tiba mendapat kabar, bahwa anaknya sakit keras, bukankah ia akan meninggalkan segalanya dan segera pulang untuk menengok anaknya yang sakit itu ? Mengapa ? Karena anak itu lebih berharga bagi dia daripada semua urusan pekerjaannya dan karena itu kehadirannya pada anak itu menjadi prioritas nomor satu baginya saat itu. Karena itu bila kita tidak dapat menemukan waktu untuk berdoa, berarti bahwa ada sesuatu lain yang lebih berharga bagi kita daripada persahabatan kita dengan Allah.

Allah sendiri telah menawarkan persahabatan-Nya kepada kita dan kita diundang untuk memasuki suatu hubungan yang lebih mendalam lagi. Tetapi hal itu menuntut adanya persembahan waktu kita yang berharga dengan murah hati dan pada hakekatnya adalah persembahan diri kita sendiri kepada Tuhan. Jadikan waktu doa kita prioritas yang utama dalam hidup kita, buatlah janji pertemuan dengan Allah dan jadikan hal itu sesuatu yang penting dan suci. Walaupun mungkin kadang-kadang tidak dapat berdoa, cobalah tetap duduk tenang di hadapan Tuhan, sekedar menemani Dia. Dengan cara demikian persahabatan kita dengan Yesus akan semakin berkembang dan mendalam. Semakin setia kita bersahabat dengan Tuhan Yesus di dalam doa dan dalam apapun yang kita lakukan semakin penuh pula sukacita di dalam hati kita dan sungguh kita akan menemukan kebahagiaan yang sejati.

 

By Sister Mary Jacinta, P.Karm

 

 

Sukacita

Sukacita

6 Mei 2016

Kisah Para Rasul 18:9-18
Mazmur 47
Yohanes 16:20-23

Sangat menarik kalau kita lihat dua anjuran apostolik (apostolic exhortation) terakhir dari Paus Fransiskus memakai kata “sukacita” dalam judulnya: Evangelii Gaudium (Sukacita Injil) dan Amoris Laetitia (Sukacita Cinta). Dua kata ini juga muncul dalam kalender liturgi Gereja: Minggu Gaudete di masa Adven dan Minggu Laetare di masa Paskah. Dua-duanya ditempatkan di tengah masa penantian, baik akan kelahiran Yesus atau kebangkitan Yesus. Masa penantian yang ditandakan dari warna liturgi ungu, di mana kadang kita merasa cemas atau ketidakpastian atau ketidaksabaran, tiba-tiba dikejutkan dengan warna merah muda pada dua hari Minggu khusus itu. Gereja mengingatkan kita bahwa dalam masa penantian itu pun kita bisa bersukacita akan harapan kabar baik dari Allah.

Hidup kita saat ini pun penuh penantian. Mungkin penantian akan keadaan hidup yang lebih baik, mungkin penantian akan hari tua dan kematian dalam damai untuk berjumpa kembali dengan Allah, mungkin juga penantian akan kedatangan Yesus kedua kalinya yang akan merubah dunia ini menjadi baik selamanya. Masa penantian bisa penuh dengan kesengsaraan, kecemasan, dan ketakutan. Tapi sukacita dalam Kristus menjadi pegangan kita. Bagaimana seorang Paus yang sudah melihat bagaimana kesengsaraan dan penganiayaan yang terjadi di seluruh dunia, tetapi masih bisa menulis tentang sukacita?

Inilah yang dijanjikan Yesus dalam Injil hari ini. Kesedihan akan menjadi sukacita, sama seperti kesakitan seorang ibu akan menjadi kebahagiaan setelah melahirkan. Dan tidak ada siapa pun yang dapat mengambil sukacita kita karena Tuhan sendirilah sumbernya. Sukacita lebih dari sekedar tersenyum atau tertawa sesaat. Sukacita kita rasakan dalam lubuk hati yang paling dalam. Sukacita hanya bisa kita rasakan kalau kita benar-benar yakin bahwa jalan hidup kita akan berakhir baik, sesuai dengan janji Yesus. Kalau Tuhan adalah terang dan keselamatanku, aku tidak akan pernah takut (Mazmur 27).

Translate »