Browsed by
Month: June 2016

Ana dina ana upa

Ana dina ana upa

 

HARI SABTU DALAM MINGGU BIASA KESEBELAS
18 Juni, 2016
 
2 Tawarikh 24:17-25
Matius 6:24-34
 
Saudara-saudari terkasih,
    Ungkapan “ana dina, ana upa: ada hari ada nasi” dalam buku Ilmu Ekonomi (kalau saya tidak salah: buku Sweindrecht) ketika saya masih di SMA, mau mengatakan bagaimana “life style” orang pada masa itu yang hidup dari hari ke hari. Bahkan di Amerika sekalipun cukup banyak orang yang hidupnya: “pay check to pay check” maksudnya sementara orang seperti ini harus bisa mengatur pengeluaran dengan sangat hati-hati untuk kebutuhan selama dua minggu atau satu bulan. Karena sistim pembayaran di Amerika ada yang dibayar setiap dua minggu ada juga setiap bulan. Oleh karena itu mereka harus benar-benar bijaksana mengatur pengerluaran kebutuhan hidup, agar tidak sampai keteteran.  Keadaan seperti ini sungguh-sungguh sangat mengkuatirkan.
    Tetapi Yesus dalam bacaan Injil hari ini mengingatkan kita untuk tidak perlu terlalu cemas akan hidup ini, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Apakah reaksi anda terhadap pernyataan Yesus itu? Sepertinya setiap hari para ibu harus memikirkan atau merencanakan apa yang akan dikenakan oleh anak-anaknya ke sekolah, atau apa sarapannya, makan siangnya dan apa yang akan dihidangkan nanti untuk makan malam keluarga. Memikirkan atau merencanakan berbeda dengan kecemasan ataupun kegelisahan. Tetapi dipihak lain sepertinya setiap orang dewasa ini tidak pernah akan luput dari kegelisahan dan kecemasan itu. Misalnya kalau pendapatan sang ayah tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga untuk dua mingguan atau sebulan, sudah pasti akan menjadi beban pikiran sang ayah dan ibu.
    Apa sih sebenarnya yang Yesus maksudkan dengan statement diatas…”Janganlah kuatir akan…” sementara kita masih hidup di dunia nyata, dimana kita masih harus memikir untuk membayar biaya setiap kebutuhan hidup sehari-hari seperti uang listrik, uang air, biaya makan setiap hari, lebih lagi kalau ada anak-anak yang sakit, bagaimana harus membayar obat, dokter, rumah sakit, sekolah dan lain sebagainya. Yang Yesus maksudkan disini bukan berarti kita tidak menghiraukan semua beban hidup itu. Kita tahu bahwa semuanya itu telah menjadi tugas dan tanggungjawab kita untuk dipenuhi. Statement dan atau pernyataan Yesus diatas, dimaksudkan agar kita selalu menyadari bahwa dalam menghadapi semua beban hidup diatas kita tidak pernah akan berjalan sendirian. Tuhan akan selalu bersama kita, menyertai dan mendampingi kita. Karena semuanya itu dipikirkan juga oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah.
    Oleh karens itu saudara-saudariku terkasih, Yesus kehendaki agar kita sebagai anak-anak Allah harus mempunyai sikap yang berbeda dari orang-orang lain yang tidak mengenal Allah, yang hanya mengandalkan pada kekuatan dan diri sendiri. Tetapi apabila kita sebagai anak-anak Allah diharapkan agar kita selalu mengandalkan kehadiran Allah dalam perjalanan hidup kita, Allah yang penuh kasih akan selalu hadir dalam kehidupan kita, Allah yang tidak pernah tidak peduli akan kebutuhan hidup kita. Yang paling penting bahwa kita menaruh kepercayaan yang penuh kepada kehendak dan kerahiman Allah. Menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, ditegaskan oleh Yesus dalam injil hari ini dengan mengatakan: “Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.”
Jadi Allah yang telah menciptakan kita, Allah akan selalu menyertai dan memenuhi semua kebutuhan kita. Kerahiman dan berkat Allah datang pada saat yang tidak pernah kita pikirkan, tidak pernah kita duga. God works in his own ways! Amen.
Menabung

Menabung

HARI JUMAT DALAM MINGGU BIASA KE SEBELAS
17 Juni, 2016
 
2 Raja-Raja 11:1-4, 9-18, 20
Matius 6:19-23
Saudara-saudariku terkasih,
    Bacaan pertama hari ini dari kitab kedua Raja-Raja merupakan babak terakhir dalam sejarah bangsa Israel yang sudah dimulai dari kitab Kejadian. Hasil akhir dari perjalanan sejarahnya tidak terlalu mengesankan bagi bangsa Israel sendiri, karena para penguasa yakni para raja kebanyakan telah mangkir dari jalan Tuhan. Hal itu boleh dibilang telah menjadi sebabnya kejatuhan bangsa Israel dan akibatnya mereka harus mengalami masa pembuangan
    Dalam bacaan pertama itu kita melihat Atalya menemukan bahwa puteranya Ahazia telah dibunuh setelah hanya satu tahun menjadi raja di Yudah. Untuk mempertahankan kekayaan dan kekuasaannya, boleh dibilang ia menikmati hidup sebagai ibu putera mahkota, bahkan ia dengan sewenang demi harta benda duiawi, membunuh semua kepala pasukan. Tetapi harta bendanya tidak bertahan lama. Karena pada akhirnya raja muda itu Yoas yang baru saja memerintah dibunuh bersama Atalya. Suatu perjanjian baru dibuat lagi antara Tuhan dengan raja yang baru bersama umatNya.
    Sementara dalam bacaan Injil, Yesus mengingatkan kita akan “ketidakabadian harta benda duniawi; seperti kekuasaan, kekayaan dan ketamakan akan kepemilikan seperti yang telah dilakukan oleh Atalya.” Yesus mengatakan: “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumplkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”
Dalam pengajaran katekismuspun diingatkan bahwa Gereja secara rohani telah menegaskan akan disposisi batin kita untuk berada pada pihak Allah atau tidak. Oleh karena itu kita harus bisa membuat keputusan secara utuh mencintai Tuhan dan mengesampingkan hal-hal yang membuat kita masyhur atau mengejar keuntungan semata-mata dan jauh dari Tuhan.
Saudara-saudariku terkasih,
 
    Sangat mungkin setelah membaca beberapa kalimat dari renungan ini, kita lalu berkesimpulan bahwa kita telah mencurahkan seluruh perhatian, hati dan tenaga untuk menerima dan mencintai Tuhan. Tetapi bukan tidak mungkin bahwa seringkali hati kita menjadi terganggu oleh hal-hal yang samasekali tidak terlalu penting. Apakah kita begitu terikat kepada harta benda duniawi? Kadang-kadang kita begitu mementingkan posisi untuk suatu jabatan dalam pekerjaan, personal atau professional success? Ataukah kita menjadi begitu tamak akan harta benda yang samasekali kita tidak butuhkan tetapi hanya karena untuk dipamerkan kepada orang lain?
    Itulah beberapa hal yang sungguh-sungguh sangat mengganggu dan menghalangi kita, ketika tiba saatnya kita harus menghadap Tuhan. Oleh karena itu kita kembali kepada kata-kata Yesus dalam injil Matius tadi: “kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” Karena kalau kita sudah sangat tenggelam dan terikat pada harta benda duniawi, sudah sangat pasti akan sangat riskan untuk setia kepada Allah bahkan bisa dengan mudah mengkhianatiNya. Jadi, kita mohon kepada Tuhan agar kita bisa selalu fokus kepada harta benda yang bisa selalu menghantar kita lebih dekat dengan Tuhan, mencintai Tuhan, karena kita percaya semua yang lain akan dijamin oleh Tuhan sendiri…penyerahan diri secara total kepada kehendak Allah. Amin.
Kasih Bapak

Kasih Bapak

HARI KAMIS DALAM MINGGU BIASA KE SEBELAS
16 Juni, 2016
 
Sirakh 48:1-14
Matius 6:7-15
 
Saudara-saudariku terkasih,
    Pada umumnya kita dengar orang bilang “kasih ibu.” Tetapi hari ini thema renungan kita berpusat pada “Kasih Bapak.” Dalam doa “Bapak kami” kita diberi kesempatan untuk mendalami dan merenungkan betapa besarnya kasih Allah Bapak kita dan dengan demikian kita menjadi lebih percaya bahwa kita benar-benar dikasihi oleh Bapak kita yang di Surga.
    Hari ini kita diajak untuk mawas diri, mengoreksi diri kita masing, “sejauh mana dan seberapa dalam relasi kita dengan Allah Bapak kita?” Renungan hari ini sama sekali tidak bermaksud semata-mata untuk menyoroti sisi negatip dari kehidupan iman kita kepada Tuhan, tetapi secara positip kiranya lewat renungan ini kita akan bisa lebih diberi kesempatan untuk meningkatkan kwalitas relasi kita dengan Tuhan dalam dan melalui doa-doa kita. Tanpa mengada-ada, seringkali kita sebagai orang Katolik kalau diminta untuk membawakan doa-doa spontan, agak tersendat-sendat bahkan samasekali memberi kesan tidak bisa mengungkapkan secara tegas keintimannya dengan Tuhan. Sungguh memalukan kalau kita diberi kesempatan untuk berdoa, atau memimpin doa, memberi kesan bahwa kita tidak bisa fokus, tidak bisa konsentrasi, bahkan sepertinya kita kurang beriman/percaya, atau sepertinya tidak pernah belajar berdoa, memberi kesan bahwa kita tidak pernah berdoa.
    Dalam Kitab Suci kita sering membaca bahwa Yesus sendiri beberapa kali menyediakan waktu untuk berdoa. Sebagaimana halnya hari ini Yesus memberi kita nasihat untuk senantiasa membangun serta menghidupkan waktu doa. Oleh karena itu pada awal perikope ini Yesus mengatakan: “Dan apabila kamu berdoa,…etc”...artinya “ketika” kamu mau berdoa…ketika kamu memberi, menyediakan waktu untuk berdoa…dan seterusnya. Kita tahu kapan, kepada siapa dan dengan siapa kita membangun relasi pribadi kita. Oleh karena itu Yesus memberi kita doa resmi ini, yakni doa “Bapak Kami” yang sering diucapkan oleh setiap orang katolik dan bahkan sudah menghafalnya; seringkali diucapkan tanpa merenungkan lagi arti dan makna dari setiap kata dalam doa itu.
    Yesus memberi kita model doa. Dua kata pertama dari doa resmi itu adalah “Bapak kami”. Suatu sapaan yang mengajak kita untuk mulai memasuki dialog dinamis dengan Bapak yang baik dan penuh kasih. Doa ini oleh banyak orang kudus mengatakan bahwa materi dan isi doa Bapak Kami amat sangat kaya.
    Misalnya Santa Therese dari Lisieux, dalam autobiography nya mengatakan: “Kadang-kadang ketika saya mengalami kekeringan dalam hidup rohani dan tidak ada satu pikiran yang baik sekalipun dalam benak saya; saya perlahan-lahan mengucapkan doa “Bapak kami, atau Salam Maria;” maka doa-doa ini cukup membawa saya keluar dari kekeringan itu, dan saya kembali merasa segar.”
    St. Augustinus sendiri pernah menulis pengalaman hidup doanya dengan mengatakan: “Kalau kita berdoa dengan cara yang benar maka itu sudah cukup menjadi apa yang kita mau katakan, seperti yang ada dalam doa “Bapak kami”.
Saudara-saudariku terkasih,
    Ketika kita berdoa Bapak Kami, entah itu dinyanyikan secara pribadi ataupun bersama dengan sesama saudara dan saudari seiman baik yang hidup maupun yang sudah meninggal; Kita berdoa kepada Allah yang adalah Bapak kita, dimana kita memanggil Allah adalah Bapak kita, dan kita adalah anak-anakNya. Dan dalam doa ini kita belajar menghormati kekudusan namaNya, berdoa untuk kebutuhan kita, dan memohon pengampunan serta pembebasan.
    Bacaan pertama hari ini dari kitab Sirakh kitapun  diingatkan akan perayaan kekudusan hidup Elijah. Maka kalau kita berdoa “Bapak Kami” kita diingatkan lagi akan kekudusan hidup yang terus menerus menjadi pusat hidup dan kehidupan kita. St. Cyrilus dari Jerusalempun mengingatkan bahwa “Doa Bapak kami” telah menjadi  undangan untuk mencintai.
    Sekali lagi St. Cyrilus mengatakan: “Oh, betapa besarnya kasih Allah untuk kita umatNya. Bagi mereka yang telah menjauhkan diri daripadaNya dan bagi mereka yang telah jatuh kedalam kekelaman dosa, Ia mengampuni dosa-dosa mereka dan memberi mereka kesempatan untuk ikut ambil bagian dalam rahmatNya dan memberi mereka kesempatan lagi untuk memanggilNya “Bapak”. Amin.
Pemurnian

Pemurnian

 

HARI RABU DALAM MINGGU KESEBELAS, MASA BIASA
15 Juni, 2016
 
2 Raja-Raja 2:1, 6-14
Matius 6:1-6, 16-18
Saudara-saudariku terkasih
    Kalau orang berbicara tentang “apa sih motif saudara” (motive) maka yang timbul dalam pikiran kita adalah suatu niat/intention yang berada dibalik kata-kata atau tindakan kita. Hal itu akan menjadi alasan kita untuk bertanya, “apa dan mengapa yang kita katakan atau kita lakukan hal itu?” Kadangkala, motif kita itu kelihatan begitu jelas atau mudah disimak, tetapi seringkali juga terjadi bahwa kita tidak menyadari mengapa kita melakukan hal itu…tanpa melalui suatu pertimbangan yang matang, atau terjadi secara spontan. Bagaimanapun juga, suatu motif itu baik atau tidak teristimewa dalam hal mengikuti Yesus, dan atau mengapa kita begitu setia kepada Yesus, maka bacaan kita hari ini kiranya akan dapat membantu kita untuk menemukan jawabannya.
    Bacaan Injil hari ini, Yesus memanggil dan mengingatkan para muridNya untuk memiliki suatu motif yang benar ketika melakukan perbuatan-perbuatan yang baik yang dapat membawa, menghantar orang lain kepada Tuhan, untuk bisa mengenal Tuhan, bahwa Tuhan itu baik; seperti yang telah dilakukan Yesus selama berjalan keliling dan berbuat baik, dimana Yesus sebagai anak Allah telah menampilkan wajah Allah dengan melalukan perbuatan-perbuatan baik. Karena itu dikatakan bahwa kita diciptakan menurut “gambar dan rupa Allah” agar kitapun mampu berbuat sesuatu seperti yang telah dilakukan Allah sejak awal penciptaanNya. Dengan demikian kita menyadari bahwa kita diciptakan menurut “gambar dan rupa Allah” bukan berarti kita menjadi photocopy nya Allah, tetapi kita menjadi penerus, pelaku perbuatan Allah kepada dan untuk sesama kita. Disini kita akan labih bisa mengerti akan “martabat” kita sebagai putera dan puteri Allah. Inilah motif keputusan kita mengikuti Yesus, Anak Allah.
    Dalam kehidupan bersama, diantara dan dengan orang lain; dalam kehidupan keluarga, dalam kehidupan bermasyarakat, dalam kehidupan komunitas biara sudahkah kita memiliki motif diatas sebagai putera dan puteri Allah, yang telah diciptakan menurut gambar dan rupa Allah? Yesus memberi contoh dalam hal memberi sedekah, ataupun juga dalam hal berpuasa…, agar tidak dilakukan supaya dilihat orang, mendapat pujian dari orang lain. Yesus mengingatkan para muridNya agar tidak bersikap “munafik”…seperti yang saya bilang kemarin dengan ungkapan “abang-abang lambe” (pemerah bibir, supaya kelihatan cantik), tetapi tidak memiliki motif yang murni, jujur dan ikhlas. Karena, Tamak/Rakus dan Kecemburuan adalah musuh yang paling kejam dalam kehidupan keluarga, dalam kehidupan bermasyarakat dan bahkan juga dalam kehidupan Membiara. Renungkan saja sekarang: sudah berapa banyak sesama yang telah menjadi korban dari sikap-sikap diatas dalam kehidupan panggilanmu, sebagai suami atau isteri, sebagai sesama anggota di dalam masyarakat, atau sesama saudara/i dalam kehidupan membiara? Hari ini Yesus mengundang kita masing-masing untuk mawas diri, bertanya kepada diri kita masing-masing, agar apa yang kita katakan, dan kita lakukan harus mengarah kepada motif utama/dasar, dimana Allah yang telah menciptakan kita dengan “martabat” yang luhur dan mulia, menurut gambar dan rupa Allah.
    Kalau kita masih dihantui oleh perasaan bersalah terhadap sesama saudara atau saudari kita dalam panggilan hidup seperti apapun, maka kata-kata Yesus dalam Matius 5:16 kembali memurnikan motivasi kita: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”
    Akhirnya, saudara-saudariku terkasih, kalau kata-kata dan perbuatan kita bermotifkan semangat untuk memuji dan memuliakan Allah, maka Terang dan Kasih Kristus akan selalu bercahaya dan terpancar dari dalam diri kita masing-masing kepada sesama saudara dan saudari yang berada bersama dan disekitar kita. Dengan demikian hidup anda akan menjadi berkat baik bagi sesama maupun bagi anda sendiri. Amin.
abang-abang lambe

abang-abang lambe

HARI SELASA DALAM MINGGU BIASA KE SEBELAS
 
14 Juni, 2016
 
1 Raja-Raja 21:17-29
Matius 5:43-48
Saudara-saudari terkasih,
 
    Kiasan ataupun ungkapan diatas mengingatkan saya akan pengalaman pastoral selama lebih dari duapuluhan tahun lalu ketika saya bertugas di Surabaya. Lucu juga sebagai wong Flores berani-beraninya pakai ungkapan itu untuk menyampaikan pesan kitab suci hari ini di Lubuk Hati yang sudah tersebar kemana-mana. Apalagi tidak semua orang pernah mendengarnya…sementara orang, apalagi orang Flores yang membaca renungan ini akan bilang…”eee pater, kau jangan gara-gara ka”.
    Yang jelas, bahwa hari ini kita sebagai orang Kristen, dihimbau dan bahkan ditegaskan oleh Yesus sendiri: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”(Matius 5:44) Yesus sendiri menegaskan hal ini agar statement itu tidak hanya kata-kata belaka, tetapi harus dapat kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Tentu saja yang perlu kita terapkan itu tidak hanya berdoa bagi mereka yang membuat anda kesal, sebel, marah dan lain sebagainya, tetapi harus benar-benar dilakukan dengan penuh belaskasihan (mercy), penghargaan (respectful) dan kasih (love). Terhadap sanak keluarga, kakak dan adik serta teman dekat sangat mungkin tidak akan terlalu sulit untuk mempraktekan forgiveness, mercy, respect and love, karena secara alami hal itu sudah bisa dilaksanakan. Namun bagaimana sikap kita kepada orang yang tidak kita kenal, tidak terlalu dekat, apakah kita masih akan bisa mengetrapkan semangat kekristenan itu?
Saudara-saudariku terkasih,
    Sudah sangat pasti reaksi setiap orang yang membaca perikope ini berbeda-beda komentarnya. Yesus mengatakan: “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.”
    Kalau demikian yang Yesus kehendaki, dan bahkan menjadi suatu himbauan agar sikap ini menjadi semangat kekristenan kita, maka akan sangat lebih jelas untuk kita renungkan dengan berpusat pada pertanyaan ini, “siapakah musuh kita itu?” Sangat mungkin “musuh” itu adalah orang yang suka memasang jerat dalam kehidupan kita, dan yang sering menciptakan persoalan dan atau mempersulit jalan kehidupan kita. Di Indonesia sering saya dengar orang mengatakan: “kalau bisa membuat hidup ini sulit dalam segala urusan apapun, kenapa tidak?”…terutama kalau sudah mulai berhadapan dengan orang-orang yang punya wewenang, kuasa/otoritas. Mungkin juga “musuh” itu adalah rekan kerja yang sering usil, dan yang menghalangi lancarnya pekerjaan dan tanggungjawab anda. Atau juga “musuh” adalah tetangga yang selalu membuka musik keras-keras sampai larut malam. “Musuh” juga sangat mungkin mereka yang pernah menyakiti hati anda, teman dekat yang pernah mengkianati anda. “Musuh” sangat mungkin juga sahabat atau kenalan yang datang ke rumah, dan yang selalu mengusik kepercayaan anda…. pokoknya “reseh deh.”
Saudara-saudari terkasih
    Sekarang, setelah kita mengetahui siapa “musuh” kita itu, timbul pertanyaannya: “Apakah artinya bahwa kita harus mengasihi mereka?” Mencintai musuh kita seperti yang telah ditegaskan itu, tidak berarti bahwa kita harus menyukai mereka. “Mencintai musuh kita” berarti bahwa kita memberi sikap yang baik dan respect sebagaimana kita juga mau kalau kita diperlakukan dengan baik dan respectfull. Disini sungguh suatu tantangan untuk kita…karena kita tahu bahwa untuk bisa memiliki sikap kristiani seperti yang dihimbau Yesus itu, sungguh sangat tidak gampang. Hal ini sungguh suatu tantangan bagi kita.
    Sudah sangat pasti, bahwa untuk dapat melaksanakan apa yang Yesus kehendaki hari ini, kalau kita selalu memohon bantuan “rahmat Tuhan” dalam dan melalui doa-doa kita setiap hari, agar kita diberi kekuatan, kesabaran, ketabahan menghadapi tantangan-tantangan itu…setelah kita selalu mendoakan mereka. Semoga anda akan dapat memperoleh berkat yang berlimpah seperti kedamaian batin, kegembiraan dan kebahagiaan sejati. Amin.
Translate »