Browsed by
Month: November 2016

Selasa, 22 November 2016

Selasa, 22 November 2016

Selasa, 22 November 2016

Why 14:14-20

Luk 21: 5 -11

Apa yang ada di dunia semua akan ditinggalkan oleh manusia. Bahkan hal-hal yang sangat istimewa juga akan ditinggalkan. Hanya jiwa manusia yang tidak akan mati dan selalu hidup dan bersatu kembali dengan Sang Pencipta. Jika kita mampu menyadari akan ke fana an hal-hal yang dunia maka kita akan lebih bisa bertindak bijaksana dan tidak jatuh pada kesombongan diri. Seringkali manusia salah dalam menilai dunia dan relasi untuk sesamanya. Karena mereka hanya fokus pada hal-hal yang bisa memuaskan seluruh keinginan mereka.

Kesenangan dan kenikmatan dunia hanya bisa dinikmati di dunia saja. Tuhan Yesus ingin para muridNya tidak puas dengan kesuksesan duniawi, namun Tuhan ingin kita bisa mengalami damai dan suka cita yang abadi, yaitu dengan tekun setia menjaga relasi dengan Tuhan Yesus Kristus. Di dalam Kristus semua orang yang percaya menerima jaminan keselamatan Abadi. Tantangan bagi manusia adalah diri sendiri yang seringkali terlena dengan segala kesenangan dan kenikmatan duniawi. Hal-hal tersebut membuat kita terbuai dan kemudian tidak mempedulikan pertumbuhan Iman.

Ketika orang tidak lagi fokus pada iman maka ia akan mudah jatuh dalam dosa dan kelemahan-kelemahan ; kesombongan. Iri hati, dengki, keserakahan, dll. Hal tersebut membuat kita mengerti bahwa kita manusia ini sangat membutuhkan kekuatan dari Allah sendiri. Tanpa ditopang oleh Allah maka kita tidak bisa mengalahkan kekuatan dosa dan mengatasi keleman-kelemahan kita. Dibutuhkan sikap rendah hati agar iman semakin kuat dan kita tidak terbawa arus yang menjauhkan diri kita dari Allah.

Marilah berdoa,

Allah yang maha Kasih terima kasih atas kekuatan yang selalu Engkau curahkan dalam hidup kami. Doronglah kami selalu agar semakin rendah hati dan semakin terbuka kepada Mu agar kami tidak hanyut dengan semua godaan yang ada. Demi Kristus Tuhan dan penyelamat kami. Amin.

Senin, 21 November 2016

Senin, 21 November 2016

Senin, 21 November 2016

Why 14:1-3,4b-5

Luk 21:1-4

Dimata Tuhan setiap pribadi manusia begitu berharga sebab Tuhan tidak membeda-bedakan manusia berdasarkan status, keturunan, pendidikan, ekonomi dll. Namun mengapa antar manusia sendiri sering terjadi perlakukan yang berbeda-beda. Mereka yang miskin dan status pendidikannya yang rendah sering kali disingkirkan. Perlakukan yang tidak sama inilah yang memunculnya ketidak-adilan dan penindasan dalam masyarakat. Golongan orang kaya dan berpendidikan tinggi menjadi kelompok elit yang mendapat banyak kemudahan dan fasilitas namun golongan orang-orang miskin semakin hari semakin sulit untuk mendapatkan hak-hak mereka dan semakin sulit untuk mengalami hidup yang sejahtera. Yesus Kristus mengangkat tinggi janda miskin yang diremehkan oleh masyarakat. Yesus memuji sikap janda miskin karena ia berani menyerahkan seluruh hartanya untuk Tuhan. Dari kisah ini ditunjukkna ternyata apa yang telah dilakukan janda miskin tersebut lebih mulia daripada orang-orang kaya.

Sebagai murid-murid Yesus Kristus, kita diajak untuk memiliki cara pandang yang baru dalam bersikap dan membangun relasi dengan sesama. Sikap yang diajarkan Yesus adalah mengasihi sesama seperti diri-sendiri. Kasih menjadi fondasi dalam berteraksi dan berelasi. Kasih yang diajarkan Yesus adalah tulus, tanpa syarat. Jika orang berlandaskan kasih maka orang akan bisa memperlakukan sesamanya dengan adil dan tidak akan mengadili atau menghakimi sesamanya dengan kata-kata maupun dengan tindakan yang jahat. Banyak bermunculan peristiwa kekerasan dalam masyarakat disebabkan karena orang gagal dalam mengasihi sesamanya.

Saat ini dibutuhkan pribadi-pribadi yang berani memberi kesaksian hidup tentang belas-kasih dan sikap murah hati untuk bisa saling mengampuni. Jaman yang semakin modern membuat orang yang bisa mengunankan tehnologi merasa memiliki harga diri semakin tinggi. Sebagai murid Kristus “harga diri” bukan sesuatu yang penting karena ada yang lebih penting yaitu ketulusan hati dan kasih yang selalu bersemayam didalam hatinya. Kasih yang tulus menjadikan kita semakin dekat dengan Allah.

Marilah berdoa,

Tuhan Yesus Kristus, terima kasih atas pengurbananMu kepada kami. Sekalipun kami orang yang berdosa namun Engkau tidak meninggalkan kami. Doronglah kami untuk berani mewartakan kebaikan Mu kepada sesama kami. Agar nama Mu semakin dikenal dan dimuliakan. Sebab Engkaulah Sang juru selamat kami, Amin.

True King on the Cross

True King on the Cross

True King on the Cross
Solemnity of Christ the King
[November 20, 2016]
Luke 23:35-43
 “Amen, I say to you, today you will be with me in Paradise. (Luk 23:43)”
The liturgical celebration of Christ the King is a recent development in the Church. It was Pope Pius XI who instituted the feast day in 1925 in October. Pope Paul VI in 1969 dedicated the last Sunday of the Ordinary Time in the Church’s liturgical calendar to our Lord Jesus Chris, the King of the Universe. Though it was a recent practice in the Church, the truth was revealed in the Scriptures.
Jesus opened His public ministry by proclaiming the Kingdom of God. If God is the King and Jesus is the only begotten Son of God, Jesus was the natural heir to the throne of this Kingdom. Yet, the kingship of Jesus Christ was more pronounced in His passion and death. Some Jewish religious leaders accused Jesus of blasphemy because Jesus claimed to be the Messiah, the Son of God, even God Himself (see John 8:58). However, instead simply stoning Him to death, the leaders wanted a more painful and shameful death for Jesus. They decided to bring Him to Pontius Pilate, the Roman leader of Judea. Since Pilate did not judge on the religious quarrel, the Jewish leaders accused Jesus to be the self-proclaimed the King of the Jews. To be a king in rebellion against the Caesar was considered a high treason, and deserved the crucifixion. Jesus was then condemned to death, and on the cross, the accusation was nailed: Jesus from Nazareth, the King of Jews, in Latin, Iesus Nazarenus Rex Iudaeorum or INRI.
In today’s Gospel, we read from St. Luke who wrote beautifully the event on the cross. For the enemies of Jesus, the crucifixion was an utter mockery of Jesus being a king and the Messiah. One of the main duties of a king and Messiah is to save his people, but then, Jesus was nailed on the cross, and unable even to save Himself. The hostile Jews mocked him as a useless Messiah, while the Roman soldiers jeered him as a good-for-nothing king. Even one of the criminals added insult to the injury. Indeed, Jesus was helpless, extremely weak and bearing extreme and prolonged pains. His friends and disciples left him. His followers abandoned Him. Death awaited Him. It was a moment of apparent total failure.
However, in this hour of darkness, when everyone thought that it was the end of Jesus’ reign, Jesus performed the supreme kingly act. He forgave and saved the repentant criminal on the cross. Instead of nagging, complaining, or cursing, he uttered blessing. Instead of condemning and seeking revenge, He healed. Instead of falling into despair, He gave hope. His rule was not based on brute force and violence, but on justice, mercy and love. This is the true King, Jesus is our King.
If we acclaim Jesus as our King and we are sharing His Kingship in baptism, it is proper for us to exercise this same kingly power. At a time when we are facing many difficulties, when we are hurt, and when we feel so weak, we are empowered to do kingly acts: to bless, to heal, and to give hope. Yes, it is difficult, but if we have a King who is able to love despite all ugliness, so we are also able to love in the midst of brokenness.
Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
Renungan Sabtu, 19 Nopember 2016

Renungan Sabtu, 19 Nopember 2016

Renungan Sabtu, 19 Nopember 2016

Bacaan- bacaan: Why 11:4-12; Mzm 144:1.2.9-10; Luk 20:27-40

Besok kita akan merayakan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam. Bacaan-bacaan hari ini mempersiapkan kita untuk mengalami Kristus maraja. Gambaran yang diberikan kepada kita adalah situasi peperangan. Umat Allah yang kendati kalah karena dibunuh musuh, akan dimenangkan melalui kebangkitan orang-orang mati.

Bagaimana situasi kebangkitan itu bisa digambarkan? Mereka akan hidup artinya tidak akan dapat mati lagi, mereka akan seperti para malaikat, dan mereka akan disebut anak-anak Allah karena mereka sudah dibangkitkan. Mereka akan memandang Allah yang hidup.

Apa yang dapat kita petik dari pemahaman tadi? Bukankah kembali kita dihibur oleh Sabda Tuhan? Sabda Tuhan bukan hanya menjadi pegangan dan tuntunan hidup kita untuk menemukan kabahagiaan surgawi, melainkan juga menjadi kekuatan untuk bertahan dalam iman jetika kita mengalami situasi “peperangan”.

Setiap hari kita menghadapi kesulitan untuk mempertahankan iman. Tantangan dan godaan sering kali terlalu kuat untuk kita tangani. Ambilah misalnya godaan materialisme. Media menawarkan barang yang tidak kita butuhkan. Banyak orang tergiur membeli barang-barang yang sebenarnya tidak diperlukan; atau kalau toh dibutuhkan kita sering salah memilih sehingga kita membeli barang di luar kemampuan kita.

Saya pernah mendengar bahwa 75% orang Amerika hidup dari “pay check to pay check” artinya kelihatannya masyarakat Amerika Serikat itu kaya raya namun sebenarnya terbatas juga, sering mereka tidak memiliki cukup uang untuk emergency. Kebanyakan masyarakat membeli barang atau memiliki gaya hidup jauh di atas kemampuan ekonomi mereka.

Godaan materialisme menjadi salah satu musuh kita, namun kita seringkali kalah dalam pertempuran untuk melawannya. Kita perlu menggantungkan hidup kita pada Sabda Tuhan dan merenungkannya dalam doa. Marilah kita rela mati atas semua godaan duniawi sehingga kita akan bisa dibangkitkan.

Translate »