Browsed by
Month: December 2016

Martir Pertama St. Stefanus

Martir Pertama St. Stefanus

Senin, 26 Desember 2016

Martir Pertama St. Stefanus

Mat 10:17-22

Selamat Natal untuk semua,

Suasana natal masih sangat terasa, perayaan liturgi yang mengungkapkan peristiwa inkarnasi, Allah menjadi manusia, Allah mencintai manusia dan mengutus Putranya yang terkasih ke dunia. Kegembiraan dan sukacita menyambut kelahiranNya. Namun kita diingatkan kembali akan makna natal yang sesungguhnya dengan peringatan Martir Stefanus yang kita rayakan hari ini. Natal menjadi lambang cinta Allah yang tidak meniadakan suatu pengorbanan dan penderitaan. KelahiranNya di tengah-tengah kaum papa miskin dan terpinggirkan, seolah Yesus mengundang kita untuk melihat, dibalik peristiwa Betlehem tersirat peristiwa Golgota.

Seperti yang diteladankan Martir Stefanus, kita diundang untuk berani menjadi saksi /martir. Bacaan Injil hari ini mengajak kita untuk menyadari arti menjadi seorang kristiani, yaitu berani menjadi saksi. Menjadi saksi bukan hanya ditunjukkan dengan keberanian untuk menerima kematian tetapi lebih merupakan keberanian untuk setia dengan pilihan kita, keberanian untuk berkorban, keberanian untuk lebih total dalam pemberian diri dan sebagainya. Kadang kita mengalami keraguan, ketakutan, kehilangan-harapan dalam hidup kita, seperti seseorang yang akan diadili. Namun Yesus menguatkan kita untuk tidak kuatir karena Bapa akan mengutus RohNya untuk menguatkan dan menopang kita. Bahkan kita akan dibenci semua orang oleh karena namaNya, namun Yesus mengundang kita untuk tetap bertahan sampai akhir. Artinya mengudang kita untuk tetap setia dan berada dalam situasi yang sulit. Seperti Martir Stefanus, kita diajak untuk tetap bertahan dalam menghadapi situasi sulit dan derita, bahkan perlu berdoa untuk mereka yang membenci dan tidak suka akan kehadiran kita.

Yesus yang maha kasih, penuhi kami dengan Roh KudusMu agar kami mampu menjalankan perintahMu untuk mengasihi dan mengampuni orang yang bersalah kepada kami. Amin

Manusia Berencana, Tuhan Tertawa

Manusia Berencana, Tuhan Tertawa

Sabtu, 24 Desember 2016

2 Samuel 7:1-5, 8-12, 14, 16
Mazmur 89
Lukas 1:67-79

Sebuah organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan yang sangat terkenal di Indonesia saat ini menggunakan kata “pembela” dalam namanya, seolah-olah sebuah agama atau Allah memerlukan pembelaan oleh manusia. Dalam bacaan dari Kitab Samuel hari ini, kita pun membaca atau mendengar bagaimana Raja Daud mau “membela” Allah. Ia kasihan karena tabut perjanjian ditempatkan dalam tenda sederhana sedangkan dia tinggal di dalam istana yang mewah. Karena itu ia berjanji akan menempatkan tabut perjanjian di tempat yang lebih layak.

Kita sering mendengar pepatah, “Manusia berencana, Tuhan menentukan.” Hari ini mungkin lebih tepat pepatah itu diubah menjadi, “Manusia berencana, Tuhan tertawa.” Reaksi Allah akan keprihatinan Daud terdengar seperti menertawakan usaha Daud. Seolah-olah Tuhan berkata padanya, “Kamu mau membuatkan aku rumah? Padahal aku lah yang menyelamatkan umat Israel, yang memberikan tanah terjanji pada mereka, yang mengalahkan musuh mereka…” dan seterusnya.

Terkadang kita manusia merasa lebih hebat dari Dia yang menciptakan kita. Masalah ini sudah ada sejak orang tua pertama kita, Adam dan Hawa. Kita ingin mengambil kendali dari Tuhan, ingin menentukan jalan hidup kita sendiri. Bukannya kita merasa diciptakan sebagai gambar dan rupa Allah, justru kita ingin menganggap Tuhan sesuai dengan gambar dan rupa sekehendak kita.

Seperti kidung Zakariah dalam Injil hari ini, dunia dijanjikan oleh Allah bahwa akan datang seorang Mesias yang akan menyelamatkan umat manusia, yang akan menghapus dosa, yang akan menjadi terang dalam kegelapan dan lembah kematian, yang akan membawa kita pada damai sejati. Bayangkan orang macam apa Sang Mesias yang begitu dahsyat kekuatannya. Tentu dia akan datang dari keluarga kerajaan karena dia keturunan Daud. Pasti dia lahir di sebuah istana. Pasti dia akan menjadi raja bangsa Israel yang mempunyai balatentara untuk menghancurkan semua musuh.

Bayangan itu terbukti salah total. Dia lahir tidak di istana, tapi di sebuah kandang binatang. Dia tidak memiliki singgasana atau balatentara di dunia. Dan dia mati sengsara seperti layaknya seorang penjahat. Inilah Penyelamat kita, yang rela mengosongkan dirinya dan meninggalkan kedudukannya sebagai Allah untuk menjadi manusia dan hamba seperti kita.

Malam ini, ketika kita memulai perayaan Natal kita, hendaknya kita diingatkan kembali akan makna mendalam dari kedatangan Yesus sebagai manusia yang begitu sederhana dan lemah lembut. Di dalam diri dan hidup Yesus lah kita bisa berkaca bagaimana kita sepantasnya hidup sebagai hamba dan ciptaan Allah. Bukan dengan kekuatan dan kekayaan. Bukan dengan mau memegang kendali atas semua hal dalam hidup kita. Tapi hanya dengan ketaatan dan kesediaan untuk melakukan kehendak Bapa di surga, yang memegang rancangan yang jauh lebih besar dari rancangan kita.

Semoga Natal tahun ini membawa anda semua kebahagiaan dan kedamaian, karena Tuhan beserta kita. Emmanuel!

Wartakan Kabar Baik

Wartakan Kabar Baik

Maleakhi 3:1-4, 23-24
Mazmur 25
Lukas 1:57-66

Zakharia dibuat bisu karena dia tidak percaya akan pesan malaikat Gabriel yang mengabarkan bahwa istrinya, Elisabet, yang karena usianya sudah tua tidak mungkin bisa hamil lagi, akan mengandung seorang anak lelaki dan akan diberi nama Yohanes. Perjumpaan dengan Tuhan atau utusanNya kadang membuat orang terkejut sampai tidak bisa menggunakan inderanya. Santo Paulus, misalnya, ketika menjumpai Yesus di dalam perjalanan menuju Damaskus, hilang penglihatannya sampai beberapa hari.

Perjumpaan kita dengan Tuhan terkadang juga membuat kita tidak percaya. Kita sangsi apakah Tuhan benar-benar berkarya dalam hidup kita. Mungkin kita menganggapnya kebetulan. Mungkin juga kita lebih percaya pada kekuatan kita sendiri atau pekerjaan orang lain untuk kita. Atau mungkin juga kita takut dianggap aneh atau menjadi dijauhi oleh orang lain. Di saat itu kita pun juga seperti bisu. Kita tidak lagi menjalankan misi kita untuk menyebarkan kabar baik kebesaran Tuhan. Kita tidak bersaksi akan karya penyelamatannya yang terjadi dalam hidup kita.

Zakharia dalam kisah Injil hari ini seperti diberi kesempatan kedua untuk mewartakan tentang Tuhan. Dia bersaksi membela istrinya bahwa anak mereka harus diberi nama Yohanes seperti diperintahkan Tuhan. Seketika itu pula hilanglah kebisuannya. Dan karena merasakan kebaikan Tuhan yang memberinya kesempatan dan membuka mulutnya kembali, ia berteriak memuji Allah.

Dapatkah kita melihat karya Tuhan dalam hidup kita, walaupun melalui hal-hal yang kecil dan kelihatan sepele? Jika kita bisa menyadarinya, hendaklah kita mewartakannya kepada dunia yang sangat membutuhkan kabar baik seperti sekarang ini. Tapi kalau kita melewatkan kesempatan itu, mungkin Tuhan akan membuka jalan lagi, dan dengan lebih dahsyatnya.

Bumi Gonjang Ganjing

Bumi Gonjang Ganjing

Kamis, 22 Desember 2016

1 Samuel 1:24-28
1 Samuel 2:1-8
Lukas 1:46-56

Mazmur antarbacaan hari ini tidak seperti biasanya bukan diambil dari Kitab Mazmur, melainkan dari kidung yang dinyanyikan oleh Hana, ibu dari Nabi Samuel. Kalau kita perhatikan, kidung Hana dan kidung Maria dalam Injil hari ini (yang kita kenal dengan Magnificat, bahasa Latin dari kata pertama yang diucapkan Maria), banyak memiliki kesamaan. Keduanya merupakan luapan kegembiraan dari lubuk hati yang paling dalam akan kebesaran Tuhan. Dan apakah kebesaran Tuhan itu? Yang rendah ditinggikan, yang lapar dikenyangkan, yang kaya dibuat hampa, yang kuat dipatahkan senjatanya, yang mati dihidupkan. Tatanan dunia yang orang sudah terbiasa seperti dijungkirbalikkan.

Kalau saya menonton pagelaran wayang kulit dulu, biasanya kata-kata sang dalang yang terkenal adalah, “Bumi gonjang-ganjing.” Setiap kali dia menuturkan kata itu, berarti ada sesuatu yang menarik akan terjadi. Kemungkinan sang pahlawan akan pergi ke medan perang untuk melawan para penjahat dan menegakkan keadilan. Ini bagian yang paling seru dari lakon pewayangan itu.

Demikian pula lah Hana dan Maria mungkin juga seperti “dalang” dalam lakon kita hari ini. Hana memperanakkan Samuel, yang di kemudian hari akan membantu membentuk Israel sebagai kerajaan dan memberkati Daud sebagai Raja yang berkuasa dengan adil. Maria memperanakkan Yesus yang mengalahkan kematian dan mempersatukan umat manusia kembali dengan Allah. Keduanya benar-benar membuat bumi gonjang-ganjing.

Saat kita hidup sekarang ini dunia serasa seperti sedang gonjang-ganjing juga. Kami yang ada di Amerika tengah berada dalam segala ketidakpastian akan pemerintahan dari presiden baru. Di Indonesia masalah gubernur Jakarta dan keberadaan kelompok Islam garis keras yang making menguat membuat banyak pihak cemas akan kebhinekaan kita. Di bagian lain dunia, terorisme dan gejolak kerap terjadi.

Di saat inilah makna Natal sangat mengena bagi kita. Seperti bagian akhir dari kidung Maria, bahwa Allah telah datang menolong hambaNya Israel. Yesus yang datang lahir sebagai manusia adalah manifestasi janji Allah. Di tengah bumi yang bergejolak, penyelamat kita datang untuk bersama dengan kita melalui segala kecemasan dan kesulitan yang kita hadapi. Pada akhirnya kita pun bisa bersama dengan Hana meluapkan pujian dengan lantang:

Hatiku bersukaria karena TUHAN,
tanduk kekuatanku ditinggikan oleh TUHAN;
mulutku mencemoohkan musuhku,
sebab aku bersukacita karena pertolongan-Mu.

Perjumpaan

Perjumpaan

 

 

 

 

Image result for zechariah and the angel

Bacaan: Zekariah dan Gabriel, Lukas 1:5-25

Para imam yang bertugas di Bait Allah Yerusalem dibagi menjadi 24 grup, dan setiap kelompok melayani 2x setahun selama seminggu dalam Bait Allah. Dari setiap grup akan dipilih seorang imam untuk masuk ke tempat paling kudus, bagian paling dalam Bait Allah untuk membawa dupa pengudusan persembahan. Setiap Imam hanya akan bisa bertugas khusus ini sekali atau dua kali selama seumur hidup masuk ke tempat paling suci. Dan hari ini, Zakariah suami Elisabeth mendapat kesempatan masuk ke tempat paling kudus itu. Moment paling dramatis dan dinanti-nantikannya selama dia menjadi seorang Imam Israel.

Pertemuaannya dengan malaikat Gabriel menjadi saat yang penuh kejutan sekaligus ketakutan. Saat Gabriel menyatakan kalau Elisabet akan mengandung anak, Zakariah tak bisa memahami pesan sang malaikat, “Aku seorang yang tua renta!” Bagaimana mungkin hal itu terjadi? Pengalaman yang amat dramatis itu membuat dia bisu, tak mampu berkata-kata. Dia hanya diam selama sembilan bulan sampai nanti dia menamai sang anak, “Yohanes.”

Keheningan membuat Zakariah memeluk pengalaman bertemua dengan Alah lewat Malaikat. Hanya orang yang bisa diam, tenang, dan jernih mampu melihat Allah dalam pengalaman hidup setiap hari.

Sayangnya, dunia interkoneksi sekarang membuat kita tak bisa diam dan berhenti sejenak untuk tenang dan merenung sendirian. Seberapa sering kita mengecek email, status Facebook, dan membalas WA? Bahkan menjelang tidur kita masih harus membalas sapaan, serta upload foto terbaru. Rasanya berdosa kalau tidak segera membalas sapaan orang. Kita menjadi orang yang sangat sibuk dengan hal-hal yang remeh, artifisial, namun kita menganggap itu penting dan esensial.

Kesibukan remeh itu membuat hati kita tak bisa terkejut seperti Zakariah! Karena kita sudah terlalu ribet dan lelah dengan smartphone.

Seminggu menjelang Natal ini, berhentilah sejenak, siapkan hati, budi, serta kehendak untuk menerima kehadiran Yesus yang datang di tengah-tengah kita. Jangan sampai moment itu lewat begitu saja. Jangan pernah lupakan saat perjumpaan kita dengan Tuhan!

Translate ยป