Masalah Keluarga
Sabtu, 17 Desember 2016
Kejadian 49:2, 8-10
Mazmur 72
Matius 1:1-17
Melihat silsilah keluarga Yesus dalam Injil hari ini, kita dihadapkan pada daftar panjang nama-nama yang sebagian besar terdengar asing bagi kita. Walaupun kelihatannya seperti terlalu banyak detil dan bertele-tele, tapi ada maksud tertentu dari Matius untuk menjabarkan silsilah ini. Ia memulai dengan Abraham, menunjukkan bahwa Yesus adalah keturunan dari Bapak Segala Bangsa yang dijanjikan keturunan dan tanah. Karenanya, Yesus adalah keturunan dari para bapak bangsa Israel, dari Iskak, Yakub, dan Yehuda. Matius juga mau menunjukkan bahwa Yesus adalah keturunan Raja Daud, yang daripadanya Tuhan menjanjikan Sang Mesias.
Di silsilah ini, sama seperti silsilah keluarga jaman itu, biasanya yang disebut adalah keturunan laki-laki. Bangsa Israel kuno belum mengenal ilmu biologi yang menjelaskan bagaimana sperma membuahi sel telur untuk menjadi janin dan hidup baru. Bagi mereka, lelakilah yang menghasilkan keturunan. Sang suami akan akan menanamkan bibitnya dalam rahim sang istri. Tugas perempuan hanyalah sebagai wadah bagi bibit itu sampai dia menjadi bayi dan siap dilahirkan. Karakter bayi itu murni adalah karakter ayahnya, karena memang berasal sepenuhnya dari bibit lelaki.
Yang menarik, Matius menyebutkan lima orang perempuan dalam silsilah ini: Tamar, Rahab, Ruth, istri Uria (Bathsheba), dan Maria. Kalau kita membaca kisah tentang keempat perempuan pertama dalam Perjanjian Lama, mereka bukanlah wanita biasa. Hidup mereka tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Tamar menyamar menjadi pelacur untuk merayu mertuanya sendiri supaya menghasilkan anak untuk keturunannya. Rahab bekerja menjadi pelacur dan mengkhianati negaranya Yeriko supaya Israel bisa menaklukkan negara itu. Ruth adalah orang Moab tetapi dinikahi oleh seorang Israel dan menghasilkan keturunan yang memberi Israel Raja Daud. Bathsheba yang sudah bersuami Uria, menyeleweng dengan Raja Daud dan kemudian hamil. Hal itu membuat Daud menipu Uria dan membuatnya terbunuh di medan perang.
Keluarga Yesus ternyata tidak sempurna dan lolos dari masalah, tidak jauh berbeda dengan keadaan keluarga kita. Tetapi di sini kita juga melihat bagaimana Allah bisa menggunakan segala ketidak-sempurnaan kita untuk karya keselamatannya. Jika bukan karena Tamar, Yehuda tidak akan mempunyai keturunan. Jika tidak ada Rahab, Israel tidak akan bisa menguasai Yeriko. Jika tidak ada Ruth, tidak akan ada Daud. Dan jika tidak ada Bathsheba, kita tidak akan pernah mengenal Raja Salomo yang bijak.
Dan wanita yang disebut terakhir dalam silsilah ini adalah Maria. Ia pun tidak lepas dari masalah. Ia hamil sebelum resmi menikah dan tinggal dengan Yusuf. Bayangkan apa kata orang jika hal ini ketahuan di depan umum. Yusuf pun sudah merencanakan untuk meninggalkan Maria jika tidak dihentikan oleh malaikat Tuhan. Seperti seluruh nenek moyangnya yang bermasalah, saat ini pun Roh Kudus juga bekerja untuk menjalankan rencana Tuhan.
Inilah kabar baik kita: bahwa kita yang jauh dari sempurna ini, yang datang dari keluarga bermasalah atau mungkin masih di tengah kesulitan di dalam keluarga, tidak mustahil untuk tetap dipakai Tuhan dalam karya penyelamatanNya. Ada pepatah: God does not call the qualified, He qualifies the called. Tuhan tidak memanggil mereka yang sempurna, tapi dia menyempurnakan mereka yang dipanggil.
