Kita semua adalah satu dalam imamat Kristus
Ikut
Bacaan I : Ibrani 4:12-16
Bacaan Injil : Markus 2:13-17
Dalam ilmu sosial dan politik, kekuasaan dipahami sebagai kemampuan untuk mempengaruhi atau mengendalikan perilaku orang lain. Menurut French dan Raven (1959), Sang Pemimpin memiliki kualitas tertentu yang dapat memotivasi pengikutnya untuk berubah sesuai dengan maksud Si Pemimpin. Basis kekuasaan itu dapat dikategorikan menjadi 5 macam: legitimasi (karena jabatan), kharisma, keahlian, imbalan dan paksaan. Kualitas sang pengikut karenanya dapat diukur juga dari basis penyerahan dirinya untuk menuruti sang pemimpin. Jika status pengikut itu dipilih secara bebas, bukan karena paksaan, atau aturan, besar kemungkinan Sang Pemimpin memancarkan ideal pengikut, yang seringkali mengadopsi cara berpikir atau bertindak Sang Pemimpin dalam aneka situasi hidup yang dialaminya.
Dalam bacaan hari ini, digambarkan sehabis mengajar orang banyak di tepi pantai danau, Yesus memanggil Lewi yang kebetulan dilihatnya sedang duduk di rumah cukai. “Ikutlah Aku”. Dan Lewi pun mengikutiNya. Coba kita bayangkan bagaimana hal ini bisa terjadi. Yesus tidak punya jabatan formal, tak menawarkan imbalan, tidak memaksa. Mungkin Lewi sudah mendengar reputasi Guru muda ahli kerohanian itu. Yang pasti, ada karisma luar biasa yang memancar dalam pribadi Yesus yang membuat Lewi, orang yang sudah cukup mapan dalam pekerjaan dan status sosialnya sebagai pemungut pajak, mau meninggalkan zona nyamannya untuk memasuki masa depan yang tidak pasti sebagai murid Sang Pengkotbah Keliling. Saat dikritik karena makan bersama para pemungut cukai, agen penjajah yang dipandang sebagai pendosa, Yesus menyebutkan Ia datang untuk menawarkan penyembuhan. Yang luar biasa, penyembuhan yang ditawarkannya, baik pemulihan fisik maupun rohani, diberikan secara cuma-cuma. Gratis. Dan kita tahu dari Injil, berbondong-bondong orang mengikutinya untuk mendapatkan penyembuhan itu, juga pemuasan akan lapar dan dahaga akan kebenaran.
Ada bermacam cara Tuhan memanggil kita untuk ikut Dia. Ada bermacam cara kita ikut Dia. Hari ini, baik kita mengingat lagi dengan penuh syukur, orang-orang yang hadir mengantar kita pada iman kita: orang tua, guru, orang-orang rohani, teman-teman, atau Allah sendiri yang menarik kita mendekat padaNya. Kita ingta lagi kejadian-kejadian biasa atau istimewa, saat kita tahu dan merasa, Tuhan memanggil kita.
Lewi segera bangkit meninggalkan urusan yang dikerjakannya, dan langsung mengikut Yesus Bayangkan, ia segera asik bercakap-cakap lalu mendapatkan pengarahan dan tugas-tugas baru dari Sang Guru, dalam komunitas kecil para murid yang mengikutiNya. Baik kita juga merefleksikan, bagaimana kita menyatakan ikut Dia: siapkah kita bangkit berdiri dengan segera mengikuti kehendakNya, dan bukan memaksa Dia merestui dan memberkati kehendak kita? Seberapa jauh kita ikut Dia dan bukannya memaksaNya ikut kita –tak jarang ini terjadi dan saat kita jatuh, bayangkan dengan sabar Dia akan datang membalut luka kita dan mengajak kita kembali ke jalan yang benar-?
Teman
Bacaan I : Ibrani 4:1-5,11
Bacaan Injil : Markus 2: 1-12
Kemarin malam, pesan WhatsApp mengabarkan kepergian seorang kawan di Melbourne ke rumah Bapa. Teman yang mengontak saya itu, sehari sebelumnya sempat ragu apakah baik ia datang lagi menemui sahabatnya yang sedang kritis atau tidak, karena ia takut akan merepotkan keluarga sahabatnya itu, kalau-kalau ia sendiri tak kuat menahan kesedihannya lalu menangis Bombay sehabis-habisnya. Saya mengenal mereka berdua sebagai kawan dekat yang saling melengkapi, dan bisa membayangkan, betapa pedih perihnya kehilangan seorang sahabat tempat berbagi suka dan duka.
A friend in need is a friend indeed. Perkawanan yang kuat dihadirkan dalam kisah penyembuhan orang lumpuh oleh Yesus hari ini. Yesus sendiri menunjukkan kualitasnya menjadi kawan bagi semua orang, berdosa maupun suci tak bernoda, tua muda, kaya miskin. Kesediaannya mengulurkan tangan meringankan beban derita si lumpuh tak saja dari penderitaan fisiknya, namun juga batin lewat pegampunan dosa, menjadi sebuah hadiah sangat berharga. Hari ini, mari kita melihat, menyapa dan lebih menghargai lagi kehadiran sahabat-sahabat yang hadir menemani kita, membantu kita, menopang kita di saat-saat kita sangat membutuhkan hadirnya seseorang di samping kita. Karena mereka menjadi representasi Allah sendiri yang membantu kita. Dan mari kita mengusahakan menjadi sahabat yang baik bagi teman-teman yang dikaruniakan Tuhan pada kita.
Untuk membantu mencecapi lagi nilai persahabatan, mari kita juga renungkan tulisan dari seorang yang tak diketahui namanya tentang pertemanan ini, tentang pemahaman arti seorang teman yang berkembang sejalan dengan pertumbuhan kita.
What is a friend?
In kindergarten your idea of a good friend was the person who let you have the red crayon when all that was left was the ugly black one.
In first grade your idea of a good friend was the person who went to the bathroom with you and held your hand as you walked through the scary halls.
In second grade your idea of a good friend was the person who helped you stand up to the class bully.
In third grade your idea of a good friend was the person who shared their lunch with you when you forgot yours on the bus.
In fourth grade your idea of a good friend was the person who was willing to switch square dancing partners in gym so you wouldn’t have to be stuck do-si-do-ing with Nasty Nick or Smelly Susan.
In fifth grade your idea of a friend was the person who saved a seat on the back of the bus for you.
In sixth grade your idea of a friend was the person who went up to Nick or Susan, your new crush, and asked them to dance with you, so that if they said no you wouldn’t have to be embarrassed.
In seventh grade your idea of a friend was the person who let you copy the social studies homework from the night before that you had.
In eighth grade your idea of a good friend was the person who helped you pack up your stuffed animals and old baseball but didn’t laugh at you when you finished and broke out into tears.
In ninth grade your idea of a good friend was the person who would go to a party thrown by a senior so you wouldn’t wind up being the only freshman there.
In tenth grade your idea of a good friend was the person who changed their schedule so you would have someone to sit with at lunch.
In eleventh grade your idea of a good friend was the person who gave you rides in their new car, convinced your parents that you shouldn’t be grounded, consoled you when you broke up with Nick [or Drew] or Susan, and found you a date to the prom.
In twelfth grade your idea of a good friend was the person who helped you pick out a college/university, assured you that you would get into that college/university, helped you deal with your parents who were having a hard time adjusting to the idea of letting you go.
At graduation your idea of a good friend was the person who was crying on the inside but managed the biggest smile one could give as they congratulated you.
The summer after twelfth grade your idea of a good friend was the person who helped you clean up the bottles from that party, helped you sneak out of the house when you just couldn’t deal with your parents, assured you that now that you and Nick or you and Susan were back together, you could make it through anything, helped you pack up for university and just silently hugged you as you looked through blurry eyes at 18 years of memories you were leaving behind, and finally on those last days of childhood, went out of their way to give you reassurance that you would make it in college as well as you had these past 18 years, and most importantly sent you off to college knowing you were loved.
Now, your idea of a good friend is still the person who gives you the better of the two choices, holds your hand when you’re scared, helps you fight off those who try to take advantage of you, thinks of you at times when you are not there, reminds you of what you have forgotten, helps you put the past behind you but understands when you need to hold on to it a little longer, stays with you so that you have confidence, goes out of their way to make time for you, helps you clear up your mistakes, helps you deal with pressure from others, smiles for you when they are sad, helps you become a better person, and most importantly loves you!
Remember…
No matter where we go or who we become, never forget who helped us get there.
Tahir
Bacaan I : Ibr. 3:7-14
Bacaan Injil : Mrk. 1:40-45
Dalam masyarakat tradisional yang cukup maju, berkembang etiket, sopan santun yang dinyatakan dalam cara-cara bertutur kata, berpakaian, bersantap resmi dan sebagainya. Orang yang berasal dari luar budaya tersebut diharapkan memperhatikan, menghormati dan menyesuaikan diri jika masuk dalam aktivitas masyarakat tersebut. Ada standar benar salah yang diterakan untuk mengukur kemampuan seseorang memasuki budaya tersebut.
Menjadi bagian dari semangat agama, adalah mengusahakan kekudusan, bukan saja untuk meraih keselamatan, melainkan juga sebagai tata cara yang wajar dalam hidup di hadapan Yang Ilahi, dalam kebersamaan dengan sesama penghayat agama tersebut. Mengupayakan kekudusan juga menjadi cara bertindak yang jika dilanggar, bisa mengguncang hidup sosial yang dibangun bersama.
Dalam konteks inilah kita mengenal istilah tahir dan najis. Najis itu hal-hal yang dapat menghambat kedekatan dengan Yang Kudus, dan bersifat menular. Dalam tradisi Yahudi sebagaimana dinyatakan dalam Kitab Perjanjian Lama, ada beberapa hal yang dianggap menajiskan. Misalnya orang mati (Bil 19:11-12), Kusta (Im 13:1-14; 2Rak 7:3), dan makanan yang asing (Yeh 4:13). Tahir, di sisi lain, adalah penyucian, yang membuat disposisi batin yang terbuka untuk berelasi dengan Allah.
Konsep-konsep spiritual ini muncul untuk membantu kita menakar diri dalam perjalanan menuju kekudusan. Kita jadi bisa mengukur, seberapa jauh kita cukup layak menghadap Tuhan, dalam persekutuan dengan umatNya. Dalam suatu pertemuan sosial, kita bisa saja salah kostum, dan merasa tak nyaman karenanya. Demikian pula, suatu tindakan yang membuat kita najis, seperti salah kostum. Persoalannya, sanksi sosial bisa jadi terlalu berlebih. Formalisme yang eksesif bisa membuat seseorang menjadi munafik, karena ia mengatur penampilan luarnya agar sesuai dengan standar sosial, padahal hatinya belum tentu selaras dengannya. Dan betapa bahaya kemunafikan itu juga terus dipaparkan di hadapan kita dalam diri orang-orang yang mengaku beragama dan beriman kuat, tetapi dengan mudah menghakimi bahkan menista orang lain yang tak sependapat dengannya. Konsep-konsep agama dapat menjadi alat mendapatkan kekuasaan belaka, dan seperti barang dagangan, bisa mudah diperjualbelikan. Garis pemisah yang awalnya dibuat untuk membantu merefleksi diri dalam perjalanan menuju kekudusan, menjadi garis pemecah antara kami dan kamu.
Kristus hadir untuk mengembalikan semangat dasar hukum Taurat. Belas kasih menjadi fondasinya, bukan semangat menghakimi dan menghukumi. Setelah 2000 tahun berlalu, dunia masih saja harus banyak belajar untuk mengerti dan melaksanakannya. Sudahkah aku mengikutiNya?


