Browsed by
Month: February 2017

Pernikahan di Era Digital

Pernikahan di Era Digital

Pernikahan di Era Digital
 

Jumat pada Pekan Biasa ke-7

24 Februari 2017
Markus 10: 2-16
 
Kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang sangat canggih dengan semua kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Namun, dengan segala kamajuan yang kita nikmati, kita tetap saja bergulat dengan permasalahan di dalam pernikahan dan tidak dapat berdamai dengan diri kita sendiri dan pasangan hidup kita. Pernikahan menghadapi jalan bergelombang, dan terkadang jalan buntu. Pasangan menemukan kehidupan mereka tidak bahagia dan penuh masalah. Ada saatnya, terjadi kekerasan verbal, emosional dan fisik. Perselingkuhan ternyata menjadi godaan besar bahkan untuk pasangan bahagia. Tak heran jika suami dan istri akhirnya menemukan perpisahan, pembatalan nikah, dan bercerai sebagai solusi instan. Generasi muda menemukan hidup penikahan tidak lagi relevan dan lebih memilih untuk tinggal bersama tanpa komitmen permanen. Beberapa umat Kristiani pun memilih menikah sipil, berpikir bahwa pernikahan di Gereja membawa kerumitan besar dan beban keuangan.
Hal Ini tidaklah mengejutkan, dan pola pikir digital kita  memberikan kontribusi juga pada semakin ruwetnya permasalahan dalam pernikahan saat ini. Paus Fransiskus dalam Seruan Apostoliknya, Evangelii Gaudium, menulis, “Kadang-kadang kita tergoda untuk mencari alasan dan mengeluh, bertindak seolah-olah kita hanya bisa bahagia jika seribu kondisi dipenuhi. Hal ini karena masyarakat teknologi’ kita telah berhasil menggandakan kesempatan meraih kenikmatan, namun sangat sulit untuk menemukan sukacita sejati (# 7).Kita langsung beralih saluran TV  ketika kita merasa bosan. Kita ketagihan untuk ‘Like’ dan ‘comments’ di Facebook. ‘Friend’ dan Unfriend’ menjadi kosa kata baru. Kita selalu dalam perlombaan untuk gadget terbaru dan membuang model usang meskipun pada kenyataannya mereka masih berfungsi dengan baik. Tanpa disadari, kita menelan mentalitas ini bulat-bulat.
Yesus tidak menawarkan solusi instan untuk permasalahan dalam pernikahan kita. Bahkan, Dia menegaskan kembali bahwa percerai bukanlah kehendak Allah. Dia bahkan mengkritik sikap instan orang-orang Farisi. Yesus tampaknya agak kejam terhadap orang-orang yang menghadapi begitu banyak masalah pernikahan. Namun, Yesus tahu bahwa pernikahan dan komitmen adalah sebuah panggilan dan sebuah pilihan radikal untuk mencintai. Sebagai Pencipta kita, Dia menyadari bahwa kita mampu untuk pemberian diri yang radikal. Kita menjalin sebuah pernikahan tidak untuk menghasilkan banyak kenikmatan belaka, tetapi untuk menemukan sukacita sejati bahkan di tengah-tengah masalah dan penderitaan. Kita diciptakan bukan untuk sekedar kontrak sementara, tetapi perjanjian abadi.
Yesus mengajak kita untuk mengubah sikap kita dan perspektif dalam hidup dan pernikahan suci, dan menyesuaikan diri dengan kehendak Tuhan. Dan ini dimulai dengan hal-hal sederhana. Ini berarti akan melawan budaya gratifikasi instan, dan bersikap kritis dengan pola pikir teknologi kita. Ini berarti membuat usaha ekstra dalam membangun dan mempertahankan persahabatan, dan jangan terburu-buru untuk mengakhirinya saat situasi mulai sulit. Ini berarti menikmati apa yang kita telah miliki seberapapun kecilnya.
Kita juga berdoa bagi pasangan suami-istri yang sedang menghadapi badai kehidupan.
 
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
Penggallah!

Penggallah!

Penggallah!
 
Peringatan Santo Polikarpus
23 Februari 2017
Markus 9:41-50
 
Perkataan Yesus pada Injil hari ini cukup keras dan bahkan terkesan brutal. Tuhan yang penuh kasih, kini berubah menjadi tegas dan lantang. Apa kira-kira yang membawa perubahan drastis ini? Jawabanya tidak lain adalah dosa. Jika ada satu hal yang Yesus benci, ini adalah dosa.
Dalam katakismus, kita belajar bahwa dosa adalah pelanggaran terhadap Allah yang menghancurkan persahabatan kita dengan-Nya. Kita pun menjadi musuh Allah dan kehilangan rahmat dan hidup kekal. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa Yesus tidak ingin kita berdosa karena Ia ingin agar kita sungguh hidup bersatu dengan Allah dan memperoleh hidup kekal. Sebagaimana orang tua yang kadang marah terhadap anak mereka bukan karena benci tetapi karena sayang dan tidak mau anak mereka celaka, kita sekarang bisa mengerti kenapa Yesus begitu keras terhadap dosa. Ia sungguh mengasihi kita, dan Ia sangat benci dengan hal-hal yang memisahkan-Nya dengan kita.
Tetapi, mungkin kita bertanya, bukankah Yesus sebenarnya bersahabat dengan para pendosa dan menerima mereka dengan tangan terbuka? Yesus makan bersama Zakeus, pemunggut pajak. Ia mengampuni perempuan yang tertangkap basah dalam perselingkuhan, dan masih banyak lagi. Benar bahwa Yesus merangkul semua orang termasuk para pendosa, tetapi ini karena ia ingin mereka bertobat dan mengikuti Dia. Maka Yesus berkata, “Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi! (Yoh 8:11)”
Banyak penulis rohani mengatakan bahwa dosa terjadi saat kita memilih ciptaan daripada pencipta, saat kita melekatkan diri pada hal-hal sementara daripada yang abadi. Yesus pun dengan tegas menginginkan kita untuk melepas semua kelekatan-kelekatan kita terhadap hal-hal duniawi, entah itu kekayaan, posisi, prestasi dan lain-lain. Semua ini pada akhirnya akan membawa kita pada dosa, dan dosa pada neraka. Saat Yesus berkata, “Jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah”, mungkin terdengar sangat sadis, tetapi perkataan-Nya sebenarnya tidak jauh dari realitas kita sehari-hari. Lebih baik hidup sederhana, daripada kaya karena korupsi atau mencuri. Lebih baik jabatan biasa-biasa saja, dari pada punya posisi tinggi hasil kolusi dan suap-menyuap. Jika Yesus keras terhadap dosa, kita pun harus tegas dan lugas terhadap dosa. Jangan kita berkompromi, jangan pula setengah hati. Berani mengatakan tidak, berani untuk memenggal keterikatan kita terhadap hal-hal duniawi.
 
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
Siapakah Anak Manusia itu?

Siapakah Anak Manusia itu?

“Siapakah Anak Manusia itu?”
 
Pesta Tahta Santo Petrus
Rabu, 22 Februari 2017
Matius 16:13-19
 
Apa yang akan menjadi jawaban kita saat Yesus bertanya “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Kita mungkin menjawab: Dia adalah Tuhan, Juruselamat, sahabat atau saudara. Tapi, apakah kita sudah mengerti dengan baik pertanyaan Yesus? Apakah jawaban kita inilah yang Yesus harapkan? Mengapa jawaban Petrus adalah Kristus dan bukan jawaban lainnya?
Kristus berasal dari kata Yunani Christos’ yang berarti Mesias atau Yang Terurapi. Dalam Perjanjian Lama, Yang Terurapi mengacu pada raja-raja besar Israel seperti Saul dan Daud. Tapi kadang juga, Mesiah berlaku bagi para nabi dan imam. Mereka disebut seperti itu karena mereka diurapi dengan minyak suci sebelum mereka mengemban tugas penting. Mereka adalah pemimpin bangsa Israel dan juga wakil Allah. Di bawah Raja Daud, Israel mencapai puncak kejayaannya. Namun, setelah kematiannya, kejayaan Israel perlahan memudar dan bahkan hilang sama sekali. Sejak saat itu, Israel merindukan kedatangan Mesias yang akan mengembalikan kejayaan mereka.
Yesus menyadari bahwa Dia adalah Kristus. Namun, Yesus menghindari proklamasi publik bahwa Dia adalah Kristus. Dia tahu betul bahwa ia akan disalahpahami oleh orang-orang Yahudi. Dia tidak pernah datang sebagai tokoh politik ataupun seorang pemimpin militer. Dengan demikian, Ia menunggu sampai waktu yang tepat.
Waktunya tiba ketika Petrus mampu menjawab dengan benar. Lelah dengan penindasan Romawi, seluruh Israel, termasuk Petrus, tidak sabar akan kedatangan Mesias. Ketika Yesus mengamini bahwa Ia adalah Kristus, Petrus dan murid-murid lainnya tidak akan berpikir dua kali. Mereka akan mengikuti Mesias mereka sampai Ia membawa Israel yang baru. Bagi Petrus, jawabannya lebih dari sekedar pengakuan tentang identitas Yesus, tetapi menyatakan kesetiaannya kepada Yesus. Namun, sekali lagi Yesus harus mengingatkan mereka akan ide salah tentang Mesias di kepala mereka. Dia akan ditolak, dianiaya dan bahkan dibunuh. Mengikuti Yesus berarti juga menderita nasib yang sama seperti Guru mereka.
Ketika Yesus menghadapkan kita dengan pertanyaan Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Ini bukan saja tentang memberikan jawaban personal dan favorit tentang Yesus. Seperti Petrus, jawaban kita pada dasarnya adalah komitmen radikal kepada Yesus. Ini berarti untuk mengikuti-Nya dalam suka dan duka. Hal ini menuntut penderitaan dan salib. Bahkan mungkin kita akan kehilangan hidup kita. Kita dengan mudah bernyanyi dan memuji Yesus dalam prayer meeting, tapi apakah kita mau terlibat dalam karya sulit untuk membantu orang-orang miskin? Kita bangga mengalami pernikahan kita di Gereja besar dan indah, tapi apakah kita mampu sabar untuk menanggung cobaan hidup perkawinan ‘sampai kematian memisahkan kita’? Kita dipanggil Kristiani, karena kita adalah milik Kristus. Tapi, apakah kita bisa hidup sebagai citra Kristus di dunia?
 
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
Bersaing untuk Melayani

Bersaing untuk Melayani

Bersaing untuk Melayani
 
Selasa pada Pekan Biasa ke-7
21 Februari 2017
Markus 9:30-37
 
“Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya (Mar 9:35).”
 
Kita dilahirkan sebagai pesaing. Di pelajaran Biologi, kita mengetahui bahwa jutaan sel sperma berlomba untuk mencapai sel telur, dan hanya satu yang akhirnya berhasil. Kompetisi berlanjut di dalam keluarga, terutama saat kakak-adik berjuang untuk mendapatkan perhatian orang tua. Sistem sekolah kita melatih kita untuk bersaing dan menjadi nomor satu dalam berbagai aspek: matematika, olahraga, bahasa, musik, bahkan kehadiran di kelas. Ketika kita memasuki dunia profesional, kompetisi bergerak dalam intensitas yang tak terbayangkan.
Ketika murid-murid Yesus bertengkar mengenai siapa yang terhebat, kita dapat menduga bahwa argumentasi ini bukan pertama kalinya terjadi. Sama seperti kita, mereka juga kompetitif, dan mungkin ambisius.
Yesus sungguh tahu karakter manusia. Kecenderungan kita untuk bersaing tidaklah buruk, dan pada kenyataannya, telah mendorong kita menjadi makhluk unggulan dan memberi kita kemajuan yang tak terhitung dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Tentunya, Yesus tidak berniat untuk menghapus fitur dasar manusia yang baik ini. Namun, Dia mengakui bahwa afinitas kita untuk bersaing tetap memiliki masalah fundamental.
Dengan kebijaksaan-Nya, Dia meminta para murid untuk tidak benar-benar berhenti bersaing, tetapi untuk memurnikan niat mereka dan mengganti tujuan duniawi mereka dengan nilai-nilai Injil. Yesus berkata, “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” Daripada berlomba-lomba untuk posisi pemimpin tertinggi, mengapa kita tidak berlomba-lomba untuk melayani sesama? Daripada menjatuhkan orang lain, mengapa kita tidak membantu sesama untuk tumbuh dan menjadi pribadi yang dewasa? Tujuan dari daya saing kita tidak lagi mementingkan diri sendiri, tetapi untuk menjangkau sesama dan memberdayakan mereka dan diri kita sendiri, baik untuk menciptakan masyarakat dan dunia yang lebih baik. Kata Yesus bergema dalam surat Santo Petrus, “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. (1 Pet 4:10). ”
Banyak ilmuwan yang bekerja untuk kemajuan umat manusia, menyembuhkan penyakit mematikan, dan menemukan cara-cara yang lebih aman untuk hidup. Banyak pengusaha bekerja untuk memberdayakan karyawan mereka. Para Guru mengunakan jam tambahan untuk memungkinkan siswa mereka untuk belajar lebih baik, meskipun kenyataannya gajih mereka rendah. Orang tua berkorban banyak hal agar anak-anak mereka bisa memiliki pendidikan terbaik. Memang benar bahwa hanya satu dari jutaan sel sperma dapat masuk ke dalam sel telur, tetapi kita dapat lihat bahwa mereka tidak benar-benar sedang berlomba, tetapi saling mendukung satu sama lain, bahkan mengorbankan diri mereka sendiri, sehingga mereka mencapai tujuan bersama mereka. Kita dilahirkan sebagai pesaing, tapi kita bersaing untuk pertumbuhan kita, pemberdayaan sesama dan kemuliaan Allah.
 
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
Translate »