Browsed by
Month: June 2017

Kualitas cinta yang diajarkan oleh Yesus

Kualitas cinta yang diajarkan oleh Yesus

Kamis, 8 juni 2017

Kualitas cinta yang diajarkan oleh Yesus

Mrk 12:18-27

Kalau kita amati dalam kehidupan sehari-hari, tema sinetron, film dan lagu-lagu pop kebanyakan bertemakan cinta. Memang kata ‘cinta’ mempunyai berbagai macam makna: suatu ungkapan kata dan tindakan romantis, saling berbagi, saling setia, saling mengasihi dsb. Namun tak jarang pula “cinta” yang seharusnya memberikan kebahagiaan dan sukacita, terkadang berakhir dengan kesedihan, kebencian dan perselisihan. Makna kata cinta senantiasa aktual dalam kehidupan manusia. Untuk itulah kita perlu memahami dan merenungkan kembali makna kata CINTA seperti yang Yesus ajarkan kepada kita.

Dalam bacaan Injil hari ini, seorang ahli taurat bertanya kepada Yesus mengenai, manakah hukum yang paling utama dari seluruh perintah Allah. Seperti kita ketahui ada 613 hukum yang dapat ditemukan dalam Kitab Perjanjian Lama. Untuk itulah seorang ahli taurat bertanya kepada Yesus, manakah hukum yang paling utama. Jawaban yang diberikan Yesus sangatlah tegas dan ringkas: pertama, cintailah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, jiwamu dan kekuatanmu. Kedua adalah cintailah sesamamu seperti mencintai dirimu sendiri. Yesus menunjukkan sesuatu yang penting, yaitu kualitas dalam MENCINTAI Allah dan manusia. Mencintai Allah dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan berarti mencintai Allah melebihi segala sesuatu. Allah menjadi yang utama dalam hidup kita. Setiap tindakan, keputusan yang kita ambil diselaraskan dengan kehendak Allah. Selanjutnya mencintai sesama seperti diri kita sendiri, artinya menjadikan orang lain bagian dari diri kita, cinta yang merangkul orang lain, cinta yang inklusif, cinta yang memaafkan. Dengan demikian sikap diskriminasi, rasis, dan tidak toleran menjadi sesuatu yang bertentangan dengan cara MENCINTAI yang diajarkan oleh Yesus.

Saudara saudari yang terkasih, marilah kita memohon rahmat Roh Kudus agar mampu mencintai Alah dan sesama dengan cinta yang berkualitas dan menjadikan semua orang sebagai saudara kita di dalam keluarga Allah.

Beriman kepada Allah yang hidup

Beriman kepada Allah yang hidup

Rabu, 7 Juni 2017

Beriman kepada Allah yang hidup

Mrk 12:18-27

Suatu saat seseorang kadang bisa mengalami kejenuhan dan kebosanan dalam menjalani rutinitas. Dalam situasi demikian, kita kadang kehilangan arah dan tujuan hidup, dan tak jarang pula kita mengalami keputus-asaan. Kita pun bisa mengalami kehilangan arti hidup dan harapan. Bukan tanpa alasan, kadang Allah mengijinkan kita untuk mengalami keraguan, kegagalan, kehilangan dan penderitaan agar iman kita semakin dimurnikan. Allah senantiasa menghendaki apa yang baik bagi hidup manusia. Sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus menjadi bukti bahwa Allah senantiasa memberikan harapan di tengah-tengah penderitaan. Kemuliaan dan kemenangan Salib Kristus menunjukkan kekuatan cinta Allah yang mengalahkan maut dan kematian. Kebangkitan Kristus menjadi puncak iman kita. Hidup tidak berakhir dengan kematian tetapi kematian justru menjadi gerbang untuk memasuki kehidupan kekal. Namun iman akan kebangkitan tidaklah berlaku bagi orang-orang saduki seperti yang kita dengarkan dalam bacaan Injil hari ini. Hal itu dibenarkan oleh Kisah Para Rasul: “Sebab orang-orang Saduki mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan dan tidak ada malaikat atau roh, tetapi orang-orang Farisi mengakui kedua-duanya” (Kis 23:8). Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menjawab pertanyaan orang-orang Saduki mengenai siapakah suami dari wanita yang bersuamikan tujuh laki-laki di hari kebangkitan nanti? Namun Yesus menunjukkan pemikiran yang salah dari kaum Saduki, yang menyamakan hidup di bumi dengan hidup setelah kematian. Di dunia ini orang kawin dan dikawinkan, namun tidaklah demikian situasi dan kondisi hidup setelah kematian. Hidup orang yang sudah mengalami kebangkitan, tidaklah sama dengan situasi dan kondisi di dunia, sebelum kematian. Relasi antar manusia yang bangkit tidak berdasarkan relasi kawin dan dikawinkan atau relasi suami isteri, tetapi relasi yang menggambarkan kehidupan bersama Allah. Kebangkitan badan itu tidak berarti hidup lagi seperti sebelum mati. Kebangkitan badan itu berarti hidup seperti para malaikat dan hidup sebagai anak-anak Allah. Inilah Sabda Yesus: “Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan” (Luk 20:36).

Saudara-saudari yang terkasih, bacaan Injil hari ini mengundang kita untuk mempunyai pandangan yang positif terhadap hidup di dunia. Hidup yang senantiasa ada harapan karena iman akan kebangkitan badan menjadikan segala sesuatu menjadi ciptaan baru, hidup bersama Allah. Sebagai konsekuensi hidup di dunia hendaknya dijalankan dengan baik supaya kita siap untuk memasuki gerbang kematian, dan sekaligus memasuki kehidupan kekal, kebangkitan badan. Kalau kita hidup baik hari ini, maka tidak ada ketakutan dan penyesalan yang sia-sia di hari esok. Bijaksanalah dalam menjalani kehidupan. Allah kita adalah Allah orang-orang hidup.

Persembahan diri kepada Allah dan sesama

Persembahan diri kepada Allah dan sesama

Selasa, 6 Juni 2017

Persembahan diri kepada Allah dan sesama

Mrk 12:13-17

Seorang pedagang yang sukses pastilah akan mempunyai kebiasaan untuk menghitung pamasukan dan pengeluaran setiap hari, setiap minggu, setiap bulan dan setiap tahun. Ia akan selalu menghitung berapa keuntungan atau kerugian. Dari kebiasaan itu, si pedagang akan mengetahui perkembangan usaha dagangnya. Keuntungan dan kerugian sekecil apapun akan berguna untuk menentukan langkah dan tindakan selanjutnya. Sebetulnya kebiasaan tersebut juga bisa kita terapkan dalam kehidupan rohani kita. Setiap pengalaman keseharian, baik pengalaman suka ataupun duka, akan mempunyai suatu nilai apabila kita merefleksikannya dalam keheningan. Seperti seorang pedagang yang membuat neraca keuangan, kita pun perlu melihat neraca kehidupan kita, untuk merenungkan kelemahan dan kekuatan, kerapuhan dan ketahanan hidup kita. Intinya dalam perkembangan hidup rohani, evaluasi diri menjadi sarana penting untuk menggapai kematangan dan kedewasaan hidup. Untuk itulah perlu melihat setiap hari, neraca kehidupan kita, mengukur kualitas pemberian diri kepada Allah dan sesama.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengajarkan kepada kita untuk bersikap bijaksana dalam kehidupan. Ia menjawab pertanyaan orang farisi, apakah menjadi suatu kewajiban untuk membayar pajak kepada kaisar. Mereka ingin mencobai Yesus dengan mengajukan suatu pertanyaan, apakah Yesus dan murid-muridNya harus membayar pajak kepada kaisar. Mereka berharap bahwa Yesus akan membuat kesalahan dalam menjawab pertanyaan. Namun bagi Yesus, pertanyaan tersebut menjadi sarana untuk memberikan pengajaran. Dia menjawab pertanyaan tersebut dengan penuh bijaksana, bahwa kita perlu memberikan apa yang menjadi hak kaisar dan juga memberikan apa yang menjadi hak Allah. Yesus mengajak kita untuk bersikap realistis, yaitu melakukan apa yang diwajibkan ‘kaisar’, misalnya kewajiban bekerja untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan, dan kewajiban sebagai anggota masyarakat, namun hendaknya janganlah melalaikan kewajiban yang diminta oleh Allah, misalnya berdoa, berderma dan olah rohani. Yesus mengundang kita untuk bersikap bijaksana, untuk memberikan takaran yang seimbang antara apa yang kita persembahkan kepada Allah (waktu, tenaga, biaya) dan apa yang kita persembahkan kepada ‘kaisar’ untuk memenuhi kehidupan jasmani kita (waktu, tenaga, biaya) . Kembali kepada contoh seorang pedagang yang membuat neraca keuangan untuk melihat perkembangan usaha dagangnya, kita pun dapat menerapkannya dalam kehidupan keseharian. Kita membuat neraca perbandingan atau semacam evaluasi, seberapa banyak waktu, tenaga dan biaya yang kita gunakan untuk mengabdi Allah, dan seberapa banyak waktu, tenaga dan biaya yang kita gunakan untuk mengabdi sesama. Marilah kita melihat dengan kejujuran hati, seberapa kualitas cinta yang kita persembahkan kepada Allah di tengah-tengah kesibukan kita ? Seberapa besar kepedulian kita untuk memajukan kesejahteraan hidup bersama dalam bermasyarakat ?

Kesabaran Allah

Kesabaran Allah

Senin, 5 Juni 2017

Kesabaran Allah

Injil : Mrk 12 :1-12

Dalam hidup kita, tak jarang kita mengalami ketidak-sabaran dengan situasi yang ada di sekitar kita. Misalnya kita melihat orang benar dan baik, justru mengalami penganiayaan dan ketidakadilan, sedangkan orang yang cara hidupnya tidak benar, justru mengalami berbagai macam kemudahan. Pada intinya, kita menjadi tidak sabar dengan situasi kejahatan dan ketidakadilan yang sedang terjadi. Bagaimana seharusnya kita menghadapi situasi seperti itu ? Ketika berusaha menjadi sabar bukankah justru membiarkan kejahatan dan ketidakadilan semakin merajalela ? Bagaimana seharusnya kita bersikap tegas terhadap prinsip tetapi tidak jatuh memberikan penghakiman.

Kisah perumpamaan tentang kebun anggur ini mengajak kita untuk merenungkan makna kesabaran Allah yang mengajarkan kepada kita untuk bersikap sabar dan tetap berpegang pada prinsip. Allah senantiasa memberikan sesuatu yang terbaik untuk manusia. Dalam bacaan Injil hari ini, kita merenungkan bagaimana pemilik kebun anggur dalam mempersiapkan kebun anggur agar memberikan hasil panen yang baik : mulai dari menanam pohon anggur pilihan, membangun pagar, menara untuk menjaga kebun anggur tersebut. Pemilik kebun anggur itu menggambarkan Pribadi Allah yang senantiasa menghendaki yang terbaik untuk manusia. Namun kebaikan dan kemurahan-Nya tidak ditanggapi manusia dengan baik. Manusia menolak kebaikan Allah, dengan menyalahgunakan kebebasan dan tanggung jawab yang telah diberikan. Dalam bacaan Injil hari ini, situasi yang demikian digambarkan dengan sikap para pekerja kebun anggur yang menangkap dan menganiaya para pelayan kebun anggur yang diutus oleh pemilik kebun anggur. Dalam tafsiran Kitab Suci, para pelayan kebun anggur itu adalah para nabi, utusan Allah yang menyerukan pertobatan. Dalam perikop Injil hari ini, Yesus hendak memperingatkan para ahli taurat yang merasa dirinya paling benar dan mudah menghakimi orang lain. Bahkan para pekerja kebun anggur itu membunuh putera atau ahli waris dari pemilik kebun anggur. Hal ini menggambarkan bagaimana kebrutalan para pekerja kebun anggur yang tidak lagi mampu mendengarkan kehendak Allah yang bergema dalam hati nuraninya.

Saudara-saudari yang terkasih, kisah perumpamaan dalam Injil hari ini mengajak kita untuk merenungkan kesabaran dan kemurahan dan kebaikan hati Allah. Ia senantiasa berusaha agar hidup kita berbuah. Allah senantiasa memberikan kesempatan kepada kita untuk bertobat dan memperbaiki diri, namun sering kali kita seperti pekerja kebun anggur yang keras kepala dan memberontak. Marilah kita mohon kerendahan hati, sikap taat dan kemauan untuk bertobat serta kemauan untuk mendengarkan kehendak Allah. Kita pun pantas untuk mengucap syukur atas kasih karunia Allah yang senantiasa kita terima dan mohon keberanian untuk menjadi pewarta cinta kasih Allah itu kepada sesama, dalam tindakan mengampuni dan tidak menghakimi.

The Spirit of Pentecost

The Spirit of Pentecost

The Spirit of Pentecost
 
Pentecost Sunday
June 4, 2017
John 20:19-23
 
“Receive the Holy Spirit. Whose sins you forgive are forgiven them… (Jn 20:22-23)”
 
Pentecost is the commemoration of the descent of the Holy Spirit upon the first disciples in the upper room. The usual images we have in our mind are usually dramatic and vivid. The disciples gathered in the upper room, suddenly the strong wind filled the room, followed by the appearance of the tongues of fire. Inspired by the Holy Spirit, the disciples began to speak various languages, and proclaimed the Gospel. This depiction of Pentecost comes from the Acts of Apostles (our first reading today). The same Acts tells us that Pentecost took place 50 days after Easter Sunday (Pentecost itself simply means ‘50’ in Greek).
However, the outpouring of the Holy Spirit in today’s Gospel from John gives us a slightly different image from that of the Acts. It is less dramatic, less lively, and less miraculous. There was no strong wind, no tongues of fires that rested on the disciples’ heads, no awesome ability to speak various languages. Only Jesus and His disciples. Yet, if we look closely on Jesus’ actions and words as well as the context of the story, the Pentecost that it represents is a poignant and transformative image.
The disciples locked themselves inside the room because of fear of the Jews. Their master just was executed, and they were afraid that the Jewish authorities and the Roman soldiers would also arrest them. But, it is also possible that they were actually afraid that risen Jesus would get back on them. They deserted Jesus when He was seized, persecuted and sentenced to death. They ran away when He was humiliated on the cross and died as a shameful criminal. It was a payback time, and Jesus could throw them to fire of hell in an instant. Yet, Jesus came not to exact vengeance, but to offer peace. He came not to satisfy His wrath, but to give them the Holy Spirit. This Spirit is the spirit of forgiveness, the power to heal, and the energy to unity. It also the Spirit of mission, of their being sent by Jesus. Indeed, Jesus bore the wounds in His body, but despite His wounds and pains, Jesus forgave them and empowered them to forgive in His Holy Spirit. Jesus showed them that violence only breeds violence, and vengeance causes more harm, and only forgiveness can bring true peace.
In our world today, many of us are hurt by violent words and actions of others, aggravated by the silence of good people. The natural tendency is to be angry and seek for justice. Yet, often, what happens is that we nurture the anger and hatred, and wait until the right time to vent this wrath in even more violent ways. But, keeping anger and hatred destroys nobody except ourselves. We become restless, stressed, and sick. Without realizing it, we become just like those who have hurt us. Pentecost is not just a commemoration of what happened in early Christianity, we need Pentecost right now and here. We pray for the Holy Spirit who empowers us to forgive others and ourselves, for the Spirit of Jesus who brings true peace and justice, for the Spirit of God who heals our brokenness.
 
Blessed Pentecost!
 
Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
Translate »