Browsed by
Month: July 2017

Barang siapa memberi air dingin secangkir saja kepada salah seorang yang kecil ini … ia takkan kehilangan upahnya.

Barang siapa memberi air dingin secangkir saja kepada salah seorang yang kecil ini … ia takkan kehilangan upahnya.

Renungan Harian

Senin, 17 Juli 2017

Injil: Mat 10:34-11:1

Barang siapa memberi air dingin secangkir saja kepada salah seorang yang kecil ini … ia takkan kehilangan upahnya.

Karya misi kita ke dalam dan di dalam dunia sekuler haruslah merupakan wujud solidaritas dengan kaum miskin, kaum yang mudah pecah, kaum yang tidak memiliki kekuatan apa pun.

Seorang pendeta pernah mengatakan dalam kotbahnya di TV bahwa tak seorangpun dapat meraih surga tanpa sepucuk surat rekomendasi dari kaum miskin. Hal ini memang benar untuk mewujudkan suatu karya misi yang efektif. Tak seorang pun mewartakan kabar sukacita tanpa secara serius mengambil langkah sesuai mandat Injil yang tidak bisa ditawar-tawar bahwa iman kita akan diadili berdasarkan kualitas keadilan yang kita usahakan dan bagaimana kita memperlakukan kaum miskin.

Bagian dari pewartaan kabar sukacita adalah untuk menghapuskan ketidakadilan dan kemiskinan sekaligus. Umat Katolik dewasa ini kebanyakan berada di kelompok pendapatan keluarga yang menengah ke atas. Kepada kita diberi mandat untuk berbagi dan bersolidaritas. Mengapa? Karena hanya di dalam kaum miskin dan mereka yang diperlakukan tidak adil kita mendapatkan suatu bentuk tertentu dari apa yang dinamakan kebijaksanaan salib, kebijaksanaan dari seseorang yang sesungguhnya memanggul salib.

Oleh karena itu kita perlu sengaja semakin menjadi atentif akan apa yang kita lihat dan siapa yang kita dengar, di mana kita hidup dan gaya hidup apa yang kita hayati setiap hari. Kita hendaknya semakin mengkaitkan hidup dan gaya hidup dengan kaum miskin sedemikian rupa sehingga kita mampu melihat realita hidup kaum miskin dan mendengarkan suara mereka.

Kemiskinan itu bukan sebuah keindahan. Sama dengan kekayaan, kemiskinan bisa menghancurkan jiwa. Karya misi kita hendaknya sama seperti Kristus yang rela mengosongkan dirinya dan mengambil rupa seorang hamba (Filipi 2:6-8). Dari

ayat-ayat di atas tadi kita menyadari bahwa suatu kekuatan dan kekayaan pun bisa menjadi hal yang berharga, sesuatu yang indah untuk pelayanan solidaritas kepada kaum miskin dan eliminasi ketidakadilan. Dengan bersedia turun dari kekayaan dan posisi yang kuat menjadi suatu bentuk kekuatan yang indah yang membantu kaum miskin.

The Sower

The Sower

Pergilah ke domba-domba yang hilang.

Pergilah ke domba-domba yang hilang.

Renungan Harian

Sabtu, 15 Juli 2017

Injil: Mat 10:1-7

Pergilah ke domba-domba yang hilang.

Saya sebagai anggota biara Kongregasi para missionaris dari Keluarga Kudus (MSF), sebagaimana setiap missionaris-klerus dan awam-mempunyai keprihatinan khusus kepada “domba-domba yang hilang”. Yesus pun mengajarkan demikian dengan perumpamaanNya tentang domba yang hilang (Mat 18:10-14).

Ketika ada sebuah retret atau konferensi orang-orang muda, katakanlah, di sebuah stadion, ketika ada yang bertanya, “Berapa yang datang?”, kita dengan bangga hati mengatakan, “…wah…ribuan orang muda datang!”. Memang ribuan orang muda datang ke konperensi itu. Namun kita perlu sadar juga bahwa ada puluhan ribu orang muda yang tidak datang mengikuti konperensi itu.

keprihatinan Yesus dan kita semua adalah satu domba yang hilang. Dan kita diharapkan berani meninggalkan yang sembilan-puluh-sembilan domba yang lain untuk mencari satu domba yang hilang itu, puluhan ribu orang muda tidak perduli lagi akan hidup rohani dan pada gilirannya tidak perduli pada keselamatan jiwa mereka sendiri.

Mengapa ada begitu banyak orang muda meninggalkan gereja? (menurut banyak ahli Sosiology di U.S. pada tahun 70-an gereja katolik kehilangan sekitar 5 percent dari anggotanya; antara tahun 2000 – 2015, 33 percent orang katolik menjadi eks-katolik). Mengapa? Kiranya ada beberapa alasan. Meningkatnya kesejahteraan hidup, menyebarnya akses ke pendidikan, internet, perempuan bekerja di kantor, pabrik, dan toko, dan masih banyak lagi.

Keadaan ini menimbulkan situasi yang menegangkan, melelahkan, dan membuat orang kecanduan sesuatu, entah kecanduan kerja, narkoba, alkohol, pornografi, kekerasan, game, dlsb. Lebih banyak orang memiliki akses ke dalam internet sering dipandang sebagai kekuatan yang membuat orang tidak ada hati lagi terhadap iman.

Kaum wanita mulai mendapatkan kesempatan bekerja, sehingga tidak ada waktu lagi untuk mendidik anak-anak mereka dalam hal doa dan menggereja.

Kesejahteraan hidup meningkat membuat orang-orang -tidak hanya katolik- melupakan Tuhan atau sekurang-kurangnya Tuhan akan diingat jika dibutuhkan ketika orang-orang mengalami penderitaan atau musibah yang menimbulkan bebagai pertanyaan dan pencarian jawaban.

Saya tidak tahu bagaimana permasalah ini ditanggapi secara praktis dalam pastoral. Kita perlu mencari bersama-sama; kita perlu berdialog dengan orang-orang muda yang bergulat dengan iman dan kehidupan. Pendampingan orang-orang muda tidak hanya sangat dibutuhkan namun juga perlu kesabaran dan pengertian, bukan dengan sikap yang mengadili atau menghukum.

Bukan kalian yang akan berbicara, melainkan Roh Bapamu.

Bukan kalian yang akan berbicara, melainkan Roh Bapamu.

Renungan Harian

Jumat, 14 Juli 2017

Injil: Mat 10: 16-23

Bukan kalian yang akan berbicara, melainkan Roh Bapamu.

Di dalam Injil yang dibacakan dalam Misa hari ini kita diajak untuk merenungkan situasi hidup menggereja kita ke dalam dan di dalam dunia. Kita tentu masih ingat bahwa di tempat lain dalam Injil Yesus mengajarkan kepada kita agar kita menjadi garam dan terang dunia: bersedia melebur ke dan di dalam dunia, memberi warna dan keindahan tanpa jatuh ke dalam dosa; menjadi terang dalam kegelapan sehingga kita tidak sengaja pergi dan memasuki dunia kegelapan walaupun kita bisa dan menjadi bagian dari kegelapan itu. Tidak. kita memasuki dunia kegelapan tanpa ikut menjadi gelap (berdosa).

Hari ini kita diingatkan bahwa dunia yang kita tuju dan masuki bukanlah dunia yang bersahabat dengan kita. Namun dunia ini juga bukan musuh yang harus dihindari atau dihancurkan. Kita harus menjadi cerdik dan tulus. Artinya memiliki Roh Kebijaksanaan dalam diri kita. Roh Kebijaksanaan itulah yang akan memimpin kita menggarami dan menerangi dunia.

Kita diajak untuk tidak mengharapkan pujian atas keberhasilan usaha kita dalam mempertobatkan orang-orang berdosa. Melainkan sebaliknya kita diharapkan siap untuk menerima ketegangan dan kegagalan. Hanya dengan berani menerima ketegangan dan kegagalan kita belajar untuk bersolidaritas dengan mereka yang tidak berdaya; yang menjadi korban tragedi kemanusiaan yakni kemiskinan.

Penderitaan karena penolakan, penganiayaan, dan lain sebagainya itu perlu dialami sebagai wujud kita ikut memanggul salib dan cinta kita pada kaum miskin. Kita tidak memandang kemiskinan sebagai sesuatu yang baik. Kemiskinan, sama dengan kekayaan, bisa menggerogoti jiwa. Kemiskinan kita layani karena dari kemiskinan itu kita belajar apa artinya kebijaksanaan memanggul salib, karena orang-orang miskin itulah yang mengajarkan kita apa arti sebenarnya memanggul salib.

Di samping itu kita juga diajak untuk tidak memerangi dunia yang menolak Kabar Suka Cita ini. Jika terjadi konfrontasi yang tajam dan membahayakan jiwa, lebih baik kita menghidar dan mewartakan kabar Suka Cita ke daerah lain, orang lain, kebudayaan lain, dst…dst…lebih bergunalah kita jika kita tidak “mati” sia-sia karena Tuhan masih bisa memakai kita sebagai tangan dan kakinya, lidah dan hatiNya untuk menyelamatikan umat manusia dari kuasa kegelapan.

Dan akhirnya kita terus menerus berjuang untuk menjadi garam dan terang dunia; masuk ke dalam dah hidup di dalam dunia yang dihuni oleh serigala-serigala yang siap mencari mangsanya siang dan malam. Kita sebagai domba dan merpati yang tulus namun tidak bodoh

itu kita diharapkan bisa ikut menghantar siapa saja kepada kedatangan kembali Tuhan Yesus Kristus menyelamatkan dunia ini. Itu berarti juga bahwa selagi kita menunggu kedatangan Sang Penyelamat itu, kita diharapkan hidup di dunia ini dengan memperlakukan dunia ini sebagai bagaikan seorang anak remaja yang sedang bertumbuh menuju kedewasaan. Anak remaja tidak bisa diharapkan bertindak sebegaimana orang dewasa. Kita mendampingi dunia ini dengan sabar, dalam arti kita tidak setuju dengan cara hidup dunia, namun mencintai mereka sebagaimana Tuhan mencintai dunia (Yoh 3:16). Tidak mengangkat perang melawan mereka melainkan memberkati mereka. Memasuki dunia gelap mereka tanpa ikut berdosa.

Kalian telah memperoleh dengan cuma-cuma, maka berilah pula dengan cuma-cuma.

Kalian telah memperoleh dengan cuma-cuma, maka berilah pula dengan cuma-cuma.

Renungan Harian

Kamis, 13 Juli 2017

Injil: Mat 10: 7-15

Kalian telah memperoleh dengan cuma-cuma, maka berilah pula dengan cuma-cuma.

Hidup, pertobatan, dan iman merupakan anugerah yang kita terima dari Tuhan dengan cuma-cuma. Kita tidak mendapatkan semua anugerah rohani itu dari usaha kita sendiri. Kita juga tidak boleh menjadi tuan atas hidup, tobat, dan iman kita sendiri. Namun demikian kita yang memandang hidup, tobat, dan iman sebagai anugerah gratis dari Tuhan tidak boleh juga memandang semuanya itu sebagai sesuatu yang “taken for granted” artinya menerima semua itu dengan tidak memeliharanya dengan baik seakan-akan anugerah-anugerah itu menjadi hak-hak kita dan dengan sendirinya akan menyelamatkan kita.

Dengan mengatakan, “Kalian telah memperoleh dengan cuma-cuma, maka berilah dengan cuma-cuma.”, Yesus mengingatkan para Rasul untuk memiliki motivasi yang tepat di dalam melayani. Yakni tidak mencari pujian diri sendiri, tidak mementingkan diri sendiri, dan tidak melepaskan diri dari Sang Pemberi hidup, tobat, dan iman. Anugerah hidup abadi yang diraih melalui pertobatan berdasarkan iman, harapan, dan cinta kepada Tuhan itu perlu dibagikan kepada siapa saja. Semua itu demi keselamatan bersama.

Apa yang dapat kita petik dari Injil hari ini? Kiranya ada beberapa nilai rohani yang sangat berharga bagi keselamatan kita dan umat manusia bila kita memelihara nilai-nilai itu dan mengamalkannya. Pertama-tama adalah nilai kerendahan hati. Setelah kita melaksanakan tugas-tugas kita dalam pelayanan di gereja dan di masyarakat kita dengan rendah hati, seperti Kristus sendiri, mengatakan, “kami hanyalah hamba-hamba…” (Lukas 17:10). Dengan demikian kita bisa menghidari sikap menyombongkan diri seakan-akan semua itu merupakan usaha dan keberhasilan kita sendiri. Kita terhindar dari sikap mencari pujian untuk diri sendiri.

Kita juga diajak untuk tidak mementingkan diri sendiri. Dengan kata lain kita diajak untuk semakin bermurah hati dalam hal apa saja, termasuk bermurah hati dalam pelayanan-pelayanan sakramen-sakramen dan pelayanan apa saja yang dibutuhkan umat dan masyarakat sekitar kita. Agar pelayanan-pelayanan kita semakin tumbuh dan berkembang, tidak hanya secara kuantitas tapi juga terutama secara kualitas-kedalaman iman dan kesucian- kita perlu menjalin hubungan yang tidak lepas-lepas dari Sang Pemberi anugerah-anugerah itu. Dengan demikian hidup doa yang mendalam yakni doa yang bersifat ritual, ritme, dan rutin hendaknya menjadi bagian integral hidup keseharian kita.

Sering terjadi mereka yang sangat aktif melayani dengan keberhasilan yang luar biasa terhadap kaum miskin dan pembela ketidakadilan dalam masyarakat, namun mereka tidak mau melibatkan diri dalam doa Rosario bersama komunitas. Bisa juga terjadi mereka yang

mendalam dan rutin doa pribadinya namun sangat pelit dan jual mahal dalam melayani permohonan umat dalam sakramen-sakramen atau non-sakramen lainnya. Ketidak seimbangan ini menunjukkan bahwa Sabda Tuhan Yesus di atas sangat penting untuk diperhatikan.

Translate »