Browsed by
Month: October 2017

Menjadi Sesama Bagi Orang Lain

Menjadi Sesama Bagi Orang Lain

Senin, 9 Oktober 2017

Hari Biasa

 

Bacaan I          Yunus 1: 1-17; 2:10

Bacaan Injil    Lukas 10: 24-37

 

Menjadi Sesama Bagi Orang Lain

Perikop Orang Samaria yang Baik Hati merupakan salah satu kekhasan Injil Lukas. Kisah tersebut tidak ada dalam ketiga Injil yang lain. Begitu juga fakta bahwa kisah tersebut telah demikian populer dalam kehidupan kita, layaknya kisah Anak yang Hilang (Luk 15:11-32). Maka, sebagai perikop yang sudah populer, menjadi tantangan bagi kita untuk mencecap lebih dalam lagi inti Sabda tersebut.

Tentu, tema besar Injil hari ini adalah tentang kasih, dikasihi dan mengasihi. Kata “kasih” dan “dikasihi” nampak begitu mudah kita pahami, pun biasa kita alami. Namun, persoalan muncul jika kita ditatapkan pada kata “mengasihi”. Imam dan orang Lewi dalam Injil hari ini sudah merasakan betapa susah dan rumitnya untuk mengasihi sesama. Mereka bisa mengasihi tapi dengan tetap membawa pemikiran diri mereka sendiri. Artinya, jika mereka menolong orang malang di jalan itu, mereka berpikir tentu ada konsekuensi-konsekuensi yang harus mereka tanggung. Misalnya, jika mereka membalut luka orang itu, maka tangan mereka bersentuhan dengan darah dan karenanya mereka bisa menjadi najis. Atau, jika mereka menolong, tetapi ternyata mereka justru dituduh masyarakat sebagai pelaku perampokan, khan malah jadi repot. Saya yakin dalam diri imam dan orang Lewi itu ada kehendak untuk menolong, tetapi rasionalitas mereka terlalu memengaruhi diri mereka pribadi.

Nah, orang Samaria adalah contoh lain. Dia akhirnya mau menolong orang malang tersebut. Apa yang bisa kita ambil sebagai nilai teladan hidup? Saya menawarkan pada “gerak hati dan budi” orang Samaria itu untuk berbuat kasih. Mengasihi tidak perlu berpikir untung-rugi, benar-salah atau tepat-tidak tepat, karena mengasihi pada dasarnya adalah cara kita menanggapi Sabda Allah. Mengasihi selalu bermuatan kebaikan. Mengasihi juga tidak terbatas pada siapa dan apa, tetapi sungguh menjadi kebutuhan hidup kita sebagai manusia. Melalui kisah orang Samaria ini, setidaknya kita disadarkan bahwa daripada kita mencari siapa saja yang menjadi sesama kita, lebih baik kita bertanya diri “apakah selama ini aku sudah dianggap sebagai sesama oleh orang-orang di sekitarku? Atau, jangan-jangan aku masih berkerumun dengan egoisme, berpikir untung-rugi atau pilih kasih?” Semoga kita senantiasa berani menjadi pelaku kasih dan menjadi sesama bagi orang lain sebagaimana Yesus yang hadir ke dunia untuk menjadi sesama bagi kita manusia berdosa ini.  Semoga Tuhan memberkati kita.

God’s Co-Workers

God’s Co-Workers

God’s Co-Workers

27th Sunday in Ordinary Time

October 8, 2017

Matthew 21:33-43

 

There was a landowner who planted a vineyard… (Mat 21:33).”

The image of a vineyard is close to Israelites’ hearts because this springs from their prophetic tradition. Isaiah uses this metaphor to describe Israel and God (see Isa 5:1-8).  Consistent with this great prophet, Jesus crafts His parable of the vineyard to describe the relation between God and His people. God is the just and generous vineyard owner, and we are His workers. Now, it is up to us to work hard for the Lord in His vineyard and receive abundant harvest, or be lazy, and expelled from the vineyard.

However, there is another way of looking at this parable. For three consecutive Sundays, we have listened to parables that feature a vineyard and people who are involved in this vineyard. If there is one common denominator in these three parables, it is about the difficult and often problematic relationship between the landowner and the workers.

In ancient Israel, big landowners were hiring workers or leasing their land to farmer-tenants. At the end of the day, the workers received their wage, or at the harvest, tenants got their share of their labor. Here the situation became very thorny and conflict-ridden. The owners wanted the highest profit from their land, while the workers desired the greatest income from their labor. At times, the Israelite laborers received very little wage or very small share from the harvest. With very little income, they had to pay high taxes to the Roman colonizers and contributions to the Temple. Thus, what remained was barely enough to feed the family. Disgruntled and hungry workers were very prone to violent actions. However, it was true also that some good landowners gave more than enough wages, but some workers tended to be lazy, abusive to fellow workers, and are even involved in stealing the harvest.

In our time, we seem to face more complex issues in relation to employer, employees and employment. With global networking and communication, an American company may hire Filipino workers working in Manila serving European customers. With almost unrestricted mobility, millions of workers from Indonesia or the Philippines try their luck in Middle East countries. With steady increase of automation, many manual works are gradually replaced by robots. More and more people prefer to buy things or avail service online. One of the hottest debates now in the United Nations is the usage of Artificial Intelligence (AI) to “judge” human right cases in the International Tribunal. The AI has become so sophisticated that it can predict the verdicts of human judges. Now, highly skilled human profession like a judge can even be replaced by an AI. Many professions that were trending years ago have become extinct now, and more seem to follow. Yet, despite these advancements and complexity, the fundamental issue remains: whether both the employers and the employees give what is expected and receive with are due to them?

Jesus’ parable is not only relevant for our time, but it continues to challenge our fundamental understanding of our dignity as God’s co-workers in His vineyard. As workers, do our attitudes in the workplaces reflect the good attitudes of Jesus’ followers? As owners or superiors, do we manifest that delicate balance between God’s justice and His generosity? Finally, as God’s co-workers, do we work for a better world for us and future generations, or we simply aim for our selfish interest and greed?

(Note: today is the feast day of Our Lady of the Holy Rosary of La Naval de Manila, before whom I kneel down every morning and pray for inspiration guiding my Sunday reflections. May she continue to guide us in our journey of faith. Happy Fiesta!)

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

MENCERITAKAN KEBERHASILAN KEPADA ALLAH

MENCERITAKAN KEBERHASILAN KEPADA ALLAH

Sabtu, 7 Oktober 2017

Peringatan Wajib St. Perawan maria Ratu Rosario

Barukh 4:5-12.27-29; Mazmur 69:33-37; Lukas 10:17-24

 

MENCERITAKAN KEBERHASILAN KEPADA ALLAH

Kisah para murid berlanjut. Injil hari ini mengisahkan bagaimana para murid kembali dari perutusannya. Para murid bersukacita, dan kepada Yesus mereka berkata: “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu.” Kegembiraan para murid ini memuat dua arti. Pertama, mereka bersukacita karena merasa telah berhasil menjalankan tugas perutusan dengan baik. Kedua, mereka tetap sadar bahwa keberhasilan itu semata-mata berkat Yesus; dalam nama Yesus-lah mereka mampu mengalahkan roh-roh jahat.

Dalam hidup harian, mungkin kita enggan atau malas membicarakan keberhasilan kita pada orang lain, bahkan kepada sahabat kita. Kita ragu dan takut kalau nanti dinilai sombong. Kita khawatir kalau nanti orang lain justru iri dengan keberhasilan itu dan lalu menjadi rendah diri karenanya. Kita biasanya enggan membicarakan keberhasilan kita karena takut merusak hubungan dengan sesama.

Namun, rupanya hal ini tidak berlaku dalam hubungan para murid dengan Yesus. Yesus selalu menyediakan ruang yang cukup bagi para murid untuk berbuat baik, untuk berhasil, dan untuk menikmati keberhasilan itu bersama-Nya dengan penuh sukacita. Menanggapi keberhasilan para murid, Yesus pun ikut bersukacita dan mengucap syukur kepada Bapa. Karenanya, bisa kita bayangkan: jika para murid enggan dan lalu tidak menceritakan kepada Yesus betapa bahagianya mereka akan keberhasilan perutusannya, mereka mungkin tidak berkesempatan untuk merasakan sukacita Yesus atas apa yang telah mereka lalukan dalam nama-Nya.

Sebagai murid, kita juga memiliki tugas perutusan yang dipercayakan Yesus kepada kita. Tugas perutusan itu bisa kita miliki di rumah, di tempat kerja, di lingkungan masyarakat, dan di mana saja. Injil hari ini menunjukkan pada kita bagaimana Yesus rupanya selalu menunggu kabar keberhasilan atas perutusan yang Ia percayakan kepada kita. Yesus selalu menanti kabar-kabar keberhasilan kita dan ingin kita menikmati setiap keberhasilan itu dalam sukacita bersama-Nya. Dalam sukacita bersama Yesus itu, kita akan semakin dibuat sadar betapa kita sungguh bergantung kepada-Nya.

 

Apakah aku mampu melihat keberhasilanku sebagai karya Allah? Maukah aku menceritakan keberhasilanku kepada Allah dan menikmati keberhasilan itu dengan penuh sukacita bersama-Nya?

MURID: ORANG BIASA UNTUK KARYA LUAR BIASA

MURID: ORANG BIASA UNTUK KARYA LUAR BIASA

Jumat, 6 Oktober 2017

Barukh 1:15-22; Mazmur 79:1-5.8-9; Lukas 10:13-16

 

MURID: ORANG BIASA UNTUK KARYA LUAR BIASA

Kisah para murid berlanjut. Injil hari ini mengisahkan bagaimana Yesus mengecam beberapa kota yang tidak bertobat dan menolak-Nya. Di akhir rentetan kecaman-Nya, Yesus berkata kepada para murid: “Barangsiapa mendengarkan kalian, ia mendengarkan Daku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.” Kata-kata Yesus ini menunjukkan legitimasi yang kuat bagi para murid dalam berkarya. Kehadiran dan pewartaan para murid rupanya menjadi kehadiran dan pewartaan Yesus sendiri. Sebuah tugas terhormat, namun sekaligus berat.

Dalam Injil, kita tahu bahwa panggilan Yesus tidak diserukan pada ahli taurat yang paham akan ajaran-ajaran agama, atau kaum Farisi yang menjalankan hidup keagamaannya dengan tekun. Justru dalam diri orang sederhanalah panggilan itu diberikan. Yesus justru menghendaki orang biasa macam Petrus, seorang nelayan yang baik intelektual maupun hidup agamanya kurang, untuk menjadi murid-Nya. Yesus memilih orang biasa untuk karya luar biasa.

Panggilan dan perutusan menjadi murid juga diberikan Yesus kepada kita. Sebagai manusia biasa, kita punya banyak kelemahan dan kekurangan. Kita memang pendosa, tapi kita dipanggil! Yesus menghendaki kita yang biasa-biasa ini untuk menjadi murid dan mengikuti-Nya. Dengan memanggil kita menjadi murid-Nya, Yesus ingin menggunakan kita sebagai alat bagi-Nya untuk berkarya di tengah-tengah dunia. Yesus ingin kehadiran dan pewartaan kita menjadi kehadiran dan pewartaan-Nya. Yesus menghendaki hidup kita bisa memancarkan hidup-Nya di tengah-tengah dunia. Itulah tugas utama seorang murid!

Sekali lagi, memang tampak berat. Tapi, kita ingat bagaimana Yesus meneguhkan Petrus yang ragu menyambut panggilan-Nya dengan sabda, “Jangan takut!”. Semoga sabda Yesus itu juga menjadi peneguhan bagi kita bahwa sebiasa-biasanya kita Allah tetap berkenan memakai kita. Seperti Petrus dan para murid lainnya, dengan menyanggupi panggilan Yesus, kita yang biasa-biasa ini pun akan dimampukan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya.

Mari kita sambut panggilan dan perutusan Allah untuk menjadi alat-Nya; dalam hidup berkeluarga, hidup menggereja, dalam pekerjaan, juga hidup bermasyarakat. Mari kita biarkan Allah berkarya di tengah-tengah dunia melalui diri kita yang biasa-biasa ini. Demi kebaikan sesama dan kemuliaan Allah.

 

Bersediakah aku menjadi alat-Nya? Maukah aku yang biasa ini menjalankan karya Allah yang luar biasa?

Translate »