Browsed by
Month: October 2017

SELALU ADA RAHMAT DALAM TUGAS BERAT

SELALU ADA RAHMAT DALAM TUGAS BERAT

Kamis, 5 Oktober 2017

Nehemia 8:1-13; Mazmur 19:8-11; Lukas 10:1-12

 

SELALU ADA RAHMAT DALAM TUGAS BERAT

Kisah para murid berlanjut. Injil hari ini mengisahkan bagaimana Yesus mengutus tujuh puluh murid-Nya pergi berdua-dua untuk mewartakan Kerajaan Allah. Perutusan para murid ini mengingatkan saya akan lagu “Kau Dipanggil Tuhan”. Lagu ini ada dalam Buku Puji Syukur dan sering dinyanyikan saat misa atau ibadat. Sepenggal lirik lagu itu berbunyi demikian:

Kau dipanggil Tuhan, dijadikan duta,

supaya hidupmu memancarkan kasih-Nya.

Berat memang tugasmu,

tetapi kau diberi rahmat.

Siapa saja yang mengikuti Yesus dipanggil menjadi duta; menjadi utusan. Utusan yang bagaimana? Utusan yang hidup hariannya sungguh memancarkan kasih Allah. Tugas sebagai utusan ini rupanya tidak mudah; terasa berat. Tapi, satu yang pasti adalah bahwa semua utusan diberi rahmat. Siapapun yang diutus Allah diberi berkat dan daya yang akan memampukannya menjalankan perutusan.

Perutusan Yesus terdengar menakutkan. Ia berkata: “Camkanlah, Aku mengutus kalian seperti anak domba di tengah-tengah serigala.” Ini artinya perutusan Yesus bukanlah hal yang mudah. Anak domba di tengah serigala adalah gambaran betapa bahaya dan tidak amannya perutusan itu. Namun, Yesus tidak asal-asalan dalam mengutus para murid-Nya. Ia memberi tugas yang berat, namun juga memberi rahmat yang cukup bagi para utusan untuk melaksanakannya. Selain memberi nasehat ini dan itu, Yesus juga memberi kuasa kepada para murid. Yesus memberi daya, kekuatan, dan berkat yang cukup untuk mereka.

Kita adalah murid Yesus. Sebagai murid, kita diutus untuk memancarkan kasih-Nya dalam hidup harian pada orang-orang di sekitar kita. Dan ini rasa-rasanya tidak selalu mudah untuk dilakukan. Memancarkan kasih Yesus pada mereka yang memang kita cintai atau sukai tentu sangat mudah. Memancarkan kasih Yesus pada orang baik, pada sahabat kita, juga bukan hal yang sulit. Yang terasa sulit adalah memancarkan kasih Yesus kepada mereka yang tidak kita sukai, musuh dan lawan kita, serta orang-orang jahat.

Injil hari ini dan lagu “Kau Dipanggil Tuhan” semoga selalu mengingatkan kita; bahwa di balik tugas-tugas berat kita, daya dan rahmat Allah selalu menyertai. Berat memang tugas kita, namun kita diberi rahmat yang cukup oleh Allah. Allah tidak sembarangan mengutus kita. Ia tahu ukuran kemampuan kita dan selalu menyediakan limpahan rahmat untuk kita. Maka, mari kita setia dengan tugas-tugas kita, seberat apapun itu. Rahmat Tuhan cukup bagi kita!

Setiakah aku dengan komitmen kemuridanku? Apakah aku mau dan mampu memancarkan kasih Allah kepada semua orang?

KOMITMEN KEMURIDAN

KOMITMEN KEMURIDAN

Rabu, 4 Oktober 2017

Peringatan Wajib St. Fransiskus Asisi

Nehemia 2:1-8; Mazmur 137:1-6; Lukas 9:57-62

 

KOMITMEN KEMURIDAN

Kisah para murid berlanjut. Semakin hari Yesus semakin terkenal karena karya dan pengajaran-Nya. Yesus menjadi viral; menjadi bahan perbincangan banyak orang. Orang berbondong-bondong ingin melihat dan berjumpa dengan-Nya. Ada yang ingin disembuhkan, ada pula yang ingin mendengarkan pengajaran-Nya. Karena karya dan pengajaran-Nya itu, semakin banyak orang yang ingin mengikuti Yesus. Semakin banyak orang ingin menjadi murid Yesus. Tapi, apa kata Yesus terhadap mereka yang ingin mengikuti-Nya?

Dalam Injil hari ini, setidaknya ada tiga jawaban Yesus kepada mereka yang ingin mengikuti-Nya. Jawaban Yesus yang pertama adalah: “Serigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Yang kedua adalah: “Biarkanlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah, dan wartakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” Sementara yang ketiga adalah: “Setiap orang yang membajak, tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”

Sekilas, jawaban-jawaban Yesus itu terasa kurang enak didengar. Betapa tidak mudahnya menjadi murid Yesus. Tapi, dengan jawaban-jawaban itu Yesus ingin menunjukkan laku kemuridan yang harus ditempuh setiap orang yang ingin mengikuti-Nya. Jawaban pertama menunjukkan bagaimana tidak ada jaminan kenyamanan bagi seorang murid. Jawaban kedua ingin mengatakan bahwa seorang murid harus siap melepas ikatan-ikatan duniawi dan mempercayakan semuanya pada penyelenggaraan Allah. Sementara jawaban ketiga mengajak setiap murid untuk mau meninggalkan masa lalunya dan menyambut masa depan, yaitu hidup baru bersama Yesus.

Menjadi murid Yesus bukanlah jalan hidup yang sembarangan dan asal-asalan. Jalan ini menjanjikan banyak rahmat, tapi sekaligus memberi perutusan yang tidak main-main. Menjadi murid Yesus berarti mengusahakan hidup yang seturut dengan hidup-Nya. Inilah yang secara manusiawi bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Jawaban-jawaban Yesus dalam Injil hari ini menuntut adanya komitmen yang kuat dalam diri para murid dalam mengikuti-Nya. Banyak risiko kemuridan yang harus dialami oleh seorang murid. Karenanya, tanpa komitmen yang kuat dan mantap, orang hanya sekedar ikut-ikutan, bukan sungguh mengikuti Yesus.

 

Seberapa mantapkah aku menjadi murid Yesus? Seberapa kuatkah komitmenku mengikuti-Nya?

ISTIMEWA TANPA HARUS DIISTIMEWAKAN

ISTIMEWA TANPA HARUS DIISTIMEWAKAN

Selasa, 3 Oktober 2017

Zakharia 8:20-23; Mazmur 87:1-7; Lukas 9:51-56

 

ISTIMEWA TANPA HARUS DIISTIMEWAKAN

Kisah para murid berlanjut. Injil hari ini mengisahkan bagaimana para murid menyertai Yesus dalam perjalanan dan karya-Nya. Yang menarik dalam kisah hari ini adalah para murid menjumpai pengalaman ditolak. Yesus dan rombongan-Nya dalam perjalanan menuju Yerusalem, dan mereka harus melalui sebuah desa orang Samaria. Namun, rupanya orang Samaria di desa itu tidak mau menerima Yesus. Mereka tidak memperkenankan Yesus dan rombongan-Nya melewati wilayahnya.

Mendapati penolakan ini, Yakobus dan Yohanes marah. Barangkali mereka berpikir: “Orang Samaria ini memangnya siapa? Berani-beraninya mereka menolak Yesus, Tuhan kita. Awas, lihat saja nanti! Mereka pasti akan binasa!” Yakobus dan Yohanes lalu memiliki ide gila untuk menghancurkan desa itu. Mereka meminta izin pada Yesus: “Tuhan, bolehkah kami menurunkan api dari langit untuk membinasakan mereka?” Yakobus dan Yohanes tidak bisa menerima kenyataan ditolak. Mereka reaktif sehingga muncullah amarah dan dendam. Amarah dan dendam ini tumbuh dan berakar dari rasa arogan.

Arogan. Inilah salah satu godaan bagi setiap murid Yesus. Karena merasa sudah masuk dalam lingkaran orang dekat Yesus, orang bisa jadi merasa istimewa sehingga seolah-olah semuanya harus sesuai dengan keinginannya. Sikap arogan membuat orang merasa lebih di antara yang lainnya. Sikap arogan membuat orang merasa bisa berbuat apa saja demi keinginannya. Jika keinginannya tidak terwujud, seolah-olah ia kemudian merasa berhak untuk murka dan melampiaskan kemarahannya. Sikap arogan salah satunya tampak dalam keinginan untuk diistimewakan.

Menjadi murid memang adalah sebuah keistimewaan. Dengan menerima Yesus dalam hidupnya, orang menjadi penuh berkat dan beroleh selamat. Namun, bukan berarti seorang murid bisa arogan dan merasa harus selalu diistimewakan. Kepada para murid-Nya, Yesus justru mengajarkan kerendahan hati, bukan arogansi. Jika memang tidak boleh melewati desa orang Samaria, tetap ada jalan dan desa lain yang bisa dilewati. Yesus bisa menerima kenyataan itu. Itu menunjukkan bahwa Ia tak ingin diistimewakan. Menjadi murid pun seharusnya demikian: istimewa, namun tanpa harus minta diistimewakan.

 

Apakah aku ingin selalu diistimewakan? Apakah aku mau mengikuti jalan kerendahan hati Yesus?

DISPOSISI DASAR SEORANG MURID

DISPOSISI DASAR SEORANG MURID

Senin, 2 Oktober 2017

Peringatan Wajib Para Malaikat Pelindung

Zakaria 8:1-8; Mazmur 102; Lukas 9:46-50

 

DISPOSISI DASAR SEORANG MURID

Bacaan Injil harian pekan ini berbicara tentang kemuridan. Kepada kita semua, Yesus menjelaskan siapa itu murid-Nya dan bagaimana laku kemuridan harus dijalani.

Injil hari ini mengisahkan para murid yang bertengkar karena memperdebatkan siapa yang terbesar di antara mereka. Yesus rupanya tahu persoalan itu. Dengan cerdik, momen ini Ia jadikan kesempatan untuk menjelaskan apa artinya menjadi murid. Yesus memulai pengajaran-Nya dengan mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya. Ini adalah tindakan simbolis penuh bermakna. Para murid berdebat tentang siapa yang terbesar, tapi Yesus mengajar dengan membawa seorang anak kecil. Melalui anak kecil, Yesus menunjukkan seperti apakah profil murid-Nya.

Bagi para murid, profil murid ideal adalah yang terbesar di antara yang lainnya. Ukuran terbesar di sini bisa jadi adalah yang ter-pintar, yang ter-rajin, yang ter-kuat, yang ter-suci, yang ter-murah hati, dan “yang ter-yang ter” lainnya. Penilaian para murid ini rupanya berbeda dengan kriteria profil murid yang dikehendaki Yesus. Yesus tidak memberi standar yang muluk-muluk tentang siapa yang layak menjadi muridnya. Harus paling pintar? Tidak juga, karena orang bodoh pun bisa menjadi murid-Nya. Harus paling suci? Juga tidak, sebab Yesus pun memanggil orang berdosa untuk mengikuti-Nya.

Kepada para murid Yesus bersabda, “Barangsiapa menerima anak ini demi nama-Ku, dia menerima Aku. Dan barangsiapa menerima Aku, menerima Dia yang mengutus Aku.” Bagi Yesus, kriteria utama seorang murid adalah kemampuan menerima Yesus sebagai Tuhan. Orang yang menerima Yesus berarti adalah orang yang mau bergantung dan mengandalkan-Nya dalam semua perkara hidup. Inilah kekhasan anak kecil yang selalu tergantung pada orang yang lebih tua atau dewasa. Banyak pekerjaan tidak bisa dikerjakan anak kecil seorang diri. Anak kecil menjadi gambaran betapa terbatasnya manusia dan betapa ia memiliki ketergantungan dengan sosok yang senantiasa dapat diandalkan.

Dalam hidup ini, barangkali kita sudah meraih banyak prestasi dan kesuksesan. Kita mungkin pernah merasa menjadi yang terbaik, terdepan, atau terhebat. Injil hari memberi inspirasi iman bagi kita: bahwa meski kita orang hebat dan sukses, sebagai murid Yesus kita diajak untuk selalu bergantung dan mengandalkan-Nya. Menerima dan bergantung pada Yesus adalah disposisi dasar seorang murid.

 

Sudahkah aku memiliki disposisi dasar sebagai murid Yesus? Maukah aku bergantung pada-Nya dan selalu mengandalkan-Nya dalam segala persoalan hidup?

Translate »