Browsed by
Month: November 2017

Hari Senin Minggu ke 32 Masa Biasa

Hari Senin Minggu ke 32 Masa Biasa

Hari Senin Minggu ke 32 Masa Biasa
Kebijaksanaan 1:1-7
Lukas 17:1-6
Saudara-saudari terkasih,
Di Amerika Serikat hari ini gereja memperingati St. Francis Xavier Cabrini yang pada tahun 1946 sebagai warga negara Amerika Serikat yang pertama digelar kudus. Beliau hidup dari tahun 1850 -1917, dilahirkan di Italia dengan nama Maria Francesca Cabrini. Dalam usia 24 tahun St. Francis Xavier Cabrini sudah mulai mengajar di panti asuhan dan enam tahun kemudian beliau mendirikan serikat misionaris dari para suster dari Hati Kudus. Pada tahun 1889, atas permintaan Paus Leo XIII, beliau diminta untuk pindah ke Amerika Serikat, dan selama di Amerika Serikat, kongregasinya menyebar sampai ke Amerika Selatan, Amerika Tengah dan Ingris. Dari hidup dan pelayanannya kita bisa belajar seperti apa yang beliau katakan: Kita harus berdoa terus menerus, karena keselamatan itu berasal dari Yesus sendiri.
Kedua bacaan kita hari ini teristimewa dari bacaan pertama dari kitab Kebijaksanaan, pengaranganya tidak pernah tahu siapa itu ibu Cabrini, teapi awal dari bacaan itu sungguh-sungguh menggambarkan hidupnya: “Kasihilah kebenaran hai para penguasa dunia, hendaklah pikiranmu tertuju kepada Tuhan dengan tulus ikhlas, dan carilah Dia dengan tulus hati!” Betapapun dalam usia yang masih sangat muda, beliau sudah sakit-sakitan, dan bagi sesama suster dalam biara merasa tidak bijaksana bagi suster Frances Cabrini hidup dalam tuntutan yang sangat keras dalam kehidupan membiaranya. Berkat ketekunan dan kesetiaannya, akhirnya ia bisa mendirikan satu konvent baru dengan nama Missionary Sisters of the Sacred Heart.
Saudara-saudari terkasih,
Betapapun ia seorang yang sangat lemah dan sakit-sakitan tetapi beliau setia mendampingi dan bekerja untuk kaum miskin, para buta huruf dan orang sakit terutama para imigrant italia di Amerika Serikat. Pada akhirnya ia sudah mendirikan 67 institut yang bekerja di bidang-bidang seperti yang telah kita sebutkan diatas. Untuk memenuhi dan menjawab panggilannya dalam pelayanan itu, ia rela mengarungi Lautan Atlantik sebanyak kurang lebih 25 kali. Dengan demikian kita boleh katakan bahwa hidupnya telah memancarkan cinta sejati kepada kaum miskin, kepada orang-orang sakit; semuanya itu karena imannya kepada Tuhan.
Oleh karena itu dalam bacaan Injil hari ini Jesuspun secara khusus menegaskan tentang cinta akan kebenaran dalam Tuhan. Dan barangsiapa yang bersalah harus menanggung konsekwensinya. Di pihak lain Yesus mengingatkan para muridNya untuk rela mengampuni kepada mereka yang memohon pengampunan dan mau bertobat. Rela mengampuni tidak bisa  dipandang mudah, tetapi itu adalah suatu tantangan dalam diri kita masing-masing. Semuanya itu hanya dapat dilakukan kalau kita benar-benar punya kedewasaan dalam iman. Dengan dan dalam iman yang kuat itu kita akan selalu bisa bertumbuh, berkembang dan bisa mencintai kebenaran, mencintai Tuhan dan sesama.
Akhirnya saudara-saudariku sekalian, contoh dari St. Frances Cabrini sungguh-sungguh menjadi pegangan dan panduan kita dalam menciptakan dan memberi inspirasi bagaimana kita menaruh kepercayaan bahwa Tuhan akan selalu menganugerahkan rahmat dan berkatNya kepada setiap orang yang menjawab panggilanNya dalam tugas apapun; serta rela mengampuni mereka yang memohon pengampunan dan kesembuhan bathin. Amin.
Be Wise in Small Things

Be Wise in Small Things

Be Wise in Small Things
32nd Sunday in Ordinary Time
November 12, 2017
Matthew 25:1-13
“The foolish ones, when taking their lamps, brought no oil with them, but the wise brought flasks of oil with their lamps. (Mat 25:3-4)”
In the Jewish patriarchal society, an unmarried woman has to stay with her father. Then, when she gets married, she will move to her husband’s house. This transition from her family of origin to her new family is ritualized by an elaborate wedding procession. The groom will fetch the bride from her father’s house, and together they march back to the groom’s house where usually the wedding celebration is held. For practical reason, the procession takes place after sunset, and thus, men and women who are involved in the procession shall bring their torch or lamp.
Within this context, the presence of the ten virgins have to be understood. They are assigned to welcome the groom and the bride, and join community in the procession of light. Since there are no means communications like cellular phone with GPS, they are not able to track the location of the couple, and yet, they need to be ready with their lamps anytime the procession comes. There is element of surprise and expectation, and the virgins have to prepare themselves well for this.
Jesus compares the five wise virgins and the five foolish virgins. The wisdom of the five virgins manifests in their ability to foresee some practical considerations like the estimated distance between the house of the groom and bride, the possible delay, and the expected slow-pacing procession. Thus, bringing along extra oil for the lamp is something sensible, and in fact, necessary. Extra oil might be just a simple thing compare to the entire wedding celebration, but its absence proves to be costly for the five virgins. It is just “foolish” to miss the entire celebration just because they fail to bring simple thing like an oil. Jesus likens this to the preparation for the Kingdom of Heavens. It begins with practicality of life, to prepare apparently simple things in life and yet proved to be important for those who are welcoming Jesus and His Kingdom.
Many great saints are those who are most humble. What basically Mother Teresa of Calcutta did was to serve the poorest of the poor in India. Sometimes, she and her sisters had something to give, but often they only had themselves to share. Yet, for the lonely, sick and dying, Mo. Teresa’s loving company was what mattered most. Then, she advised us, “Not all of us can do great things. But we can do small things with great love.” When sister Breda Carroll, a Dominican nun from Drogheda, Ireland, was asked by a journalist, “Isn’t life in the monastery is completely useless? And how do you become a preacher if you never go out and preach?”  She replied, “The greatest preaching is to make people think of God, and our mere presence and constant prayer cannot but disturb people and make them think of God.” For all we know, their simple ways of life and constant prayer have saved countless souls in purgatory.
We are invited to act like this practical and wise virgins. We prepare ourselves for Jesus by faithfully doing seemingly simple and ordinary things in our lives. Preparing breakfast every morning seems nothing special, but for a mother of five children, that is her share in the Kingdom. Working hard every day looks to be normal for a young man aiming for a bright future, but for a poor and old man who needs to support his family, it is his share in the Kingdom. What are our share in the Kingdom? Are we faithfully doing simple things with love? Are we ready to welcome Christ?
Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
KARENA KITA TIDAK PERNAH TAHU AKAN SAAT DAN WAKTUNYA

KARENA KITA TIDAK PERNAH TAHU AKAN SAAT DAN WAKTUNYA

Minggu, 12 November 2017

Hari Minggu Biasa XXXII

[Keb. 6:13-17; Mzm. 63:2,3-4,5-6,7-8; 1Tes. 4:13-18 (1Tes. 4:13-14); Mat. 25:1-13]

 

KARENA KITA TIDAK PERNAH TAHU AKAN SAAT DAN WAKTUNYA

 

Seminggu ini, sudah tiga kali misa yang semua intensinya adalah mendoakan arwah para Romo yang dimakamkan di Kentungan. Mereka yang datang dari berbagai kalangan: umat dari berbagai tempat, para romo dari berbagai paroki dan tentu saja, keluarga para Romo tersebut. Dalam kotbah-kotbah yang disampaikan oleh para Romo yang memimpin misa, semua menegaskan tentang pentingnya sikap menghadapi kematian, yang pasti akan dialami oleh siapa pun. Para Romo yang dimakamkan di Kentungan ini, ‘mempersiapkan’ kematian dan menyongsong hidup baru, tentu saja, dengan mempersembahkan hidup bagi gereja partikular maupun gereja universal dalam setiap tugas dan kewajiban yang mereka jalankan. Setiap dari kita, memiliki hidup, yang tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah perjalanan, namun yang pasti kita sadari adalah bahwa hidup sekarang adalah ‘jembatan’ menuju kehidupan baru yang dianugerahkan Allah kepada kita. Hidup kita yang sekarang, bisa kita maknai sebagai sebuah persiapan, sehingga begitu tiba waktunya, kita semua sudah siap. Masalahnya adalah kita tidak pernah tahu, kapan waktu itu tiba. Maka, secara logis, kita mestinya menggunakan waktu kita hari demi hari untuk selalu dalam kondisi siap.

Namun, namanya juga manusia, yang hidupnya juga diberi kesempatan untuk memilih berbagai macam hal. Ada yang memilih menggunakan hidup dengan ‘serampangan’ dan tidak mengikuti kehendak Allah. Orang dalam jenis ini, biasanya merasa bahwa hidup di dunia adalah hidup selamanya dan takkan berakhir, maka hidup di dunia dihabiskan untuk mencari kepuasan bagi diri sendiri. Mereka terlena, mereka terlupa, mereka lalai bahwa selalu akan tiba saat dan waktunya. Sebaliknya, ada manusia yang selalu taat dan setia mengikuti kehendak Allah. Orang jenis ini, biasanya merasa bahwa hidup di dunia adalah sementara dan suatu saat pasti berakhir, minimal untuk dirinya sendiri. Mereka mencoba untuk terjaga, bersiap-siap dan tidak lupa diri karena memang Tuhan akan datang tanpa pernah diketahui waktunya.

 

Injil hari ini, mengkisahkan perumpamaan yang sangat sering kita dengar tentang lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh. Bijaksana, pertama-tama bukan karena kepandaian dan pengetahuan yang luas, namun karena selalu tahu dan sadar arah dan tujuan hidupnya. Lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh, hendak menggambarkan bahwa semua orang dipanggil dan dipilih Tuhan, namun tidak semuanya mengambil sikap yang sama untuk bersiap dan berjaga. Lima gadis yang bijaksana membawa minyak dalam buli-bulinya sebagai persediaan, sebagai tanda bahwa mereka sungguh siap dengan berbagai macam kemungkinan, karena meski mereka ‘tertidur’, dan mempelai datang, mereka punya minyak untuk mengisi kembali pelitanya. Sebaliknya, lima gadis yang bodoh, karena mereka tidak mempersiapkan apa pun, maka saat mereka ‘tertidur’, dan mempelai datang, mereka terkejut dan karena tidak mempersiapkan apa pun, maka mereka tidak diperkenankan untuk turut ambil bagian dalam pesta perjamuan. Belajar dari lima gadis bodoh dan lima gadis bijaksana, semoga kita diberi roh kebijaksanaan untuk menggunakan segala sarana untuk memilih hal-hal yang akan membawa kita pada perjamuan abadi di surga, dan bukan terjatuh pada perkara-perkara yang akan kita justru semakin menjauh dari Tuhan. Semoga kita selalu siap, karena kita tidak pernah tahu akan saat dan waktunya.

 

Selamat pagi, selamat mempersiapkan kehadiran yang mempelai dengan terus berjaga dan setia. GBU.

MEMULAI DARI HAL KECIL

MEMULAI DARI HAL KECIL

 

Lukas 16: 9-15

 

Injil hari ini menjelaskan bahwa bila seseorang mampu mengelola dengan benar harta yang dipercayakan dalam jumlah kecil, bukan tidak mungkin ia akan dipercaya juga untuk mengelola harga dalam jumlah yang besar. Begitu pun sebaliknya. Bila tidak jujur dalam hal-hal kecil, bagaimana mungkin kita bisa jujur dalam perkara besar? Dengan demikian, kesetiaan kita pada harta duniawi dapat menjadi indikasi kesetiaan kita pada harta surgawi yang jauh lebih bernilai. Jika kita sulit dipercaya dalam menangani harta dunia bagaimana mungkin kita dipercaya untuk harta surgawi?

Memiliki harta berarti memiliki sebuah tanggung jawab. Tanggung jawab atas penggunaan harta dapat menjadi sebuah ujian terhadap karakter dan integritas kita. Oleh sebab itu kita perlu memelihara integritas kita, bukan hanya untuk perkara besar tetapi juga untuk perkara kecil. Maka Yesus memperingatkan murid-muridNya untuk tidak memiliki dua tuan, yaitu Allah dan Mamon. Orang harus memilih Allah atau Mamon.

Sekilas latarbelakang situasi di jaman Yesus. Banyak orang pada masa Yesus menggantungkan hidupnya kepada kekayaannya. Ada banyak orang hadir mendengarkan kotbah Yesus, termasuk orang Farisi. “Semuanya itu di dengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemooh dia.” (ayat 14). Semakin banyak hartanya semakin tenang orang tersebut. Mereka benar-benar tergantung dari kekayaannya, karena dengan menjadi kaya mereka diharga orang, dapat memperoleh kekuasaan, dapat mempunyai banyak budak, dll.

Apa yang dikatakan Yesus pada orang-orang di zamannya ternyata masih berlaku hingga saat ini. Manusia masih mengejar Mamon yang tidak setia. Tidak ada hak bagi kita untuk menuduh dan menghakimi orang lain mengenai hal ini. Yang perlu kita lakukan adalah, marilah kita bertanya pada diri kita masing-masing apakah saya masih mengandalkan mamon dalam kehidupan sehari-hari? Apakah saya masih sering melakukan hal-hal yang tidak jujur dalam mengelola mamon? Bagaimana saya menjaga harta surgawi (perkara besar) yang Tuhan percayakan kepada saya? Dan itu semua dapat dimulai dari perkara kecil.

Perkara yang kecil bermula dari apa yang ada pada kita saat ini.  Apa yang kita miliki adalah permulaan dari segala sesuatu yang akan kita miliki di masa yang akan datang:  pekerjaan atau profesi yang kita jalani, pelayanan yang dipercayakan kepada kita, talenta, harta yang kita miliki dan lain-lain. Mari kita kerjakan dengan setia apa pun yang dikaruniakan Tuhan bagi kita, supaya pada saatnya, perkara-perkara besar atau hal-hal yang tidak terpikirkan atau perihal surgawi, akan disediakanNya bagi kita.

Menjadi murid Kristus berarti belajar dari nilai-nilai yang diajarkan Yesus Kristus. MenjadikanNya sebagai Tuhan berarti tunduk di bawah otoritasNya dan melepaskan diri dari kuasa segala sesuatu yang bukan Tuhan, termasuk mamon atau uang. Tunduk di bawah otoritas Allah harus nampak dalam segala aspek hidup kita. Tuhan bukan melihat apa yang dilihat manusia, namun Tuhan hanya melihat hati orang yang sungguh-sungguh setia melakukan perkara yang kecil. Sudahkah kita tunduk di bawah otoritasNya dalam segala aspek hidup kita?

 

BIJAKSANALAH DALAM MENGGUNAKAN KEKAYAANMU

BIJAKSANALAH DALAM MENGGUNAKAN KEKAYAANMU

 

Lukas 16:1-8

 

Saya sering mendapatkan pertanyaan yang sama mengenai perumpamaan yang Yesus ajarkan dalam Injil hari ini tentang bendahara yang tidak jujur. Tampaknya sulit bagi banyak orang untuk mengerti maksud Yesus, khususnya mengenai pujian yang diberikan kepada bendahara yang tidak jujur itu. Seakan ada pengajaran untuk “mendukung” ataupun “membenarkan” kejahatan.

Pertama, kita mulai dengan mengatakan bahwa Yesus tidak memuji bendahara yang tidak jujur, tetapi yang memuji adalah tuan pemilik harta. Kedua, kita perlu memahami budaya pada masa itu dalam hal pengelolaan keuangan yang dipercayakan kepada seorang bendahara. Kalau tidak kita akan memiliki kesan atau sampai pada kesimpulan bahwa bendahara tersebut menipu majikannya saat dia meminta para pemilik utang tuannya untuk menuliskan surat utang baru.

Pada masa itu, si pemilik modal hanya menyediakan suatu dana agar manajer yang diangkatnya mampu mengelola uang tersebut sehingga usaha tersebut menghasilkan keuntungan. Karena itu manager yang disebutnya sebagai bendahara yang menentukan tingkat besarnya suatu bunga dan tentunya komisi bagi dirinya. Sehingga risiko kerugian harus ditanggung penuh oleh bendahara; tetapi kalau dia berhasil, maka dia akan memperoleh keuntungan lebih.

Dalam perumpamaan tersebut si pemilik modal mengetahui bahwa bendaharanya telah menghambur-hamburkan uang. Oleh sebab itu, sang bendahara ini segera dipanggil oleh tuannya untuk meminta pertanggungjawaban atas keuangan yang telah dikelolanya.

Apa yang kemudian dilakukan oleh bendahara tersebut? Ia mengurangi jumlah hutang dari para krediturnya. Dengan pengurangan jumlah hutang tersebut para kreditur dapat membayar hutangnya. Dengan demikian sang bendahara dapat mengembalikan apa yang menjadi kewajibannya kepada sang pemilik  modal. Uang yang menjadi hak tuannya tidak berkurang sedikit pun sehingga ia tidak jadi dipecat. Yang dia potong sebenarnya adalah apa yang menjadi hak keuntungannya dari menjalankan usaha tersebut. Akhirnya, si bendahara dapat menyelamatkan masa depan dan kariernya.

Yesus tidak memuji kecurangan dari bendahara yang tidak jujur, melainkan kecerdikannya untuk mempersiapkan masa depan setelah ia nanti dipecat oleh tuannya. Ia menjalin persahabatan dengan cara bermurah hati kepada banyak orang. Motivasi dalam tindakannya memang salah, tetapi kecerdikannya patut disimak. Walaupun dia pernah berbuat kesalahan besar, tetapi dia segera memperbaikinya.

Bagi Yesus, apabila mereka yang tidak mengenal Tuhan, di saat-saat yang sulit dan kritis mampu berpikir kreatif, bukankah anak-anak Allah harusnya juga mampu berpikir lebih cerdik dan kreatif dengan tetap berpedoman pada iman  kepada Yesus Kristus?  Kreatif dan cerdik tanpa berlandaskan iman hanya akan menghasilkan tindakan memperdaya dan merugikan orang lain demi kepentingan diri sendiri. Ia akan menjadi pribadi yang cerdik tetapi licik, lihai tetapi jahat.

Sikap kritis dan kreatif yang berlandaskan sikap iman akan membawa kita pada kemampuan untuk menghadapi dan mengatasi masalah dengan tetap memerhatikan apa yang menjadi hak orang lain dan kewajiban kita kepada sesama. Iman kepada Yesus adalah iman yang mampu mengalahkan pencobaan dan pergumulan hidup tanpa harus kehilangan hati nurani pada sesama, pada diri sendiri, dan kesetiaan kepada Kristus.

Translate »