Browsed by
Month: December 2017

Prepare the Way of the Lord

Prepare the Way of the Lord

Second Sunday of Advent: Is 40:1-5,9-11, Mk:1:1-8

 

Prepare the Way of the Lord

 

In the first reading, the prophet Isaiah gives a message of comfort to the people of Jerusalem. She suffered very much under Babylonian subjugation. The message is one of hope, that God will not abandon her. There is good news for her- He will deliver her and feed her- like a shepherd tends his sheep.

 

In the Gospel reading today, we meet John the Baptist.  He was the son of Zechariah, one of the temple priests. Bishop Robert Barron tells us that since priesthood was passed from father to son, we must assume that whatever John was doing in the desert, it had something to do with the Temple and Sacrifice.

 

When people came to the Jerusalem Temple, they were seeking the remission of their sins through the sacrificial mediation of the priests.  But before they entered the precincts of the Temple, they were obliged to undergo a ritual washing called a mikvah.  Can we appreciate both of these features in John’s characteristic activity of baptizing? He was drawing his followers through a purifying bath and then promising them forgiveness.

 

But how would this happen? In Mark’s Gospel, John says, “One mightier than I is coming after me….I have baptized you with water, He will baptize you with the Holy Spirit.”  (1:7-8). And in John’s Gospel, the Baptist cries, “Behold, the Lamb of God who takes away the sins of the world.” (1:29). These two statements are functionally equivalent in this way:  John the Baptist was preparing Israel for the arrival of a definitive priest, who would perform the final sacrifice by which sins would be wiped away. His water- baptism was in anticipation of a fiery immersion by which Israel would be finally purified.

 

It is worth noting that all the four Gospels compel us to approach Jesus through John the Baptist. All four Evangelists realize that we won’t understand what Jesus is doing and what he means without the interpretative key provided by John the Baptist in the desert.

 

The Gospel of Mark, which starts with “The beginning of the Gospel of Jesus Christ”, is not a book, but a presence: the presence of the Son of God. He is the Good News of Salvation. In the Gospel of Mark, verse 2-3, Mark attributes the prophecy to Isaiah.  In fact, the text is a combination of Malachi, Isaiah, and Exodus (Mal: 3:1, Is 40:3, Ex 23:20) from the Old Testament with reference to Matthew and Luke (Mt 11:10, Lk 7:27) in the New Testament- “Behold I am sending a messenger ahead of you, he will prepare your way, A voice crying out in the wilderness, Prepare the way of the Lord.”   John’s ministry is seen as God’s prelude to the saving mission of His Son.

 

In Mark 1: 8-9, the apostle Mark clarifies that, through Jesus’ sacrifice and with the Holy Spirit, Jesus will create a new people of God. But he identifies himself with the people of Israel in submitting to John’s baptism of repentance. As in the desert of Sinai, so in the wilderness of Judea, Israel’s Son-ship with God is to be renewed.

So- prepare the way of the Lord. Amen.

 

Fr. Lucas Thumma

 

KAWAN-KAWAN SEPERJALANAN

KAWAN-KAWAN SEPERJALANAN

KAWAN-KAWAN SEPERJALANAN*

Minggu, 10 Desember 2017

Hari Minggu Adven II

[Yes. 40:1-5,9-11; Mzm. 85:9ab-10,11-12,13-14; 2Ptr. 3:8-14; Mrk. 1:1-8]

KARENA YOHANES PEMBAPTIS TIDAK BUTUH ‘INSTA-STORY’!

Orang jaman sekarang, mudah sekali ‘terjebak’ untuk mencari cara instan untuk populer. Paling mudah ya lewat media sosial. Media sosial sekarang bukan sekedar berfungsi mengunggah ‘kata dan gambar’, namun juga cerita dan permasalahan. Sekarang itu ada yang namanya ‘insta-story’ (bagian aplikasi dari INSTAGRAM), yang bisa menggambarkan suasana hati, keberadaan, siapa yang berada di samping kanan kiri kita, apa yang kita lakukan, secara ‘real time’, bahkan ada aplikasi untuk ‘siaran langsung’, sehingga seolah siapa pun kita beserta yang kita alami, serasa ‘harus diketahui’ oleh banyak orang. Mungkin, orang jaman sekarang takut menjadi ‘anonim’, menjadi orang yang tak dikenal, sehingga media sosial, tentu menjadi ‘senjata’ yang ampuh dan efektif, untuk ‘memperkenalkan diri’ kepada dunia, tentang siapa diri kita. Saya kadang merasa geli kalau liat ‘insta-story’ isinya adalah curahan hati, atau malah permasalahan pribadi, seolah-olah orang yang melihatnya, bisa membantu menyelesaikan. Ah, paling ya cuma ingin mendulang ‘like’ saja, tapi menyelesaikan permasalahan orang apa cukup dengan memberi ‘like’ dan kemudian pergi. Itulah bahayanya! Orang pun jadi punya empati yang ‘palsu’, karena dalam media sosial, kadang kenyataan disamarkan, bahkan dipalsukan: perut gendut bisa tampak langsing, tak punya alis bisa jadi punya alis tebal menikung, kulit coklat bisa jadi hitam. Ya, fobia (ketakutan) pada ‘anonimitas’ inilah yang membuat orang ‘menghalalkan segala cara’ demi bisa eksis (kata emak-emak jaman ‘now’), demi bisa populer, demi bisa terkenal, demi bisa meraih simpati.

Sambil merenungkan itu semua, kita bisa belajar dari sosok Yohanes Pembaptis, yang menurut saya unik dan menarik. Pertama, dia berkarya sedemikian singkat, karena kita bisa cek di dalam Kitab Suci, bahwa tak banyak ayat yang berhasil mengkisahkan hidup dan karyanya. Dikisahkan bahwa padang gurun yang sepi adalah tempat nongkrongnya. Dan, yang mungkin agak menyesakkan, pekerjaan dan karyanya, barangkali akan segera dilupakan orang, karena setelah dirinya akan hadir Sang Mesias, Yesus Kristus, yang segera masuk ‘panggung’ sejarah keselamatan dunia. Yohanes, dari statistik jenis apa pun, tentu tidak ada bandingannya dengan pria dari Nazareth itu. Dia sekedar ‘suara’ yang akan mengantar kedatangan Yesus. Kalau Yohanes Pembaptis hidup jaman sekarang, tentu bisa jadi dia tidak pernah punya akun media sosial, sebab hanya untuk mencari popularitas saja, dia tak sempat memikirkannya. Yang ada dalam benaknya adalah bagaimana orang-orang zaman itu dapat siap secara lahir batin menyambut kehadiran Sang Juru Selamat. Kita patut menilik pada diri sendiri, bahwa kecenderungan kita adalah soal penampilan. Segala bentuk pelayanan kita: mengajar sana-sini, rapat sana-sini, kerja sana-sini, dapat diakui publik dan semesta. Padahal kita tahu bahwa Yesus saja tidak demikian. Kadang Yesus saja, suka bergurau dengan cara-cara yang justru tidak populer, cara-cara yang tersembunyi, cara-cara yang tak terduga, cara-cara yang tidak perlu dimasukkan ‘insta-story’, namun tetap efektif dan berdaya-guna bagi keselamatan dunia. Jadi, mari kita bersyukur jika karya kita nampak sepele dan tak berguna di mata manusia, karena yang terpenting Tuhan menggunakannya bagi jalan menuju keselamatan manusia.

Selamat pagi, selamat berhari Minggu, selamat berkumpul dengan keluarga, selamat mengumpulkan semangat sebelum esok berkarya lagi. Tuhan memberkati akhir pekan anda semua. GBU. Berkah Dalem.

Gospel and Salvation

Gospel and Salvation

Gospel and Salvation

Second Sunday of Advent

December 10, 2017

Mark 1:1-8

“The beginning of the Gospel of Jesus Christ. (Mar 1:1)”

Today, we read the beginning of the Gospel according to Mark. Among the evangelists, only Mark explicitly introduces his work as the “Gospel”. The English word “Gospel” simply means the Good News, or in original Greek, “Evangelion.” Commonly, we understand a gospel as a written account of the life and words of Jesus Christ. The Church has recognized four accounts as canonical or true Gospel. We have Gospel according to Matthew, Mark, Luke, and John.

But, what does the Gospel truly mean? Going back to the time of Jesus, Evangelion is actually a technical term for an oral proclamation of the imperial decree that will significantly affect the life of the many people. The messenger will stand in the middle of the public square and announce that the battle has been won decisively, and the city has been saved. It is a good news, indeed a great and joyful news. St. Paul is the first who adopts the term into the Christian world and it signifies the oral proclamation of the saving effects of Jesus’ death and resurrection (see 1 Cor 15:1-4). Thus, when we read that St. Paul proclaims the Gospel, it does not mean he reads the parts of the Gospel according to Mark or John, but rather orally proclaims that we have been saved. The Gospel has to be proclaimed because only by believing and living through the Gospel, we are saved (See Rom 10:13-15).

Since we are all baptized, we all have the duty to proclaim the Gospel and work for salvation. Yet, we may ask, “How we are going to preach and save souls if we cannot administer sacraments?” While it is true that sacramental works and preaching in the pulpit are reserved to the deacons, priests, and bishops, all of us are called to preach the Gospel. But how? We remember that we preach the Gospel for the sake of salvation, and the salvation is not limited in a spiritual sense, but in a more holistic one. It is the salvation not only from sins that separate us from God, but the salvation of all aspects of humanity. Jesus does not only forgive sins, He heals the sick, teaches the people, empowers the poor and fights against oppressive systems.

Following His Lord and Master, the Church works for salvation that is holistic. We run a great number of hospitals throughout the world to bring healing to the sick. We manage numerous schools around the globe to educate people and form their characters. Numerous Catholic scientists are involved in many breakthrough types of research. Fr. Georges Lemaitre, a Belgian priest, is the astronomer behind the Big Bang theory. Louis Pasteur, the inventor of pasteurization process, is a lay Catholic who has a strong devotion to the rosary. We build and fight also for the just and peaceful societies. Antonio de Montessinos, a Dominican Spanish friar, was one of the first priests who openly preached against the slavery in America. To show its commitment to justice and peace, Dominican Order has placed its permanent delegate at the United Nations in Geneva and is actively engaged in just and peaceful resolutions on various global issues.

 This Advent season is the high time for us to reflect on the meaning of the Gospel, and on how we preach the Gospel in our own particular ways. What are the means we use to preach the Gospel? Do we make preaching the Gospel as our priority? Are we working diligently on our salvation and that of others?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno , OP

SABTU ADVEN I 2017

SABTU ADVEN I 2017

SABTU ADVEN I 2017

(Yesaya 30:19-21, 23-26; Matius 9:35-10:1, 6-8)

Dalam bacaan Injil hari ini, kita menjumpai pribadi Yesus yang selalu tergerak dan memiliki hati yang penuh belas kasih kepada umat Allah yang terlantar, tersesat dan sakit. Untuk itu, Dia memberikan kuasa dan perintah kepada para murid-Nya untuk memberitakan kabar baik (Kerajaan Allah) serta melayani umat Allah dengan penuh cinta tanpa pamrih. Hal ini karena Yesus sendiri telah memberikan kepada mereka rahmat dan sukacita berlimpah tanpa menuntut balasan apa-apa.

Masa Adven sebagai masa penantian adalah masa yang tepat untuk mengenali hati Yesus yang penuh cinta dan belas kasihan. Kedatangan Yesus ke dunia adalah sebuah sukacita yang besar bagi dunia. Karena itu, hendaknya kita selalu siap untuk memberitakan kabar gembira melalui perhatian yang tulus terhadap sesama, terutama mereka yang lemah, sakit, terpinggirkan dan tertindas. Hendaknya kita sadar bahwa kehidupan yang kita alami adalah sebuah rahmat yang diberikan Tuhan secara gratis kepada kita. Maka dari itu, hendaknya kita selalu berjuang untuk memiliki hati seperti Yesus yang selalu tergerak untuk mengulurkan tangan tanpa pamrih bagi sesama yang membutuhkan. Sikap hidup iman seperti ini akan membuat orang mendapatkan anugerah istimewa berupa rahmat yang melimpah dalam hidupnya. Maka dari itu, hendaklah setiap rahmat yang kita terima, kita syukuri dan kita bagikan kepada orang lain, agar orang lain pun juga terberkati seperti kita. Tuhan memberkati kita dan keluarga kita.

MARIA DIKANDUNG TANPA NODA DOSA

MARIA DIKANDUNG TANPA NODA DOSA

MARIA DIKANDUNG TANPA NODA DOSA

(Kejadian 3;9-15, 20; Efesus 1:3-6, 11-12; Lukas 1:26-38)

Setiap manusia hidup selalu dalam keterancaman, baik dalam skala kecil maupun besar. Bayi yang baru saja lahir (umumnya) langsung menangis karena merasa terancam hidupnya setelah 9 bulan merasa nyaman dalam rahim ibunya. Seorang pelajar merasa terancam bila tidak dapat mengerjakan ujian. Seorang pemuda/i terancam karena men-jomblo tanpa akhir. Orang yang bekerja takut dan terancam apabila di PHK. Orang yang hidup berumah tangga khawatir apabila pasangannya tidak setia. Yang usianya sudah senja mengalami ketakutan akan kematian karena merasa belum berbuat banyak untuk Tuhan dan sesama. Situasi keterancaman ini membuat manusia merasa butuh jaminan yang dapat membuatnya merasa aman dan nyaman dalam menjalani hidupnya.

Dalam bacaan Injil hari ini, Bunda Maria menunjukkan sikap iman yang mengagumkan kita. Secara manusiawi, tentu saja Bunda Maria sangat takut dalam menghadapi kenyataan bahwa dia harus mengandung sementara ia belum bersuami. Dia sangat sadar akan resiko yang bakal dialaminya, yaitu akan dirajam (dilempari batu sampai mati) karena dituduh berbuat cabul. Ia juga tidak tahu bagaimana cara menjelaskan kepada orang banyak (terutama kepada Yusuf tunangannya) bahwa dia sedang mengandung dari Roh Kudus. Maria sadar (sesadar-sadarnya) bahwa sangat sulit baginya untuk dapat menjadikan orang percaya akan penjelasannya.

Dalam situasi yang masih gelap, Bunda Maria berani mempercayakan hidupnya kepada Allah. “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” ay 38. Inilah sejatinya yang dinamakan IMAN, yaitu PERCAYA MESKIPUN MASIH GELAP (TIDAK JELAS). Orang belum dikatakan beriman secara mendalam bila mengatakan, “Aku percaya Tuhan akan menjamin hidupku dan tidak akan membuat aku kelaparan”, sementara simpanan uangnya ratusan miliar dan bisnisnya yang beraneka ragam. Orang demikian merasa aman bukan karena beriman, tetapi karena sudah jelas bahwa jaminan uangnya nggak habis hingga 7 turunan.

Barangkali kita pernah atau masih dan sedang mengalami situasi yang mirip dengan yang dialami Bunda Maria. Kita menghadapi pengalaman yang sulit dan berat. Contohnya: Kita/anggota keluarga sakit bertahun-tahun dan telah berobat kepada berpuluh-puluh dokter namun tidak juga sembuh. Atau kita mendapatkan

anak difable dan tidak tahu lagi siapa yang akan merawatnya bila nanti orangtua semakin menua. Dalam situasi inilah iman kepercayaan kita diuji. Pengalaman-pengalaman itu menjadi ajang pembuktian, seberapa dalam iman kita. Di sini, Bunda Maria menjadi teladan kita untuk beriman kepada Allah. “Jadilah padaku seperti perkataan-Mu itu”. Artinya: “Jadilah kehendak-Mu, Tuhan, di dalam hidupku!”

Hari ini kita merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria dikandung tanpa dosa. Bagi kita umat Katolik, sesuatu yang khas yang membedakan kita, dari orang-orang Protestan adalah cinta dan penghormatan yang kita persembahkan kepada Bunda Yesus. Kita percaya bahwa Maria, sebagai Bunda Allah, sudah selayaknya memperoleh penghormatan, devosi dan penghargaan yang sangat tinggi. Salah satu dogma (ajaran resmi Gereja) Gereja Katolik mengenai Bunda Maria adalah Dogma Maria Dikandung Tanpa Dosa. Dogma ini menyatakan bahwa Bunda Maria dikandung dalam rahim ibunya, Santa Anna, tanpa dosa asal. Bunda Maria adalah satu-satunya manusia yang dianugerahi karunia ini. Bunda Maria memperoleh keistimewaan ini karena ia akan menjadi bejana yang kudus, dimana Yesus, Putera Allah, akan masuk ke dunia melaluinya. Oleh karena itu, Bunda Maria sendiri harus dihindarkan dari dosa asal. Sejak dari awal mula kehadirannya, Bunda Maria senantiasa kudus dan suci – sungguh-sungguh ”penuh rahmat”. Kita menggunakan kata-kata ini ketika kita menyapa Maria dalam doa Salam Maria. Ketika Malaikat Gabriel menampakkan diri kepada Bunda Maria untuk menyampaikan kabar sukacita, dialah yang pertama kali menyapa Maria dengan gelarnya yang penting ini,

Pada Hari Raya Santa Perawan Maria dikandung tanpa dosa ini, kita diajak untuk meneladan Bunda Maria yang sungguh-sungguh percaya akan rencana dan karya agung Allah atas umat manusia. Kita diajak beriman kepada Allah seperti yang ditunjukkan oleh Bunda Maria dalam bacaan Injil hari ini. Berkaca pada sikap Bunda Maria, kita menyadari bahwa: beriman atau berpasrah kepada Tuhan itu tidak sama dengan melepaskan masalah dan membuat semua masalah menjadi beres. TIDAK! Seperti Bunda Maria, ia percaya namun tetap harus berjuang menghadapi semua tantangan. Masalah tetap ada, namun orang yang beriman mempunyai nilai plus yaitu harapan bahwa akan tiba waktunya, semua kepercayaannya dibayar lunas oleh Allah. SEBAB IMAN TIDAK PERNAH MENGECEWAKAN!

Marilah kita memohon rahmat Tuhan secukupnya, agar kita dimampukan untuk dapat beriman didalam perjuangan hidup kita setiap hari, meski masih gelap sekalipun. Tuhan memberkati.

Translate »