Browsed by
Month: January 2018

PENUH SEMANGAT

PENUH SEMANGAT

Pesta Bertobatnya St. Paulus.

PENUH SEMANGAT

Yesus menganugerhakan panggilan kepada para muridNya; “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk”. Penggilan tersebut bukan suatu yang kecil tetapi Yesus Kristus memberikan kepercayaan yang sangat besar kepada para muridNya. Panggilan bukan untuk memikirkan diri sendiri tetapi mau dangan rela memberikan diri untuk melayani sesamanya. Sekalipun para muridNya adalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan dan kelemahan-kelemahan, namun karena kasih Allah semua bisa terjadi dan para murid diubah hidupNya seturut dengan kehendak Allah.

Kita sekalin telah menerima Sakramen Baptis. Dengan Sakramen ini anuegerah panggilan menjadi pewarta Injil diberikan kepada kita. Tanda bahwa Allah mengasihi kita. Sekalipun kita memiliki banyak kelemahan namun karena cinta Nya, maka kita dikuduskan dan dianugerahi kepercyaan untuk “pergi” mewartakan kabar suka cita Injil kepada segala makhluk. Oleh karena itu sudah selayaknya kita bersyukur dan mau menghayati panggilan dengan penuh semangat.

Dimana pun kita berada, kita membawa dan menghadirkan Kristus yang penuh kasih. Pancaran kasih Kristus memantulkan kasih untuk sesama yang ada disekitar kita. Dengan prilaku hidup yang baik dan penuh kemurahan, kita menghadirkan Kristus ditengah-tengah dunia. Kristus yang hadir dalam diri kita selalu memberikan semangat dan dorongan untuk lebih berani melayani sesama terutama kepada mereka yang menderita. Oleh karena itu tidak ada lagi kekuatiran pada saat mewartakan Injil karena Kristus sendirilah yang bekerja dalam diri kita.

Semua itu bisa terjadi jika iman benar-benar kita hayati. Hanya dengan bantuan Rahmat Allah semua yang baik akan terlaksa dalam hidup kita. Semoga kita tetap terus setia dan bersemangat mengambil bagian dalam karya keselamatan Kristus ini.

MENJADI PEWARTA INJIL

MENJADI PEWARTA INJIL

 

Rabu, 24 Januari 2018

MENJADI PEWARTA INJIL

Mrk 4:1-20

Allah mencurahkan kasihNya kepada setiap pribadi manusia. Namun tidak semua orang menyadarinya. Mengapa ada yang peka dan mengapa ada yang lambat untuk menangkap gerak kasih Allah? Kasih Allah yang diterima olah manusia, kita sekalian, adalah benih-benih iman yang akan terus tumbuh dan berkembang dalam diri manusia. Pertumbuhan benih iman tersebut tergantung dari tanggapan manusia yang menerima benih iman yaitu Kasih tersebut.

Mereka siap menerima iman maka ia akan cepat bertumbuh dan menghasilan buah dalam perbuatan kasih. Sebaliknya jika manusia tidak siap maka benih iman tidak bisa bertumbuh dengan baik. Bagaimana agar manusia bisa lebih siap menumbuh-kembangakan Kasih Allah tersebut. Kesiapan terletak pada sikap hati atau disposisi hati manusia. Jika manusia menempatkan hatinya sebagai hamba yang rendah hati dihadapan Allah maka manusia akan siap untuk bekerja sama dengan rahmat-NYa.

Hati manusia bagaikan tanah dimana benih iman ditaburkan. Oleh karena itu jika manusia mau mengosongkan dirinya dari segala kesombongan, kejahatan dan kebencian, maka manusia akan bisa melipat-gandakan iman, harapan dan kasih dalam hidupnya. Buah-buah iman berupa; harapan, suka-cita, kasih, kebenaran, kejujuran akan menjadi sikap hati dan terlaksana dalam kehidupan sehari-hari.

Kesaksian hidup orang beriman pada akhirnya akan menggerakan banyak orang untuk berbuat baik; salaing menghargai, mengasihi, jujur, setia, adil, dsb. Kita sekalian diutus untuk “pergi” mewartakan Injil Allah. Oleh karena itu menjadi suatu tantangan dan perjuangan kita untuk rendah hati, berserah dan memberikan diri untuk tugas panggilan tersebut. Tuhan memberkati.

Come after Me!

Come after Me!

Third Sunday in Ordinary Time

(Feast of Sto. Niño in the Philippines)

January 21, 2018

Mark 1:16-20*

 

“Come after me, and I will make you fishers of men (Mar 1:17)”

 

Jesus begins His public ministry by calling His first disciples to follow Him. In ancient Palestine, to become a student of a particular teacher means to follow him wherever he goes and stays. In fact, the Greek words used is “deute hopiso”, that means “come after me” because the disciples are expected to literally walk few steps behind Jesus. No wonder, that when the four first disciples, Peter, Andrew, James and John, are called, they have to leave practically everything behind, their works, their family and their hometowns. Thus, to become Jesus’ disciples are a radical commitment that entails great sacrifices.

 

However, if we bring back the life of radical discipleship to our time, who among us will be able to follow that call? How many among us will be willing to leave behind our work, family, and hometown for the sake of Christ? Not many. Only a few people are entering the monasteries or the convents. Even, those who are already members of religious congregations, we are allowed to keep in touch with their family. I myself am able to have a vacation every year and visit my family. It seems that the total discipleship remains a far-reached ideal for many of us.

 

While it is true that this kind of life is genuinely difficult and rare, yet we believe that the life of a true disciple is also available for all of us. The Gospel tells us that the first disciples leave many things behind, but actually, the disciples do also bring something with them when they decide to walk after Jesus. They carry “themselves”, the totality of their own persons. Within this person are their characters, knowledge, skills, ideals, and dreams. In short, they also carry with them their profession, their family, and homeland. This is why Jesus does not only call Simon, Andrew, James, and John to follow Him, but He also is going to make them “the fishers of men.” Jesus knows that these guys are one of the best fishermen in the Galilee, and now Jesus invites them to offer the best they have for God’s purposes. To follow Jesus is not leaving everything behind as much as offering ourselves to the Lord.

 

When St. Dominic de Guzman preached against the heresy in the Southern French, he left the comfort of his church in Osma, Spain. Yet, when he preached, he brought along all the skills and knowledge he learned as a canon in Osma, and as a student at the University of Valencia. He left everything and yet, paradoxically, he brought everything when he founded the first religious Order that was dedicated for preaching in the Church.

 

We may not be able to leave our family, our profession, and hometown because we are responsible for the lives of our family and relatives, but with the same spirit, we can radically follow Jesus, by offering ourselves for God’s purposes. As parents in the family, what do we give to God, which may build a solid Christian family? As part of the Church, what do we surrender to Jesus, which may help her growth in the world? As members of society, what do we offer to the Lord, which may contribute to a just and growing society?

 

Today, the Church in the Philippines is celebrating the feast of Sto. Niño, or the Child Jesus. The image of Sto. Niño is the first to be introduced to the Filipino people, and His intercession has been very instrumental to the evangelization of this country. We pray to Sto. Niño that our self-offering may bear fruits wherever we are sent and live.

 

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

[photo by Harry Setianto Sunaryo SJ]

 

*the reading is taken from the 3rd Sunday of Ordinary Time

Yesus tidak waras, pastor Aven gila

Yesus tidak waras, pastor Aven gila

Yesus tidak waras, pastor Aven gila

Mrk 3:20-21

“Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makanpun mereka tidak dapat.

Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.”

Yesus mewartakan Injil, termasuk melakukan aksi penyembuhan orang sakit. Hal ini semakin membuat nama-Nya terkenal. Bahkan dikatakan untuk makan pun tidak ada waktu. Ada hal yang tidak menarik di sini: anggota keluarga Yesus beranggapan bahwa Ia sudah tidak waras lagi!

Kisah Injil di atas dialami juga oleh seorang pastor muda Indonesia bernama Aven Saur SVD, yang saat ini terlibat aktif dalam pelayanannya terhadap orang dengan gangguan jiwa. Karena keterlibatannya yang intens untuk melayani orang dengan gangguan jiwa maka ia pun dianggap oleh masyarakat sekitar sebagai “pastor gila.”

“Ini sebenarnya stigma terhadap orang yang mengalami gangguan jiwa itu disebut gila. Padahal dalam kamus kesehatan kata gila itu tidak ada. Stigma untuk orang dengan gangguan jiwa, mereka disebut gila. Maka stigma itu juga dalam masyarakat bukan cuma untuk orang yang mengalamai angguan jiwa, tetapi juga untuk keluarganya dan juga untuk orang yang peduli terhadap mereka. Maka pada awal-awal kepedulian saya terhadap orang dengan gangguan jiwa, saya juga disebut pastor orang gila,” kata pendiri Kelompok Kasih Insanis untuk orang dengan gangguan jiwa ini. (https://www.youtube.com/watch?v=ipDnwSkdLNs).

Karya sosial karitatif seperti yang lakukan pastor Aven sebetulnya didorong oleh rasa pedulinya yang tinggi terhadap apa yang disebutnya sebagai “kemanusiaan yang tidak dirawat.” Tanpa perawatan wajah kemanusiaan akan rusak. Tanpa perawatan tubuh hanyalah bongkahan daging yang bergerak tanpa jiwa dan roh. Tanpa perawatan, kemanusiaan kita terpecah oleh luka dan kenajisan. Tanpa perawatan, kemanusiaan menjadi hampa, tanpa nilai dan makna.

Kemanusiaan kita tidak boleh kalah!! Yang terluka harus terus-menerus dirawat dan disembuhkan. Dibutuhkan di sini rasa kepedulian dan solidaritas yang tinggi satu sama lain. Cinta terhadap Allah dan kasih terhadap sesama harus membuat kita bangkit. Kita harus bangkit untuk membantu mereka yang tidak dipedulikan, yang dilupakan, yang sakit, yang terluka, yang hidup tanpa cinta dan perhatian. Ketidakwarasan Yesus dan kegilaan pastor Aven sesungguhnya adalah simbol perlawanan terhadap ketidakpedulian manusia terhadap Allah dan sesama. Dunia akan menjadi lebih baik jika kita benar-benar peduli dan sanggup untuk membagikan kasih dan kebaikan Allah khususnya untuk mereka yang dianggap paling tidak berarti di dalam masyarakat.

Panggilan dan Misi Keduabelas Rasul

Panggilan dan Misi Keduabelas Rasul

Panggilan dan Misi Keduabelas Rasul

Mrk 3:13-19

“Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan merekapun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia.”

Hari ini Injil Markus menampilkan kepada kita kisah tentang pemilihan dan penetapan para murid Yesus yang dikenal dengan Keduabelas Rasul.

Mereka datang dari kalangan biasa dan tidak memiliki pengaruh signifikan dalam masyarakat. Andreas, Petrus, Yakobus dan Yohanes (anak-anak Zebedeus) bekerja sebagai pedagang ikan. Sedangkan Matius (dikenal juga sebagai Levi menurut Injil Lukas) adalah seorang penagih pajak untuk pemerintah romawi. Pekerjaannya memberinya keuntungan besar karena para penagih pajak ini mendapatkan sebagian dari hasil pajak. Hal ini terlihat dalam kisah tentang Zakeus, salah seorang penagih pajak yang juga menjadi pengikut Yesus. Simon orang Zelot berasal dari Kanaan, seorang nasionalis-fanatik, sebuah aliran yang bercita-cita untuk menggulingkan pemerintahan romawi. Murid-murid lainnya seperti Filipus, Bartolomeus, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus dan Yudas Iskariot, yang mengkhiati Yesus, tidak disediakan informasi dalam Injil tentang pekerjaan mereka sebelum mengikuti Yesus.

Yesus memilih dan menetapkan mereka sebagai rasul-rasul-Nya setelah berdoa bagi mereka sepanjang malam. Misi mereka adalah untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah. Mereka juga diberi kuasa untuk menyembuhkan orang-orang sakit dan mengusir setan (eksorsisme) sebagai tanda nyata dari hadirnya kuasa Allah dalam diri para murid.

Sebagai orang-orang terbaptis dengan air dan Roh Kudus, kita juga diutus untuk menjalankan misi Yesus di tengah dunia. Misi pertama-tama berarti perutusan. Artinya kita masing-masing adalah utusan Allah untuk terlibat dalam pewartaan kabar keselamatan Allah. Roh Kudus adalah kekuatan Allah yang selalu menguatkan kita untuk melayani sesama yang membutuhkan kasih dan pelayanan dari Tuhan. Mendengarkan dan merenungkan Sabda Tuhan, hadir dalam Ekaristi, menerima Tubuh dan Darah Kristus, kita disatukan dengan Tuhan dan dikuatkan untuk terus terlibat dalam tugas pelayanan dan keselamatan yang telah dianugerahkan Kristus kepada para rasul-Nya dan lewat mereka sampai juga kepada kita, anggota-anggota Tubuh Kristus, yakni #Gereja – sakramen keselamatan – tanda dan sarana keselamatan Allah di dalam dunia.

Mari kita terus menghadirkan Allah di dalam hidup kita lewat tugas dan pelayanan yang dipercayakan kepada kita masing-masing. Pertama-tama dengan menyadari bahwa Allah telah memanggil dan memilih kita masuk dalam persekutuan dengan-Nya untuk menghadirkan kasih dan keselamatan yang telah dibawa oleh Kristus bagi setiap orang dan seluruh dunia.

Translate »