Browsed by
Month: January 2018

Dengarkan! Perhatikan!

Dengarkan! Perhatikan!

Dengarkan! Perhatikan!

Dengarkan dan perhatikan! Dalam bahasa Inggris, kata mendengarkan dan memperhatikan itu dirangkum menjadi satu kata “listen!” Kata ini berasal dari bahasa Latin “audire.” Tidak mengherankan bila kata “listen” itu punya kaitan erat dengan kata “obey” atau “taat” karena “audire” itu berasal dari kata latin “obedire.” Mendengarkan dan memperhatikan itu berarti juga menaati.

Dalam masyarakat yang sibuk dan berisik, kita ditantang untuk bisa mendengarkan dan memperhatikan. Kita sering tidak dapat duduk dan rileks. Kita sering kekurangan waktu dan merasa bahwa ada banyak hal yang harus dikerjakan dan diselesaikan. Kita sering sibuk dengan segala pekerjaan dan aktivitas sehingga kita tidak mempunyai waktu untuk duduk tenang dan berdoa.

Doa itu bukan hanya meminta, tetapi juga mendengarkan dan memperhatikan. Hanya kalau kita mempunyai sikap mendengarkan, doa kita menjadi doa yang tulus dan benar karena dengan mendengarkan dan memperhatikan, kita bisa mengetahui apa kehendak Tuhan dalam hidup kita dan melaksanakannya. Doa yang benar akan membawa kita kepada pengenalan kehendak Allah dan menaati kehendak Tuhan dalam hidup kita. Itulah yang terjadi dalam cerita Samuel saat ia dipanggil Tuhan untuk menjadi nabiNya. Panggilan menjadi nabi itu dimulai dari mendengarkan dan memperhatikan Tuhan, dan adalah tugas kita semua orang-orang yang dibaptis untuk melaksanakan (baca: menaati) kehendak Allah.

Sudahkah aku memiliki waktu tenang dan hening untuk mendengarkan dan memperhatikan Tuhan dalam hidupku yang sibuk?***

Bukan Jagoan!

Bukan Jagoan!

Bukan Jagoan!

Pernah dengar ungkapan ‘loe jual gue beli’? Ungkapan ini sering saya dengar di kalangan anak lelaki ketika saya mengajar di sebuah SMA di Jakarta. Di balik ungkapan itu, anak-anak lelaki mau menunjukkan keberanian dan harga diri mereka ketika menghadapi tantangan dari teman maupun lawannya. Anak-anak SMA tersebut seringkali mau menunjukkan kehebatan dan keberanian mereka kepada kalayak ramai agar mereka merasakan harga diri mereka menjadi lebih tinggi dan mereka bisa popular di kalangan teman-teman mereka. Kita, orang dewasa beriman, tentunya tidak mau mengikuti pola pikir seperti anak-anak SMA ini, tetapi, apakah kita benar-benar bebas dari cara berpikir seperti ini?

Hari ini Yesus menghardik roh jahat agar diam dan keluar dari tubuh seseorang yang dirasukinya. Yesus menyuruh roh jahat itu diam karena roh jahat itu mengenali siapa Yesus sebenarnya. Apa maksud Yesus menyuruhnya diam? Yesus jelas tidak mau dirinya dikenali oleh orang-orang Israel sebagai Sang Mesias melalui roh jahat tersebut. Yesus mau dikenali oleh orang-orang sebangsanya sebagai Kristus bukan karena memamerkan kekuatan dan kekuasaaannya melainkan karena tindakan dan ajaran kasihNya. Lebih mudah mengatakan, “Hai Setan, loe jual goe beli!” dan membuat orang-orang yang menyaksikan demonstrasi kekuasaannya menjadi takut dan tunduk. Yesus tidak mau menjadi jagoan yang memamerkan kekuatan dan kekuasaanNya. Yesus punya logika lain. Dia tidak perlu meninggikan harga diriNya di depan orang banyak. Harga diriNya datang berasal dari Bapa dan dan pengenalan Bapa kepadaNya. Yang Ia inginkan adalah orang-orang Israel mengenaliNya sebagai Sang Mesias melalui tindakan dan ajaran kasihNya. Yesus mau orang-orang Israel datang kepada Tuhan bukan sebagai budak yang dikalahkan dengan kekuatan atau orang yang ketakutan melihat kuasaNya. Yesus ingin agar orang-orang Israel sebagai anak-anak Allah yang memilih logika kasih dibandingkan dengan logika kekuatan dan kekuasaan. Dengan kata lain, Yesus menginginkan orang-orang Israel, dan kita, mengenal siapa diriNya melalui ajaran dan tindakan kasihNya. Logika orang beriman adalah logika kasih, dan bukan logika “loe jual gue beli” yang mengejar ketenaran dan popularitas dengan cara menunjukkan kuasa dan menimbulkan ketakutan. Apakah anda memilih jalan ‘loe jual gue beli’ atau memilih jalan Yesus yang menunjukkan kasih sebagai orang yang mengenal Allah?***

Baptis! 

Baptis! 

Renungan Lubuk Hati 

 

8 Januari 2018, Markus 1:7-11 

 

Baptis! 

 

Hari ini kita memperingati Pembaptisan Yesus. Yohanes membaptis Yesus dengan air yang melambangkan kehidupan baru dan Allah Bapa menyatakan Diri-Nya sebagai Tritunggal dengan suara yang terdengar bagi banyak orang dan Roh Kudus yang menyerupai burung merpati.  

 

Sedikit bercerita! Karena tugas saya sebagai diakon di Paroki St. Servatius, Bekasi di tahun 2011, saya membaptis banyak bayi dan anak. Setiap bulannya ada sekitar 20 anak yang saya baptis. Yang saya rasakan adalah sebuah kegembiraan batin tatkala mencucurkan air ke kepala bayi-bayi yang, biasanya, membuat mereka menangis karena dinginnya air yang membangunkan mereka dari tidur mereka. Tangisan bayi-bayi itu menghasilkan senyum sukacita bagi saya tapi juga seringkali bagi kedua orang tua bayi yang melihat bahwa tangisan bayi itu sebagai pertanda akan sesuatu yang baik. Beberapa orangtua bahkan tertawa karena melihat bayi-bayi mereka terbangun akibat dinginnya air baptisan. Tapi, lebih dari itu, para orangtua juga bergembira karena mereka mampu memberikan apa yang paling berharga dalam hidup mereka, yakni iman mereka. Tindakan membaptis bayi di dalam Gereja Katolik adalah sebuah upaya yang menunjukkan bahwa keselamatan setiap orang dimulai dari iman orangtuanya, dari keluarganya. 

 

Belajar dari peristiwa pembaptisan Yesus, kita dapat merefleksikan bahwa apa yang tampak dalam hal-hal luaran seperti air dan gerak-gerik tangan orang yang membaptis menunjukkan sesuatu yang dipercayai oleh yang membaptis, oleh yang melihat pembaptisan, dan juga oleh yang dibaptis bila ia adalah orang dewasa. Gerak iman itu selalu datang dari “dalam” menuju ke “luar.” Pembaptisan itu melambangkan perutusan karena iman itu sesuatu yang berada di “dalam” tetapi harus diekpresikan dan dikerjakan dalam hal-hal yang bersifat “luaran.” Kita bisa belajar dari Yohanes Pembaptis yang tidak merasa layak untuk melayani Tuhan, tapi karena imannya, ia melakukan pelayanan kepada Yesus dan banyak orang. Pembaptisan menghasilkan perutusan, dan perutusan menghasilkan pelayanan. Maka di hari pembaptisan Tuhan ini, ada baiknya kita bertanya kepada diri kita lagi: 

  • Kapan terakhir kali saya merasakan dan mendengarkan suara Tuhan yang berseru kepada saya, “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”? 
  • Sebagai orang yang dibaptis, apa yang sudah saya lakukan bagi Tuhan, apa yang sedang saya lakukan bagi Tuhan, dan apa yang akan saya lakukan bagi Tuhan? 

 

The Magi

The Magi

The Epiphany of the Lord

January 7, 2018

Matthew 2:1-12

 

“Then they opened their treasures and offered him gifts of gold, frankincense, and myrrh. (Mat 2:11)”

 

Balthazar, Melchior, and Gaspar, as the tradition called them, were neither Jews nor baptized Christians. In Greek ancient manuscripts of the Gospel, the word used to describe them is ‘magos’, meaning ‘someone with magical power’ or ‘magicians’, and practicing magic is detestable in the eyes of the Jews (2 Chro 33:6).  Even the Catholic Church herself prohibits our engagement with any kind of magic (CCC 2116). Yet, we cannot be sure what kind of magic they craft, but one thing is certain that these Magi read the sign of times and follow the star. Because of this, they are called as one of those ancient astrologers, star-readers who predict the human behaviors and the future.

 

Surprisingly, today’s Gospel presents these three Magi as our protagonists. Why should these practitioners of magic turn to be the good guys here? If we examine closely the story of the Gospel, we discover that these Magi stand in contrast with Herod together with his chief priests and scribes. Unlike the Magi who are reading the star to find the new-born king, Herod and his religious associates are examining the Scriptures to locate the Messiah. Indeed, the Scriptures, as the Word of God, is the lawful means to seek Jesus. Unfortunately, despite its valid method, Herod’s intention is to annihilate Jesus, his threat to his throne. Herod embodies those people who use the Scriptures to achieve his own agenda, to confuse the people and to destroy God. Meanwhile the Magi, despite their illegitimate method, sincerely seek Jesus, the true King, and indeed, God leads them to Jesus.

 

The encounter with Jesus brings real transformation. The Magi offer Jesus gold, frankincense, and myrrh. Traditionally, the three gifts are symbols of kingship, priesthood and suffering of Jesus, but further studies suggest that the three gifts are the usual items used for practicing magic in the ancient time. Thus, when the Magi offer the three gifts, this symbolizes their giving-up of their old profession. When they see the true King, they have found the true meaning of life, the fullness of happiness. They realize that their former profession, powerful it might be, is not true. Their journey has come to a conclusion, and it is the time for them to decide whether to stay in their old way or to embrace Christ fully. And, they made the right choice.

 

The story of the Magi reminds me of the story of Bartolo Longo. Growing up in the troubled time of Italy and the Church, young Bartolo loses faith in Papacy, and entered a satanic group. He goes all the way and he becomes the satanic priest. Yet, despite the power and wealth he gains from the devil, he continues to be restless. Deep inside, he longs for the true peace. Driven by his desire for truth, and helped by his friend and a Dominican priest, he returns to the faith that he has abandoned. He becomes an ardent devotee of our Lady and zealous promoter of the rosary. He initiates the restoration of a dilapidated church in Pompey, and places the image of Our Lady of the Rosary. Through his effort, now the church has become a revered pilgrim site in Italy. His holiness is acknowledged by the Church, and he is beatified in 1980 by John Paul II.

 

Like the Magi and Bartolo Longo, are we ready to recognize Christ as our true happiness? Are we willing to look for Jesus in our lives’ journey? And, when the moment comes, are we willing to give up our former lives and to embrace Jesus fully?

 

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno , OP

 

Baptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis menjadi tanda solidaritas Allah

Baptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis menjadi tanda solidaritas Allah

Baptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis menjadi tanda solidaritas Allah

Mrk 1,7-11

Seruan pertobatan yang diserukanYohanes Pembaptis, mengundang orang-orang Israel untuk segera mengubah cara hidup mereka yang lama dan menempatkan Allah di tempat yang pertama. Banyak dari orang Israel yang datang kepada Yohanes Pembaptis untuk dibaptis di sungai Yordan sebagai tanda pembaharuan hidup. Yesus pun juga menghendaki diriNya bergabung dengan orang-orang Israel lainnya bersatu dalam iman kepada Allah. Meskipun tidak mempunyai dosa, Yesus meminta untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Yesus telah memulai hidup pelayanan dan misiNya dengan baptisan Yohanes di sungai Yordan. Inilah bentuk dari solidaritas Allah kepada manusia dan menjadi tanda bahwa Allah merendahkan diriNya untuk melayani dan menyelamatkan manusia.

Menjadi orang beriman berarti percaya Yesus adalah Putera Allah yang diutus ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa. Seperti yang dikatakan oleh Yohanes Pembaptis, « Aku membaptis kamu dengan air tetapi Dia akan membaptismu dalam Roh Kudus ». Yesus datang ke dunia untuk menunjukkan solidaritasNya kepada manusia. Hal itu juga dilambangkan dengan air dan darah yang mengalir dari lambungNya ketika Ia berada di kayu Salib. Air dan Darah itu menjadi tanda pengorbananNya. Dalam perayaan ekaristi kudus, percampuran air dan anggur menjadi lambang pengorbanan Yesus Kristus di atas Kayu Salib. Kita menemukan misteri cinta kasih Allah itu dalam perayaan Ekaristi yang mengenang kembali misteri hidup Yesus yang mencintai kita dan memberikan hidupNya kepada kita. Dalam sakramen baptis, Allah juga menjadikan kita sebagai anak-anak Allah yang diutus mewartakan Kabar Gembira dan menjadi saksi-saksi untuk membawa misi cinta kasih, kebenaran, keadilan dan pengampunan.

« Allah yang penuh Kasih, curahkanlah Roh KudusMu atas kami agar kami mampu menjadi saksi-saksi cinta kasihMu dalam kehidupan kami sehari-hari »

Translate »