Browsed by
Month: February 2018

JUMAT PEKAN BIASA V

JUMAT PEKAN BIASA V

JUMAT PEKAN BIASA V

(1 Raja-raja 11:29-32; 12:9; Markus 7:31-37)

Orang bisu dan tuli adalah mereka yang mempunyai keterbatasan di mana mereka tidak dapat mendengar suara orang lain dan tidak dapat pula mengungkapkan gagasan serta perasaannya secara lebih leluasa. Mereka mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Karena itu, mereka umumnya mengalami hambatan dalam perkembangan diri, sebab mereka sulit mengekspresikan dirinya secara total.

Dalam Injil hari ini, kita mendengarkan kisah Yesus yang menyembuhkan orang yang bisu dan tuli. Dapat dibayangkan bahwa orang yang disembuhkan itu pasti sangat gembira. Sebab ia mulai dapat mendengar dan berkomunikasi dengan orang lain. Penyembuhan itu membuatnya mampu mengekspresikan diri dengan lebih baik. Secara umum, dengan penyembuhan itu si penderita telah dimanusiakan atau diangkat derajatnya oleh Yesus.

Secara tidak sadar, kita pun kadang-kadang juga mengalami ketulian dan kebisuan hidup. Kita kadang-kadang tuli dan bisu terhadap sesama kita, dalam arti tidak mau mendengar jeritan dan seruan minta tolong dari sesama kita. Kita juga sering tuli terhadap sabda Tuhan sendiri yang mau menyapa kita. Tuhan yang mau mendekati kita dan membahagiakan kita dengan sabda-Nya tidak kita dengarkan. Kadang kita juga bisu terhadap Tuhan, dengan cara tidak mau menanggapi sabda Tuhan yang disampaikan kepada kita. Artinya, kita menutup hati terhadap Tuhan dan mengabaikan kasih-Nya yang mau menyelamatkan kita. Maka dari itu, tidak heran apabila kita sering tidak bahagia, tidak damai dan tidak gembira dalam menjalani hidup kita.

Pada hari ini, marilah kita memohon dan membuka diri kepada Tuhan agar Ia berkenan menyembuhkan dan menyentuh kita sehingga kita dibebaskan dari kebisuan dan ketulian kita terhadap Allah dan sesama. Semoga dengan demikian, hidup kita menjadi lebih damai dan bahagia.

KAMIS PEKAN BIASA V TH I

KAMIS PEKAN BIASA V TH I

KAMIS PEKAN BIASA V TH I

(1 Raja-raja 11:4-13; Markus 7:24-30)

Kalau kita simak dan perhatikan baik-baik peristiwa perjumpaan antara Yesus dengan perempuan dari Siro-Fenesia tersebut, ada beberapa hal yang pantas kita catat. Perempuan itu merendahkan dirinya serendah-rendahnya di hadapan Yesus. Bukan saja dengan datang dan tersungkur di depan kaki Yesus — yang menandakan sikapnya untuk mempasrahkan hidup dan matinya kepada Yesus — lebih dari itu, ia menyatakan bahwa dirinya rela untuk diperlakukan seperti apapun, mau, siap, dan terima. Karena dia menyadari bahwa dirinya salah, dirinya sangat memerlukan bantuan serta belaskasihan Yesus. Dia menerima kata-kata Yesus itu sebagai sebuah kenyataaan hidupnya.

Penilaian atas dirinya itu semua tidak menggoyahkan kepercayaan perempuan tersebut kepada Yesus, tidak menyurutkan niatnya untuk bertemu Yesus dan memohon kesembuhan bagi anak perempuannya yang kerasukan setan. Dari sinilah Yesus melihat iman kepercayaan yang besar, yang luar biasa! Semua itu ditunjukkan dengan kata-katanya di hadapan Yesus. Dan Yesus mengabulkan permohonannya: “Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang, sebab setan itu sudah keluar dari anakmu!”

Bacaan Injil hari ini mengajari kita agar belajar untuk menjadi orang yang selalu berkata dan bersikap positif, tidak peduli dalam suasana yang tidak menguntungkan atau tidak kondusif. Karena bagi perempuan itu, kesembuhan anaknya jauh lebih penting daripada reaksi orang terhadap usahanya mencari kesembuhan bagi anaknya. Dengan kata-kata positif, seseorang dapat mengubah dunia. Kata-kata positif selalu dapat menumbuhkan diri sendiri maupun orang lain. Tuhan Yesus sangat menghargai kata-kata yang diucapkan perempuan itu. Maka dengan tegas, Yesus menjawab kerinduan yang amat mendalam dari perempuan itu,

ialah menganugerahkan kesembuhan kepada anak perempuannya yang kerasukan setan.

Bagaimana seseorang bisa memiliki kata-kata positif tersebut? Kata-kata positif akan keluar dari seseorang yang dewasa secara mental dan iman. Mental meliputi: keadaan batin, cara berpikir, cara berperasaan. Dan iman meliputi: penyerahan, harapan dan kepercayaan. Kematangan mental dan iman hanya akan dimiliki oleh orang yang mempunyai relasi dekat dengan Allah. Maka marilah kita tidak jemu-jemu selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah. Namun kedekatan hubungan manusia dengan Allah ini mengandaikan syarat, bahwa orang tersebut juga harus memiliki kedekatan hubungan dengan sesamanya, dengan orang-orang yang ada di dekatnya, antara lain: keluarganya, kerabatnya, tetangganya, teman kerjanya. Semoga kita dimampukan untuk bersikap positif dan membawa kebaikan dari Tuhan kepada banyak orang disekitar kita.

RABU PEKAN BIASA V

RABU PEKAN BIASA V

RABU PEKAN BIASA V

(1 Raja-raja 10:1-10; Markus 7:14-23)

Pernahkah kita bertanya: darimana keinginan untuk melakukan dosa itu muncul dalam diri kita? Keinginan untuk melakukan dosa ini pertama-tama muncul dari dalam diri kita pada waktu kita memikirkannya. Dan jika kita tidak berusaha berhenti memikirkan keinginan itu, perlahan-lahan keinginan itu akan benar-benar kita lakukan. Misalnya keinginan suami / istri untuk mengkhianati janji perkawinan mereka. Ini dimulai dengan memikirkannya dan ketika mereka melihat bahwa situasinya kondusif, terjadilah tindakan dosa atau pengkhianatan tersebut. Kita tahu dan prihatin bahwa banyak pasangan suami-istri jaman sekarang yang mudah menyerah terhadap godaan untuk melakukan dosa ini. Oleh karena itu, keinginan untuk melakukan dosa berasal dari dalam diri kita.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana kita bisa menghindari dosa? Salah satu caranya adalah berdoa kepada Yesus dan meminta pertolongan-Nya. Mengapa berdoa? Karena doa adalah sebuah tindakan komunikasi antara Tuhan dengan kita yang berdoa. Semakin sering kita berdoa (berkomunikasi dengan Tuhan) semakin mudah pula bagi kita untuk menangkap kehendakNya. Dengan berdoa, kita memohon kepada Tuhan untuk memusnahkan keinginan berdosa yang ada dalam pikiran kita. Kemudian kita juga harus melakukan bagian kita dengan mengambil tindakan aktif untuk membebaskan diri kita dari keinginan untuk berbuat dosa tersebut. Karena jika kita berdoa namun tindakan kita tidak sesuai dengan apa yang telah kita doakan, maka dapat dipastikan bahwa kita masih akan melakukan dosa tersebut, alias doa kita tidak akan berbuah. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, mengapa kita melakukan dosa? Jawaban yang sederhana adalah, karena kita tidak menganggap iman kita kepada Yesus sebagai sesuatu yang serius. Inilah alasan mengapa kita mengalami kesulitan untuk tidak berbuat dosa lagi dan lagi. Apakah kita belum lelah berbuat dosa? Apakah kita belum lelah menggadaikan kehidupan kita

kepada setan? Ketika kita terus-menerus mengorbankan hidup kita kepada setan melalui dosa, ada bahaya bahwa kita mungkin tidak dapat lagi keluar dari cengkeraman dosa tersebut!

Sudah saatnya kita mengubah lingkaran dosa ini. Sudah saatnya kita menyingkirkan pikiran dan keinginan untuk berdosa. Sudah saatnya kita membebaskan diri dari masalah dan komplikasi yang disebabkan oleh dosa. Ini hanya bisa terjadi jika kita meminta Yesus masuk ke dalam kehidupan kita. Pertanyaannya: maukah kita dengan rendah hati berdoa kepada Yesus dan membiarkanNya untuk masuk serta menguasai hidup kita?

Peringatan St. Paulus Miki dkk

Peringatan St. Paulus Miki dkk

SELASA PEKAN BIASA V

Peringatan St. Paulus Miki dkk

(1 Raja-raja 8:22-23; 27-30; Markus 7:1-13)

Sering kita menjumpai banyak orang yang bersikap sangat kaku terhadap peraturan-peraturan, termasuk aturan liturgi dalam Gereja, misalnya: kapan harus berlutut, kapan harus membuat tanda salib, kapan harus mengambil air suci, berapa kali harus membuat tanda salib dll. Orang-orang macam demikian sering beranggapan bahwa: jika mereka melakukan kesalahan pada aturan-aturan tersebut, maka akan berakibat fatal bagi hidup dan keselamatan mereka. Oleh karena itu, saking kakunya, orang menjadi serba tegang dan serba takut. Orang menjadi takut salah dan menyalahi aturan sehingga bersikap keras terhadap diri sendiri dan orang lain.

Dalam bacaan Injil hari ini, ditegaskan agar kita jangan jatuh pada semangat legalisme, formalisme, dan ritualisme. Maksudnya, kita jangan terlalu menekankan peraturannya sehingga justru lupa akan “roh” nya atau semangat dari dibuatnya hukum tersebut. Tuhan Yesus mengkritik habis orang-orang Farisi yang jatuh ke semangat legalistik-ritualisme. Di sini, Yesus bukannya menolak hukum Taurat. Yesus hanya tidak setuju kalau orang menghilangkan “roh” atau inti dari hukum tersebut dan hanya terjebak pada aturan belaka.

Doa Salomo dalam bacaan I hari ini menunjuk pada semangat atau Roh iman yang harus selalu diperjuangkan. Itulah doa mereka di mana mereka memohon agar Tuhan berkenan hadir dan tinggal di bait suci, tinggal di antara kita.

Aturan atau hukum memang penting untuk diperhatikan, namun kita jangan terlalu kaku melaksanakannya. Kita harus fleksibel dan mengutamakan nilai yang lebih tinggi dari sekedar aturan belaka. Semoga rahmat Tuhan senantiasa membantu kita untuk menangkap makna atau

nilai dari setiap peraturan sehingga peraturan itu dapat menghantar kita kepada Tuhan.

Peringatan Santa Agatha

Peringatan Santa Agatha

SENIN PEKAN BIASA V

(Peringatan Santa Agatha)

Raja-raja 8:1-7, 9-13; Markus 6:53-56

Acara doa atau ibadah penyembuhan, dalam beberapa waktu belakangan ini sangat populer di banyak negara. Mereka tidak hanya dicari oleh orang miskin, yang tidak mampu membayar dokter atau rumah sakit, tapi juga oleh orang kaya yang menderita penyakit terminal atau kritis. Beberapa pelayan penyembuhan itu benar-benar mendapatkan karunia dari Tuhan, tapi ada banyak pelayan penyembuhan itu adalah pelayan palsu. Saya memiliki pengalaman yang baik dengan seseorang yang mendapatkan karunia penyembuhan. Dia bisa menyembuhkan dengan syarat, jika orang yang sakit tersebut memiliki iman yang kuat kepada Tuhan.

Dalam pembacaan Injil hari ini orang-orang memandang Yesus hanya sebagai tabib belaka. Banyak orang sakit mendatanginya untuk disembuhkan. Popularitas Yesus sebagai penyembuh sudah pasti meluas karenanya, bahkan orang-orang non-Yahudi pun mengenalinya. Tetapi jika kita mencoba untuk melihat motivasi mengapa orang-orang ini pergi kepada Yesus, kita dapat menemukan bahwa mereka hanya ingin mendapatkan sesuatu dari Dia. Mereka ingin disembuhkan. Yesus berharap bahwa setelah disembuhkan mereka akan mengenali Dia sebagai Mesias, Sang Juruselamat dan melihat kebaikan serta kasih Allah yang lebih besar. Sayangnya, beberapa dari mereka yang sembuh, seperti sepuluh penderita kusta, bahkan lupa untuk bersyukur kepada Tuhan.

Ada baiknya kita sejenak merefleksikan motivasi kita sendiri, mengapa kita datang kepada Tuhan atau mengapa kita berdoa. Apakah kita datang kepada Tuhan karena kita membutuhkan sesuatu dari Dia ataukah karena kita mengasihi Dia? Alasan terakhir ini menurut saya adalah motivasi yang paling tepat. Meskipun kita merasakan sukacita yang besar saat datang kepada-Nya untuk meminta bantuan Tuhan pada

saat-saat berat hidup kita, namun “menjadi satu dengan Tuhan” harusnya menjadi keinginan utama atau motivasi kita dalam berdoa. Jika motivasi doa kita hanya untuk mendapatkan sesuatu dari Tuhan, akibatnya kita akan mudah kecewa, marah atau bahkan menolak Tuhan jika Dia tidak menjawab permintaan kita seperti yang kita inginkan. Tetapi jika kita benar-benar mencintai Tuhan dan percaya pada cinta-Nya, meskipun doa kita tampak tidak diperhatikan, kita tetap akan memuji dan bersyukur kepada Tuhan dan merindukan kehadiran-Nya

Translate »