Browsed by
Month: March 2018

CINTA TANPA SYARAT

CINTA TANPA SYARAT

Renungan Lubuk Hati

Jumat, 9 Maret 2018

Hari Biasa Pekan III Prapaskah

[Hos. 14:2-10; Mzm. 81:6c-8a,8bc-9,10-11ab,14,17; Mrk. 12:28b-34]

CINTA TANPA SYARAT

Bacaan ini adalah sangat sering didengarkan, namun paling sulit dilakukan. ‘Mencintai sesama, seperti mencintai diri sendiri.’ Cinta kita kepada sesama, diwarnai dengan cinta bersyarat. Ada beberapa model cinta bersyarat. Pertama, karena orang yang kita cintai memiliki sesuatu. Orientasinya adalah barang/materi. Namun, ketika sesuatu itu hilang, maka cinta kita kepada orang tersebut juga otomatis hilang. Kedua, karena orang tersebut baik kepada kita. Orientasinya adalah perbuatan. Cinta karena sesuatu yang pernah dilakukan kepada saya, yang membuat saya senang dan merasa nyaman. Tapi, bisa jadi kita akan meninggalkan orang tersebut, bila ternyata kekurangannya lebih banyak dari kenyamanan yang kita dapat. Ketiga, karena sifat-sifat dan karakter yang disukai: perhatian dan pengertian, atau sifatnya cocok. Kalau tidak itu, maka tidak mau. Cinta model demikian adalah cinta yang selektif, atau cinta berdasarkan selera, yang cenderung egoistis.

Kehidupan dalam komunitas kita, tanpa disadari juga tercipta relasi yang demikian. Bahwa kedekatan relasi, tidak menjamin ketulusan kasih, tapi bisa jadi karena syarat-syarat yang terpenuhi dalam berelasi. Misalnya, ada seorang yang berteman dekat, padahal dulu ‘bermusuhan’ namun pada suatu saat, menjadi dekat, karena sama-sama tidak punya teman, lalu jadi ‘klop’ dan saling melengkapi.  Namun, ajakan Yesus jelas dan tegas, bahwa mengasihi yang paling sulit adalah memang mengasihi sesama, seperti mengasihi diri sendiri. Yesus tidak membutuhkan waktu lama untuk membuktikan hal tersebut. Dalam Injil, Yesus berjumpa dengan ahli-ahli taurat, dan Ia sadar bahwa mereka ini tidak suka dengan kehadiran Yesus. Namun, Yesus tidak membenci, dan memandang mereka sebagai orang bijaksana, bahkan dengan terang-terangan mengatakan: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Yesus tidak benci, tidak berprasangka buruk, dan justru sebaliknya, memberi berkat bagi ahli-ahli taurat tersebut. Maka, apa yang dilakukan Yesus ini juga menjadi sikap kita, meski di awal sudah dikatakan bahwa sabda ini adalah sabda yang sulit dilakukan, namun bukan tidak mungkin untuk diterapkan, asalkan kita sendiri sadar tentang kasih Allah itu sendiri, dan senantiasa memohon rahmat kasih itu setiap hari.

‘SIAPA TIDAK BERSAMA AKU, IA MELAWAN AKU!’

‘SIAPA TIDAK BERSAMA AKU, IA MELAWAN AKU!’

Renungan Lubuk Hati

Kamis, 8 Maret 2018

Hari Biasa Pekan III Prapaskah

[Yer. 7:23-28; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; Luk. 11:14-23]

‘SIAPA TIDAK BERSAMA AKU, IA MELAWAN AKU!’

Maraknya berita hoax, salah satunya adalah untuk memfitnah orang lain demi mendapatkan keuntungan untuk diri sendiri. Memang, ketika berhadapan dengan orang baik dan benar, yang dengan cara apa pun sudah ‘mentok’ untuk menyingkirkannya, maka cara yang biasanya ditempuh kemudian adalah dengan memfitnahnya. Hal itu sudah ada buktinya. Menjadi pemimpin yang baik, amanah, berpihak kepada rakyat, dan tidak mementingkan diri sendiri di negeri kita, tidak mudah, apalagi kalau tidak mudah ‘dibelokkan’, maka kadang kubu lawan ‘menyerang’-nya dengan segudang fitnah, dengan berbagai macam modus dan sarana. Tujuannya jelas, membangun opini negatif masyarakat, supaya membencinya. Ada yang berhasil, namun orang yang pandai dan mampu berpikiran jernih, tentu tidak mudah terpengaruh dengan isi-isu atau fitnah receh macam ini.

Yesus, mengalami hal yang sama: difitnah oleh orang-orang Farisi, karena mengusir setan. Orang-orang Farisi menuduhnya bersekutu dengan Beelzebul, bahkan meniupkan fitnah bahwa Yesus adalah anak Beelzebul. Di hadapan sebuah kebenaran, maka akan terpilah dua jenis orang: mengusahakan dan memperjuangkan kebenaran tersebut, atau dalam istilah Injil: berjalan bersama Kristus; atau mereka yang menghalangi kehadiran kebenaran dan keselamatan, yang di dalam disebut sebagai yang ‘melawan Kristus’. Namun, Kristus sendiri selalu menghendaki bahwa yang terjadi di bumi adalah kedamaian dan keselamatan yang tak terbatas.

Maka, pantaslah kita bercermin dan memandang diri sendiri: berdiri di pihak manakah kita sekarang, bersama semua pikiran, perkataan dan tindakan kita? Apakah kita termasuk mereka yang sering menjadi tukang fitnah dan mencari keuntungan bagi diri sendiri, dan kemudian menjadi anggota kelompok yang tidak suka dengan cinta damai, kebenaran dan keselamatan? Ataukah kita dengan segala usaha jatuh dan bangun, juga mau menegakkan kebenaran atas nama Kristus, dengan berbagai macam resikonya? Semoga, kita adalah orang yang dipilih untuk menyampaikan kebenaran dan keselamatan kepada semua orang.

WARTA YANG ‘BENAR’ TENTANG KEBENARAN ITU SENDIRI

WARTA YANG ‘BENAR’ TENTANG KEBENARAN ITU SENDIRI

Renungan Lubuk Hati

Rabu, 7 Maret 2018

Hari Biasa Pekan III Prapaskah

[Ul. 4:1,5-9; Mzm. 147:12-13,15-16,19-20; Mat. 5:17-19]

WARTA YANG ‘BENAR’ TENTANG KEBENARAN ITU SENDIRI

Minggu kemarin, saya berkesempatan untuk menjadi notulis pada salah satu pertemuan dosen-dosen teologi se-Indonesia. Salah satu tugas notulis adalah mencatat segala pembicaraan dan diskusi yang dimunculkan, sedetail dan selengkap mungkin. Harapannya, ketika orang membaca kembali tulisan notulensi tersebut, orang akan segera paham akan inti dari pembicaraan dan diskusi yang dilakukan. Sebuah kesulitan, ketika kadang saya sendiri tidak begitu ingat, siapa dan tentang apa pembicaraan dilakukan, sehingga saya menuliskan kembali ‘sekenanya’. Maka, itulah pentingnya bahwa seorang notulis dalam sebuah pertemuan, tidak cukup satu, minimal dua, sehingga ada usaha ‘cross-check’, sehingga sesuatu yang ‘hilang’ menjadi terang dan didapatkan kembali. Apa jadinya, jika sesuatu yang sangat penting dalam diskusi, menjadi hilang dan terlewatkan dalam notulensi, karena kita kurang peka dan tidak meneliti kembali pokok-pokok pembicaraan bersama notulis lain? Maka, yang ada adalah informasi yang salah dan bahkan sesat.

Kalau mendengarkan Injil hari ini, barangkali ini yang diharapkan Tuhan dari kita, yaitu supaya kita tidak jatuh dalam kesesatan ketika memberitakan sesuatu tentangNya. Yesus berkata: “Satu iota atau satu titik tidak akan dihilangkan dari firmanNya”, dengan harapan bahwa seluruh firman Tuhan harus diajarkan dan dilakukan dengan benar, tanpa pengecualian. Tinggi rendah posisi seseorang di dalam Kerajaan Allah tergantung dari caranya mewartakan keselamatan. Menurut Yesus, bahwa orang yang menyesatkan orang lain lebih baik dibinasakan saja, karena Tuhan tidak pernah menginginkan pemberitaan yang keliru tentangNya.

Maka, semoga kita juga mau untuk memperkaya diri dengan pengetahuan dan pengalaman iman. Pengetahuan iman adalah konsep-konsep hidup beriman yang biasa disampaikan lewat ajaran-ajaran. Pengalaman iman adalah nilai kedalaman pengalaman sehari-hari bersama Tuhan sendiri. Pengetahuan tanpa pengalaman tentu tidak berguna, karena itu berarti seperti berkata-kata tanpa bertindak nyata. Hendaknya dua-duanya seimbang dan saling melengkapi, yaitu beriman mendalam, dan bertindak nyata demi kasih dan keselamatan.

PENGAMPUNAN TANPA BATAS

PENGAMPUNAN TANPA BATAS

Renungan Lubuk Hati

Selasa, 6 Maret 2018

Hari Biasa Pekan III Prapaskah

[Dan. 3:25,34-43; Mzm. 25:4bc-5ab,6-7bc,8-9; Mat. 18:21-35]

PENGAMPUNAN TANPA BATAS

Saya masih yakin, kalau membaca bacaan Injil hari ini, akan ada yang menghitung penjumlahan dari: ‘tujuh puluh kali tujuh kali’ atau 70 x 7 kali, yang berarti 490 kali. Bahwa kemudian orang dengan mudahnya mengatakan bahwa ‘batas mengampuni’ adalah di angka 490. Stok pengampunan yang kita miliki hanya di kisaran angka tersebut. Tentu penafsiran ini bisa benar dan bisa tidak. Bahwa benar, jika kesalahan seseorang kepada kita tidak mencapai angka 490, namun menjadi sesat kalau angka 490 menjadi ‘patokan’ sedemikian rupa, sehingga setelah itu, kita berhak melakukan apa pun terhadap saudara yang telah salah kepada kita.

Kiranya ajakan Yesus pada hari ini jelas. Bahwa mengampuni bukan hitung-hitungan, bukan penjumlahan, bukan batas dan stok yang memiliki akhir, namun angka tersebut mau mengatakan bahwa pengampunan itu tidak pernah ada batasnya. Ya, tidak pernah ada batasnya. Kita tentu pernah berhadapan dengan orang yang menyebalkan, karena terus menerus berbuat salah, dan membuat hidup kita tidak tidak tenang. Satu kali okelah, dua kali tidaklah mengapa, tapi yang ketiga, keempat, kelima dan kesekian kalinya, kadang kita sudah terlanjur antipati dan untuk mengampuni, sungguh butuh usaha yang tidak mudah, kalau tidak bisa dibilang: butuh perjuangan.

Kita membutuhkan sebuah sikap bernama: penyangkalan diri, sampai pada titik tertentu sampai kita sungguh berani mengampuni orang tersebut. Bahkan, bisa dibilang, orang yang beriman mendalam adalah orang yang tidak mudah sakit hati, dan mudah mengampuni siapa pun orang yang pernah mengecewakan dan menyakitinya. Namun, namanya juga iman adalah relasi yang dekat dan mendalam dengan Tuhan, maka mari kita mohon rahmat supaya kita ini menjadi manusia pengampun, yang terus bersedia memberi kesempatan kepada orang lain, bukan justru menambah luka hati yang baru bagi orang lain.

PERBUATAN BAIK BERDASARKAN KEBENARAN DAN KESELAMATAN

PERBUATAN BAIK BERDASARKAN KEBENARAN DAN KESELAMATAN

Renungan Lubuk Hati

Senin, 5 Maret 2018

Hari Biasa Pekan III Prapaskah

[2Raj. 5:1-15a; Mzm. 42:2,3; 43:3,4; Luk. 4:24-30]

PERBUATAN BAIK BERDASARKAN KEBENARAN DAN KESELAMATAN

Seorang pemimpin dihargai dan dihormati karena perbuatan baik dan kasihnya kepada anggota atau bawahannya. Maka, kalau seorang pemimpin ini tidak dihargai dan tidak dihormati, ada beberapa kemungkinannya, yaitu: integritas yang tidak memadai atau latar belakang dari pemimpin tersebut. Integritas itu mencakup kemampuan untuk mempersatukan dan memberikan kesejahteraan bagi anggota dan bawahannya. Soal latar belakang, bisa terjadi karena masa lalu, latar belakang keluarga dan pendidikannya, atau asal daerah. Kita memiliki beberapa pemimpin daerah, baik daerah atau negara, yang memenuhi kriteria sebagai ‘pemimpin baik’ , tapi toh mereka memiliki banyak ‘pembenci’, salah satu alasannya adalah karena latar belakang dari pemimpin tersebut, entah karena daerah atau agama. Padahal, secara integritas, sangat bisa diandalkan.

Yesus dalam Injil hari ini, mengalami hal yang sama, yaitu diragukan karena latar belakangNya sebagai anak seorang tukang kayu. Setelah berkelana sekian lama, dan kemudian pulang kampung, banyak orang ragu akan pengetahuan dan kebijaksanaan yang ditunjukanNya, karena orang hanya memandang masa laluNya semata. Namun, kita bisa belajar dari Yesus soal ‘kemerdekaan hati’,  bahwa banyak orang yang meragukan dan menolak kehadiranNya, Dia tetap berbuat baik, dengan segala resiko yang mungkin terjadi. Bahwa tujuan utamanya, bukan lagi soal ketenaran dan kepopuleran semata, tapi karena mengemban amanat dari Bapa, yaitu mewartakan keselamatan dan memberitakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat.

Dan, inilah yang perlu kita bawa sebagai bekal yaitu soal kemerdekaan hati. Kita dalam berpikir dan bertindak, masih berpikir tentang tanggapan atau komentar orang lain yang kadang ‘nyinyir’ karena tahu kita telah berbuat baik. Ungkapan ‘nyinyir’ ini terkadang mematahkan semangat kita untuk terus berbuat baik, padahal ukuran perbuatan baik bukan semata penerimaan dari orang lain, tapi lebih karena kita hendak membawa kasih Allah kepada setiap orang. Semoga, kita selalu disemangati sabda Tuhan hari ini bahwa ukuran perbuatan baik kita bukan lagi soal ketenaran dan popularitas, tapi lebih pada kesadaran untuk mewartakan keselamatan dan memberitakan Kerajaan Allah kepada semua orang, tanpa terkecuali.

Translate »