WARTA YANG ‘BENAR’ TENTANG KEBENARAN ITU SENDIRI
Renungan Lubuk Hati
Rabu, 7 Maret 2018
Hari Biasa Pekan III Prapaskah
[Ul. 4:1,5-9; Mzm. 147:12-13,15-16,19-20; Mat. 5:17-19]
WARTA YANG ‘BENAR’ TENTANG KEBENARAN ITU SENDIRI
Minggu kemarin, saya berkesempatan untuk menjadi notulis pada salah satu pertemuan dosen-dosen teologi se-Indonesia. Salah satu tugas notulis adalah mencatat segala pembicaraan dan diskusi yang dimunculkan, sedetail dan selengkap mungkin. Harapannya, ketika orang membaca kembali tulisan notulensi tersebut, orang akan segera paham akan inti dari pembicaraan dan diskusi yang dilakukan. Sebuah kesulitan, ketika kadang saya sendiri tidak begitu ingat, siapa dan tentang apa pembicaraan dilakukan, sehingga saya menuliskan kembali ‘sekenanya’. Maka, itulah pentingnya bahwa seorang notulis dalam sebuah pertemuan, tidak cukup satu, minimal dua, sehingga ada usaha ‘cross-check’, sehingga sesuatu yang ‘hilang’ menjadi terang dan didapatkan kembali. Apa jadinya, jika sesuatu yang sangat penting dalam diskusi, menjadi hilang dan terlewatkan dalam notulensi, karena kita kurang peka dan tidak meneliti kembali pokok-pokok pembicaraan bersama notulis lain? Maka, yang ada adalah informasi yang salah dan bahkan sesat.
Kalau mendengarkan Injil hari ini, barangkali ini yang diharapkan Tuhan dari kita, yaitu supaya kita tidak jatuh dalam kesesatan ketika memberitakan sesuatu tentangNya. Yesus berkata: “Satu iota atau satu titik tidak akan dihilangkan dari firmanNya”, dengan harapan bahwa seluruh firman Tuhan harus diajarkan dan dilakukan dengan benar, tanpa pengecualian. Tinggi rendah posisi seseorang di dalam Kerajaan Allah tergantung dari caranya mewartakan keselamatan. Menurut Yesus, bahwa orang yang menyesatkan orang lain lebih baik dibinasakan saja, karena Tuhan tidak pernah menginginkan pemberitaan yang keliru tentangNya.
Maka, semoga kita juga mau untuk memperkaya diri dengan pengetahuan dan pengalaman iman. Pengetahuan iman adalah konsep-konsep hidup beriman yang biasa disampaikan lewat ajaran-ajaran. Pengalaman iman adalah nilai kedalaman pengalaman sehari-hari bersama Tuhan sendiri. Pengetahuan tanpa pengalaman tentu tidak berguna, karena itu berarti seperti berkata-kata tanpa bertindak nyata. Hendaknya dua-duanya seimbang dan saling melengkapi, yaitu beriman mendalam, dan bertindak nyata demi kasih dan keselamatan.