Browsed by
Month: April 2018

Diberi untuk Berbagi

Diberi untuk Berbagi

Diberi untuk Berbagi

Yohanes 6:1-15

 

Injil hari ini mengisahkan penggandaan roti yang dilakukan Yesus  untuk memberi makan 5000 orang laki-laki. Peristiwa penggandaan roti adalah tanda keempat yang muncul dalam Injil menurut Yohanes. Ini adalah satu-satunya kisah mukjizat yang ditemukan dalam keempat Injil.

Dari hati yang tanpa pamrih seorang bocah, Yesus secara ajaib melipatgandakan lima roti jelai serta dua ikan dan memberi makan lebih dari lima ribu orang. Bahkan, mereka masih mengumpulkan sisanya sebanyak 12 bakul penuh.

Dalam perikop ini kita diajak untuk merenungkan bahwa Tuhan memberi lebih dari yang kita butuhkan untuk diri kita sendiri sehingga kita dapat memiliki sesuatu untuk dibagikan kepada orang lain, terutama mereka yang membutuhkan. Tuhan mengambil sedikit dari yang kita miliki dan mengalihkannya untuk kebaikan orang lain. Apakah kita percaya pada penyelenggraan Ilahi dalam hidup kita dan apakah kita berbagi secara iklas dengan orang lain, terutama mereka yang membutuhkan?

Hal lain yang menarik perhatian saya ketika merenungkan perikop ini adalah tindakan Yesus yang bertanya kepada Filipus, “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” Mengapa Yesus menguji Filipus? Jawaban yang paling masuk akal, sesuai dengan permenungan saya,  kemungkinan karena Filipus ragu dan sangsi dan Yesus mengetahui hal itu.

Saudara-saudari terkasih, sebagai manusia adalah wajar kalau kita memiliki keraguan atau sangsi akan sesuatu. Tetapi dalam konteks Filipus sepertinya lain. Mengapa? Seperti saya jelaskan diawal bahwa peristiwa penggandaan roti ini merupakan mukjizat keempat yang dilakukan oleh Yesus dalam Injil Yohanes, setelah: Peristiwa Kana; Yesus menyembuhkan anak pegawai istana; dan Penyembuhan pada hari Sabath di kolam Betesda. Maka, keraguan Filipus ‘diluar wajar’ karena seharusnya dia ingat akan ketiga mukjizat sebelumnya dan percaya bahwa Yesus akan berbuat sesuatu yang ‘menyelamatkan’.

Pertanyaan bagi kita masing-masing: apakah kita pun seringkali seperti Filipus yang ragu? Kita terkadang tidak sabar dan ragu apakah Yesus akan mengabulkan doa-doa kita, apakah Yesus tahu kesusahan kita?

Selanjutnya, kepergian Yesus menuju gunung seorang diri setelah peristiwa itu juga merupakan teladan yang bisa kita tiru dalam hidup harian kita. Tentu saja orang banyak takjub kepada Yesus setelah Dia melakukan banyak Mukjizat. Maka sekarang saatnya mereka untuk memuji dan meninggikan Yesus. Sesuai dengan kerendahan hati-Nya dan karakter-Nya Yesus berjalan pergi ke gunung seorang diri mungkin untuk berdoa dan bersyukur kepada Tuhan atas berkat keajaiban yang telah diberikan kepada-Nya.

Dalam hal ini kita melihat betapa berbedanya Yesus dari kita, kita menyukai ketika kita dihormati, dipuji atas hal-hal yang kita lakukan. Terkadang bahkan kita ingin orang melihat apa yang kita lakukan dan kita berharap mereka memuji kita. Mari kita semua bangun dari sikap egois dan cinta diri ini. Tuhan memberkati doa-doa dan niat kita. Amin

Keberanian Pembawa Kabar Sukacita

Keberanian Pembawa Kabar Sukacita

Keberanian Pembawa Kabar Sukacita

Kisah Para Rasul 5:27-33

Dalam bacaan pertama liturgi hari ini, Para Rasul memberi kita contoh keberanian yang luar biasa. Mereka dihadapkan dengan para pemimpin agama, namun mereka berbicara dan bertindak dengan berani,  tidak peduli apapun resikonya. Mereka tidak peduli dengan kehidupan mereka sendiri atau tentang konsekuensi  yang mungkin mereka hadapi; mereka hanya peduli untuk memberitakan nama Yesus dan melayani Tuhan. Ini adalah contoh keberanian nyata.

Memiliki dan menampilkan keberanian tidak berarti bahwa kita harus keluar mencari masalah. Kita bisa berani dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan menjadi pemberani dalam hal-hal kecil dalam hidup kita, kita akan bersiap untuk waktu yang lebih menantang dalam melayani Tuhan. Tentu, keberanian kita harus didasarkan pada sumber kekuatan kita, dan sumber itu seharusnya adalah Tuhan. Biarkan Tuhan menjadi kekuatan kita dalam hidup ini, dan jika kita melakukannya maka kita akan memiliki keberanian untuk menghadapi apa pun, seperti halnya Para Rasul.

Saudara-saudari terkasih, keyakinan kita kepada Yesus  datang dengan disertai tanggung jawab. Kita dipanggil untuk mewartakan Injil dengan kata-kata kita dan yang lebih penting lagi, dengan perbuatan kita. Dalam hal ini kita menjalankan iman kita, bukan hanya sekedar mengakui iman kita kepada Yesus. Sama seperti Yesus menugaskan murid-muridnya untuk “pergi dan memberitakan Injil,” Yesus juga mengirimkan kita untuk menjalankan Injil dan memberitakan Injil dalam kata dan perbuatan. Ini panggilan kita, tantangan kita dan sekaligus hadiah bagi kita! Untuk melakukan itu semua kita membutuhkan keberanian seperti yang telah dicontohkan oleh Para Rasul.

Bagaimana kita akan menanggapi panggilan Yesus itu? Akankah kita maju dan menyebarkan Injil melalui kata dan perbuatan serta teladan? Sudah cukup berintegritaskah kita sebagai pembawa kabar sukacita? Apakah kita sudah menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya sumber kekuatan dalam hidup dan pewartaan kita?

Tuhan memberkati kita dan usaha-usaha kita dalam mewartakan Injil-Nya. Amin

Tuhan Mengasihi Dunia Ini

Tuhan Mengasihi Dunia Ini

Tuhan Mengasihi Dunia Ini

Yohanes 3:16-21

Peringatan Santo Stanislaus, Uksup dan Martir

Injil hari ini dimulai dengan perkataan “karena Allah begitu mengasihi dunia.” Ini adalah salah satu pernyataan revolusioner yang pernah kita dengar: Allah mengasihi dunia. Selama ini kita telah banyak mendengar pernyataan yang bertentangan. Namun, hari ini ini Yesus melukiskan gambaran yang berbeda tentang Allah atas dunia dengan satu pernyataan: “Karena Allah sangat mengasihi dunia …”

Dunia adalah salah satu kata yang sering digunakan dalam Injil Yohanes: 78 kali! Ini memiliki beberapa arti. Di dunia tempat pertama mungkin menandakan bumi, ruang yang dihuni oleh manusia atau juga alam semesta yang diciptakan Allah. Dunia juga dapat berarti orang-orang yang menghuni bumi ini, semua kemanusiaan. Saya kira dalam konteks Injil hari ini, kata dunia juga memiliki rasa kemanusiaan, semua manusia. Tuhan sangat mencintai kemanusiaan sehingga dia memberikan Anak-Nya yang tunggal.

Memang dalam konteks zamannya, Injil hari ini ditujukkan kepada komunitas-komunitas Kristen awal yang sedang mengalami penganiyaan. Harapan yang diberikan Injil kepada komunitas yang teraniaya adalah bahwa Yesus lebih kuat daripada dunia. Inilah mengapa dia berkata: “Di dunia kamu akan mengalami kesulitan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah menaklukkan dunia!” (Yoh 16, 33).

Betapa indahnya pernyataan Yesus hari ini. Dalam konteks kita sekarang, Tuhan mengasihi kita masing-masing secara unik dan pribadi dan tidak ada pengecualian di sini. Yesus tidak mengatakan, “Karena Allah begitu mengasihi orang-orang benar, orang kudus, orang-orang yang sempurna, atau orang-orang yang memiliki pandangan tertentu.” Yesus hanya berkata, “Karena Allah sangat mengasihi Dunia.” Tuhan adalah Bapa sang pemilik cinta abadi yang tidak dapat beristirahat sampai anak-anak-Nya yang mengembara pulang ke rumah untuk-Nya. Santo Agustinus dari Hippo (354-430 M) berkata, “Tuhan mengasihi kita masing-masing seolah-olah hanya kita sendiri yang dicintai-Nya.”

Dan jika Tuhan mengasihi dunia ini, maka mungkin saya bisa menyadari bahwa saya tidak lebih baik atau lebih istimewa daripada Tuhan. Tuhan mengasihi semua orang yang saya cintai dan Tuhan juga mencintai semua orang yang tidak saya sukai bahkan yang saya benci. Jika Tuhan dapat mencintai mereka, maka saya mungkin bisa mencintainya juga. “Karena Tuhan sangat mencintai dunia”, maka saya tidak memiliki alasan apapun untuk menghakimi dunia ini.

Saudaraku sekalian, pesan lain Injil hari ini adalah bahwa Tuhan masih memegang kendali kuat atas dunia ini, bahkan ketika tampaknya tidak demikian. Kendati di hadapan salib, kita menegaskan iman kita kepada ketuhanan Allah. Tuhan tetap bertanggung jawab, Ia pusat dan masih memegang kendali, bahkan penyaliban Putera-Nya pun tidak mengakhiri hidup. Tetapi sebaliknya mengarah pada kehidupan baru yang diperkaya, kendati kadang-kadang harus menunggu dengan sabar dalam kesakitan. Jadi, transformasi dalam diri kita adalah perubahan dari dukacita menjadi sukacita, putus asa menjadi harapan, dan dosa menjadi rahmat. Itu semua terjadi karena Allah begitu mencintai dunia ini! Ini adalah iman kita, ini adalah iman Gereja, ini adalah misteri Paskah yang kita rayakan!

Dilahirkan Kembali dalam Semangat Kebangkitan

Dilahirkan Kembali dalam Semangat Kebangkitan

Dilahirkan Kembali dalam Semangat Kebangkitan

Yohanes 3:7b-15

Injil hari ini berbicara tentang percakapan antara Yesus dan Nikodemus. Nikodemus telah mendengar orang berbicara tentang hal-hal yang dilakukan Yesus dan ingin berbicara dengan Yesus agar dapat memahami Dia dengan lebih baik. Dalam percakapan itu, Yesus mengatakan bahwa satu-satunya cara di mana Nikodemus dapat memahami hal-hal tentang Tuhan adalah dengan dilahirkan kembali secara baru!

Bagaimana mungkin ini terjadi? Demikian pertanyaan Nikodemus mendengar jawaban Yesus mengenai kelahiran kembali secara baru. Bagaimana bisa seorang pria dewasa masuk kembali ke rahim ibunya dan mengalami kelahiran kembali? Tentu saja, Yesus menjawab bukan secara fisik, tetapi dalam hal iman dan gaya hidup. Seseorang dilahirkan kembali ketika dia memasuki komunitas Kristen, ketika dia dibaptis dalam air dan hidup dalam Roh.

Bacaan pertama bisa merupakan jawaban atas pertanyaan Nikodemus. Dalam bacaan pertama untuk hari ini, dari Kisah Para Rasul 4:32-37, kita mendapatkan sekilas gambaran tentang Gereja Kristen awal. Dikisahkan bahwa para murid terus memberitakan Kristus yang bangkit dan sementara mereka yang percaya saling menjaga satu sama lain dan memastikan bahwa tidak ada diantara anggota komunitas yang berkekurangan. Kehidupan komunitas yang kuat ini memungkinkan mereka untuk hidup tanpa rasa takut dan memberikan kesaksian yang kuat kepada Tuhan Yang Bangkit. Kebangkitan Tuhan telah membawa harapan dan iman yang baru dalam hidup mereka.

Itulah Hidup Baru yang dimaksudkan Yesus: memberitakan Kristus yang bangkit dan saling menjaga satu sama lain sebagai saudara. Mungkin hari ini kita dapat merefleksikan sikap kita sendiri terhadap barang-barang material yang ada pada kita dalam konteks hidup baru di dalam komunitas: bagaimana kita memperolehnya, bagaimana kita menggunakannya, sampai sejauh mana kita berbagi berkat material yang ada pada kita dengan mereka yang benar-benar membutuhkan?

Hari Raya Maria Menerima Kabar Sukacita

Hari Raya Maria Menerima Kabar Sukacita

Hari Raya Maria Menerima Kabar Sukacita

Lukas 1:26-38

 

Injil hari ini mengisahkan tentang hari terbesar di dunia yang pernah diketahui, yakni Hari Raya Maria menerima Kabar Sukacita. Ini adalah awal baru dalam sejarah manusia, di sebuah desa kecil, melibatkan seorang wanita yang tidak terkenal, dan janji yang samar-samar dari seorang malaikat.

Inti dari Kabar Sukacita yang dibawa Malaikat Gabriel adalah bahwa Yesus tidak turun dari surga sebagai “avatar” melainkan bahwa Yesus benar-benar dan sepenuhnya manusia. Melalui ibu-Nya  dengan perkataan ‘Aminnya’, Yesus menjadi manusia. Hal lainnya yang terkait adalah bahwa Tuhan “membutuhkan” kerja sama manusia untuk menyelesaikan rencana yang Tuhan miliki untuk dunia. Salah satu contoh yang paling indah dari kerjasama itu terwujud lagi lagi melalui ‘Aminnya’  Maria yang tanpa syarat.

 

Dengan demikian, hari raya Maria menerima kabar sukacita, yang kita rayakan hari ini, adalah undangan Allah kepada kita semua  untuk berpartisipasi dengan-Nya dalam menyelamatkan dunia ini. Dengan kata lain, hari raya Maria menerima Kabar Sukacita bukan hanya terjadi satu kali saja. Tetapi itu terjadi setiap hari ketika kita mengundang Yesus ke dalam hidup kita dan menerima Dia dalam Ekaristi. Penyerahan diri dan ‘Amin’ bergema sepanjang zaman.

 

Kita patut bersyukur karena Maria, Ibu Tuhan, mengajarkan kepada kita bagaimana untuk terus menanggapi undangan Allah itu ke dalam hidup kita dan percaya dengan rendah hati dalam rencana-Nya. Bunda Maria telah menunjukkan kepada kita bagaimana hidup sebagai  tabernakel’ hidup.

 

Marilah bersama dan melalui perantaraan Bunda Maria kita berdoa, “Tuhan, tolong kami untuk mendengar panggilan-Mu guna menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik untuk semua makhluk ciptaan-Mu. Itulah keselamatan yang Kaukehendaki bagi dunia.” 

Translate »