Karunia Takut akan Tuhan (Fear of The Lord)
Selasa, 8 Mei 2018
Kisah Para Rasul 16:22-34
Mazmur 138
Yohanes 16:5-11
Perbuatan tangan Tuhan dalam bacaan pertama hari ini sungguh luar biasa. Ketika Paulus dan Silas sedang mewadahkan pujian kepada Allah dari dalam penjara, tiba-tiba terjadi gempa bumi, jeruji-jeruji penjara seketika juga goyah, pintu-pintu terbuka, dan belenggu para tahanan lepas semua. Reaksi kepala penjara saat itu adalah merasa bertanggung jawab penuh akan lepasnya para tahanan yang dijaganya, sehingga ia bersedia bunuh diri. Ketakutannya akan amarah para pemimpin agama dan umat Yahudi bisa juga menjadi salah satu pertimbangannya. Mungkin ia sendiri akan dijatuhi hukuman mati. Daripada membiarkan orang lain berkuasa akan nyawanya, setidaknya dengan bunuh diri ia sendiri yang memutuskan nasibnya.
Tiba-tiba teriakan Paulus mengentikan ayunan pedangnya. Ia menyangka bahwa setelah kejadian itu semua tahanan pasti langsung melarikan diri. Tapi Paulus dan Silas tetap bertahan di dalam, bisa jadi karena mendapat firasat dari Tuhan untuk menunggu. Sikap sang kepala penjara langsung berubah, ketakutannya sekarang lebih pada Tuhan daripada pada manusia lain. Ia meminta petunjuk Paulus supaya ia pun bisa diselamatkan dan menjadi satu dengan Allah.
Kita manusia memang lebih mudah untuk takut pada sesuatu yang di depan mata kita: takut akan tidak naik pangkat, takut diputus hubungan oleh sang kekasih, takut tidak dianggap anak oleh orang tua, takut tidak dihormati oleh anak, takut tidak disukai orang lain, dan macam-macam lainnya. Hari ini kita diingatkan untuk menggunakan karunia Roh Kudus yang meluruskan prioritas kita. Takut pada Tuhan bukan berarti kita menjalankan perintahNya karena kita takut dihukum atau dikirim ke neraka. Takut pada Tuhan membuat kita berani mengambil tindakan yang kita tahu sesuai dengan kehendak Tuhan, walaupun dengan konsekuensi dibenci oleh orang lain, kehilangan status, atau hal duniawi lainnya. Dengan demikian, takut akan Tuhan tidak lain adalah keyakinan bahwa Tuhan membela kita dalam memperjuangkan kebenaran.
We are living in the part of the world that violence and death have become our daily consumption. Every day, people’s lives are forcibly snatched away for unbelievably trivial reasons. Parents kill their babies. Brothers murder their brothers. Friends manipulate and sell their friends. Some of us used to go down on the street and cry for justice. Yet, many of us are just busy with daily pressing concerns like works, study and chores. We become numb or blind to the soil that has been painted red by the blood of our brothers and sisters. The life, precious in the eyes of God, turns out to be cheap at the hands of men.