Browsed by
Month: June 2018

Bukan Kerumunan tetapi Murid

Bukan Kerumunan tetapi Murid

Peringatan Santo Barnabas, Rasul

11 June 2018

Matius 5: 1-12

 

“Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya (Mat 5:1).”

 

Injil Matius bab 5 sampai 7 dikenal sebagai khotbah Yesus di Bukit. Bagian ini berisi ajaran-ajaran dan perumpamaan Yesus yang sangat terkenal seperti 8 Sabda Bahagia, dan tentang mengasihi musuh kita. Sebelum Yesus memulai ajaran-Nya, Diapun duduk. Posisi ini sebenarnya melambangkan otoritas Yesus untuk mengajar. Di Bukit, Yesus adalah guru, dan sebagai guru yang baik, Dia akan mengharapkan mereka yang datang kepada-Nya untuk mendengarkan-Nya dengan penuh perhatian. Maka, sebelum Yesus memulai ajaran-Nya, Diapun naik ke bukit untuk memisahkan diri dari kerumunan. Yesus tahu bahwa menjadi bagian dari kerumunan adalah sangat mudah dan biasanya terdorong oleh motif-motif egois seperti ingin segera disembuhkan, untuk diberi makan dan dihibur. Alasannya sangat dangkal, mereka menjadi kerumunan karena tertarik dengan pemimpin karismatik seperti Yesus, namun saat kebutuhan mereka terpenuhi atau sang pemimpin tidak lagi memuaskan, kerumunan pun akan secara alami membubarkan diri.

Khotbah di Bukit dimaksudkan bukan untuk kerumunan, tapi untuk sekelompok kecil orang yang akan duduk di sekitar Yesus dan mendengarkan Dia dengan penuh perhatian. Ini adalah para murid. Memang, hubungan guru-murid adalah salah satu yang paling mendasar bagi kita, umat Kristiani. Jika kita mencari Yesus hanya untuk kepuasaan emosional dan keuntungan ekonomis, kita hanya bagian dari kerumunan. Dan ini bukan panggilan kita. Yesus memanggil kita ke dalam hubungan yang lebih berakar dan dewasa dengan-Nya. Dia ingin kita menjadi murid-Nya, untuk mendengarkan-Nya dan mengikuti-Nya.

Kita semua adalah para murid Kristus, dan kita diundang untuk memiliki kerendahan hati dan telinga yang mendengarkan. Yesus dan Gereja-Nya bukan taman hiburan global. Kita datang kepada Yesus bukan sebagai orang mencari kebahagiaan instan. Jika tidak, kita memperlakukan Yesus sebagai narkoba belaka, dan kita adalah pecandu! Kita berdoa agar kita terus mendengarkan Dia bahkan di saat kita tidak merasa menyenangkan. Kita berdoa agar kita melampaui mentalitas kerumunan dan menjadi benar murid-murid Yesus.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus and His Family

Jesus and His Family

10th Sunday in Ordinary Time

June 10, 2018

Mark 3:20-35

 

“For whoever does the will of God is my brother and sister and mother (Mrk 3:35).”

 

In ancient Israel as well as in many Asian and African cultures, family and kinship are core to one’s identity. The family is practically everything. A person is born, growing, getting old and dying within a family and clan. In traditional Filipino and Indonesian settings, a house is meant for an extended and expanded family. Several generations are living in one house. When I ask some of my Filipino friends, “If your house is burning, what are the first things you will save?” Their answer is not money, important documents or jewelry, but family pictures! In 1977, the Tanzanian President Julius Nyerere, one of the most prominent African figures during that time, visited the US and talked before the African students who studied there. Before them, he criticized those Africans who received much support from their families and clan, yet refused to go back after their studies. It was an act of cowardice and betrayal to Africa.

However, closely reading today’s Gospel from Mark, a good family-oriented and devoted Catholic will be startled. Naturally, we would expect Jesus to welcome Mary, his mother, and his relatives who come and look for Him. Surprisingly, Jesus does not do what is expected, but rather He takes that occasion to show His new family, “looking around at those seated in the circle he said, ‘Here are my mother and my brothers. For whoever does the will of God is my brother and sister and mother.’” (Mk. 3:34-35) Jesus’ words seem to be harsh since Jesus appears to exclude Mary and Jesus’ relatives from the composition of His new family. Does it mean Jesus disrespect Mary, His parent? Does it mean that for Jesus, the biological and traditional family have no value?

The answer is plain no. Certainly, Jesus respects and loves His mother as He fulfills the fourth commandment of the Law, “Thou shall honor thy parents.” Jesus also upholds and teaches the sanctity of both marriage and family life (see Mat 5:31-32; Mat 19:19). The early Christians also follow Jesus’ teaching on the integrity of marriage and family life, as reflected in various letters of St. Paul and other apostles (see 1 Cor 7:1-17; Eph 6:1-5). We are sure that for Jesus, marriage and family are good, but the point of our Gospel is Jesus is calling all of us to go beyond this natural relationship. The new family of Jesus is not based on blood but rooted in following Jesus and doing the will of God. This is also the call that Jesus addresses to Mary and His relatives. Surely, Mary becomes the model of faith as she obeys the will of God in the Annunciation (Lk 2:26-38), follows Jesus even to the cross (Jn 19:25-26) and stays and prays together with the early Church (Acts 1:14). St. Augustine says about Mary in his homily, “It means more for her, an altogether greater blessing, to have been Christ’s disciple than to have been Christ’s mother.”

The family as a natural institution is good, but Jesus teaches that we need to be the good disciples of Jesus first before we become a good family member. Otherwise, the family will be exposed to evil and destruction. Corruption, nepotism, and cronyism are evil practices rooted in the natural family. Another extreme is when brothers fight, even kill, each other over inheritance as if they are not coming from the same womb. It is the will of God that we are faithful to one another, that we do justice, that we are merciful especially to the weak and poor. Without Christian values, the family will not become the source of goodness. Echoing the words of St. Augustine, it is a blessing to be part of a family, but it is an altogether a greater blessing to become Christ’s disciple.

 

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photo by Harry Setianto, SJ

MENYIMPAN SEGALA PERKARA DALAM HATI

MENYIMPAN SEGALA PERKARA DALAM HATI

Sabtu, 9 Juni 2018

[Yes. 61:9-11; Luk. 21: 41-51]

PW. Hati Tersuci SP Maria

MENYIMPAN SEGALA PERKARA DALAM HATI

Kisah paling ‘legend’ dalam hidup saya, yang pasti akan diceritakan oleh ibu saya kepada siapa pun yang datang ke rumah adalah kisah ketika saya mesti masuk ke rumah sakit dua kali dalam seminggu. Penyebabnya, pertama karena pipi saya sebelah kiri tergores silet cukur; dan kedua, karena hidung kemasukan biji jeruk nipis. Dalam dua kisah naas itu, saya sendiri merasa heran, karena tak setetes pun air mata saya jatuhkan, tapi semua menjadi wajar kalau mengingat segala kebandelan dan ke-mbeling-an saya sewaktu masih kecil. Itu terjadi ketika saya masih belum masuk sekolah, maka betapa ibu saya khawatir dan was-was, atau mungkin sambil membatin: “Mau jadi apa anak ini nanti?” Waktu itu, saya masih terlalu kecil untuk mengerti tentang itu semua. Namun, sekarang, ketika saya mengingat-ingat kembali peristiwa itu, beserta puluhan kisah kebandelan dan ke-mbeling-an saya sewaktu kecil, mungkin saya merasa berdosa, bahwa di balik sosok seorang ibu yang selalu merasa khawatir dan cemas terhadap segala keadaan tentang hidup saya, ternyata tersimpan kasih Allah yang besar yang dititipkan lewat ibu saya.

Injil hari ini mengangkat kisah Yesus pada umur 12 tahun dalam Bait Allah. Membayangkan apa reaksi saya kalau mengalami apa yang Santo Yusuf dan Bunda Maria alami, saya rasa belum sanggup untuk meresponi keadaan seperti Bunda Maria. Bayangkan saja, 3 hari mencari anak tunggal, pasti cemas, tidak bisa tidur nyenyak, makan tidak enak, badan letih karena perjalanan jauh, dan emosi akan lebih menguasai kita. Setelah akhirnya menemukan si anak, jawaban yang diberikan seperti tidak menghargai usaha anda mencarinya. Wajar rasanya untuk memarahi habis-habisan, mungkin termasuk menghukum. Tapi Injil mencatat bahwa tidaklah mustahil untuk memberi reaksi berbeda. Bunda Maria menyimpan semuanya itu dalam hatinya, yang saya yakin juga ia curahkan melalui doa-doanya. Mari kita kembali pada teladan yang telah diberikan pada kita. Kiranya kita belajar meresponi keadaan seperti yang Tuhan ingini, bukan yang berasal dari emosi sesaat. Kita juga jangan memendam emosi saja, tetapi bawalah semuanya dalam doa kita dan kiranya Tuhan menghibur dan memampukan kita bersikap seperti Bunda Maria sendiri.

HR Hati Yesus yang Mahakudus

HR Hati Yesus yang Mahakudus

Jumat, 8 Juni 2018

[Hos. 11:1-4.8c-9; Ef. 3:8-12.14-19; Yoh. 19:31-37]

HR Hati Yesus yang Mahakudus

Pada awalnya devosi kepada Hati Yesus yang Mahakudus adalah menangkal ajaran sesat Jansenisme, yang disebarkan oleh seorang Pastor bernama Jansen. Dalam kotbahnya, Pastor Jansen selalu mengatakan bahwa manusia itu begitu buruk, lemah, tak berdaya, tak berharga, tidak dapat melakukan sesuatu yang baik dari dirinya sendiri. Dalam ajaran iman, perasaan tidak layak perlu dibarengi dengan harapan akan belaskasih dan cinta Tuhan. Maka, sebagai reaksi atas paham Pastor Jansen ini, devosi Hati Yesus yang Mahakudus ini diserukan, dengan pasan bahwa setiap manusia memang tidak layak, namun Kristus yang wafat untuk kita, adalah Kristus yang wafat di saat kita masih berdosa, dan karena itulah kita diselamatkan. Kita pun turut memiliki harapan untuk turut dalam kebangkitan Kristus.

Ada dua jenis manusia jaman sekarang, yang masih sering kita jumpai, yaitu orang-orang yang selalu dipenuhi rasa bersalah, tidak memiliki harapan untuk bertobat, serta selalu jatuh dalam kesalahan yang sama. Jenis satunya adalah orang-orang yang merasa diri paling benar, tidak memiliki cacat dan cela, serta semua yang dilakukan adalah segalanya. Dua-duanya adalah ekstrim yang salah, dan tidak perlu ditiru, karena teladan utama kita adalah Kristus. Bahwa kita memiliki dosa adalah benar, namun tidak berarti itu membawa kita pada ‘lembah yang dalam’, namun justru berusaha terus menerus untuk mencapai hidup yang baik dan suci, serta mengarahkan diri hanya kepada Allah. Bersama Hati Yesus yang Mahakudus, kita mencoba untuk tetap sadar bahwa kita adalah manusia yang tidak layak, lemah dan mudah jatuh dalam pencobaan, tapi selalu ada alasan untuk berharap dan berterima kasih, yaitu karena kita dicintai oleh Allah.

Selamat pagi, selamat menemukan kasih Allah lewat Hati Yesus yang Mahakudus. GBU.

MENCINTAI ALLAH DAN SESAMA

MENCINTAI ALLAH DAN SESAMA

Kamis, 7 Juni 2018

[2 Tim. 1:1-3.6-12; Mzm. 123:1-2a.2bcd; Mrk. 12:28b-34]

MENCINTAI ALLAH DAN SESAMA

Di paroki-paroki tentu kita mengenal Komisi PSE (Pengembangan Sosial dan Ekonomi), yang mengurusi kesejahteraan umat, terutama bagi umat yang KLMTD. Komisi PSE di keuskupan atau paroki mana pun hendak menampilkan gereja yang ‘berbuat’, sebagai bagian dari gereja yang ‘berdoa’. Berdoa dan berbuat (hal yang baik), adalah sesuatu yang tidak boleh dipisahkan dalam kehidupan beriman. Kalau kita bisa setiap hari berdoa, hafal Kitab Suci, berdevosi setiap hari, tapi tetap berbuat jahat, maka hidup beriman kita belumlah sesuai dengan kehendak Allah sendiri. Maka, hendaklah kita juga ambil bagian dalam tugas gereja yang ‘berbuat’ ini, dengan terus melakukan hal-hal yang baik, dalam tugas dan pelayanan di gereja dan masyarakat. Hidup beriman yang baik, hendak mengejawantahkan hukum Allah yang terutama, yaitu hukum kasih.

Sabda Tuhan hari ini hendak mengingatkan kepada kita bahwa kasih kepada Allah, perlu diwujudkan pula dengan kasih kepada sesama. Yesus bersabda: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Kasihilah sesamamu manusia seperti diriu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini.” Kasih kepada Allah adalah prioritas kehidupan kita, namun kasih itu perlu diwujudkan bukan hanya dalam doa, namun dalam tindakan nyata, yang baik dan berguna bagi sesama. Sabda Tuhan hari ini, terasa begitu sering didengar dan begitu mudah diucap, namun justru paling sulit dilakukan. Semoga, Tuhan sendiri yang menggenapi dan menyempurnakan semua usaha kita.

Selamat pagi, selamat mencintai Allah dan sesama. GBU

Translate »