Browsed by
Month: September 2018

JUMAT PEKAN XXII 2018

JUMAT PEKAN XXII 2018

JUMAT PEKAN XXII 2018

1 Korintus 4:1-5; Lukas 5:33-39

Usaha kaum Farisi untuk menjebak atau menjatuhkan Yesus nampaknya tidak kunjung selesai. Dalam Injil yang kita dengarkan hari ini, kaum Farisi kembali memperdebatkan perihal puasa. Kaum Farisi sangat menekankan aspek lahiriah dari puasa, sebaliknya Yesus lebih menekankan hakikat atau makna terdalam dari tindakan berpuasa. Orang Farisi tersebut terlalu menekankan puasa sebagai praktik agama untuk mendapatkan predikat “saleh”. Mereka melihat puasa sebagai kunci untuk mendapatkan kehormatan. Menurut Yesus, pemahaman orang Farisi ini telah melenceng dari makna pokok dari tindakan puasa sehingga mereka mendapatkan kritikan dari Yesus.

Dalam konteks gerakan Yesus, puasa dimaknai sebagai inisiatif manusia untuk membuka hati terhadap kehadiran Sang Ilahi agar berkarya lebih leluasa. Prinsipnya, kalau Sang Ilahi sudah hadir dan berkarya di tengah manusia, maka sebenarnya manusia tidak perlu lagi untuk berpuasa. Melalui pribadi Yesus, dan juga kata-kata serta perbuatannya, jelas sekali bahwa Allah sedang berkarya di tengah-tengah manusia. Tuhan Yesus berkata, “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka?”. Dalam diri Yesus, gerakan Allah itu terjadi. Dia itulah mempelai yang kehadirannya membahagiakan sehingga tidak perlu lagi berpuasa.

Kita semua diajak, agar dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak terlalu menekankan segi lahiriah sehingga justru melupakan hal-hal yang rohaniah. Semoga kita dimampukan untuk membuka hati selebar-lebarnya terhadap kehadiran Allah dalam hidup kita sehari-hari sehingga kita mendapatkan peneguhan dan penghiburan dalam segala situasi hidup kita. Tuhan senantiasa mendampingi kita!

KAMIS PEKAN BIASA XXII 2018

KAMIS PEKAN BIASA XXII 2018

KAMIS PEKAN BIASA XXII 2018

1 Korintus 3:18-23; Lukas 5:1-11

Dalam bacaan injil hari ini, kita mendengarkan acara Yesus yang mulai memanggil para muridNya yang pertama. Para murid tersebut dipanggil dengan cara mereka yaitu sebagai seorang nelayan. Yesus mendatangi mereka, mendengarkan dan mengenal mereka sebagaimana adanya yaitu sebagai seorang nelayan. Namun demikian, ada satu kejanggalan yang muncul dalam perikope yang kita dengarkan tadi. Apa itu?? “Duc in Altum….. Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan” kata Yesus. Mengapa aneh? Kita tahu bahwa Petrus dan saudara serta teman-temannya tersebut berprofesi sebagai nelayan. Mereka bukanlah nelayan kacangan atau amatiran yang baru saja menggeluti profesinya. Sebaliknya, mereka sungguh-sungguh nelayan professional yang telah sejak kecil (barangkali) belajar dan bekerja menjadi nelayan ditempat itu. Maka saya sangat yakin bahwa para calon murid Yesus tersebut sangat mengenal seluk beluk danau Genesareth. Mulai dari musim, angin, jenis ikan, kedalaman danau, daerah-daerah yang banyak ikannya, kapan waktu / musim panen ikan dst. Mereka sangat paham karena setiap hari danau itu telah menjadi bagian dari hidupnya. Oleh karena itu, kita dapat memahami apabila Petrus “protes” kepada Yesus yang menyuruhnya bertolak ke tempat yang lebih dalam dan menebarkan jalanya. “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menemukan apa-apa” ay 5. Petrus tahu betul kapan waktu yang tepat untuk menangkap ikan sama seperti pedagang di pasar yang tahu betul jam berapa pembeli berdatangan dan pergi, ataupun petani yang tahu kapan waktu yang tepat untuk menanam. Namun, disinilah kelebihan Petrus, “…..Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga”. Petrus taat pada perintah Yesus, meskipun hal itu menurut Petrus tidak masuk logikanya.

Seperti Petrus yang putus asa karena tidak mendapatkan tangkapan yang diinginkannya, dalam perjuangan hidup kita pun, kita seringkali putus asa oleh kesulitan-kesulitan dan kegagalan-kegagalan yang menyertai perjuangan hidup kita. “Aku sudah belajar dan berdoa dengan sungguh-sungguh, namun mengapa kok ya tidak juga lulus. Atau aku sudah bekerja keras dan berusaha setia kepada pasanganku, namun mengapa kok perkawinanku tetap saja mengalami kegoncangan dst…”. Situasi-situasi seperti ini seringkali membuat kita putus asa dan tak tahu lagi apa yang harus diperbuat. Kita percaya, bahwa Tuhan tidak

membiarkan kita berjuang seorang diri dalam hidup kita ini. Ia senantiasa mengutus penolong untuk membantu kita, entah itu melalui sesama kita, sahabat, anak-anak, komunitas, pasangan kita dst. Dengan berbagai cara, mereka seringkali dipakai Allah untuk membantu kita dalam menghadapi kesulitan-kesulitan hidup kita. Namun sayang, kesombongan kita seringkali menutup rencana Allah itu. “Ah, kamu tahu apa tentang diriku! Ah, kamu anak kemarin sore saja memberitahu orang tua! Atau …halah… kamu itu romo baru kemarin sore dan tidak pernah menikah aja kok memberitahu masalah-masalah perkawinan kepada kami yang telah puluhan tahun menjalaninya. Romo tahu apa sih?”

Seringkali rencana dan cara Tuhan untuk menyapa kita itu susah dimengerti akal sehat kita. Pengalaman-pengalaman sepele seringkali dipakai Tuhan untuk mendidik kita semakin beriman dan membantu kita menghadapi perjuangan hidup ini. Oleh karena itu, hari ini kita diajak untuk rendah hati dan menghargai setiap pengalaman hidup kita dalam kerangka rencana Tuhan yang selalu membawa kebaikan bagi hidup kita.

RABU PEKAN BIASA XXII 2018

RABU PEKAN BIASA XXII 2018

RABU PEKAN BIASA XXII 2018

1 Korintus 3:1-9; Lukas 4:38-44

Kota Korintus adalah kota pelabuhan layaknya kota Semarang, Surabaya, Makassar dan Jakarta. Salah satu dari sekian banyak ciri khas kota pelabuhan adalah, soal intensitas pertemuan warganya dengan orang luar yang cukup tinggi. Perbedaan budaya, bahasa, karakter dan selera dari para pendatang, sedikit banyak berpengaruh terhadap mental dan kepribadian penduduk Korintus.

Sebagai kota pelabuhan, Korintus sering menjadi tempat singgah para pewarta sabda Allah antara lain Apolos dan Paulus. Entah karena sekedar singgah atau mempunyai tujuan kunjungan ke komunitas Korintus, para pewarta sabda tersebut mencoba mengabarkan Injil Yesus Kristus di kota ini. Karakter dan cara masing-masing pewarta sabda yang berbeda-beda itu memunculkan perasaan suka dan tidak suka. Hal ini kemudian memicu timbulnya kelompok-kelompok yang pro pewarta sabda tertentu dan berlawanan dengan pewarta sabda yang lain. Situasi ini memunculkan keprihatinan yang amat mendalam pada diri Paulus. Paulus takut apabila jemaat di Korintus yang nota bene beriman kepada Tuhan Yesus yang sama, harus terpecah-pecah kerena fanatisme terhadap para pewarta sabda. Paulus meyakinkan jemaat Korintus bahwa: “Aku yang menanam, Apolos yang menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama, yaitu pelayan Tuhan kita Yesus Kristus”.

Komunitas Gereja Katolik pun kurang lebih menghadapi situasi yang sama dengan Jemaat di Korintus. Paroki kita, tidak luput dari yang namanya pergantian pewarta sabda / gembala / imam. Secara berkala, para imam yang melayani paroki kita pasti dirotasi. Masing-masing pelayan tersebut membawa karakter pelayanan dan kepribadian masing-masing yang pasti disukai dan tidak disukai oleh umat. Hal ini seringkali memunculkan kelompok-kelompok yang nge-fans sama romo yang satu dan tidak suka dengan romo yang lain. Like or dislike sebagai manusia itu wajar. Namun menjadi tidak sehat apabila hal itu berlanjut pada fanatisme sempit yang dapat menimbulkan perpecahan dalam tubuh Gereja kita. Amat sangat disayangkan apabila komunitas Gereja kita terpecah belah hanya gara-gara kecenderungan suka dan tidak suka ini.

Hari ini St. Paulus mengingatkan kita bahwa meskipun masing-masing pewarta sabda itu berbeda-beda, namun sebenarnya mereka tetaplah satu di dalam

Kristus. Kita diajak untuk menanggalkan perasaan suka dan tidak suka yang dapat merusak keutuhan komunitas kita, sebab kesatuan dan keutuhan komunitas kita jauh lebih penting dari yang lainnya. Semoga roh pemersatu membantu kita untuk menciptakan kesatuan dan kerukunan dikomunitas kita sehingga pewartaan sabda Allah pun menjadi semakin efektif membangun hidup beriman kita.

SELASA PEKAN BIASA XXII 2018

SELASA PEKAN BIASA XXII 2018

SELASA PEKAN BIASA XXII 2018

1 Korintus 2:10b-16; Lukas 4:31-37

Santo Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Korintus hari ini, berkata kepada kita bahwa sebenarnya kita sebagai manusia itu tidak mampu menangkap dan memahami kehendak Allah. Hanya karena rahmat Allah sajalah yang memampukan kita mengenal dan memahami kehendakNya. Allah mengutus RohNya dan mengubah kita dari manusia jasmani menjadi manusia rohani sehingga kita diberi kesempatan untuk dekat denganNya. Namun sayang, kita sendiri seringkali kurang mampu menyambut ajakan dan rahmat Allah tersebut. Kita masih sering terbelenggu oleh kemanusiaan kita, oleh kebutuhan-kebutuhan hidup jasmani kita yang tak pernah terpuaskan. Kita mudah dikuasai oleh manusia jasmani kita daripada manusia rohani kita. Karenanya, seringkali kita menjadi orang yang kurang berbelaskasih kepada sesama kita dan menjadi susah menangkap kehendak Tuhan dalam hidup kita.

Hari ini kita diajak untuk kembali ke semangat awal yaitu bekerjasama dengan Roh Allah yang telah ditanam dalam diri kita masing-masing. Kita diajak untuk menjadi manusia rohani, yaitu menempatkan Roh Kudus Allah sebagai pusat hidup kita. Dengan demikian, kita dimampukan untuk melihat hidup dan pengalaman kita dari kacamata Roh Allah. Maksudnya, dengan bantuan Allah, kita dimampukan untuk melihat dan memaknai hidup kita dalam terang Allah. Harapannya, kita dapat menyelaraskan rencana dan hidup kita dengan rencana dan hidup Allah sendiri, sehingga kita menjadi manusia rohani yang penuh belas kasih kepada sesama kita.

SENIN PEKAN BIASA XXII Th II

SENIN PEKAN BIASA XXII Th II

SENIN PEKAN BIASA XXII Th II

1 Korintus 2:1-5; Lukas 4:16-30

Pada suatu ketika, saya bersama teman saya pergi menghadiri suatu seminar. Pada sesi pertama, semua peserta sangat antusias. Tetapi giliran pembicara kedua akan naik panggung, hampir separo pendengar pulang meninggalkan seminar itu. Ketika saya tanyakan sebabnya, sebagian orang yang pulang itu menjawab: “Ah…kalau bapak itu yang ngomong pasti membosankan dan yang diomongkan paling hanya itu-itu aja…!”.

Hari ini kita mendengarkan pengalaman Yesus yang ditolak oleh orang-orang sekampungnya. Mereka bukanlah orang-orang yang tidak mendengar tentang peristiwa-peristiwa ajaib yang telah dibuat Yesus di kota-kota lain. Meraka paham betul bahwa Yesus adalah tokoh terkenal yang dielu-elukan banyak orang. Namun mengapa orang-orang sekampung Yesus menolakNya? Tidak lain dan tidak bukan karena orang-orang itu mengenal Yesus sejak kecil dan seluruh keluargaNya. Mereka tidak percaya bahwa Yesus mampu berbuat seperti yang diceritakan banyak orang. Yesus itu khan orangnya begini dan begitu, anaknya Yusuf yang hanya tukang kayu, masih saudara dengan ini dan itu, dst….dst….. Gambaran akan latar belakang Yesus yang telah mereka kenal sejak kecil itu memunculkan cap tersendiri dan tidak dapat diubah lagi. Kalau kecilnya dulu begini, setelah besar paling-paling ya…..seperti itu saja!!!

Kita seringkali juga mudah membuat stereotip atau cap-cap tertentu kepada orang lain. Tindakan penghakiman kita ini dapat membuat orang tersebut menjadi “lumpuh”. Kita tahu bahwa menusia itu adalah makhluk yang dinamis yang dapat berubah setiap waktu karena mampu belajar dari pengalamannya. Saat ini kualitas diri saya seperti A, barangkali1 atau 2 jam berikutnya saya dapat berubah karena perjumpaan atau pun pengalaman baru yang saya alami. Oleh karena itu, hari ini

kita diajak oleh Tuhan Yesus untuk berfikir positif. Percayalah bahwa anak-anak kita, teman-teman kita, saudara/i sekomunitas kita, orangtua kita itu selalu sedang berubah bersama dengan waktu yang selalu berubah. Marilah kita belajar berfikir positif sehingga dapat memberi ruang kepada mereka untuk berkembang menjadi pribadi-pribadi yang semakin baik.

Translate »