Browsed by
Month: November 2018

Menghadirkan Kerajaan Allah (Allah meraja) dalam hidup kita sehari-hari

Menghadirkan Kerajaan Allah (Allah meraja) dalam hidup kita sehari-hari

Kamis, 15 November 2018

 

Menghadirkan Kerajaan Allah (Allah meraja) dalam hidup kita sehari-hari

Luk 17:20-25

 

Tak jarang kita tergoda untuk mengetahui mengenai masa depan hidup kita dan melakukan segala cara untuk memperoleh suatu kepastian di masa yang akan datang. Hal itulah yang dikisahkan dalam bacaan Injil. Orang farisi bertanya kepada Yesus kapan dan bagaimana akhir jaman itu terjadi. Apakah ditandai dengan penghakiman terakhir? Yesus menjawab bahwa akhir jaman itu tidak bisa diprediksikan sebelumnya.. Pertanyaan orang farisi ini sebelumnya ingin mencobai Yesus karena mereka tidak dapat menerimaNya sebagai Mesias. Orang farisi semakin dikejutkan karena Yesus mengatakan bahwa Kerajaan Allah hadir di tengah-tengah kita. Ini menunjukkan bahwa Yesus mengundang setiap dari kita untuk menghadirkan kedamaian, sukacita, keadilan dan harapan di tengah-tengah situasi jaman sekarang.

Hari penghakiman terakhir dipahami oleh Kitab Perjanjian Lama sebagai waktu atau saat ketika Allah hendak menyatakan kemuliaanNya dan kekuatanNya dan mampu mengalahkan para musuh bangsa Israel. Ketika orang farisi bertanya kepada Yesus apa yang menandakan kedatangan Hari Tuhan. Tanda itu adalah Yesus Kristus sendiri. Harapan hidup kita tidak berhenti di dunia ini. Harapan itu tidak diletakkan dalam segala sesuatu yang kita miliki di dunia ini, tetapi harapan itu didasarkan pada iman kepada Allah. Kekuatan Ilahinya mengalahkan kekuatan dosa. Yesus mengetahui bahwa jalan menuju kemenangan hanya melalui Salib. Di atas kayu salib, Yesus mengalahkan kematian dan membebaskan kita dari dosa. Pertanyaan refleksi kita Apakah kita meletakkan harapan-harapan hidup kita hanya pada kekuatan Allah saja?

“Tuhan Yesus Kristus, semoga Allah sungguh meraja di hati kami dan semoga kehendakMu sungguh terjadi dalam hidup kami. Buatlah hidup kami lepas bebas untuk mengikutiMu. Buatlah kami hidup seturut kehendakMu”

Berterima kasih

Berterima kasih

Rabu, 14 November 2018

 

Berterima kasih

Luke 17:11-19

 

Sejak usia dini, para orang tua sudah mengajarkan pentingnya mengucapkan terima kasih kepada setiap orang yangmemberikan sesuatu kepada kita. Kata “terima kasih” merupakan salah satu bentuk keutamaan yang diajarkan dan dipraktekkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Paus Fransiskus ketika berbicara mengenai tema “keluarga”, ia mengingatkan  umat kristiani untuk membiasakan diri mengekspresikan dalam kata-kata dan tindakan, yaitu : terima kasih, maaf dan minta tolong. Hal tersebut dimulai dari lingkunp keluarga-keluarga kristiani.

Dalam Injil hari ini, Yesus berjalan  menuju Yerusalem dan melewati Samaria. Di tengah perjalanan, Ia berjumpa sepuluh orang kusta yang memohon belaskasihan. Pada jaman itu, orang kusta dikucilkan oleh masyarakat, mereka dipinggirkan dan dijauhi oleh banyak orang karena penyakit kusta dianggap sebagai penyakit kutukan. Salah satu dari sepuluh orang kusta yang disembuhkan adalah orang Samaria yang dianggap sebagai sekelompok orang yang tidak termasuk himpunan bangsa terpilih. Mereka bersepuluh tidak memohon kesembuhan tetapi belaskasihan. “Yesus, kasihanilah kami” demikianlah mereka berseru.  Yesus pun menyembuhkan mereka, namun yang kembali mengucap syukur dan berterima kasih adalah orang Samaria. Yesus bukan hanya simpati, empati tetapi berbelaskasih, melakukan sesuatu demi kebaikan orang yang membutuhkan. Berbelas kasih biasanya disertai dengan suatu pengosongan diri dan pengorbanan diri. Belaskasih mendorongNya untuk membebaskan orang dari cengkeraman dosa.

Ada dua hal yang dapat kita renungkan dalam bacaan Injil hari ini. Pertama, kita pun seperti kesepuluh orang kusta yang memohonkan rahmat belaskasihan bukan hanya sekedar kesembuhan. Kita pun membutuhkan rahmat kesembuhan bagi pikiran, hati dan tubuh kita. Sepuluh orang kusta itu sebetulnya juga menyadari pentingnya kesembuhan, namun mereka mengharapkan kesembuhan bukan hanya secara fisik tetapi juga disembuhkan secara rohani. Yesus pun memberikan kesembuhan jasmani dan rohani. Kita pun diundang untuk memohon kepada Allah pertama-tama belas kasih dan pengampunan, bukan hanya sekedar kesembuhan fisik. Kedua, kita diajak untuk bersikap seperti orang Samaria yang mengalami kesembuhan, yaitu kembali kepada Yesus untuk mengucap syukur dan berterima kasih. Sikap tidak tahu berterima kasih dapat menjadikan diri kita pribadi yang intoleran terhadap orang lain dan kurang bermurah hati terhadap orang lain. Dari sana akan muncul sikap sombong, sulit untuk bersyukur, dan menerima diri sendiri apa adanya. Sudahkah kita menjadi pribadi-pribadi yang berterima kasih dan bersyukur?

 

“Yesus yang berbelaskasih, semoga kami tidak pernah gagal untuk mengenal kebaikan dan belas kasihMu. Penuhilah hati kami dengan semangat berbelas kasih dan ucapan syukur dan bebaskanlah kami dari sikap tidak tahu berterima kasih dan kesombongan. Bantulah kami untuk menghitung-hitung berkatMu dan mampu bersyukur dalam segala situasi”

Tanggung jawab

Tanggung jawab

Selasa, 13 November 2018

Tanggung jawab

Luke 17:7-10

Setiap dari kita pastilah mempunyai tanggungjawab yang diserahkan kepada kita. Misalnya tanggung jawab sebagai seorang ayah, seorang ibu, seorang anak, seorang imam, seorang professional dan juga tanggung jawab dalam hidup bersama di tengah-tengah masyarakat. Bagi orang kristiani, tanggungjawab itu adalah suatu misi pelayanan. Injil hari ini mengundang kita untuk melihat kembali bagaimana kita mengemban tugas tanggung jawab dan pelayanan. Bagaimana kesiapsedian kita untuk melayani dan memberikan diri secara lebih baik dalam kehidupan sehari-hari? Seorang hamba melakukan pertama-tama segala sesuatu yang memang seharusnya ia lakukan dan kedua melakukannya dengan totalitas, dengan penuh kegembiraan.

Kita diundang untuk melayani Allah dan sesama kita dengan murah hati. Yesus menggunakan perumpaan seorang hamba yang setia, untuk menjelaskan bahwa kita melakukan sesuatu bukan karena kewajiban semata tetapi karena Allah memberikan teladan bagi kita untuk melayani bukan untuk dilayani (Mat 20:28). Melayani Allah dan juga melayani sesama adalah suatu kehendak bebas dan penuh kemurahan hati. Suatu persembahan hidup kepada Allah adalah persembahan yang disertai kehendak bebas dan suatu pemberian diri yang total. Cinta yang sejati adalah suatu persembahan, suatu kemurahan hati dan seorang pribadi yang tidak mementingkan diri sendiri.

Cinta Allah yang begitu besar mendorong kita untuk memberikan yang terbaik kepada Allah dan orang lain. Bagaimana kita dapat mencintai Allah dan sesama tanpa syarat? Kitab Suci meneguhkan kita bahwa Allah adalah kasih (1Yoh 4:16), Dia adalah sumber kehidupan dan sumber cinta. Dia menciptakan kita dengan penuh cinta. Memberikan yang terbaik kepada sesama kita (Rm 5:5). Jika kita mencintai satu sama lain, Allah tinggal diantara kita dan cintaNya disempurnakan di dalam diri kita (1 Yoh 4:12). Allah mencintai kita tanpa syarat dan tanpa batas. Apakah kasih Allah yang demikian juga mendorong kita untuk memberikan apa yang terbaik bagiNya dan bagi sesama kita ?

“Tuhan Yesus, penuhilah hati kami dengan cinta, ucapan syukur dan kemurahan hati. Buatlah kami menjadi seorang hamba yang setia. Semoga kami mampu bermurah hati dalam melayaniMu dan sesama”

Kekuatan iman

Kekuatan iman

Senin, 12 November 2018

Kekuatan iman

Luke 17:1-6

Apa yang menjadi kekuatan hidup kita? Jawabannya adalah iman yang diuji dalam segala godaan dan kesulitan. Untuk itulah dalam bacaan Injil hari ini Yesus mengundang kita untuk tetap bertahan dalam iman khususnya ketika menghadapi tantangan dan kesulitan. Yesus meminta kita untuk tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Bagi orang Yahudi, suatu dosa yang tidak dapat diampuni apabila mengajarkan orang untuk berbuat dosa. Dengan demikian bisa terjadi bahwa dosa tersebut berkembang biak. Yesus mengingatkan para murid untuk tidak menghalangi orang lain untuk berkembang dalam keutamaan.

Tidak ada alasan bagi kita untuk takut menghadapi godaan dan tantangan karena kekuatan iman mampu mengatasi godaan dan dosa tersebut. Apa artinya bahwa iman sebesar biji sesawi mampu memindahkan gunung (Mat 17:22)? Istilah memindahkan gunung digunakan untuk menggambarkan seseorang yang dapat mengatasi dan menghadapi masalah dan kesulitan. Roh Kudus juga membantu kita untuk bertumbuh dalam iman dan menimba kekuatan dari Allah. Bukankah seringkali kita menghadapi tantangan dan kesulitan yang kelihatannya melebihi kekuatan kita? Apa yang kelihatannya tidak mungkin bagi manusia, tetapi mungkin bagi mereka yang percaya kepada Allah. Rasul Paulus mengatakan: “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya” (1 Kor 10:13). Allah memberikan kepada kita Roh Kudus yang menolong kita untuk bertumbuh dalam iman, teguh dalam pengharapan dan setia dalam mencintai. Iman adalah kunci yang membuka kekuatan Allah dalam hidup kita. Iman kepadaNya adalah kunci untuk menyingkirkan halangan dan kesulitan dalam melakukan kehendak Allah.

“Tuhan Yesus, Engkau memberi kami kemenangan atas kekuatan dosa yang menghancurkan, jagalah kami untuk melakukan kehendakMu. Berikanlah kami kekuatan untuk selalu memilih apa yang baik dan menolak apa yang tidak baik. Semoga cintaMu dan kebenaranMu menuntun hati kami dan kami pun mampu memberikan teladan yang baik satu dengan yang lain”

The Scribes

The Scribes

32nd Sunday in Ordinary Time

November 11, 2018

Mark 12: 38-44

 

[the Scribes] devour the houses of widows and, as a pretext, recite lengthy prayers. They will receive a very severe condemnation. (Mk. 12:40)

 

In Jesus’ time, the scribes are the well-educated Jewish men who are expert in the Law of Moses. Some of them come from the wealthy families, and others hail from the priestly clan. Being able to teach and interpret the Law, they receive the respect and honor from the ancient Jewish society. Thus, ordinary Jews will greet them and prepare them the seats of honor in the synagogues and the banquets. Surely, there is no problem with receiving greetings and sitting as honor guests. Jesus Himself is often greeted as “Teacher” or “Rabbi”, and He attends the banquets as guest of honor (see Mar 14:3). The problem comes when some of the scribes possesses “narcissistic desire” and intentionally look for these privileges.

However, not only Jesus criticizes them for this narcissistic attitude, He gravely condemns also their acts of injustice, particularly “devouring the houses of widows.” In Jesus’ time, widows (Hebrew “almanah”) is considered to be one of the poorest and weakest. They are women who do not only lose their husband, but also fall into deeper poverty because they no longer have anybody to support them. They are lucky if their family and relatives take care of them, but in difficult times, they are left to their own. The Law of Moses provides that the widows, together with the orphans and strangers should be protected (see Deu 10:18).

Since the scribes are the respected and wealthy members of the society, it is a logical choice to entrust the care of Jewish widows to them. Unfortunately, instead helping and defending the widows, some of the scribes oppress and steal from the little the widows have. To steal is evil, but to rob the poor people who place their trust in us is far greater evil. Yet, it is not yet worst. After perfectly hiding their acts of injustice, some of the scribes continue going to the Temple and reciting lengthy prayer, as if there is nothing happens. This is hypocrisy, a double-life attitude at its finest!

As my ordination day to the diaconate is drawing closer, some of my brothers in the community and friends began to call me with title of honor like “reverend” or simply, “rev”. Admittedly, I am not comfortable with it. I wish that the people remain calling me brother. However, it has become the common practice in the Catholic Church to honor her ordained ministers. It is my prayer and my sincere wish I will not be like some of the Scribes who become “narcissistic” and “covets” the people’s adulation and all the privileges it brings. George Weigel, an American Catholic author, in his recent article, traces the root of Catholic anger against the clergy in the US. He writes that while it is true that many clergymen are good and holy, it is the clerical narcissism that builds anger of the Catholic lay.

Learning from the scribes, the narcissism is the seed. The vice grows into hidden acts of injustice. And from evil of injustice, the men in white garment are turning worse as they live in hypocrisy. It is my earnest hope that we continue praying, supporting and even correcting our brothers who are ordained to become the servants of God and His people. Without God’s grace, the right dose of humility and lay people’ prayer and help, our deacons, priests and bishops may become like the scribes who earn Jesus’ condemnation.

 

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

 

Translate »