Browsed by
Month: February 2019

Behind God’s Calling

Behind God’s Calling

Fifth Sunday of Ordinary Time

February 10, 2019

Luke 5:1-11

 

This Sunday, we listen to the vocation stories of great men in the Bible. From the first reading, we learn how Isaiah was called by God to be His prophet to Judah. In the Temple of Jerusalem, he saw the Lord God surrounded by His seraphim. Isaiah was terrified and said that he had unclean lips. An angel then placed a burning ember on his tongue to remove his wickedness. God, then said, “Whom shall I send?” Isaiah replied with confidence, “Here I am, send me!”

 

In the second reading, St. Paul wrote to the Church in Corinth and reminded them about the Gospel they had received. Paul assured them that he himself was the recipient of this Gospel no less from the risen Christ Himself. Though he used to be the zealous persecutor of Christians, Jesus called him. By the grace of God, Paul toiled day and night for the building up of the Church.

 

From today’s Gospel, we listen to the call of the first disciples: Simon, Andrew, James, and John. Luke the evangelist tells us about seasoned fishermen who failed to catch any fish, but Jesus, a carpenter, tells them to ‘go into the deep’. They hesitate, but they follow nonetheless. Lo and behold, they are able to catch a large amount of fish, to the point of destroying their nets. Eventually, Jesus calls them and makes them as fishers of men, and they follow Jesus.

 

Like Isaiah, Paul and the first Disciples, we are also called by God to follow Him. Some may receive a vocation to the priesthood, some others to religious life, others to build a family, and others may be single yet living a holy life. God also calls us in various ways. Like Isaiah or Paul, some receive extraordinary mystical experiences. But, many of us may be called in the most ordinary and unexpected ways. One day a young man asked whether he has a vocation to the priesthood, especially to the Dominican Order. I said to him, “Well, take the entrance exam first! If you pass you may have the vocation, if not, God may call you somewhere else.”

 

Sometimes, we ask the Lord a deeper question, “Why me Lord?” but often, we no longer bother to find the answer. Yet, it remains a valid question to be answered. Why did He choose Isaiah, Paul, and Peter? Why does Jesus choose you and me? The answer surprisingly is in the Bible.

 

When Moses made his farewell speech before the Israelites who were about to enter the Promised Land, he reminded them the reason why God chose Israel, “It was because the LORD loved you and because of his fidelity to the oath he had sworn to your ancestors (Deu 7:8).” God’s choice for Israel is because of His love and faithfulness. The same love and fidelity are the reason behind our calling. God just simply loves us and He draws us to Himself. It is not because we are good, smart and talented. It is not because we are worthy of the call. Isaiah was a man of unclean lips, Paul was a persecutor of the Church, and Peter had his own agenda. Yet, despite these imperfections, God keeps calling us and giving us what we need. How many times, when we betray Him and run away from His call, He remains patient with us and ready to accept us back. If it is not a love, what is it?

 

We have a God, and this God is love. This is why we are unworthy, yet called; unqualified, yet accepted; unlovable, yet loved.

 

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Bibir dan Ketenangan

Bibir dan Ketenangan

Sabtu 9 Februari 2019

Hari Biasa IV

Bacaan I Ibr 13: 15-17. 20-21

Bacaan Injil Markus 6: 30-34

Bibir dan Ketenangan

Surat Ibrani pada bacaan pertama hari ini merupakan bagian akhir yang isinya mengajak kita untuk memuliakan Allah dengan ucapan bibir yang memuji-Nya. Sebegitu pentingnya bibir untuk memuliakan Allah sehingga patut dijaga dengan baik. Kita semua tahu bahwa Yesus dalam karya-Nya juga membutuhkan bibir dan ucapan untuk membuat mukjizat. Segala tindak mukjizat Yesus selalu diakhiri –atau bahkan diawali- dengan kata-kata Yesus. Melalui itu, Yesus memberi ajaran sehingga banyak orang paham dan mengerti tentang keselamatan, Kerajaan Allah dan damai sejahtera. Ucapan Yesus keluar dari dalam hati-Nya yang bersih, suci dan kudus. Bagaimana Yesus mampu memiliki kekuatan ucapan dan bibir yang sedemikian sempurnanya? Jawabannya ada dalam Injil.

Bacaan Injil menggambarkan kehendak Yesus -yang membawa para murid pasca melakukan tugas perutusan- untuk menepi, menyingkir dari keramaian guna memeroleh ketenangan. Rupa-rupanya, ketenangan adalah pondasi yang dimiliki Yesus untuk dapat menggunakan ucapan-Nya demi kedamaian banyak orang. Yesus senantiasa mencari tempat yang tenang dan sepi untuk berdoa. Di sanalah Yesus menimba kekuatan Allah agar karya-Nya tidak berseberangan dengan rencana keselamatan. Ketenangan dapat membantu manusia untuk mengendapkan segala kegiatan yang telah dilakukan sekaligus memberi kesegaran reflektif. Bahkan, ketenangan membantu kita pula untuk dapat mendengarkan suara Tuhan sehingga kita dapat melakukan tugas perutusan selanjutnnya sesuai kehendak Tuhan.

Kata-kata yang keluar dari bibir kita diproduksi dengan melibatkan segala pikiran dan perasaan. Maka, jika pikiran dan perasaan kita tidak bersih, kata-kata yang keluar juga beraroma tidak bersih, misalnya berisi kebencian, tipu muslihat, kesombongan dan berbagai kedosaan lainnya. Kita harus sadar bahwa pada hakekatnya bibir diberikan Allah kepada kita agar kita mampu memuliakan Allah dan bersyukur atas nikmat-Nya. Mari kita bermenung. Jika dibuat perbandingan, lebih banyak mana porsinya ketika kita menggunakan bibir: apakah lebih banyak memuliakan Allah? Atau, cenderung mencederai sesama, membuat hal-hal provokatif dan bernuansa kejahatan? Kita bisa memulainya dengan melihat perjalanan kita dalam satu hari ini.

Dipanggil menjadi Pejuang Kebenaran

Dipanggil menjadi Pejuang Kebenaran

Jumat, 8 Februari 2019

Hari Biasa IV

Bacaan I Ibr 13: 1-8

Bacaan Injil Markus 6: 14-29

Dipanggil menjadi Pejuang Kebenaran

Yohanes Pembaptis adalah seorang nabi yang berani mewartakan kebenaran pada zamannya. Kendati banyak yang menghadang, tetapi Yohanes Pembaptis tetap berpihak pada kebenaran yang memuat keadilan, pertobatan dan akhirnya keselamatan kekal. Memang, akibat yang diterima Yohanes Pembaptis adalah kematian secara keji. Yohanes Pembaptis telah tiada, tetapi semangat menyuarakan kebenaran masih bergaung di sanubari murid-muridnya sehingga perjuangan Yohanes Pembaptis dilanjutkan para murid demi tegaknya kebenaran.

Pada zaman ini, suara-suara kebenaran masih dibutuhkan. Melawan berita palsu, provokatif dan radikal, kita mesti menggunakan tolok ukur kebenaran sebagai senjatanya. Kita inilah yang harus menyuarakan kebenaran sebab menyuarakan kebenaran adalah sebuah kesaksian kita sebagai murid Kristus. Maka, jika kita acuh, diam dan tidak mau terlibat dalam tindakan membela kebenaran, itu sama saja dengan menyetujui adanya ketidakberesan dalam tata kehidupan. Salah satu kebenaran terwujud dalam ajaran cinta kasih yang mana digambarkan secara jelas dalam bacaan pertama: memberi tumpangan, menghormati, hidup sederhana hingga setia pada Tuhan. Jika kita bisa mewujudkan suasana demikian dalam lingkungan yang kecil, misalnya dalam keluarga masing-masing, maka itu mampu merangsang orang lain untuk meneladani cara hidup kita. Kita menjadi orang yang alergi dengan kekerasan, kejahatan dan peperangan sebab yang kita perjuangkan adalah suasana saling menguntungkan dan damai.

Kebenaran selalu bermuara pada kesejahteraan bersama. Artinya, ada perjuangan untuk melakukan suatu kebaikan demi banyak orang, tanpa membuat rugi satu pihakpun. Hanya kebenaran-lah yang akan menciptakan keindahan. Kendati kehidupan kita beragam, tetapi tetap bisa diarahkan menuju pada keindahan, asalkan kita masih mampu berjuang dengan gigih. Maka, mari dengan sungguh-sungguh kita melihat dunia sekitar dan sekeliling, di bagian manakah kita perlu “masuk” untuk memperjuangkan kebenaran sehingga tercipta kesejahteraan bersama? Percayalah bahwa segala usaha memperjuangkan kebenaran itu adalah salah satu bentuk pengungkapan iman kita akan adanya penyertaan Tuhan.

Bekerjasama dengan Allah

Bekerjasama dengan Allah

Kamis, 7 Februari 2019

Hari Biasa IV

Bacaan I Ibr 12: 18-19. 21-24

Bacaan Injil Markus 6: 7-13

Bekerjasama dengan Allah

Mendalami Injil hari ini tentang perutusan dua belas murid, baru-baru ini saya mendapatkan pengalaman dari frater-frater projo Keuskupan Purwokerto. Mereka baru saja menjalani program peregrinasi, yakni berjalan kaki sejauh 300 km tanpa bekal; mereka harus meminta belas kasih jika hendak makan, minum, istirahat dan tidur. Peregrinasi adalah perjalanan iman yang memuat silih, harapan dan kemurnian panggilan para frater sehingga dari diri mereka tumbuh suatu sikap iman dan percaya sepenuhnya pada Penyelenggaraan Ilahi. Benar saja, pengalaman ditolak adalah kisah yang semakin mendewasakan mereka sekaligus mengokohkan cinta mereka pada Yesus. Mereka tak putus asa jika ditolak, justru terpancing untuk berusaha lebih keras lagi agar bisa makan, minum dan numpang di rumah orang. Berdoa adalah cara mereka untuk dapat bertahan dari segala kekecewaan pasca ditolak.

Penyelenggaraan Ilahi, itulah garis besar yang patut kita renungkan. Tidak secara otomatis Penyelenggaraan Ilahi bernuansa kegembiraan, tetapi terkadang berwujud dalam situasi yang menuntut kita untuk “berkeringat”. Terhadap semua itu, kita diajak untuk tetap fokus pada tujuan semula, yakni percaya pada-Nya. Sebagaimana para murid: jika di suatu tempat diterima atau ditolak, mereka tetap harus berpindah tempat karena tujuan mereka adalah mewartakan kabar gembira di sebanyak mungkin tempat. Maka, yang patut kita miliki adalah sikap mampu mengontrol diri. Dengan mampu mengontrol diri, kita akan melenyapkan segala nafsu duniawi sehingga dengan jernih bisa merasakan kepenuhan Penyelenggaraan Ilahi. Allah bekerja bukan dengan cara kita, melainkan dengan metode Allah sendiri yang tak pernah bisa kita duga. Sekali lagi, satu poin yang harus kita miliki adalah tetap fokus dalam sikap percaya pada-Nya.

Percaya kepada Allah bukanlah pekerjaan yang sia-sia. Di situlah tantangan kita, hendaknya kepercayaan tidak menjadi kesadaran di permukaan, tetapi sungguh bisa kita hidupi secara efektif. Bagaimana dengan kita? Apakah saat kita melakukan tugas perutusan masih mengandalkan kepercayaan pada Allah? Ataukah kita cenderung sibuk dengan kepercayaan pada kemampuan diri kita sendiri tanpa perlu mempersilakan Allah bekerjasama?

Kesaksian dalam Penderitaan

Kesaksian dalam Penderitaan

Rabu, 6 Februari 2019

PW St. Paulus Miki, dkk

Bacaan I Ibr 12: 4-7. 11-15

Bacaan Injil Markus 6: 1-6

Kesaksian dalam Penderitaan

Tidak bisa dipungkiri bahwa Gereja bisa bertumbuh dan berkembang karena salah satunya ada kemartiran. Pembelaan iman yang dilakukan para martir membuat banyak orang takjub sehingga merasa ingin memiliki semangat yang berkobar seperti para martir. Kesaksian iman macam inilah yang dihidupi St. Paulus Miki, dkk sebagai pengikut Kristus. Iman menemukan kesempurnaannya dalam keberanian diri untuk bersaksi, bahkan menuntut pengorbanan dan kemartiran. Mereka telah mengorbankan jiwa-raga demi mempertahankan cinta yang utuh bagi Kristus. Kalau kita, kira-kira apa yang telah kita korbankan dan persembahkan sebagai tanda cinta bagi Kristus?

Bacaan pertama hari ini mengajak kita untuk menyadari bahwa kehidupan tak selamanya tentang kenyamanan. Orang yang dikasihi Tuhan perlu “dihajar” oleh-Nya. Rasa hajaran itu memang tidak enak, malahan pasti mendatangkan dukacita. Tak bisa secara manusiawi kita menemukan kenikmatan ketika sedang dihajar. Yang biasanya terjadi justru kita terdorong untuk membalas, menghindar dan sebisa mungkin menjauhi. Namun, Tuhan mempunyai cara lain, yakni menuntut kesetiaan kita melalui berbagai hajaran hidup. Kalau kita berhasil melewati masa-masa hajaran, itu karena diri kita dipasok kekuatan yang dahsyat dari Tuhan. Maka, baik bagi kita untuk merenungkan -sebagaimana para martir- yaitu ketika menerima hajaran, kita memohon kepada Tuhan untuk diberi kekuatan menanggungnya. Tidak ada cara lain yang bisa menghindarkan kita dari hajaran Tuhan, sebab yang Tuhan kehendaki adalah perkembangan hidup kita. Pada saatnya, hajaran-hajaran itu akan menghasilkan buah kebenaran dan mendatangkan sukacita lantaran kita telah mempunyai kekuatan.

Tidak ada kemudahan dalam hidup. Namun, kita memiliki kekuatan untuk membuat segala sesuatunya mudah dan bisa dicapai. Jika kita bisa memaknai segala macam hajaran Tuhan dan penderitaan hidup, maka di situlah peluang kita untuk memberi kesaksian tentang kesetiaan, keteguhan dan kekuatan Tuhan. Artinya, orang lain akan mempelajari cara hidup kita yang membuat kita tetap mampu bertahan hidup. Dan, itulah saatnya kita mewartakan bahwa satu-satunya pegangan yang memberi kekuatan adalah iman akan Yesus Kristus. Dengan demikian, pewartaan bisa terjadi melalui hidup kita masing-masing kepada semakin banyak orang.

Translate »