Browsed by
Month: February 2019

Tetap Dekat dengan Yesus

Tetap Dekat dengan Yesus

Selasa, 5 Februari 2019

PW Santa Agata

Bacaan I Ibr 12: 1-4

Bacaan Injil Markus 5: 21-43

Tetap Dekat dengan Yesus

Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita untuk menanggalkan semua beban dan dosa. Mata fisik dan batin kita harus senantiasa tertuju pada Yesus sebagai pemimpin dalam iman menuju kesempurnaan. Intinya, di segala macam kondisi-situasi, kita harus tetap fokus kepada-Nya. Usaha untuk tetap fokus bisa dilihat dari intensitas kita mengingat Yesus. Artinya, selama satu hari berapa kali saja kita ingat akan Yesus? Mungkin, ada yang ingat Yesus hanya saat mengalami kesedihan, jatuh dan kecewa; atau ada yang bisa mengingat Yesus dalam suasana kegembiraan, sukacita dan penuh berkat. Dengan mengingat, maka secara rohani kita siap untuk menyediakan diri dibina oleh kuat kuasa-Nya. Usaha mengingat Yesus dalam segala macam aktivitas membawa kita pada suatu kedekataan riil dan intim dengan-Nya. Bahwa Yesus tidak hanya hadir dalam liturgi saja, doa pribadi saja atau kegiatan rohani lainnya. Namun, Yesus itu menemani kita secara intensif.

Yairus dan perempuan dalam Injil hari ini memberi keteladanan tentang sikap mencari Yesus dan menemukan-Nya. Itu karena dulu Yesus sedang berkeliling mewartakan Kerajaan Allah di berbagai tempat. Situasinya berbeda sekali dengan aktualia hidup kita sekarang yang mana Yesus senantiasa hadir dan menemani kita setiap saat. Persoalannya hanya apakah saya sadar secara sungguh-sungguh atau tidak? Dengan iman yang kita miliki, percayalah bahwa kita akan lebih mudah menemukan Yesus, lalu kita yakin masih tetap dekat dengan-Nya. Iman merupakan sarana kita untuk bisa menghadirkan Yesus secara sadar.

Memang, terkadang jika kita dirundung masalah, mudah bagi kita untuk mempertanyakan dimana Allah? Dimana kuasa ilahi? Kita bertanya tanpa menyadari betapa Allah sedang berkarya dengan cara-Nya yang identik. Saya pribadi juga kadang-kadang menyalahkan Tuhan jika menemukan kesulitan hidup yang pelik. Namun, iman membuat saya bisa sadar bahwa Allah hadir dalam diri saya. Allah masih berprakarsa untuk saya. Kunci tetap fokus pada iman yang menyempurnakan adalah sikap tenang. Dengan tenang, terasa mudah bagi saya untuk menyadari segala sesuatu secara jernih dan luas. Maka, sudahkah kita mewujudkan ketenangan agar semakin sadar bahwa Yesus sudah hadir setiap saat dalam perjalanan kita masing-masing?

Dipanggil menjadi Pelaku Kesaksian

Dipanggil menjadi Pelaku Kesaksian

Senin, 4 Februari 2019

Hari Biasa IV

Bacaan I Ibr 11: 32-40

Bacaan Injil Markus 5: 1-20

Dipanggil menjadi Pelaku Kesaksian

“Orang itu pun pergi, dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala yang telah diperbuat Yesus atas dirinya, dan mereka semua menjadi heran” (Mrk 5:20). Itulah kalimat terakhir dalam Injil hari ini yang semoga menyadarkan kita tentang perlunya sebuah kesaksian dalam karya pewartaan. Tugas mewartakan Injil adalah panggilan dan keharusan setiap pengikut Yesus. Mewartakan Injil pertama-tama berarti memberikan kesaksian secara sederhana dan langsung mengenai Allah yang diwahyukan oleh Yesus Kristus dalam Roh Kudus. Maka, haruslah jelas bahwa yang diwartakan adalah Yesus Kristus, Putera Allah yang menjadi manusia, yang wafat dan bangkit dari kematian. Itulah karya penebusan yang ditawarkan Allah kepada setiap orang sebagai suatu karunia rahmat dan belas kasih Allah.

Terhadap tawaran Allah itu, kita menanggapinya dengan iman dan kesaksian. Mengapa perlu kesaksian? Karena, yang kita wartakan adalah kebenaran dan kenyataan tentang karya Yesus bagi diri kita pribadi. Pertama-tama, karya Yesus itu terjadi dalam hidup kita masing-masing, lalu reaksi kita kala itu mungkin terperangah, terkejut, dsb. Namun, sebagaimana orang dalam Injil hari ini yang telah dibebaskan Yesus dari pengaruh jahat Legion, kita akhirnya mengalami kesembuhan dari penyakit-penyakit kita. Demikianlah kesaksian, yaitu bahwa kita mewartakan apa yang telah kita alami secara nyata. Kesaksian sebagai bentuk pewartaan bisa dilakukan melalui perilaku, corak hidup, kesetiaan dan sikap lepas bebas. Itulah kesaksian yang membantu sesama menuju pada kekudusan. Dan, kita semua terpanggil untuk menjadi pelaku kesaksian, bukan hanya penerima cerita-cerita kesaksian belaka. Kita justru diajak untuk menjadi pribadi yang berani mewartakan karya Yesus secara jujur.

Harapannya, kita bisa menjadi tokoh-tokoh iman yang karakteristiknya ada dalam bacaan pertama dari Surat Ibrani. Senantiasa hidup dalam keteguhan iman, menjaga keutuhan iman dan mencintai iman akan Yesus Kristus. Inilah sebuah keindahan sikap hidup yang siap menerima janji keselamatan dari Allah. Semoga, kita semua semakin menyadari peran sebagai pewarta dengan jalan bersaksi tiada henti. Sebab, Allah mempunyai rencana yang lebih baik bagi kita semua, sampai akhirnya kita menerimanya secara sempurna adanya.

Jesus, Elijah, and Elisha

Jesus, Elijah, and Elisha

Fourth Sunday in Ordinary Time

February 3, 2019

Luke 4:21-30

 

In today’s Gospel, Jesus compares Himself with the Israelite greatest prophets, Elijah and Elisha. But, who are these two prophets? For many Catholics, we are not familiar with these two prominent figures in the Old Testament, and thus, we often do not appreciate why Jesus deliberately cites their names.

Seven hundred years before Jesus, the great kingdom established by David had split into two smaller and weaker kingdoms, the Kingdom of Judah in the south, and the Kingdom of Israel in the north. The leaders of both Judah and Israel have both broken the covenant with the God of Israel, as they worshiped pagan idols, and established their temples. Not only did these leaders incur the sin of idolatry, they also committed gross injustices to the people. The worst would be the child sacrifices and slavery of the poor.

In this terrible time in the history of Israel, God raised up prophets. Thus, God’s prophets are not the fancy guys who foretell future events, but they are God’s spokespersons to remind the people to go back to the Lord and do justice. Often, the prophets of God are also given the power to perform miracles as a sign that they were truly prophets coming from the true God. Among them, were two great names: Elijah and his disciple, Elisha.

Elijah was a fearless prophet who confronted Ahab, the king of Israel and his wife, Jezebel. In one famous event, Elijah challenged the prophets of Baal in Mount Carmel to bring down rain and he proved them as hoax (1 Ki 18). He also rebuked Ahab who allowed Jezebel to kill Naboth and stole his vineyard (1 Ki 21). Another miracle story would be Elijah who provided food for the poor widow of Zarephath, as mentioned by Jesus in the Gospel (1 Ki 17). At the end of his ministry, he was rode on a chariot of fire going up to the sky (2 Ki 2).

Elisha meanwhile was a disciple and successor of Elijah. As his mentor exited, Elisha requested for “double portion of Elijah’s spirit” and it was granted upon him. Thus, while Elijah was able to perform seven miracles, Elisha was able to double the number, fourteen miracles. Among his miracles was the healing of Naaman, the valiant army commander of Aram (Syria) but also a leper (2 Ki 5), and the multiplication of loaves (2 Ki 4:42-44). However, despite their strong prophesy and miracles, the Israelites did not change their hearts, and they kept worshiping idols and doing injustice.

Like Elijah and Elisha, Jesus reveals a deeper nature of God and His relationship with creations, condemns unjust practices, and performs miracles. Surely, Jesus is much greater than Elijah and Elisha. Yet, Jesus’ lot is not far different from Elijah, Elisha and other prophets of Israel: Jesus was rejected by own people.

When we are baptized, we are anointed as a prophet, and we share the lot of the prophet before us. Parents who do their best and want nothing but the best for their children are being misinterpreted as ‘controlling’ by their own kids. Teachers who try to inculcate the value of study life and culture of discipline, are considered to be ‘terror’. At times, however, being a prophet means nothing but total sacrifice. Many priests, religious and lay people work tirelessly and courageously in the most dangerous places around the globe, serving the poor of the poorest. Some of them eventually were abducted, tortured and killed. Special mention goes to the parishioners of Our Lady of Mount Carmel Cathedral, in Sulu, Philippines who sacrificed themselves as the bomb exploded during the liturgical service. It is really tough to become a prophet, but this is our vocation and mission to follow Elijah, Elisha, and Jesus.

 

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

 

 

 

Sebuah Persembahan

Sebuah Persembahan

Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah

Sabtu, 2 Februari 2019

Lukas 2:22-32

 

Yusuf dan Maria sebagai bagian dari bangsa Yahudi yang setia kepada Hukum Taurat memenuhi apa yang diperintahkan oleh Allah melalui Musa tentang anak yang “membuka rahim”. Menurut Hukum Taurat, setiap anak laki-laki “yang membuka rahim” baik itu anak manusia maupun ternak gembalaan adalah milik Allah. Hewan gembalaan yang masuk dalam kategori ini harus dipersembahkan ke Bait Allah dan menjadi korban bakaran bagi Allah. Sedangkan anak sulung manusia harus ditebus dengan hewan persembahan (lih. Kel 13:11-16). Yesus adalah anak sulung dan satu-satunya, dan sebagai anak sulung Ia harus ditebus sesuai dengan ketentuan Hukum Taurat. Karena Maria dan Yusuf adalah keluarga miskin, mereka hanya bisa mempersembahkan dua ekor anak burung merpati.

Tetapi, ada sesuatu yang tidak biasa dengan Injil hari ini. Yesus seharusnya “ditebus”, tetapi Maria dan Yusuf “mempersembahkan” Yesus di Bait Allah. Yesus tidak ditebus, tetapi dipersembahkan. Perbedaan kecil ini yang tampaknya tidak begitu signifikan memiliki arti yang sangat mendalam. Seperti hewan ternak yang dipersembahkan untuk menjadi korban bakaran di Bait Allah, Yesus pun dipersembahkan menjadi korban. Dan seperti hewan korban yang digunakan untuk menebus anak manusia, Yesus yang seharusnya ditebus, menjadi “penebus” bagi anak-anak manusia.

Perayaan hari ini memiliki makna yang mendalam karena sejak awal masa hidupnya di dunia, identitas dan misi Yesus sebagai korban persembahan dan sebagai penebus telah ditunjukkan. Bayi Yesus dipersembahkan di Bait Allah Yerusalem, dan saat Yesus dewasa kembali ke Yerusalem, dia akan mempersembahkan diri-Nya di salib sebagai sebuah korban bagi penebusan kita semua dari dosa.

Belajar dari Maria, Yusuf dan Yesus, kita pun diajak untuk mempersembahkan hidup kita sebagai sebuah kurban yang berkenan di hati Allah. Kita tidak perlu disalib seperti Yesus atau dibakar seperti hewan persembahan. St. Paulus mendorong kita seperti juga umat di Roma untuk mempersembahkan tubuh mereka sebagai kurban yang hidup, yang kudus dan berkenan kepada Allah (lih. Rom 12:1). Hidup kita adalah kurban hidup dan mengikuti teladan Yesus kita bisa menjadi kurban yang berkenan kepada Allah. Apapun identitas dan misi hidup kita, entah sebagai imam, biarawan, atau awam, kita telah dimampukan untuk menjadi kurban hidup yang berkenan bagi Allah.

 

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »