Browsed by
Month: July 2019

KESEPULUH PERINTAH ALLAH MENGHANTAR KITA KEPADA TUHAN

KESEPULUH PERINTAH ALLAH MENGHANTAR KITA KEPADA TUHAN

HARI JUMAT DALAM PEKAN KE 16

MASA BIASA, 26 July, 2019
Keluaran 20:1-17Matius 13:18-23

Saudara-saudariku terkasih,
Bacaan-bacaan hari ini sungguh sangat kaya. Bacaan pertama dari Kitab Keluaran, Allah memberi Kesepuluh PerintahNya kepada bangsa Hibrani setelah keluar dari perbudakan Mesir. Selanjutnya, Injil hari ini menggarisbawahi betapa pentingnya kesepuluh perintah Allah itu untuk melakukan kehendakNya dan yang akan menghantar kita lebih dekat kepadaNya. Mari kita renungkannya secara lebih mendalam.
Setelah bertahun-tahun bangsa Israel diperbudak, perintah-perintahNya diberikan kepada mereka sebagai dasar hidup moral dan sikap hidup sebagai anak-anak pilihan Allah. Mereka diperintahkan bagaimana caranya menghormati dan memelihara relasi mereka dengan Allah (dalam ayat 1-3), dan bagaimana mereka menghormati serta memelihara relasi mereka dengan sesama (dalam ayat 4-10). Mereka telah berusaha menyatukan bangsa Israel sebagai suatu bangsa, meperlengakpi mereka dengan pedoman-pedoman untuk hidup yang berkenan kepada Allah. Ketaatan kepada perintah-perintah ini, dan juga Hukum Mosaic, sudah menunjukkan kepada dunia bahwa Allah adalah Allah mereka, dan mereka adalah kepunyaanNya.
Selanjutnya dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berbicara tentang perumpamaan penabur yang menaburkan benih di tingkat kesuburan tanah yang berbeda-beda. Boleh dibilang bangsa Israel adalah “tanah yang subur” untuk benih yang adalah perintah Allah. Mereka mendengar sabdaNya dan memahaminya, dan oleh karena itu bisa menghasilkan buah yang akhirnya berkembang menjadi duabelas suku Israel.
Cerita itu sebagaimana juga cerita tentang Kekristenan kita, menunjukkan bahwa Allah kita yang adalah Bapak yang penuh kasih setianya, tetapi juga penuh belaskasih. Sebagaimana kita menerima Yesus dalam Ekaristi Kudus, marilah kita membuat suatu keputusan untuk mengikuti Yesus secara lebih dekat dengan suatu kebulatan tekat untuk mengikuti teladanNya dalam segala hal yangakan  kita lakukan. Amin.

Orang Kristen yang memulai ziarah pelayanan dalam kesederhanaan, mencontohi Dia yang memberi hidupnya.

Orang Kristen yang memulai ziarah pelayanan dalam kesederhanaan, mencontohi Dia yang memberi hidupnya.

PESTA SANTU YAKOBUS RASUL

HARI KAMIS, 25 July, 2019
2 Korintus 4:7-15Matius 20:20-28
Saudara-saudariku terkasih,
Hari ini kita memperingati Rasul Yakobus, yang legacynya termasuk Camino de Santiago, adalah suatu tempat ziarah yang terkenal di sepanjang bagian Selatan Spanyol. Gambaran ini memberi kesempatan untuk merenungkan perjalanan hidup iman kita sendiri. Kita tidak melakukan ziarah sebagai suatu liburan dengan mengunjungi tempat-tempat yang kita senangi. Perjalanan ziarah berarti menghindari tempat-tempat yang biasa kita kunjungi atau ke tempat-tempat yang belum pernah dicoba atau ke tempat-tempat yang masih asing bagi kita. Kalau kita mau melakukan suatu ziarah, kita perlu berziarah ke tempat yang lebih istimewa, dalam hubungan kita untuk mengenal Tuhan dengan lebih dekat  dan intim. 
Ziarah memanggil kita menghadapi tiga kenyataan yang sangat mungkin tidak pasti, tetapi  yang bisa membuat kita lebih dekat dengan Tuhan. Pertama kita harus lebih rendah hati. Bacaan Injil hari ini berbicara tentang putera-putera Zebedeus. Betapapun Matius tidak menyebut nama mereka, Markus menyampaikan bahwa mereka adalah Yakobus dan Yohanes. Ibu Yakobus dan Yohanes mendekati Yesus, minta agar putera-puteranya itu…”boleh duduk kelak di dalam KerajaanMu yang seorang di sebelah kananMu dan yang seorang lagi di sebelah kiriMu.” Seperti kebanyakan ibu pada umumnya, isteri Zebedeus sangat memperhatikan masa depan anak-anaknya. Yakobus tifak mencegah: “Ibu, biarkan saja saya menghadapi sendiri,” dengan demikian kita bisa saja menduga bahwa ia membiarkan ibunya menganjurkan untuk dia. Dalam hal ini apakah kita juga cukup rendah hati membiarkan seseorang memperhatikan kita? Menganjurkan, atau meminta seseorang berdoa untuk kita?
Kenyataan kedua datang dari St. Paulus dalam bacaan pertama hari ini; Ia  berpendapat bahwa kita adalah hanya bejanah tanah liat. Dalam karya penciptaan, Allah membuat manusia dari tanah. Para tukang periuk meniru proses ini ketika mereka membentuknya, mempergunakan tanah dan air yang dicampurkan dalam bejana. Tetapi kita lebih dari hanya sebagai bejana. Kita dikaruniai kehidupan, Allah Pencipta menghembuskan napas kedalam diri kita, dan dijaga keutuhannya oleh Roh Kudus. Tidak ada sesuatu dalam diri kita yang menjadi ciptaan kita sendiri. Segala sesuatu berasal dari Tuhan, datang dari Tuhan. Ziarah kita adalah suatu perjalanan pulang kepada Dia yang telah menjadikan kita dari ketiadaan. Ziarah menjadi suatu proses perjalan kembali kepada Tuhan.
Dan yang ketiga kita perlu kembali kepada suatu pertanyaan yang tidak terlalu mudah untuk dijawab. Jesus bertanya kepda Yakobus dan saudaranya Yohanes: “Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum?” Kata mereka kepadaNya: “Kami dapat.” Tetapi Yesus menggaris bawahi: “CawanKu memang akan kamuminum, tetapi hal duduk di sebelah kananKu atau di sebelah kiriKu, Aku tidak berhak memberikannya.” Dan yang Yesus kehendaki dari para muridNya: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah iamenjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkanuntuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Dengan demikian apabila kita menyadari akan ziarah perjalan hidup kita kepada Tuhan, hendaklah kita menjadi pelayan yang rendah hati dalam hal melayani orang lain, menempatkan pada tempat pertama apa yang dibutuhkan orang lain. Suatu tuntutan ziarah yang tidak terlalu mudah untuk dilaksanakan.
Yesus minta apakah kita juga sanggup minum cawan yang akan Ia minum, cawan/piala yang kita peroleh dalam perayaan Ekaristi. Ketika kita minum dari piala itu dalam perayaan Ekaristi, berarti kita bersedia pula untuk meneruskan ziarah kita kepada Tuhan, menempatkan kebutuhan orang lain pada tempat yang pertama. Semoga dengan bantuan rahmat Allah semakin banyak dicurahkan kepada kita, untuk kebesaran dan kemuliaan nama Tuhan. Amin.

Betapapun gersangnya hati kita, Allah terus menerus memenuhi kebutuhan kita

Betapapun gersangnya hati kita, Allah terus menerus memenuhi kebutuhan kita

HARI RABU DALAM PEKAN KE 16

MASA BIASA – 24 July, 2019
Keluaran 16:1-5, 9-15

Matius 13:1-9
Saudara-saudariku terkasih,
Dapatkah Allah masih terus memenuhi apa yang diperlukan bangsa Israel di padang gurun? Padang gurun dikenal sebagai tempat yang penuh dengan kekurangan, yang ada hanyalah pasir. Tidak ada makanan, tidak ada air, tidak ada tempat yang nyaman untuk berteduh. Singkatnya, padang gurun adalah tempat yang tidak pernah bisa bersenang-senang, dan disinilah Mosses and Aaron memimpin bangsa Israel. 
Yang jelas bahwa bangsa Israel sudah boleh dibilang bebas dari perbudakan Mesir, tetapi pengalaman di padang gurun sepertinya sama saja dengan pengalaman mereka ketika masih berada di Mesir seperti yang kita jumpai dalam bacaan hari ini. Ketika perut mereka perlu diisi dengan makanan, dan kerongkongan mereka menjadi kering, setiap kebutuhan yang paling kecil sekalipun bisa menjadi suatu persoalan yang besar; oleh karena itu mereka sepertinya rela berada dalam perbudakan, yang paling penting mereka masih mempunyai sesuatu untuk mengisi perutnya yang lapar. Tidak heran kalau bangsa Israel mengeluh dan berontak melawan Moses and Aaron, mereka mempertanyakan:…”Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan Tuhan ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang!” Itulah sebabnya mereka mempertanyakan tentang kebaikan dan kekuasaan Allah? “Can God spread a table in the desert?”
Saudara-saudariku terkasih,
Di dalam ketidak nyamannya situasi di padang gurun itu, Allah memenuhi kebutuhan bangsa Israel dengan “manna” yang turun dari langit; roti yang memenuhi padang gurun itu. Hal itu bisa dibilang sebagai suatu mukjizat yang telah Tuhan lakukan untuk merobah situasi yang tidak nyaman menjadi nyaman. Namun bangsa Israel masih saja tidak berterimakasih.Bukan tidak mungkin hal yang sama terjadi didalam kehidupan kita masing-masing. Sebagai orang tua misalnya yang menghadapi anak-anak yang tidak tahu  berterimakasih kepada orangtuanya; betapapun orangtua sudah melakukan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Demikianlah apa yang telah dialami Musa dan Aaron dengan sikap bangsa Israel di padang gurun kepada Allah.
Oleh karens itu, saudara-saudariku terkasih, Kita perlu belajar dari pengalaman bangsa Israel dipadang gurun itu dengan apa yang kita dengar dalam bacaan Injil hari ini. Perumpamaan tentang penabur. Apa yang menjadi sikap hat kita terhadap benih sabda Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari? Apakah hati kita seperti tanah di jalan yang gersang, di tanah yang berbatu-batu, di semak duri, atau di tanah yang subur? Dalam kaitan dengan bacaan pertama tadi, apakah sikap batin kita kepada Sabda Tuhan? Mampukah kita mengatasi segala tantangan dalam keidupan ini untuk tetap setia kepada Than? Suatu pertanyaan yang akan menjadi fokus refleksi kita sepanjang hari ini. Terimakasih!!!

Percaya kepada Injil, kita semua disatukan menjadi anak-anak Allah

Percaya kepada Injil, kita semua disatukan menjadi anak-anak Allah

Selasa Pekan ke 16 Masa Biasa

23 July, 2019
Keluaran 14:21-15:1Matius 12:46-50
Saudara-saudariku terkasih,
Kapan saja kita melihat ataupun mendengar dari Kitab Suci dimana terjadi penumpangan tangan, perentangan tangan dan penunjukkan, kita tahu bahwa ada sesuatu yang berkuasa sedang terjadi. Hari ini dari bacaan pertama kita mendengar bahwa Moses merentangkan tangannya, demikian pula Yesus melakukan hal yang sama. Keduanya mempunyai kekuatan yang penuh kuasa.
Ketika Moses merentangkan tangannya dalam bacaan pertama hari ini, ia melakukannya atas perintah Allah untuk menyelamatkan bangsanya dari perbudakan Mesir. Rentangan tangan Mosespun telah membelah Laut Merah sehingga bangsa israel dapat menyeberangi laut itu dan merekapun luput dari pengejaran Pharaoh. Bangsa Israel bebas dari perlakuan yang tidak adil, bebas dari tekanan/penindasan, agar mereka dapat membentuk kembali suatu komunitas baru dibawah perlindungan Allah.
Betapapun pembebasan itu tidak terjadi dramatically seperti yang digambarkan dalam kitab Keluaran, tetapi apa yang Yesus lakukan hari ini menunjukkan suatu kekuatan kuasaNya. Ketika Yesus diminta untuk memberi perhatiann kepada ibu dan sudara-saudaraNya, Yesus menunjuk kearah murid-muridNya: “Inilah ibuKu dan saudara-saudaraKu. Sebab siapa pun yang melakukan kehendak BapaKu di sorga, dialah saudaraKu laki-laki, dialah saudaraKu perempuan, dialah ibuKu.”
Lewat tangan-tangan Allah, Moses dan Anak Allah, Yesus, kita semua telah dibentuk menjadi satu komunitas anak-anak Allah. Kita semua telah dibangun sebagai umat Allah yang telah ditebus, menjadi keluarga anak-anak Allah, tebuka untuk semua dan yang mau mencari Tuhan dan mau melakukan kehendak Tuhan.
Saudara-saudari terkasih,
Kita tahu bahwa untuk menjadi anak-anak Allah tidak perlu harus dilahirkan dari dalam komunitas ini. Kita tidak perlu kredensial, tidak perlu status or background check. Untuk bebas dari segala larangan, maka semua yang melakukan kehendak Allah mereka akan menjadi saudara,saudari atau ibu dalam Kristus. Di dalam komunitas ini, hubungan darah samasekali tidak penting untuk dipanggil sebagai keluarga. Oleh iman dan kepercayaan kepada Injil, kita semua menjadi satu
Oleh karens itu, gereja atau komunitas umat Allah adalah suatu komunitas yang terbuka yang bisa menerima siapa saja, dan semua diperlakukan sebagai satu keluarga anak-anak Allah, baik di dalam paroki, apakah dia adalah imigrant, pengungsi, mereka semua adalah keluarga kita. Dengan demikian tidak seorangpun akan merasa asing atau dianggap sebabai orang asing lagi di dalam komunitas anak-anak Allah. Disini kita diajak untuk lebih sensitip kepada sesama kita dan welcome mereka kedalam keluarga anak-anak Allah.
Saudara-saudari terkasih,
Hari ini kita kembali diingatkan melalui sabdaNya yang penuh kekuatan dan kuasa untuk membentuk komunitas keluarga anak-anak Allah, menerima sama saudara dan sudari kita, siapapun mereka yang mau melakukan kehendak Allah. Undanglah mereka ke meja perjamuan agar mereka pun dapat merasakan kehangatan cinta sebagai anak-anak Allah. Amin.

Pesta St. Maria Magdalena

Pesta St. Maria Magdalena


Kidung Agung 3:1-4b. atau2 Korintus 5:14-17Yohanes 20:1-2, 11-18

Saudara-saudariku terkasih,
St. Maria Magdalena yang pestanya kita rayakan hari ini adalah seorang yang kaya, wanita Yahudi dan yang berasal dari Kota Magdala yang juga dikenal sebagai kota penghasil ikan karena terletak di sebelah barat danau Galilea. Maria Magdalena adalah salah seorang wanita yang berjalan bersama Yesus dan para pengikutNya (Lukas 8;2-3), ia bukanlah Maria saudarinya Lazarus dari Bethany dan juga bukan seorang wanita tanpa nama yang dikenal sebagai wanita berdosa yang meminyaki kaki Yesus dalam Lukas 7:36-50. Maria Magdalena yang pestanya kita rayakan hari ini bukanlah seorang pelacur; mengapa kita perlu membuat koreksi? Karena sudah ada penafsiran yang salah yang telah berkembang di Timur Tengah, dan gereja secara sah telah membuat perbaikan atas penafsiran yang salah itu pada tahun 1969. 
Maria Magdalena yang pestanya kita rayakan hari ini, sudah duabelas kali namanya disebut dalam Injil bahwa ia adalah seorang saksi dari penyaliban, pemakaman dan kebangkitan Kristus. Oleh karena itu dalam bacaan Injil hari ini dikatakan bahwa Maria Magdalena adalah saksi pertama dari Kebangkitan Kristus, dan Maria Magdalena inilah yang lari mendapatkan Petrus dan Yohanes serta para rasul lainnya. Oleh karena itu Maria Magdalena dikenal sebagai “Rasul untuk para Rasul”…”the Apostle to the Apostles.” Dengan demikian pada tangal 3 Juni, 2016, Paus Fransiscus mengumumkan bahwa pada liturgi hari ini tidak hanya merayakannya sebagai peringatan wajib, tetapi diangkat menjadi tingkat pesta, bahwkan Paus Francis menyamakannya dengan hari-hari pesta para Rasul.lainnya.
Oleh karens itu bacaan hari ini menunjukkan bahwa Maria Magdalena berada dalam kesedihan yang mendalam. Ia meratap. Dan pagi itu keadaan masih cukup gelap, suatu pernyataan tidak hanya harafiah gelap, tetapi di pihak lain kegelapan itu secara symbolis bahwa Maria Magdalena kehilangan harapan. Ia bermaksud untuk mengurapi jenazah Yesus dengan minyak, suatu ritus yang sudah harus dilakukan pada saat Yesus wafat, namun tidak dapat dilakukan karena Hari Sabbath sudah dekat. Ketika ia datang ke makam, ternyata pintu makam telah terbuka. Batu yang menutupi pintu makam telah pindah dari tempatnya. Ia langsung lari menemui Petrus, menyampaikan bahwa seseorang telah mengambil jenazah Yesus dari makam. I terus menangis, ia berusaha melihat ke dalam makam, disana ia melihat dua orang malaikat dan kedua malaikat itu bertanya: “mengapa engkau menangis?”
Pada saat yang bersamaan, ia menoleh kesekitarnya dan ia melihat Tuhan, yang ketika itu Maria Magdalena kira bahwa orang yang ia lihat adalah seorang tukang kebun. Orang yang ia sangka seorang tukang kebun memanggil Maria Magdalena dengan nama. Dan pada saat itu ia mengenalnya, dan segera ia menjawab panggilan itu dengan mengatakan: “Rabbouni.” Pada kesempatan ini Yesus menampakan diri kepada Maria Magdalena sebagai orang yang bangkit secara lahiriah (Jesus appears in his resurrected body). Disini kemanusiaanNya tidak lagi dibatasi baik oleh waktu dan tempat, tetapi ia menampakan diriNya kepada mereka agar mereka percaya. Dan apakah yang Yesus minta Maria Magdalena lakukan? Yesus minta agar Maria Magdalena pergi dan menyampaikan kepada para rasul apa yang telah ia lihat. Yesus memberikan instruksi kepadanya dan menyampaikan:…”bahwa sekarang Aku akan pergi kepada BapaKu dan Bapamu, kepada AllahKu dan Allahmu.” Lalu Maria Magdalena pergi dan menyampaikan kepada para murid, “Aku telah melihat Tuhan! dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.”
Dari pengalaman singkat ini, kita dapat melihat penyajian terakhir dari kehidupan kita bersama Kristus. Kita bisa melihat potret yang nyata dari mystery Paskah – bahwa Kristus telah mati satu kali untuk semua, seperti yang dikatakan St. Paulus kepada jemaat di Korintus: “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Dan Krsistus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” 2 Korintus 5:14-15. Dengan demikian kebangkitan Kristus membuat kita semua yakin akan suatu kehidupan yang baru. Meskipun kita  semua sangat mungkin berada dalam kegelapan  dosa, Yesus tetap akan memanggil kita kembali dengan nama. Yesus mengingatkan kita juga bahwa Allah adalah bapakNya dan juga bapak kita, Yesus adalah saudara kita. Dan Yesus juga memberi kita instruksi apa yang harus kita buat; dengan penuh harapan, dikuatkan dengan kehadiranNya dalam sakramen-sakramen, kita diutus untuk pergi dan mewartakan Kabar Gembira kepada orang lain. Cinta kepada Kristus mendorong kita untuk melakukan apa yang Ia perintahkan kepada kita. Amin.

Translate »