Browsed by
Month: July 2019

Komitmen Mengikuti Yesus

Komitmen Mengikuti Yesus


Mat 10: 34-11:1
Senin, 15 Juli 2019

“Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.”

Saudari-saudara terkasih dalam Kristus, bagian ini merupakan bagian nasehat yang disampaikan Yesus kepada para murid. Dimana para murid ditegaskan kembali  bahwa konsekuensi  menjadi pengikut Yesus tidaklah mudah. Mengapa? Mereka akan terpisah dengan keluarga mereka sendiri. Kondisi ini mungkin konsekuensi yang berat yang bakal diterima oleh para murid ketika mengikut Yesus, mengingat para murid yang adalah orang Yahudi sangat menyanjung tinggi hubungan kekerabatan dan kekeluargaan. Keberadaan  Keluarga merupakan salah satu identitas dan jatidiri orang Yahudi, yang dengannya berpengaruh pada status dan hubungan sosial. Hal ini berakar kuat dan tidak begitu mudah untuk dilepaskan.

Dari perikop injil ini, kita juga mendapati bahwa menjadi pengikut Yesus ternyata membutuhkan kesungguhan, komitmen dan pengorbanan yang besar. Selama ini pengalaman hidup kita menyatakan bahwa komitmen dan kesungguhan sebagai orang percaya sering bergantung pada situasi dan kondisi yang kita hadapi dan alami. Pengalaman sering menyaksikan kepada kita bagaimana kita sebagai orang Kristen kerap kali menyatakan kesungguhan dan komitmen mengikut Dia manakala kenyataan-kenyataan hidup  kita bersesuaian dengan apa yang kita harapkan. Dan ketika apa yang kita harapkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan, kita kecewa, menggerutu bahkan komitmen dan kesungguhan mengikut Dia menjadi kendor.

Bagian lain dari injil hari ini mengingatkan kita bahwa Komitmen yang kuat dan kesungguhan mengikut Yesus akan tercermin dalam  hidup orang percaya yang diwarnai dengan semangat mengasihi dan menghidupkan orang lain (lih. Ayat 40-42). Ini berarti komitmen dan kesungguhan mengikut Yesus sekalipun beresiko harus pula berdampak dalam tindakan-tindakan dan karya yang menghidupkan. Dengan mengikut Yesus, pandangan kita bukan hanya tertuju pada kita dan bagaimana nasib kita tetapi kita diajak untuk dengan sukarela menundukkan keinginan-keinginan pribadi dan memikirkan kebaikan orang lain. 

Saudari-saudara terkasih dalam Kristus Yesus, ternyata mengikut Yesus bukanlah hal yang mudah dan yang selalu identik dengan kesenangan dan kegembiraan. Mengikut Yesus sangatlah beresiko namun itulah yang yang harus kita jalani. Menjalaninya dengan penuh syukur dalam kepastian “Orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Ayat 10:22).

Maka, mari kita belajar dari Kristus, bahwa memang kadang kita harus berdiri teguh, namun dengan penuh kasih untuk mewartakan kebenaran, walaupun tentu saja mempunyai resiko. Namun diperlukan suatu sikap yang bijak untuk mewartakan kebenaran. Cara yang paling efektif adalah mewartakan kebenaran dengan kehidupan kita yang memancarkan kasih Kristus, atau dengan hidup kudus. Tuhan kiranya memampukan kita untuk melakukannya. Amin.

Hari Minggu Pekan Biasa XV

Hari Minggu Pekan Biasa XV

Lukas 10: 25-37

Minggu, 14 Juli 2019

Dari Rm Djoko Prakosa Pr
Rektor Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta 

Perumpamaan tentang Orang Samaria yang Baik Hati ini sangat terkenal. Bagi kebanyakan orang, perumpamaan ini adalah cerita tentang orang Samaria yang membantu seorang korban perampokan dan kekerasan para penyamun. Ternyata jika perumpamaan ini ditelusuri lebih lanjut kisah ini adalah kisah duniawi dengan cara pandang surgawi.

1. Yesus dan Ahli Taurat. Motif di balik pertanyaan Ahli Taurat adalah untuk mencobai Yesus. Ia mengajukan pertanyaan yang penting: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Yesus menjawab dengan suatu pertanyaan: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Si ahli Taurat menjawab: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Yesus membenarkan jawaban si ahli Taurat yang mengutip Hukum Taurat. Yesus ingin menegaskan bahwa kehidupan kekal adalah anugerah yang diberikan Allah melalui hubungan manusia dengan Allah. Kehidupan kekal bukanlah hasil dari suatu perbuatan manusia. Rupanya Si ahli Taurat mempunyai pemahaman dan keyakinan bahwa kehidupan kekal adalah buah dari pemenuhan Hukum. Singkatnya, kehidupan kekal akan ia peroleh dengan cara mematuhi Hukum Taurat. Tetapi ternyata Kitab Taurat membuktikan bahwa kehidupan kekal adalah anugerah Allah yang dilimpahkan kepada manusia karena ia mengasihi Allah dan sesama. Tahu bahwa ia terjebak dengan jawabannya sendiri, maka si ahli Taurat berusaha membenarkan dirinya sendiri dan bertanya: “Dan siapakah sesamaku manusia?” Dalam budaya Yahudi, hanya sesama kalangan Yahudilah yang dianggap sebagai sesama. Orang Samaria adalah orang kafir. Orang kafir tidak dianggap sebagai sesama.

Kita diajak untuk membuang cara berpikir bahwa pahala hidup kekal dapat kita peroleh dengan sekedar melakukan dan memenuhi anjuran dan larangan Hukum secara sempit dan terbatas. Hidup kekal adalah anugerah dari Allah karena kita mengasihi Allah dan sesama.

2. Imam dan Orang Levi. Pada zaman Yesus, jarak tempuh dari Jericho ke Yerusalem panjangnya kurang lebih 18 mil. Ada pun jalan yang dimaksudkan bukanlah jalan seperti yang ada sekarang ini, melainkan jalur sempit yang terjepit di antara pegunungan berbatu. Para pelancong yang melewati jalur ini sering diserang para bandit dan pencuri yang menduduki pegunungan ini. Kemungkinan korban yang diceritakan dalam Injil hari ini adalah orang Yahudi, karena Ia sedang berbicara dengan ahli Taurat yang adalah orang Yahudi. Seorang Imam melewatinya tetapi tidak melakukan apa pun untuk membantu. Dalam budaya Yahudi seorang Imam adalah orang yang sangat penting dan menjadi simbol harapan. Dia lewat di sisi lain dan dengan sengaja menempatkan jarak yang aman antara dirinya dan orang yang sedang sekarat. Mungkin dia takut najis saat nanti melakukan upacara keagamaan atau takut para bandit itu masih ada. Intinya adalah si Imam gagal menjadi sesama. Kemudian seorang Lewi lewat. Orang Lewi adalah golongan yang sedikit lebih rendah daripada para Imam. Meskipun demikian, mereka adalah kelompok yang dihormati di masyarakat Yahudi. Orang Lewi juga melewati sisi lain jalan. Mungkin dia juga takut akan menjadi najis atau takut pada para perampok. Intinya, si Lewi pun gagal menjadi sesama.

Kita diajak untuk tidak takut menanggung resiko. Imam dan orang Lewi itu menghitung risikonya. Sementara itu orang Samaria tidak melakukannya. Kita tidak dapat menunjukkan belas kasihan kecuali kita bersedia meninggalkan zona nyaman. Kita perlu memerangi keangkuhan

kita, dan berdamai dengan sesama kita, serta membiarkan hari-hari kita menemukan kita sebagai pribadi yang lebih baik.

3. Orang Yahudi dan orang Samaria. Sejarah perseteruan antara orang Yahudi dan orang Samaria mulai terjadi pada tahun 722 SM. Saat itu Asyur menaklukkan Israel dan membawa sebagian besar rakyatnya menjadi tawanan. Orang-orang Israel ini akhirnya berjumpa dengan orang-orang non-Yahudi yang membawa serta berhala-berhala mereka. Perkawinan campur pun terjadi. Orang Samaria adalah keturunan dari orang-orang Yahudi ini yang berbaur dengan bangsa-bangsa lain. Karena itu, orang-orang Yahudi lainnya membenci orang Samaria. Yesus justru mengangkat orang Samaria sebagai sesama bagi orang Yahudi yang dirampok. Hal ini nampak melalui perkataan-Nya: “Lalu datanglah ke tempat itu seorang Samaria yang sedang dalam perjalanan. Ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.” Yesus menutup kisah itu dengan pertanyaan: “Menurut pendapatmu, siapakah di antara ketiga orang ini adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Si ahli Taurat itu pasti mengetahui jawabannya, tetapi ia bahkan tidak sanggup dan tidak mau menyebut jati diri orang Samaria itu. Dia hanya menjawab, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Yesus berkata, “Pergilah dan perbuatlah demikian.”

Ketika Yesus berkata, Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup, si ahli Taurat mulai menyadari bahwa Yesus bermaksud memancing pengakuannya bahwa dia belum melakukan hal ini, dan itulah sebabnya mengapa ada pertanyaan tentang apa yang harus dilakukannya, dan jalan mana yang harus dicarinya. Si ahli Taurat perlu mengakui bahwa dia tidak mampu melakukan hal ini dengan sempurna. Namun, ia menghindari pengakuan ini dan ingin membenarkan dirinya, dan oleh sebab itu tidak mau melanjutkan percakapan itu. Ia tetap tidak mau menyebut jati diri orang Samaria sebagai sesama.

Melalui perumpamaan ini Yesus ingin agar kita mengerti bahwa kehidupan kekal adalah anugerah Allah yang disediakan bagi mereka yang mencintai-Nya. Artinya, kita tidak dapat mengatakan bahwa kita mencintai-Nya jika kita menolak untuk menunjukkan belas kasihan kepada sesama. Cinta kita kepada sesama mengungkapkan cinta kita kepada Allah. Tindakan cinta itu nyata melalui sikap berbelas kasih dan mau menjadi sesama bagi siapa saja yang membutuhkan.

Pesan untuk kita: Kita diajak menjadi sesama bagi siapa saja yang membutuhkan. Kita diajak untuk mencintai sesama tanpa memandang perbedaan suku, agama, maupun ras. Cinta tidak pernah memandang memandang muka. Ketika kita mencintai orang lain dan menunjukkan belas kasihan, kita adalah pewaris kehidupan kekal.

“Kristus mengajarkan kita untuk mengasihi sesama kita

seperti diri kita sendiri;

Ajaran ini adalah kerikil bagi masyarakat modern

yang tidak mengenal tetangga sebagai sesama”

Merciful Samaritan

Merciful Samaritan

Fifteenth Sunday of the Ordinary Time [C]

July 14, 2019

Luke 10:25-27

The journey from Jericho to Jerusalem was notoriously dangerous. The path was narrow, steep, filled by sudden turnings. The road became the favorite spot for the robbers to ambush any unguarded traveler. Some criminals were often violent, not only they took everything from the victims, but they would beat them mercilessly. Up to early twentieth century, some tourists and pilgrims were caught off guard when they passed this path, as their cars were ambushed and robbed. The brigands would swiftly escape before the police came.

When the teacher of the Law asks Jesus, “who is our neighbor whom we shall love?” Jesus offers him three models to imitate. They are a priest, a Levite and a Samaritan. The priest and the Levite are a privileged social class in ancient Jewish society. They are consecrated to serve in the Temple of Jerusalem. The priests who are the descendants of Aaron, are to accept sacrifice from the people and offer the sacrifice to the Lord at the altar. Meanwhile the Levites are assigned to take care of the temple, to do other liturgical services and assist the priests. Both the priest and the Levite represent a group of people who are dedicating themselves to the Lord, the Law and the Temple, who love their religion dearly. Meanwhile the Samaritan represents what the Jews hate. The pure Jews look down the Samaritans because they are products of intermarriage between unorthodox Jews and other pagan nations as well as idolaters who worship God plus other smaller gods.

By religious standard, the priest and the Levite outrank the Samaritan, but Jesus drops the nuclear bomb as He makes the Samaritan as the hero of the story. We may ask why the priest and Levite refuse to help? One reason is that the priest needs to be away from any blood or dead body, otherwise he would be impure for seven days and he will not be able to serve the Temple [see Num 19:11]. The Levi seems to do little better as he goes nearer to the victim, but he decided not to help perhaps because he is afraid that the guy just serves a decoy to ambush him. Here comes the Samaritan who helps without hesitation. Not only coming to his rescue, the Samaritan makes sure that the victim will be healed and recover, though he must spend his own resources.

Placing ourselves in the shoes of the Samaritan man, we know that his decision to help the victim is daring and even reckless. What if it was just a set-up for ambush? What if he runs out of money? What if the victim would never thank him and even hate him even more? Yet, this is what to love our neighbor means. To love someone is to show mercy and to show mercy means to give beyond what is due.

One of the memorable works Mother Teresa did in Calcutta was to establish a home for the dying. One day, she walked pass a hospital and saw a woman who terribly sick. The mother rushed her to the hospital. Yet, the person in the hospital refused her, saying, “there is no room for her in the hospital!” Mother Teresa stayed outside of the hospital, embracing the dying lady till she breathed her last. Since then, the saint promised that she would make sure that the dying would die with dignity. In the early days of this hospice, Mother Teresa was ridiculed and criticized, yet she and her sisters persevered because they knew that for those who were dying, this may be the last act of mercy they received before they passed away.

If we expect something big in return, it is not love, it is investment. If we just want to be appreciated after doing good, it is not love, it is a showoff. If we do not want to get hurt, it is not love, it is comfort zone. Love is tough, mercy is heroic.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sabtu, 13 Juli 2019

Sabtu, 13 Juli 2019

Rm Djoko S Prakosa Pr
Rektor seminari Kentungan

Matius 10: 24-33

Hati Biasa Pekan XIV

1. Janganlah takut terhadap mereka yang memusuhimu. Injil hari ini memberikan pembelajaran bahwa seorang Murid harus meneladan gurunya (Matius 10: 24-25) dan tidak takut akan dunia (Matius 10: 26-31). Dalam perikop singkat ini, Tuhan Yesus sebanyak tiga kali menegaskan agar para murid tidak takut: “Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka yang memusuhimu, karena tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.” Pra murid tidak boleh takut pada dunia karena Tuhan pada suatu hari akan membenarkan mereka. Penganiayaan, tuduhan jahat, dan bahkan julukan “setan” pasti akan membuat para murid menjadi susah. Di tengah situasi ini Ia berkata: “jangan takut”. Pada akhirnya Tuhan berjanji akan membuat segalanya menjadi benar. Semua kebenaran dan kebaikan dan semua kepalsuan dan kejahatan akan terlihat apa adanya. Tidak ada yang tertutup yang tidak akan diungkapkan,. Tidak ada yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Kejahatan dunia akan ditunjukkan seperti apa adanya, dan kebenaran orang-orang percaya akan ditunjukkan seperti apa adanya. Tuhan telah mengikat diri-Nya untuk membenarkan anak-anak-Nya.

Kadang kita merasa takut pada apa yang orang pikirkan, katakan, atau lakukan. Ketika ketakutan itu mencekik dan menguasai hidup kita, kita takut melayani dan memberi kesaksian. Salah satu sifat manusia adalah ingin menghindari masalah dan konflik, terutama jika orang-orang di sekitar kita dapat menimbulkan ejekan dan kesulitan. Kemungkinan besar hal-hal itu menjadi alasan utama kita untuk tidak melakukan evangelisasi. Kita menjadi lumpuh karena takut akan apa yang mungkin terjadi. Mana yang lebih menguasai hidup kita sekarang ini: janji Tuhan atau ketakutan manusiawi kita?

2. Janganlah takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh. Ia pun menambahkan: “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” Para murid seharusnya tidak takut pada mereka yang membunuh tubuh, yang menyiksa, yang menyebabkan penderitaan, dan kematian. Mereka yang menyiksa dapat membunuh tubuh, tetapi mereka tidak bisa membunuh kebebasan dan semangat dalam tubuh. Ketakutan akan penderitaan pada umumnya dapat membuat mereka menyembunyikan atau menyangkal kebenaran. Penyangkalan hanya akan menjauhkan para murid dari Tuhan, bahkan menyinggung Tuhan. Siapa pun yang menjauh dari Tuhan akan hilang untuk selamanya.

Pada tahun 398 M, Yohanes Krisostomus diangkat sebagai patriark Konstantinopel. Ia banyak mengkritik dan membuat marah Permaisuri Eudoxia, isteri Kaisar Archadius. Hal ini membuatnya diasingkan sampai beberapa kali. Bagaimana sikap iman Krisostomus terhadap penganiayaan semacam itu? Ia berkata: “Apa yang saya takuti? Kematian? Anda perlu tahu bahwa Kristus adalah hidup saya, dan bahwa saya akan memperoleh kematian. Apa yang saya takuti? Pengasingan? Anda perlu tahu bahwa bumi dan segala isinya adalah milik Tuhan. Saya tidak takut kemiskinan. Saya tidak menginginkan kekayaan. Kematian tidak akan menyurutkan iman saya.” Bagaimana sikap iman kita tatkala kita berhadapan dengan kesulitan dan ketidak-mudahan hidup?

3. Janganlah takut karena hidup kita berharga di mata Allah. Dan pada bagian selanjutnya Ia berkata: “Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.”

Yesus memberikan nasihat ketiga kepada para murid untuk tidak takut. Alasan lain mengapa para murid tidak perlu takut adalah karena para murid lebih berharga dari banyak burung pipit. Ini adalah suatu ungkapan peribahasa yang menunjukkan betapa Allah sangat memerhatikan dan memedulikan umat-Nya, bahkan hal-hal yang kecil dan yang paling sedikit diperhatikan sekalipun. Bahkan Allah lebih memperhatikan mereka daripada mereka memperhatikan diri mereka sendiri. Orang biasanya cemas menghitung uang, dan barang mereka namun tidak pernah mau dengan teliti menghitung rambutnya, yang gugur dan hilang, dan mereka tidak pernah merasa kehilangan rambut mereka itu. Tetapi Allah menghitung rambut umat-Nya. Dan segala sesuatu terjadi karena izin-Nya: “Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.”

Tidak ada yang bisa terjadi di dunia ini tanpa seizin-Nya. Tidak ada yang namanya kebetulan, atau keberuntungan. “Rambut kepala kita semua terhitung.” Benar bahwa kesaksian dan pelayanan kita dapat membawa kita ke bahaya besar. Kehidupan kita nampaknya akan terancam, jika kita melakukan pekerjaan Allah. Kita diajak untuk merasa aman di tangan Tuhan. Tubuh kita, jiwa kita, karakter kita semuanya berada dalam pemeliharaan-Nya. Tidak ada penyakit yang dapat menyergap kita, tidak ada tangan yang dapat melukai kita, kecuali Allah mengizinkan. Mengapa kita takut?

“Jika Tuhan menyebabkan Anda sangat menderita,

itu adalah tanda bahwa Dia memiliki rancangan yang hebat untuk Anda, dan bahwa Ia tentu saja ingin menjadikan Anda orang suci.

Dan jika Anda ingin menjadi orang suci yang hebat,

mohonlah kepada-Nya sendiri untuk memberi Anda banyak kesempatan untuk menderita;

karena tidak ada kayu yang lebih baik

untuk menyalakan api kasih suci daripada kayu salib,

yang digunakan Kristus untuk pengorbanan besar-Nya akan kasih amal yang tak terbatas. ”

– St. Ignatius dari Loyola –

Hari Biasa Pekan XIV

Hari Biasa Pekan XIV

Matius 10: 16-23

Jumat, 12 Juli 2019

oleh Rm Djoko S Prakosa Pr
Rektor seminari Kentungan

1. Ujian hidup seorang murid dan kerelaan untuk tetap percaya pada Tuhan. Yesus memperkenalkan dua gambaran yang akan dialami para murid yaitu ancaman dan bahaya yang dialami para murid dan perlindungan yang Allah berikan: “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya. Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.” Mereka bagaikan domba-domba yang diutus ke tengah-tengah serigala. Ada kemungkinan mereka ditangkap, diadili, dibenci, bahkan dibunuh. Untuk itu Yesus berpesan agar mereka cerdik seperti ular namun tulus seperti merpati.

Lalu, perlukah para murid takut dan kuatir menghadapi semua ancaman tersebut? Yesus menggambarkan bahwa Allah sangat peduli terhadap mereka. Mengapa? Karena mereka lebih berharga di mata-Nya dibandingkan dengan burung pipit. Oleh karena itu, mereka tidak perlu takut dan kuatir menghadapi kesulitan dan ancaman. Dia berjanji akan memperlengkapi dengan kekuatan, kemampuan, dan perlindungan karena mereka sangat berharga di mata-Nya. Namun, tidak berarti Allah akan mencegah terjadinya kesulitan dalam diri kita. Itu adalah ujian bagi kita sebagai pengikut Yesus yang sejati untuk bertahan menghadapi tekanan hidup sehari-hari.

2. Konsekuensi sebuah pilihan. Sekali lagi pengumuman ancaman diulangi dalam ungkapan: ” Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah akan anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka. Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel , Anak Manusia sudah datang. “ Kesiapan untuk melayani Kristus akan menghadapkan para murid dalam kesulitan. Yesus tidak pernah ragu untuk memberi tahu murid-murid-Nya apa yang mungkin akan terjadi jika mereka memilih untuk mengikuti-Nya. Ini adalah tugas yang penuh tantangan. Apakah kita menerimanya? Ini bukan cara perekrutan dunia untuk bekerja dan dengan janji kehormatan dan penghargaan. Ini adalah perekrutan yang butuh pengorbanan.

Mungkin pesan Yesus tentang perutusan dan konsekuensinya ini adalah hal yang tidak kita sukai untuk kita dengarkan. Kita mempunyai hak istimewa untuk mengikuti jejak Tuhan dan Guru yang rela menyerahkan nyawa-Nya bagi kita dan yang membawa kita pada kemenangan atas Setan, dosa, dan kematian. Kewajiban kita adalah kesediaan untuk menghadapi tantangan bersama Dia. Apakah kita bersedia menerima kesulitan dan penderitaan dalam melayani Tuhan Yesus Kristus?

Translate »