Browsed by
Month: August 2019

Jumat, 9 Agustus 2019

Jumat, 9 Agustus 2019

Injil Matius 16: 24-28

Ketika kita ingin ingin mengikuti sesuatu tentunya kita membawa beberapa motivasi spesifik. Motivasi mendorong kita untuk untuk  menggapai apa yang kita idam-idamkan. Kalau saya memutuskan untuk menjatuhkan pilihan pada sebuah keputusan tertentu, tentunya saya mesti berani pula untuk menerima segala konsekuensi yang bakal dihadapinya dengan sepenuh hati. Apa yang saya pilih dengan hati yang bebas dan sepenuh hati, itulah yang menjadi jalur hidup saya selanjutnya. Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk mengikuti sesuatu atau berbuat sesuatu, kita perlu mengambil waktu untuk mempertimbangkan bukan saja kegembiraan karena memilih (atau dipilih) tetapi juga apa saja konsekuensi dan juga syarat yang mesti dipenuhi setelah terpilih. Sering kali ketika orang melarikan diri dari konsekuensi pilihannya, akan muncul banyak pertanyaan mengenai apa sebenarnya motivasi awalnya dalam mengikuti Yesus. Apakah ada motivasi-motivasi yang sifatnya terselubung?

Injil hari mengisahkan tentang Yesus yang memilih para murid/ pengikut-Nya yang sejati. Yesus bukan saja memilih mereka, ia juga menyebutkan bahwa siapa yang mengikuti Dia perlu memahami ada banyak konsekuensi dan tanggung jawab yang mesti diemban dan dipikirkan. Konsekuensinya adalah memikul salib. Ia juga menegaskan bahwa kalau Dia yang adalah guru mereka harus menanggung penderitaan dan memikul salib, betapa ia juga mengharapkan agar kita turut memikul salib bersama dengan sang Guru. Bagi para murid, memikul salib apalagi mati di salib adalah hal yang berat dan tidak terbayangkan. Mereka tidak siap melihat guru mereka menderita dan tersalibkan. Petrus bahkan berjanji bahwa ia akan mempertaruhkan hidupnya untuk Yesus, janji yang kemudian ia khianati sendiri. Petrus dan para murid mencintai Yesus namun mereka belum berani mencintai sampai harus menderita. Mereka mencintai di saat-saat yang penuh harapan dan kegembiraan. Mereka belum siap mencintai di saat-saat yang penuh batas dan tragedi. Bahkan banyak penafsir Injil menyatakan bahwa Yesus selalu ingin memurnikan motivasi para murid dalam mengikuti Dia secara dengan hati yang lebih bebas dan tanpa beban sebab Dia tahu bahwa tentu ada yang mengikuti Dia dengan agenda atau harapan tersembunyi. Teguran Yesus yang keras kepada Petrus ketika Petrus menyuarakan keberatannya adalah contoh di mana Yesus memilih untuk meluruskan motivasi misi mereka. Para murid berkeberatan jika seorang Mesias harus menderita. Bagi mereka, Mesias mestilah seorang yang kuat dan perkasa. Diselubungi mimpi dan idealism tinggi tersebut, mereka menyimpan harapan bahwa jika yang perkasa ini berhasil merebut pengaruh massa, mereka yang menjadi pengikut dekat-Nya pun akan ikut berkuasa. Cara berpikir mereka dan juga kedalaman motivasi mereka bersifat sangat duniawi dan material. Inilah yang mau Yesus luruskan.

Tuhan Yesus senantiasa mengingatkan kita bahwa dalam seluruh perjalanan ziarah iman, Syarat menyangkal diri dan memikul salib adalah syarat mutlak dan tak tergantikan. Ia tidak saja bicara tentang prasyarat tapi konsekuensi menjadi seorang pengikut Kristus! Sekali lagi dia menyatakan syarat mengikuti Dia dan bahwa syarat ini adalah harga absolut. Salib adalah penderitaan dan kematian. Penderitaan untuk membawa pada rahmat, kematian terhadap ketidakmurnian dan dosa yang manjauhkan manusia dari Allah. Para santo dan para martir sudah membuktikan bahwa bahwa mengikut Yesus sering berujung pada penganiayaan, penghinaan dan pengucilan oleh negara, komunitas dan bahkan keluarga mereka sendiri. Pertanyaan reflektif untuk kita semua saat ini adalah: Seberapa dalam dan siap diri kita untuk memikul salib dan dan tetap berkanjang secara setia untuk ikut Kristus denagn segala konsekuensinya?  

Kamis, 8 Agustus 2019

Kamis, 8 Agustus 2019


Injil Matius 16: 13-23


            Dalam injil hari ini, kembali kita bertemu dengan figur Petrus, seorang murid yang sangat dekat dengan Kristus, dipercaya Kristus untuk menjadi pemimpin para murid-Nya, seorang yang begitu gigih membela Yesus namun juga kadang-kadang tidak konsisten dalam bersikap. Menarik bahwa Tuhan Yesus tetap mempercayai Petrus tugas mulia untuk memimpin para murid-Nya sekalipun Yesus tahu bahwa Petrus kadang inkonsisten dan juga sedikit pengecut. Saya pribadi percaya bahwa Tuhan memilih orang-orang khusus sekalipun mereka punya juga sisi-sisi gelap pribadinya sebab Tuhan tidak memanggil orang-orang yang mampu tetapi Tuhan memampukan orang-orang yang Dia panggil.

Menarik bahwa dalam kisah injil hari ini, Petrus yang baru saja mengakui Kristus sebagai anak Allah dan Mesias menjadi Petrus yang melarang Yesus untuk memenuhi kehendak Bapa. Yesus yang berbicara secara langsung dan terus terang tentang kematian-Nya tidak Petrus sukai. Kita ingat bahwa Yesus pernah berkata: “Rombak Bait Allah ini”;  Ia juga berbicara tentang Anak Manusia harus ditinggikan, dan tentang makan daging-Nya dan minum darah-Nya. Sebelumnya Yesus tidak pernah menyinggung perkara ini. Sikap Petrus yang menarik Yesus untuk tidak berbicara terlampau terang tentang kematian-Nya adalah juga representasi sikap murid-murid-Nya belum mampu menerima kabar mengenai tragedi yang akan ia alami, sebuah peristiwa yang mungkin janggal sekaligus memilukan.

Yesus juga secara mendetail menjelaskan kepada murid-murid-Nya tempat di mana Dia menderita. Ia harus pergi ke Yerusalem, ibukota, kota suci itu, dan menanggung banyak penderitaan di sana. Walaupun sebagian besar waktu hidup-Nya dikuatkan di Galilea, Ia harus mati di Yerusalem. Di sanalah semua pengorbanan dipersembahkan, karena itu, di sanalah Ia, yang adalah sang korban yang agung, harus mati. Yesus juga berbicara mengenai para aktor yang akan mengeksekusi kematian-Nya: tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat. Mereka semuanya tergabung di dalam Mahkamah Agama (Sanhedrin) yang berkedudukan di Yerusalem. Orang-orang terhormat namun berhati keji dan penuh dengan tipu muslihat. Orang-orang yang seharusnya menjadi yang terdepan dalam mengakui dan menghormati Kristus justru menjadi yang paling kejam menganiaya Dia. Memang sangat aneh, bahwa orang-orang yang mengenal isi Kitab Suci, yang mengaku menantikan kedatangan Mesias, dan selalu berpura-pura memiliki kesalehan, justru memperlakukan Mesias dengan sedemikian biadab ketika Dia benar-benar datang. Yesus juga menjelaskan bahwa Da harus menanggung banyak penderitaan, lalu dibunuh. Kedengkian musuh-musuh-Nya yang tidak pernah terpuaskan serta kesabaran-Nya yang tak terkalahkan, terungkap dalam berbagai jenis dan banyaknya penderitaan yang harus Ia tanggung. Dalam puncak kekejaman mereka, tidak ada yang lebih memuaskan mereka selain kematian-Nya, dan oleh karena itu, Ia harus dibunuh.

Petrus keberatan dengan pemberitaan itu. Dia tak rela Gurunya menyatakan sebuah tragedi yang begitu menyayat hati. Karena itu ia berkata ia berkata, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu!” Mungkin ia juga menyampaikan perasaan murid-murid yang lain, sebagaimana sebelumnya, karena ia adalah juru bicara mereka. Ia menarik Yesus ke samping, dan menegor Dia. Sikap Petrus ini adalah representasi sikap iman pengikut Kristus yang larut dalam hikmat duniawi sehingga merasa bahwa perjuangan, badai kehidupan dan salib bukanlah bagian dari iman. Petrus tampak begitu menentang penderitaan dan terkejut atas kehinaan salib. Inilah bagian yang rusak dari diri kita, yang selalu menginginkan keadaan yang aman tenteram saja. Kita cenderung mengait-ngaitkan penderitaan dengan kehidupan saat ini saja, kita selalu merasa penderitaan itu hanya mendatangkan ketidaknyamanan untuk kehidupan saat ini. Namun ada cara lain untuk menanggapi penderitaan itu, yang bila dilakukan dengan sepenuh hati akan memampukan kita menanggung penderitaan itu dengan sukacita (Rm. 8:18). Lihatlah bagaimana Petrus dengan semangat berkata, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Allah kiranya mencegahnya, supaya Engkau tidak menderita dan dibunuh. Kami tidak dapat menerima pikiran-pikiran seperti itu. Petrus mewakili murid-murid-Nya mencoba meluapkan kerinduan hati:  Guru, selamatkan diri-Mu: “Sayangilah diri-Mu sendiri, agar siapa pun tidak berlaku kejam terhadap Engkau; kasihanilah Diri-Mu, dan hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” 

Dalam kehidupan kita, Tuhan mau supaya kita konsisten memperjuangkan kebaikan dan kekudusan-Nya. Yesus tidak sungkan-sungkan menegur dan bahkan menghardik Petrus atas kekeliruan dan kelancangannya. Sikap ini dapat menjadi contoh bagi kita agar kita juga tidak sungkan-sungkan untuk secara bebas dan setia untuk menegur sahabat-sahabat sekarib apapun, lebih-lebih kalau mereka mengatakan atau melakukan kekeliruan, sekalipun diselubungi dengan alasan kebaikan.  Ada banyak hal di dunia ini yang membuat kita hanyut dalam sikap maunya enak dan maunya asyik. Namun Yesus mengingatkan kita bahwa apa pun yang tampak sebagai pencobaan untuk berbuat dosa sekalipun tampaknya berselubungkan sesuatu yang enak dan asyik haruslah ditolak dengan penuh konsisten dan bukannya ditoleransi dan diberi ruang.

Rabu, 7 Agustus 2019

Rabu, 7 Agustus 2019


Injil Matius 15: 21-28

Seorang perempuan Kanaan datang kepada Tuhan Yesus dan meminta supaya Yesus menyembuhkan anak perempuannya yang sedang kerasukan setan. Pada awalnya Dia datang dengan hanya satu tujuan agar anaknya disembuhkan namun kemudian ada sebuah proses pematangan dan pendewasaan di mana dia mencari Tuhan bukan hanya demi sebuah tujuan pemulihan semata tetapi demi pertumbuhan dan pendewasaan iman. Motifnya datang pada Yesus bersifat duniawi dan manusiawi belaka namun setelah bertemu dengan Tuhan Yesus, ia menyadari seperti apa dan bagaimana menjadi seperti apa yang Tuhan inginkan.

Inilah sebuah ideal iman sejati. Mencari Tuhan bukan terutama untuk meminta sekalipun meminta dan memohon tentu tidak salah. Namun Yesus menekankan bahwa mencari Tuhan bukan terutama untuk meminta tetapi terutama karena digerakkan oleh iman dan pengharapan yang kuat bahwa kita meminta tidak dengan disposis hati yang putus asa tetapi karena kita percaya bahwa apa yang kita minta akan diindahkan oleh-Nya.  

Ada banyak tendensi dalam kehidupan beriman, di mana orang Kristen (hanya) mau percaya Tuhan kalau tujuan yang ia inginkan tercapai seperti ingin kesembuhan, kaya, dan masih banyak lagi tujuan-tujuan yang sifatnya personal dan berorientasi pada ego semata. Bagi Yesus, iman sejati mesti melampaui sebuah keinginan untuk mujikzat semata. Iman sejati berarti mengutamakan Kristus di dalam seluruh aspek hidup, datang kepada Yesus bukan saja untuk membawa kepentingannya tetapi lebih khusus membawa hati yang siap dan teguh untuk menjadi Tuhan, menjadikan Kristus sebagai wadas kokoh imannya.

Andaikata, perempuan ini tidak mempunyai hati yang penuh iman, maka di titik pertama seluruh kisah ini akan berubah menjadi tragedi yang mengenaskan; seorang anak tetap kerasukan dan menderita ditambah lagi dengan seorang ibu yang putus asa karena ia menolak beriman kepada Kristus. Jadi kisah ini tidak saja berpusat pada mujikzat penyembuhan tetapi memberikan penekanan pada iman pada Kristus. Ketika perempuan ini memusatkan seluruh hidupnya kepada Tuhan, Kristus berada di titik utama. Dan ketika Kristus ditempatkan sebagai prioritas, hidupnya berubah total.

Banyak teolog menyatakan bahwa Faith is putting Christ as the first and ultimate position. Kalau ada orang yang mengatakan ia beriman tetapi tidak menjadikan Kristus di posisi utama, kemungkinan besar ia dapat jatuh pada tendensi memanipulasi Tuhan untuk kepentingan pribadinya. Ibu dan anak yang pulih mempunyai hidup yang bernilai karena iman sejati yang ditanamkan oleh Kristus Yesus. Iman sejati bukan sekedar mendapat apa yang menjadi keinginan kita tetapi iman sejati merubah seluruh hidup kita menjadi hidup yang bersandar dan taat mutlak pada Tuhan. Iman yang sejati adalah iman yang menggarap totalitas seluruh hidup kita agar diarahkan oleh Tuhan. Sebagai pengikut Kristus, kita diharapkan agar memiliki sikap seorang hamba di hadapan Tuhan. Berbeda dengan dunia yang mengajarkan bahwa mesti memperoleh dulu baru percaya. Iman berarti percaya sekalipun belum memperoleh apapun. Percaya bahwa apa yang Tuhan berikan akan jauh lebih besar daripada apa yang saya inginkan. Percaya bukan untuk mendapat apa yang saya inginkan tetapi percaya mendapatkan apa yang Tuhan beri. 
Mari kita memeriksa diri kita, iman seperti apakah yang kita miliki? Sudahkah kita memiliki iman sejati? Sudahkah Kristus bertahta dan menjadi Tuhan dalam seluruh aspek hidup kita? Amin.

SELASA, 6 AGUSTUS 2019

SELASA, 6 AGUSTUS 2019


Injil Markus 9: 2-10

Yesus membawa ketiga murid terdekatnya Petrus, Yohanes dan Yakobus menuju ke gunung untuk berdoa. 6 hari setelah dia mengatakan bahwa anak manusia akan diserahkan ke tangan penjahat dan mereka akan menyalibkan Dia, Yesus memberikan antisipasi bahwa penyesahan dan kematiannya bukanlah akhir dari segala-galanya. Penggelantangan dan kemuliaan yang Allah tunjukkan dalam penampakan Musa dan Elia adalah sebua antisipasi bahwa setelah penyaliban dan kematian, kemuliaan dan kemenangan Kristus akan kejahatan dan kematian sedang menanti. Peristiwa kemuliaan itu adalah sebuah cara ilahi dari Yesus sendiri untuk mengurangi rasa sedih yang menyeruak dalam hati para murid terkasih-Nya setelah mendengarkan bahwa ia akan disesah dan mati disalibkan. Ia juga mau mengingatkan kepada mereka bahwa penderitaan yang rela dilakukan-Nya adalah atas kemauannya sendiri dan karena itu mereka tak perlu berkecil hati dan gentar sebab Yesus tahu bahwa salib dan maut bukanlah akhir dari segala-galanya tetapi awal dari kemuliaan yang akan diberikan bukan saja kepada Yesus tetapi kepada semua yang percaya kepada-Nya. Yesus juga mengingatkan murid-murid-Nya agar tidak melihat salib sebagai batu sandungan tetapi sebagai sebuah batu loncatan yang menghantar pada kemuliaan.

Kitab Mazmur mencatat kalimat ini: “Tabor dan Hermon bersorak-sorai karena nama-Mu (Mzm. 89:13).  Yesus dimuliakan di puncak sebuah gunung yang tinggi. Menurut tradisi Alkitabiah, Yesus dimuliakan di atas puncak gunung Tabor.Kita ingat kisah perrjanjian lama ketika Musa bercakap-cakap dengan di puncak Gunung Sinai dan juga seperti ketika Musa memandang negeri Kanaan dari puncak Gunung Pisga. Gunung dalam Kitab Suci sering dikisahkah sebagai tempat di mana orang bisa mengambil jarak sebentar dari keseharian dan rutinitas yang penat dan padat, untuk pergi menyendiri, berpaling kepada alam dan dengan melihat dan mengagumi alam, orang bisa semakin menyadari kebesaran Allah yang sedemikian besar dalam hamparan pemandangan yang indah dan luas.

Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus. Dalam sejarah kita mengenal betapa Petrus terpilih sebagai pemimpin para rasul namun Petrus juga yang menyangkal Yesus tiga kali. Tho, Yesus tetap mempercayakan Petrus untuk memimpin para rasul setelah kematian-Nya. Petrus yang bertobat akhirnya mati di salib secara terbalik karena dia merasa tak layak untuk disalibkan seperti Kristus. Yakobus adalah Rasul pertama di antara kedua belas murid yang mati untuk Kristus, dan Yohanes hidup lebih lama daripada yang lain, untuk menjadi saksi terakhir dari kemuliaan-Nya; Yohanes bersaksi (Yoh. 1:14), “Kami melihat kemuliaan-Nya,” begitu juga Petrus (2Ptr. 1:16-18).

Dalam penampakan yang sangat menakjubkan itu, Petrus berkata: “Tuhan, betapa bahagianya berada di tempat ini, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah di sini, biarlah ini menjadi tempat peristirahatan kita selamanya.” Perhatikanlah, jiwa yang saleh menginginkan persekutuan dengan Kristus, bahwa adalah baik untuk berada dekat dengan Kristus. Tentunya baik bagi kita untuk untuk berada di tempat yang terpisah dari kebisingan dunia ini dan menyendiri dengan Kristus. Jika hanya dengan Kristus yang dipermuliakan di atas sebuah gunung dengan Musa dan Elia saja sudah sedemikian indah, apalagi kalau kita nanti bisa bersama-Nya dipermuliakan di sorga bersama semua orang kudus! Namun karena tugas belum purna, Yesus mengajak para murid untuk kembali turun gunung setelah pemuliaannya. Dalam semua doa dan pengalaman rohani kita yang mendalam, kita senantiasa diingatkan bahwa sekali kelak kita akan bersatu dengan Kristus dalam kemuliaan-Nya di surga namun kita juga realistis untuk tetap berjuang dan terus berbuat baik di dunia ini sesuai dengan nasihat-nasihat injili sampai pada titik di mana Tuhan memanggil kita untuk kembali bersatu dengan Dia di tempat kediaman-Nya kelak. Amin. 

SENIN 5 AGUSTUS 2019

SENIN 5 AGUSTUS 2019


Ada begitu banyak orang berbondong-bondong mengikuti Kristus namun Dia hendak mengasingkan diri ke tempat yang sunyi. Kristus pergi untuk menyendiri lebih-lebih saat Dia mendengar tentang kematian Yohanes, sepupunya juga pikiran Herodes mengenai Dia, bahwa Dia adalah Yohanes Pembaptis yang sudah bangkit dari antara orang mati, sehingga membuat Herodes begitu takut terhadap Dia dan bahkan berkeinginan membunuh dia.

 Yesus berangkat ke tempat yang lebih jauh, untuk keluar dari wilayah hukum Herodes Kita lihat di sini bahwa pada saat-saat yang berbahaya, ketika Allah membukakan pintu bagi kita untuk menghindar, tidaklah salah bagi kita untuk menyelamatkan diri, kecuali kita mempunyai panggilan yang khusus untuk bertahan di situ. 

Saat Kristus belum tiba, dan oleh sebab itu Dia tidak mau menyerahkan diri ke dalam penderitaan. Dia bisa saja mengamankan diri-Nya dengan kuasa ilahi, tetapi karena hidup-Nya dimaksudkan sebagai suatu teladan, Dia melakukannya dengan kebijaksanaan manusiawi.

 Yesus menyingkir dengan perahu. Ketika orang banyak mendengarnya, mereka mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari berbagai daerah. Betapa Kristus sangat dikasihi orang banyak itu, sampai-sampai ketika Dia mengundurkan diri dari mereka, hal itu hanya membawa mereka datang mencari-Nya dengan keinginan yang lebih besar lagi. Di sini, seperti yang sering kali terjadi, genaplah nas Alkitab, yang mengatakan bahwa kepadanya akan takluk bangsa-bangsa (KJV“Kepadanyalah orang-orang akan datang berkumpul”). Sepertinya, semakin banyak saja orang yang datang berbondong-bondong mengikuti Kristus setelah kematian syahid Yohanes daripada sebelumnya. Kadang kala penderitaan orang-orang kudus dijadikan sebagai sarana untuk memajukan Injil (Flp. 1:12), dan “darah para martir adalah benih Gereja.” Sekarang kesaksian Yohanes telah berakhir, namun kesaksiannya itu tetap dikenang, dan semakin dikenang dan dikenang.  Orang-orang yang sungguh haus akan makanan rohani datang kepada Yesus untuk dikuatkan dan diteguhkan.

Seberapa sering kita dalam kehidupan kita datang kepada Yesus untuk mohon dikuatkan dan diteguhkan? Sedalam apa kerinduan kita untuk menikmati makanan rohani tubuh dan darah Kristus dalam hidup kita? Yesus menyerahkan tubuh dan darahnya untuk disantap agar mujikzat penggandaan rahmat dan berkat terus berlangsung dalam hidup kita. Apakah kita sungguh-sungguh hidup mengandalkan rahmat rohani yang kita terima dalam rupa Tubuh dan darah Kristus? Amin. 

Translate »