Browsed by
Month: April 2020

Lihatlah kayu salib… merenungkan sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus

Lihatlah kayu salib… merenungkan sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus

Yes 52:13-53:12; Ib 4:14-16; 18:1-19-42

Mengkontemplasikan salib, penderitaan dan kematian Yesus tidak akan pernah ada ujungnya… tidak ada kata final tentang pribadi dan tokoh ini. Jauh sebelum kelahiran-Nya, Ia sudah dinubuatkan. Setelah kelahiran sebagai bayi dan anak hingga dewasa, dan seluruh masa hidup hingga kematian, sesudah kematian, dan bahkan ribuan tahun setelahnya, Yesus tetaplah sosok penuh misteri.

Begitulah cara pandang orang. Yesus yang satu dan sama dipersepsikan secara berbeda. Bahkan jauh sebelum Ia datang ke dalam dunia, Ia adalah sebuah misteri besar. Nabi-nabi, buku-buku, baik yang religius maupun sekular sekali pun berbicara tentang sosok penuh misteri ini. Dari berjanjian lama hingga perjanjian baru, semuanya berbicara tentang sosok seorang penyelamat, Mesias yang dijanjikan dari generasi ke generasi, dari abad ke abad, yang akan diutus Allah untuk menyelamatkan bangsa pilihan-Nya dan seluruh bangsa manusia.

Saat kedatangan-Nya diberitakan oleh malaikat, dan Maria, ibu-Nya pun tidak mengerti, bahkan takut dan tidak percaya akan hal ini. “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Yosef, ayah angkat-Nya pun harus tunduk pasrah. Tak satu kata pun dalam Injil yang bisa kita dengar keluar dari mulutnya. Semuanya terjadi dalam diam. Yohanes pembaptis, yang menjembatani antara perjanjian lama dan baru dan dianggap sebagai pendahulu yang harus menyiapkan jalan bagi Mesias pun diliputi keraguan dan harus mengutus para muridnya untuk memastikan siapa sesungguhnya sosok ini: “Apakah Engkau Mesias yang dijanjikan? Ataukah kami harus menunggu yang lain?”

Semakin merenungkannya, kita akan semakin bertanya dan makin dibawa ke dalam banyak pertanyaan lain dan semakin membuat kita tidak tahu dan mengerti jalan dan panggilan hidup-Nya. Mengapa Yesus, yang adalah Putera Allah, harus menderita dan wafat di salib?

Hari ini kita sekali lagi merenungkan misteri agung penderitaan dan wafat Yesus di kayu salib. Di sini sosok Yesus yang misterius, tidak dipahami, penuh tanya, didekati dan dipandang melalui jalan khusus, yakni jalan iman, sebagai Putra Allah yang menderita dan wafat untuk menyelamatkan kita dari dosa dan maut.

Dalam bacaan pertama, Yesaya bernubuat tentang sosok ini yang dilihat sebagai hamba Allah yang menderita. “Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia – begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi – demikianlah ia akan membuat tercengang banyak bangsa, raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat dia; sebab apa yang tidak diceritakan kepada mereka akan mereka lihat, dan apa yang tidak mereka dengar akan mereka pahami.”

Nubuat Yesaya ini memberikan informasi yang lebih dekat dan detail tentang sosok hamba Allah, Mesias, Penyelamat yang dijanjikan. Orang akan tertegun melihatnya bukan karena ketampanan, kegagahan dan keperkasaannya, melainkan karena buruk rupanya yang tidak seperti manusia karena harus menanggung hinaan, cercaan, pukulan, dan tidak seorang pun yang akan menginginkannya. Akan tetapi, di balik itu ada rahasia besar yang tersimpan di dalam dirinya. Bahwa di dalam keburukan dan kesederhanaannya, penderitaan dan penolakan yang dialami-Nya, Allah melakukan perbuatan-perbuatan ajaib di hadapan banyak orang, termasuk para penguasa dan pemimpin dunia.

Di dalam Injil Yohanes kita menemukan sosok ini dalam bentuknya yang real, terutama di dalam kisah tentang hukuman mati dan sengsara yang ditimpakan oleh Pilatus dan para pemimpin agama Yahudi, tentang salib yang harus dipikul, tentang siksaan dan wafat-Nya di atas palang hina. Di sini Yesus bukan lagi sosok yang misterius semata melainkan figur yang real, pribadi yang gagah, perkasa, penuh keberanian, mantap dan tidak pernah menghindar dari semua hinaan, cercaan dan penolakan. Ia adalah wajah yang menderita di salib, yang wafat, namun juga bangkit dari mati. Yesus tersalib, juga Yesus yang bangkit, sosok yang sama, untuk membawa hidup baru bagi mereka yang beriman, taat dan percaya kepada-Nya.

Oleh darah dan penderitaan-Nya kita disembuhkan dan diselamatkan-Nya dari penyakit, luka dan dosa-dosa kita. Oleh kebangkitan-Nya kita diselamatkan-Nya dari belenggu maut. Semoga dengan merenungkan misteri kesengsaraan, wafat dan kebangkitan-Nya, kita semakin mengenal, mencintai Yesus, Putera Allah, rahmat termulia yang diberikan Bapa, untuk menuntun kita kembali ke jalan yang benar, jalan Allah, yang adalah “jalan” itu sendiri, “hidup” itu sendiri, dan “kebenaran” itu sendiri, ya, misteri dan realitas keselamatan kita.

Di akhir renungan ini, marilah kita memohon rahmat dan belas kasih Allah dengan mendoakan litani Hati Kudus Yesus:

Tuhan kasihanilah kami

Tuhan kasihanilah kami

Kristus kasihanilah kami

Kristus kasihanilah kami

Tuhan kasihanilah kami; Kristus dengarkanlah kami

Kristus kabulkanlah doa kami

Allah Bapa di surga, kasihanilah kami.

Allah Putra, Penebus dunia,

Allah Roh Kudus,

Allah Tritunggal Mahakudus, Tuhan Yang Maha Esa,

Hati Yesus yang Mahakudus,

Hati Yesus Putra Bapa kekal,

Hati Yesus yang di wujudkan oleh Roh Kudus dalam ribaan Bunda Perawan,

Hati Yesus yang dipersatukan dengan Sabda Allah dalam satu wujud,

Hati Yesus yang mulia tak terbatas,

Hati Yesus Bait Kudus Allah,

Hati Yesus Kemah Allah dan Pintu Surga,

Hati Yesus Perapian Cinta Kasih yang bernyala-nyala,

Hati Yesus Perbendaharaan Keadilan dan Cinta Kasih,

Hati Yesus Lubuk penuh keutamaan,

Hati Yesus amat patut dipuji-puji,

Hati Yesus Raja dan pusat segala hati,

Hati Yesus tempat semua harta kebijaksanaan dan pengetahuan,

Hati Yesus tempat tinggal keallahan seluruhnya,

Hati Yesus yang berkenan kepada Bapa,

Hati Yesus yang kaya raya dan murah hati kepada kami,

Hati Yesus kerinduan bukit-bukit yang kekal,

Hati Yesus yang murah hati bagi semua orang yang berseru kepada-Mu,

Hati Yesus sumber kehidupan dan kesucian,

Hati Yesus kurban pelunas dosa kami,

Hati Yesus yang ditimpa penghinaan,

Hati Yesus yang taat sampai mati,

Hati Yesus yang tertusuk dengan tombak,

Hati Yesus sumber segala penghiburan,

Hati Yesus kehidupan dan kebangkitan kami,

Hati Yesus pokok damai dan pemulihan kami,

Hati Yesus kurban untuk orang berdosa,

Hati Yesus keselamatan bagi orang yang berharap kepada-Mu,

Hati Yesus pengharapan orang yang meninggal dalam Engkau,

Hati Yesus kesukaan orang kudus,

Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia,

sayangilah kami, ya Tuhan.

Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia,

kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia,

kasihanilah kami.

Yesus yang lembut dan murah hati,

jadikanlah hati kami seperti hati-Mu.

1x Bapa Kami 3x Salam Maria 1x Kemuliaan. Amen

Paskah Kristus: Pembasuhan kaki, Ekaristi dan Ajaran Cinta Kasih

Paskah Kristus: Pembasuhan kaki, Ekaristi dan Ajaran Cinta Kasih

Ex 12:1-8; 1Cor 11:23-26; John 13:1-5

Yesus yang membasuh kaki murid-murid adalah tindakan Allah merendahkan diri. Perendahan diri Allah memiliki tujuan yang khusus dan mulia yakni untuk membawa kembali manusia ke pangkuan Ilahi. Dalam lingkungan Yahudi, membasuh kaki adalah tindakan seorang hamba bagi tuannya. Yesus membalikkan cara ini yakni Tuan yang membasuh kaki hambanya. Pergeseran cara pandang ini nampak dalam reaksi Petrus: “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?” Inilah cara Tuhan mengajarkan para murid dan memberi contoh tentang bagaimana mereka akan melanjutkan karya perutusan yang harus mereka emban.

Agar menjadi seorang pelayan Tuhan yang baik, pertama-tama orang harus mengalami proses pertobatan batin. Pertobatan yang benar hanya terjadi melalui bimbingan Roh Allah. Proses pertobatan ini adalah satu proses atau perjalanan spiritual yang terjadi secara batiniah di dalam waktu dan di dalam diri orang bersangkutan. Proses ini bermula dari perjumpaan antara Allah yang agung dan orang yang dipanggil kepada pertobatan. Di dalam formasi spiritual ini jiwa manusia dengan dituntun oleh Roh Allah mengarahkannya untuk kembali ke dalam diri dan bertemu dengan kondisi-kondisi dirinya yang real seperti keterlukaan, keterasingan dan bahkan keterpecahan diri yang mengakibatkan orang kehilangan keseimbangan dan daya untuk mencintai dan juga dicintai. Perjumpaan dan penerimaan akan kerapuhan diri, seperti rasa malu dan rasa bersalah, selanjutnya membimbing kepada kebutuhan untuk mengalami penyembuhan diri yang utuh. Karena penyembuhan diri adalah satu proses spiritual, maka dibutuhkan rahmat Ilahi yang oleh Paus Fransiskus sebut sebagai “balsem belas kasih” dari Allah. Karena itu perlu iman dan kerendahan hati bahwa Allah dapat melakukan penyembuhan atas diri kita.

Lagi, proses penyembuhan spiritual bukan satu proses mekanis yang gampang. Ini terjadi melalui gerakan roh dengan bimbingan Allah untuk menuntun secara bertahap dalam proses ini. Pengaruh Roh Allah ini dapat juga dilihat di dalam Kisah Pembasuhan kaki para murid. Reaksi pertama dari Petrus terhadap tindakan pembasuhan yang dilakukan Gurunya adalah penolakan. Namun setelah melakukan reaksi negatif, ia malah menerima dan bahkan meminta lebih dari itu: “Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku.” Dengan kata lain, seluruh proses ini adalah karya Roh yang kelihatan sulit tapi bukan tidak mungkin karena segala sesuatu itu mungkin bagi Allah.

Dengan demikian, proses transformasi spiritual membutuhkan pertama-tama bukan keberanian semata tapi sikap terbuka dan kepercayaan total kepada Allah agar sampai kepada penemuan jati diri yang otentik. Tahapan penemuan jati diri ini penting namun juga kritis karena perjumpaan dengan kebenaran menuntut kita untuk mengambil keputusan: mengikuti dan menolak. Menolak berarti tidak ingin bersekutu dengan Allah

yang adalah kebenaran sejati. Selanjutnya, keputusan untuk mengikuti-Nya akan mengambil bentuknya yang konkret dengan komitmen untuk mengabdikan diri demi kemuliaan Allah melalui usaha dan keterlibatan yang realistis, terencana dan aktif dengan berpartisipasi dalam proses transformasi rohani yang sama, yakni mencintai dan melayani sesama yang menderita dan butuh pertolongan. Perlu diulangi bahwa godaan terbesar di dalam seluruh proses ini adalah godaan ketidakpercayaan, yakni tiadanya kerendahan hati untuk menerima Allah, sehingga resistensi akan selalu muncul dan menyulitkan proses transformasi ini dan tujuan yang ingin dicapai. Yesus sendiri bahkan harus berkali-kali meyakinkan murid-murid agar mereka memiliki iman dan harapan bahwa Allah dapat malakukan tindakan-tindakan ajaib dalam hidup mereka, termasuk membebaskan mereka dari ikatan-ikatan diri yang palsu dengan dunia. Salah satu hasil ajaib dari proses transformasi rohani ini adalah pembalikan cara pandang sekaligus penajamannya, agar dengan mata iman orang mampu memandang sesama dan dunia, bukan lagi dengan mata manusia biasa, melainkan dengan mata Allah, yakni mata yang penuh kasih dan pengampunan.

Akhirnya, seluruh proses pengenalan dan transformasi spiritual ini harus membawa pribadi bersangkutan untuk mengambil satu komitmen religius yang lebih radikal dengan mengikuti dan mengikatkan diri pada Yesus, Putra Allah yang menjadi manusia melalui Perawan Maria. Melalui Maria, Allah memberikan kita akses kepada Diri-Nya melalui Yesus, Juruselamat mereka yang percaya kepada-Nya. Karena itu di akhir proses pembasuhan kaki, Yesus mewahyukan rahasia terdalam dari panggilan menjadi pengikut-Nya dengan berkata: “Jikalau kamu tahu semuanya ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.” Yang dimaksudkan dengan “semuanya ini” adalah ajaran dan contoh hidup Yesus beserta seluruh misterinya untuk saling mengasihi dan melayani dalam iman. Kasih dan pelayanan dalam iman ini penting namun perlu ada harapan bahwa Kristus akan datang kembali dan membawa kita ke dalam kemuliaan-Nya.

Akhirnya, misteri perjamuan Paskah Yesus bersama para murid-Nya sekaligus membentuk mereka menjadi satu kawanan baru para imam, pewarta dan pelayan Allah yang disatukan di dalam Ekaristi sebagai “pusat dan puncak” praksis kerohanian Gereja. Di dalam Ekaristi, Allah mengumpulkan kawanan domba-Nya dan melalui kehadiran para imam-Nya memberi mereka makan dari Sabda dan Ekaristi Tubuh dan Darah-Nya sendiri untuk menguatkan, memelihara dan menguduskan mereka. Hal ini menjadi inti ajaran St. Paulus dalam bacaan kedua perayaan Kamis Putih. Di sana ia memperingatkan umat di Korintus tentang pentingnya menguji diri, yakni proses pembersihan diri, termasuk pemeriksaan batin sebelum menerima komuni kudus. “Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya.” (27-29) Dengan demikian, Ekaristi sebagai pusat dan puncak hidup kristiani

harus membawa pembebasan di dalam praksis hidup yang nyata dengan mengabdikan diri sepenuhnya untuk kemuliaan Allah dan kebaikan serta kebahagiaan sesama.**

Interioritas dan pergolakan batin di dalam Paskah

Interioritas dan pergolakan batin di dalam Paskah

Yes 50:4-9a; Mat 26:14-25

Yesaya dalam bacaan pertama hari ini memberi kita gambaran khusus tentang karakter hamba Tuhan yang terletak pada kesetiaan dan ketaataan kepada panggilan Ilahi, kendati harus mengalami penderitaan dan penolakan. Pelbagai hinaan dan cercaan diterimanya dengan suka rela karena ia yakin bahwa Allah berada dipihaknya, menjadi batu karang yang menopang dan memberinya kekuatan. Hidupnya diabdikan untuk para miskin, dan kesenangannya untuk memuliakan Tuhan, penolongnya yang setia yang takkan membiarkannya mendapat malu. “Aku memuji-muji nama Allah dengan nyanyian, mengagungkan Dia dengan lagu syukur; Lihatlah, hai orang-orang yang rendah hati, dan bersukacitalah; biarlah hatimu hidup kembali, hai kamu yang mencari Allah! Sebab Tuhan mendengarkan orang-orang miskin, dan tidak memandang hina orang-orang-Nya yang ada dalam tahanan.” (Mz 69)

Sementara Matius dalam Injilnya hari ini berbicara tentang salah satu episode yang berlangsung dalam konteks Paskah orang Yahudi di mana kisah tentang Perjamuan Akhir mengambil tempat. Paskah orang Yahudi sendiri adalah perayaan pembebasan yang dilakukan oleh Allah untuk membebaskan bangsa-Nya dari perbudakan asing. Sementara Paskah Yesus direncanakan oleh-Nya dan para murid meminta bagaimana dan di mana perayaan itu akan berlangsung. Dengan meminjam rumah orang, Yesus mengutus murid-murid-Nya dengan pesan kepada tuan rumah: “Beginilah pesan Guru: Waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku.”

Dalam episode ini, Yudas Iskariot ditampilkan ke publik dan mengambil sikap yang bukan hanya berbeda dengan murid-murid Yesus yang lain, melainkan ia mengambil jalan extrim yang sama sekali berlawanan dengan jalan Allah: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Perjamuan Kudus yang dihadirkan Yesus bersama para murid adalah gambaran Perjamuan Abadi Allah dan para kudus di surga. Namun pujian, nyanyian dan syukur bagi yang Mahatinggi sebagai perayaan atas peristiwa dan memori pembebasan yang dilakukan Allah terhadap bangsa Israel harus berhadapan langsung dengan realitas dunia dengan wajahnya yang keji dan penuh penolakan. Penderitaan dan kekerasan adalah realitas dunia. “Bukan aku, ya Tuhan,” adalah ungkapan batin dan interioritas yang menderita. Konflik batin tak terhindarkan. Namun kerohanian yang benar harus pastikan. Dan kebenaran harus di atas segalanya. “Engkau telah mengatakannya,” adalah suara kebenaran di tengah ketidakpastian dan penyangkalan di meja perjamuan yang dirayakan oleh Allah sendiri.

Paskah Yesus adalah realitas pembebasan Allah terhadap orang-orang pilihan-Nya. Sebagai realitas kehadiran Ilahi, pembebasan adalah tawaran Allah kepada manusia untuk memilih. Karena itu dalam Paskah, kita berhadapan dengan dua pilihan

fundamental: mengikuti Hamba Allah yang menderita dan mati di salib, namun bangkit, atau mengikuti dunia. Bait Pengantar Injil hari ini dapat menjadi satu doa yang berkenan kepada Allah yang penuh pengampunan dan belaskasih: “Salam, ya Raja kami, hanya Engkaulah yang mengasihani kesesatan-kesesatan kami.” Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal. Amen.**

Tuhan adalah harapan dan keselamatan kita

Tuhan adalah harapan dan keselamatan kita

Yes 49:1-6; Yoh 13:21-33

Bacaan pertama hari ini membantu kita untuk menelusuri jejak-jejak pembentukan dan panggilan kita sebagai ciptaan Tuhan yang agung dan mulia. Nabi Yesaya menghubungkan relasi dan ikatan mendalam yang ditenun oleh Tuhan yang hadir di dalam setiap pribadi. Melalui ikatan keluarga, khususnya dalam kandungan ibu, Tuhan membentuk kita menurut gambar dan rupa-Nya. Ini bukan hanya sebuah ungkapan sadar melainkan kebenaran tentang makna dan tujuan hidup kita. Kehadiran Tuhan nyata dalam setiap wajah. Dan panggilan-Nya terdengar di kedalaman jiwa. Ia menuntun dan memelihara kita dengan maksud dan tujuan yang ditetapkan oleh Allah sendiri sejak permulaan: “Engkau adalah hamba-Ku, Israel, dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku.” Ia tidak pernah melepaskan ikatan itu dan kedekatan-Nya jauh melampaui kesadaran manusiawi. Sungguh, Allah dekat dan berdiam di dalam jiwa. Seperti kata pemazmur: “Kepada-Mulah aku bertopang mulai dari kandungan, Engkaulah yang telah mengeluarkan aku dari perut ibuku!” Kebaikan-Nya tak terkira dan kuasa-Nya hingga ke ujung-ujung bumi.

Kasih dan kebaikan Allah kepada manusia seperti digambarkan dalam bacaan pertama menemukan kontrasnya melalui keterlepasan jiwa untuk mengikuti keinginan sendiri dan berhamba kepada dunia. Kitab Suci banyak kali menyebut keterlepasan ini sebagai akibat dosa yang memaksa manusia untuk memisahkan ikatan natural dan ilahinya dengan Allah. Akibatnya kebebasan sejati dan keharmonisan hidup dengan Allah dirusakkan. Manusia lalu jatuh dalam ketidakbebasan dan paksaan dunia. Kitab Kejadian menggambarkan situasi ini sebagai kejatuhan Adam dan Hawa dalam dosa asal karena tertipu kekuatan jahat yang disimbolkan oleh ular. (Kej 3)

Dosa dan kematian lalu merasuki batin manusia. Gambaran yang benar tentang dirinya hilang dan Allah dipersepsikan secara salah sebagai ancaman ketidakbebasan. Makhluk yang mulanya diciptakan dengan maksud yang mulia dan dengan tujuan khusus untuk memuliakan Penciptanya, kini berbalik arah untuk melawan dasar keberadaan itu; ia menggantikan Allah dan menetapkan dirinya sebagai satu-satunya pusat. Tragedi terbesar yang dialami manusia modern terjadi ketika kuasa akal budi memaksanya untuk memerintah dunia secara otonom tanpa Allah! Babakan-babakan sejarah terus berlalu. Manusia dan generasinya pun terus bertambah. Kebudayaannya pun terus berkembang melalui ilmu dan teknologi. Namun Allah tidak pernah menganggap selesai memori keterpisahan dan tragedi paling menyakitkan itu dengan kata final. Maka Allah tak henti-hentinya mengutus para nabi, guru dan pemimpin untuk tetap menjaga dan menuntun umat-Nya. Allah ingin merangkul dan memanggil kembali manusia untuk kembali dalam pelukan-Nya. Hal ini nampak dalam pelbagai perumpamaan Yesus,

seperti kisah tentang anak hilang ( Luk 15) atau juga domba yang hilang (Mat 18; Luk 15).

Usaha Allah untuk membangun kembali relasi-Nya dengan manusia mengambil bentuknya yang paling nyata dalam diri Kristus, Putera-Nya sendiri. Inisiatif untuk menyelamatkan domba-domba-Nya yang hilang, terpisah dan tercerai-berai digambarkan oleh Yesaya sebagai satu harapan universal untuk mengumpulkan kembali bukan hanya satu kawanan tertentu, melainkan seluruh bangsa manusia: “Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa, supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.” Di dalam nubuat ini, kita menemukan gaung pembebasan Allah, dan di dalam Yesus, kehadiran Allah yang hidup di tengah dunia menjadi nyata, dan melalui para murid, tugas perutusan untuk membawa kabar keselamatan terus menggema, melalui Injil dan pewartaan Gereja. Memori tentang Kerajaan-Nya yang hilang dari batin manusia akibat dosa ingin dikembalikan Allah, pertama-tama melalui sabda pertobatan dan pemulihaan kepercayaan manusia akan Allah (Mrk 1:15).

Keterpisahan abadi akibat dosa barangkali ada dalam memori manusia. Namun bukanlah demikian memori Sang Pencipta, sumber pengampunan dan keselamatan itu sendiri. Apa yang sekarang kita kenal dan persiapkan untuk dirayakan dalam Pekan Suci merupakan tahapan-tahapan perayaan iman keselamatan kita. Melalui Kamis Putih, Allah merayakan pemberian diri-Nya secara total kepada manusia dengan membasuh kaki murid-murid, menginstitusi perayaan Ekaristi, dan ajaran Allah tentang cinta kasih ditanamkan kembali di dalam batin mereka. Peristiwa penyangkalan Yudas dalam episode ini adalah gambaran nyata pertempuran spiritual antara kuasa Allah dan kuasa kegelapan. Kebingungan para murid tentang siapa yang bakal menjadi pengkhianat, dan kepastian dari pihak Allah bahwa kuasa jahat telah memasuki salah satu di antara mereka, adalah drama abadi pergolakan rohani antara Gereja dan dunia, antara kesetiaan, keberpihakan penuh kepada Allah dan ketidaksetiaan, perlawanan oleh dusta dan kuasa dunia.

Peristiwa Jumat Agung adalah puncak pemberian diri Allah melalui kematian Putra-Nya di atas kayu Salib. Dengan kematian-Nya, Allah di dalam diri Putera-Nya, memasuki dunia orang mati untuk membangunkan mereka dari tidur panjang kematian. Peristiwa Agung Sabtu Suci adalah puncak perayaan Paskah. Peristiwa kebangkitan dan cahaya Kristus yang mengalahkan maut menciptakan harapan dan dunia baru, memori dan janji keselamatan dipulihkan dan dipastikan. Allah secara total membaharui segala sesuatu di dalam Kristus yang bangkit. Wahyu dan pekikan kemenangan Kristus dirayakan secara meriah: “Kristus bangkit. Kristus jaya. Aleluia.” Minggu Paskah, sekali lagi, menegaskan kemenangan Allah atas maut demi pemulihan dan keselamatan jiwa-jiwa. Panggilan

akan kekudusan sekali lagi diperdengarkan sesudah kebangkitan untuk mereka yang mendapat kepercayaan untuk mewartakan kasih dan pengampunan Injil. Di dalam Roh Kudus, memori kasih Allah dijaga dan dikisahkan melalui perbuatan-perbuatan ilahi dalam diri para murid Tuhan yang bangkit. Kelahiran dan perkembangan Gereja adalah hasil dan buah karya Roh Kudus.

Di tengah ancaman dunia karena viruskorona, kita harus berani untuk menaruh harapan penuh pada Allah. Sudah banyak yang kehilangan orang-orang terkasih dan bertanya: “Di mana Allah?” Pertanyaan ini dapat menjadi penyakit atau virus baru yang bahkan jauh lebih kejam dari viruskorona, jika tidak diantisipasi, terutama ketika orang mulai merasa ditinggalkan, tidak dicintai, merasa hampa dan tanpa Allah. Dalam situasi ini doa dan harapan harus diperkuat. Komunikasi pribadi dengan Allah untuk meminta inspirasi dan kebijaksanaan Ilahi amat perlu, demikian juga, komunikasi dan relasi sosial dengan anggota keluarga dan teman-teman, harus tetap dijaga dan juga ditingkatkan. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sebesar apapun cobaan itu.

“Engkaulah harapanku, ya Tuhan, Engkaulah kepercayaanku, ya Allah.” Amen.

Mengikuti jalan salib Tuhan dengan mata iman

Mengikuti jalan salib Tuhan dengan mata iman

Yes 42:1-7; Yoh 12:1-11

Pekan Suci sudah dimulai dengan Perayaan Minggu Palem kemarin. Sudah mulai terasa bahwa Paskah kali ini akan sangat berbeda. Karena kita hanya bisa merayakannya dari rumah melalui layar TV, hape dan media sosial lainnya.

Selama Pekan Suci kita merayakan tindakan Allah dalam membebaskan kita dari kuasa dunia. Sudah begitu lama kita terbiasa dengan persiapan tentang bagaimana merayakannya jauh-jauh hari sebelumnya. Kita harus mempersiapkan liturgi mulai dari Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci, Minggu Paskah. Para lektor harus berlatih mem-baca bacaan liturgi, anggota koor harus menyiapkan diri untuk bernyanyi dengan baik, petugas dekorasi harus siap mengganti warna litugi, para pelayan ekaristi, ajuda/altar servers harus disiapkan, dll. Di rumah para orang tua dan anak-anak menyiapkan batin secara baik agar siap dan pantas merayakan misteri Paskah keselamatan Tuhan.

Semua persiapan seperti di atas tidak akan terjadi kali ini. Semua umat harus mengisolasi diri di rumah dan tidak boleh datang ke gereja. Yang harus disiapkan adalah tv dan alat elektronik lainnya untuk ikut misa online via fb, youtube, dll. Dan yang paling penting, kendati hanya mengikuti dari rumah adalah persiapan batin yang baik. Ini adalah per-tama kalinya bahwa setiap orang, anda dan saya, merayakan Paskah dengan cara yang demikian karena virus corona yang mengancam dan mematikan. Hingga saat ini secara global tercatat hampir 70 ribu kematian, belum terhitung yang sudah terjangkit dan masih dalam pengawasan medis. Sudah jutaan. Jumlah kematian tertinggi saat ini adalah Itali di atas 15 ribu, diikuti Spanyol 12 ribu lebih dan US di atas 9 ribu. Menurut perkiraan, dua minggu ke depan akan menjadi masa paling gelap dan tersadis di Amerika Serikat terkait dengan Covid19.

Kita terus mengikuti perkembangan yang terjadi dan kita sama sekali tidak tahu kapan akan datang titik terang. Titik terang yang dimaksudkan misalnya penurunan jumlah kasus dan kematian seperti yang sudah terjadi di beberapa negara yang sebelumnya su-dah lebih dulu mengalami serangan virus ini. Melalui karantina, isolasi diri, penjarakan sosial, jaga higiene pribadi, cuci tangan sesering mungkin, pakai masker wajah, hindari kerumunan, dan lain sebagainya perlu kita taati untuk sedapat mungkin demi menghindarkan diri terjangkit atau menjangkiti sesama. Salah satu kemampuan virus ini untuk membunuh adalah unsur novel, asing, dan kabaruannya sehingga tidak bisa di-tangkal secepatnya secara medis melalui cara pengobatan regular. Banyak dokter dan perawat yang sudah menjadi korban entah meninggal atau terjangkiti. Selain tiadanya penyangkal atau antivirus untuk mengobati, virus ini juga memiliki kekuatan ajaib yang lain yakni ia langsung menyerang sistem pernapasan manusia, bagian paling vital keberadaan kita.

Dalam kitab suci, nafas ditiupkan langsung oleh Allah sehingga manusia bisa hidup. “And the LORD God formed man of the dust of the ground, and breathed into his nostrils the breath of life; and man became a living soul.” (Gen 2:7) Dengan merusak sistem pernapasan, virus merusak apa yang menjadi prinsip paling vital yakni roh, jiwa atau nafas pemberian Sang Pencipta. Situasi kita saat ini berada dalam satu paradox yang san-gat membingungkan di mana kemajuan medis dan teknologi modern yang telah men-capai tingkat yang tak terkirakan, tiba-tiba diruntuhkan oleh virus, molekul amat kecil tak kelihatan, namun dapat membinasakan manusia hanya dalam sekejap. Social distanc-ing, karantina, lockdown yang dilakukan pelbagai negara di dunia menunjukkan bahwa manusia seberapapun besar kemajuan yang telah dicapainya tidak dapat mengandalkan kemampuannya sendiri. Kita harus tunduk dan bertekuk lutut di hadapan Ilahi. Semua yang kita dapat, badan yang terbuat dari debu tanah, nafas yang ditiupkan oleh Sang Pencipta, semuanya asalnya dari Tuhan.

Di tengah kegelisahan, ketakutan, keterpisahan sosial dan religius dengan begitu ban-yaknya korban dan kematian, kita hendak merayakan Paskah, suatu perayaan iman yang untuk saat ini tidak gampang untuk dipahami dan diterima dengan akal sehat, bahkan oleh para ahli dan pelaku agama sekalipun. Di dalam konteks ini, barangkali kita me-renung dan bertanya: Akan seperti apa makna Paskah bagi saya? Paskah adalah per-ayaan Allah yang masuk dalam konteks sejarah dan kehidupan manusia melalui Yesus, Putera-Nya untuk membebaskan kita dari belenggu dosa dan maut. Allah yang mem-buka mata orang buta, mengampuni perempuan yang berdosa, membangkitkan Lazarus dari mati, adalah antisipasi perayaan Paskah yang akan kita rayakan selama pekan suci.

Injil hari ini memberikan satu petunjuk tentang apa yang terjadi dengan Yesus sebelum semuanya terjadi. Disebutkan bahwa enam hari sebelum Paskah, Yesus pergi ke Bethany, ke rumah sahabat-sahabat-Nya Lazarus, Marta dan Maria. Di sana Yesus dijamu secara sangat baik sebagaimana layaknya menerima kedatangan seorang sahabat terbaik yang berkunjung ke rumah kita. Di sana Yesus bukan hanya dihormati dengan satu jamuan makan melainkan juga ia diurapi dengan minyak parfum yang amat mahal oleh per-empuan yang pernah dibebaskannya dari dosa. Maria, saudari dari sahabat-Nya Lazarus yang dibangkitkan dari mati, mengurapi kaki Yesus dengan minyak parfum yang sangat mahal, dan mengeringkan dengan rambutnya, sebagai tanda yang mengantisipasi pen-guburan-Nya sendiri.

Kejadian ini membangkitkan reaksi para murid. Yudas Iskariot, salah satu dari mereka ternyata memiliki satu cara pandang sangat berbeda. Baginya, minyak itu bisa dijual dan dipakai untuk membantu orang miskin. Namun Yesus menyela intensi dan keber-pihakan itu. Yesus berkata: “Leave her alone. Let her keep this for the day of my burial. You always have the poor with you, but you do not always have me.” Yesus mengenal setiap intensi dalam diri kita. Persekongkolan Yudas dengan para elit agama, akhirnya pelan-pelan membuka tabir sang manager keuangan yang pura-pura memperhatikan

orang-orang miskin, namun di balik itu ia bukannya searah, melainkan menjauh dari in-tensi dan misi Yesus, Guru dan sahabat sejati kaum miskin itu sendiri.

Kontras antara Yesus dan para musuh-Nya memberi pelajaran berharga untuk kita para pengikut-Nya di zaman ini. Banyak sekali hal baik yang sudah kita terima dari Tuhan. Ada yang yang luar biasa dan ada juga yang kelihatannya biasa saja. Ada orang yang melihat perbuatan baik Tuhan dan merasa tertarik, percaya dan mengikuti-Nya. Tetapi ada juga yang tidak demikian. Sebagai orang yang percaya yang berharap penuh pada Tuhan, Paskah hendaknya membantu membuka mata kita untuk selalu melihat secara benar setiap pekerjaan baik yang dilakukan oleh Tuhan dalam hidup kita. Semoga “mata iman” berkat kurnia Roh Kudus membantu kita mampu mengenal dan mencintai Tuhan di dalam setiap kejadian yang berlangsung dalam dunia ini.

Yesus tentu tahu apa yang terjadi dengan kita dan apa yang terjadi di dalam dunia. Kege-lisahan, ketakutan, ketidakpastian yang sedang melanda dunia hendaknya membantu kita untuk semakin mengalami kehadiran-Nya. Mereka yang mengalami penderitaan ka-rena viruscorona, termasuk yang sudah mendahului kita, hendaknya memberi kita awasan bahwa Tuhan itu maha besar dan maha tahu. Maria, Marta dan Lazarus adalah tokoh-tokoh iman dalam Injil hari ini yang dapat membantu kita untuk memperdalam kedekatan kita dengan Tuhan dan sesama. Sedangkan mereka yang tidak percaya dan bahkan menolak Tuhan, barangkali Tuhan punya rencana lain untuk mereka. Atau mereka punya renacana sendiri. Tuhan lebih tahu!

Marilah kita memusatkan diri pada Tuhan dan berusaha meniru perbuatan-perbuatan baik yang telah ditunjukkan-Nya kepada kita. Mari kita terus merenungkan, mengkon-templasikan Tuhan, tokoh utama di balik segala sesuatu yang akan kita rayakan selama pekan suci ini. Pekan ini hendaknya menjadi saat khusus nan berahmat untuk melihat dan mengalami perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan. Semoga Roh Tuhan sendiri yang membimbing dan menguatkan kita agar kita diberkati, seluruh keluarga dan sahabat makin dipersatukan dan makin mengalami ikatan kedekatan dengan Tuhan dan satu sama lain. Maria, Bunda Tuhan dan Bunda kita, kiranya senantiasa mendampingi kita dalam doa, meditasi serta setiap perbuatan baik yang kita lakukan di jalan salib dan mis-teri keselamatan Putera-Nya, “hamba yang menderita” bagi dunia dan seluruh umat manusia.**

Translate »