Browsed by
Month: May 2020

KESETIAAN DALAM SEGALA SITUASI

KESETIAAN DALAM SEGALA SITUASI

Senin, 11 Mei 2020, Pekan V Paskah

Yohanes, 14:21-26

Hidup manusia adalah pemberian/anugerah dari Allah. Tanpa diminta, Allah menganugerahkan kehidupan kepada manusia. Tanpa campur tangan Allah, masing-masing orang tidak mungkin bisa terlahir di dunia. Anugerah selanjutnya adalah dengan kehadiran Yesus Kristus, mereka yang percaya diangkat menjadi anak-anak Allah. “…Semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya..”(Yoh 1:12). Karena begitu besar kasih Allah yang telah diterima oleh manusia, terutama kepada umat pilihan-Nya, maka sudah selayaknya bahwa setiap orang yang percaya bersyukur atas semua itu. Sikap inilah yang juga senantiasa dihayati oleh rasul Paulus, dan selalu ditanamkan kepada jemaatnya. “Aku senantiasa mengucap syukur kepada Allahku karena kamu atas kasih karunia Allah yang dianugerahkan-Nya kepada kamu dalam Kristus Yesus.”(1 Kor 1:4). Sikap bersyukur kepada Allah adalah hal yang mendasari pelayanan rasul Paulus. Orang bisa bersyukur jika terlebih dahulu ia percaya kepada Allah. Tanpa iman orang tidak akan bisa beryukur dengan segala kebaikan Tuhan Yesus. Bagaimana cara seseorang mengungkapkan sikap syukurnya kepada Allah? Seseorang berterima kasih karena terlebih dahulu ia mengalami dikasihi dan diterima, maka untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah adalah dengan mengasihi juga kepada Allah, sebab Ia sudah terlebih dahulu mengasihinya. “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.”(1 Yoh 4:19). Kasih menjadi ukuran tertinggi atau utama untuk membuktikan kesetiaan seseorang kepada Allah. Oleh karena itu tanpa kasih, seseorang tidak bisa berkata tentang iman pada Tuhan Yesus Kristus. Bagaimanakan seseorang bisa menunjukkan kasihnya kepada Allah? Kasih bukan soal rasa suka, tetapi suatu komitmen dan tindakan nyata. Oleh karena itu jika seseorang ingin menyatakan kasihnya kepada Yesus Kristus adalah dengan cara melakukan kehendakNya. Itulah yang selalu dikatakan oleh Yesus :“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”(Yoh 14:21). Seringkali bagi sebagian orang melakukan kehendak Allah adalah hal yang merepotkan dan menjadi beban hidupnya. Menjadi beban karena seseorang belum 100% percaya kepada Tuhan Yesus. Jadi percaya dulu baru orang bisa mengasihi Allah dengan taat pada kehendak/perintah-Nya. “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu”(Yoh 14:12). Tantangan sebagai orang beriman adalah selalu percaya dalam segala situasi hidupnya, juga dalam saat penderitaan. Kalau seseorang hanya berpikir iman adalah usaha manusia, ia tidak akan pernah bisa beriman. Namun jika seseorang sadar bahwa semua itu terjadi karena rahmat Roh Kudus, maka tidak ada yang mustahil karena bukan karena manusia tetapi karena Allah sendiri yang mengerjakannya. Oleh karena diperlukan kerendahan hati agar seseorang bisa percaya kepada Allah. “…Yaitu Roh Kudus yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu, dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”(Yoh 14:26).

Paroki St. Montfort Serawai, Kalbar, ditulis oleh: Rm Aloysius Didik Setiyawan CM

Jesus and His Bride in Time of Pandemic

Jesus and His Bride in Time of Pandemic

5th Sunday of Easter

May 10, 2020

John 14:1-12

We have closed our churches for public service for weeks. We shifted to livestreaming masses, and we are learning to adjust and to give priority to our health and life, we realize our hearts remain troubled. We long to see Jesus in the Most Blessed Sacrament, we desire to receive Him in the Eucharist, we want to serve Him in the churches, and we miss the sacrament of confession. We are unsure when it is going to end and be back to normal.

We are like the disciples in the Gospel. Their hearts were troubled because Jesus was about to leave them. They were having a Passover meal, and it was supposed a festive celebration. Yet, Jesus announced to them that someone would betray Him, and He would be taken away from them. The disciples had thrown everything away and followed Jesus because they were hoping that Jesus, as the Messiah, would overthrow the Roman empire and restore the glory of Israel. They could not square with the probability of utter failure. Were they holding on false hope? Was Jesus a hoax? Were their sacrifices useless? We are like the disciples. After we give everything to follow Jesus, to serve His Church, and to work in His vineyard, we feel He is missing. Where is Jesus when we needed Him most?

Jesus knew His disciples’ hearts and assured them as He did to have in God and Jesus. Yet, what comes after this word of affirmation is that Jesus told the disciples that there are many dwelling places in His Father’s house, and He will go to prepare the places. To comfort the disciples, Jesus did not say that He would come back victorious, or He would destroy all enemies of Israel. He said that He is going to prepare a dwelling place. It is just not making much sense.

To understand this, we need to know the wedding ceremony at the time of Jesus. During this time, the wedding was done in two steps. The first one is the betrothal, and the second stage is the wedding celebration. During the betrothal, the couple has exchanged vows and have become husband and wife in the eyes of the Law, but they have not stayed together in one house. They had to wait for around one year before the final ceremony. After around year, the bride would be brought in procession to the home of the groom, and they will have a week-long celebration. Why one-year wait? The reason is practical. It gives enough time for the man to prepare for the celebration as well as build a proper place for the bride.

One particular image that the Church has in relation to Jesus is that she is the bride of Christ. If we apply this Jewish wedding rite to the Church and Jesus, we discover that betrothal has taken place, but not yet the final step. Jesus is not with His Church because He is Father’s House to prepare the dwelling place for us, His bride.

In the time of the pandemic, our hearts are sorely troubled, and with the churches are closed, we feel that our Lord is taken away from us. Yet, a difficult time can actually be a passage going to the much better dwelling place prepared by Jesus. We may not see yet the better things we will experience, yet Jesus assures us that God is in control. In this stormy life, we may see a beautiful place prepared by Jesus, our groom.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kesatuan Tubuh Gereja

Kesatuan Tubuh Gereja

Sabtu, 9 Mei 2020

Hari Biasa Paskah IV

Bacaan I Kis 13: 44-52

Bacaan Injil Yoh 14: 7-14

Paulus dan Barnabas menemukan keretakan dalam tubuh Gereja, yakni masih adanya kecenderungan menyombongkan diri dari jemaat asli Yahudi. Orang Yahudi tidak serta merta menerima jemaat dari luar bangsanya. Persoalan egoisme masih dimiliki oleh orang Yahudi sehingga Paulus dan Barnabas harus mengebaskan debu kaki sebagai peringatan bagi mereka. Padahal, kedua rasul itu berusaha untuk menyatukan orang-orang ke dalam tubuh Gereja. Kedua rasul hendak memperkenalkan bahwa Gereja itu satu. Gereja tidak mengkotak-kotakkan jemaat berdasarkan suku, bangsa, jabatan dan lainnya. Di dalam Gereja, semua orang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Namun, nampaknya gagasan itu susah diterima oleh orang Yahudi. Inilah yang terjadi jika dalam tubuh Gereja masih ada sikap egois yang menjadi cikal bakal-bakal tindakan meremehkan orang lain. Lalu, bagaimana dengan kita?

Kecenderungan untuk mengistimewakan diri mungkin masih ada. Misalnya, fanatik pada lingkungannya sendiri, pada kelompok kategorialnya dan sebagainya. Melalui bacaan I mari kita belajar memahami dan menyadari kembali tentang kesatuan Gereja. Di dalam Gereja ada keselamatan yang diperuntukkan bagi mereka yang percaya, sebagaimana sabda Yesus dalam Injil, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa. Sebab, Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku”. Kesadaran akan kesatuan inilah yang sebenarnya membawa kelanggengan pada Gereja. Kendati ada banyak tantangan, tetapi Gereja masih kokoh berdiri sampai ribuan tahun. Sebab, kesatuan yang diwujudkan oleh Gereja mengejawantah ke dalam kesatuan rasa, pikiran dan kehendak. Gereja di negara satu dengan negara lainnya memiliki keyakinan iman yang sama.

Saya belajar banyak tentang kesatuan ini melalui Gereja. Satu hati, satu rasa, satu kehendak, merupakan identitas Gereja. Misalnya, melalui pandemi covid-19, Gereja berusaha membantu tanpa memedulikan teritorial dan kepentingan egosime. Ada bantuan berpola silang donasi, ada doa syafaat untuk mereka yang menderita, dan sebagainya. Inilah tanda kesatuan Gereja; satu bersama umat, satu bersama masyarakat dan satu bersama dunia. Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah menghayati makna kesatuan Gereja pada dimensi hidup kita masing-masing?

Jangan Cemas

Jangan Cemas

Jumat, 8 Mei 2020

Hari Biasa Paskah IV

Bacaan I Kis 13: 26-33

Bacaan Injil Yoh 14: 1-6

Salah satu situasi batin yang dirasakan orang sebagai akibat pandemi covid-19 ini adalah cemas. Kecemasan itu membawa orang sering takut, stress, putus asa dan pesimis. Hal ini terasa wajar karena apa yang kita alami merupakan suatu keadaan yang tidak dibayangkan. Wabah ini membuat kita harus mengevaluasi segala kekhasan manusiawi: mulai dari menjaga kebersihan badan, mengurangi kontak fisik, sampai pada tatacara peribadatan. Dengan setumpuk kecemasan, mudah bagi seseorang untuk menjadi lemah sehingga kerap kali yang muncul adalah rasio sendiri tanpa memedulikan suara Allah. Batin kita menjadi agak gelap.

Mari belajar dari peneguhan Yesus melalui Injil “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku”. Untuk meletakkan secara menyeluruh kepercayaan pada Allah harus ditopang dengan iman yang kuat. Yakin bahwa Allah masih memberi berkat adalah cara untuk memiliki harapan. Harapan inilah yang membuat hidup masih bercahaya. Harapan membuat seseorang mampu berjalan maju. Mereka yang masih mampu berjalan-lah yang bakal tetap hidup. Di lain sisi, kecemasan memang mudah muncul karena sebagai manusia tentu kita mempunyai beragam pikiran, yang sifatnya kadang terlalu pesimistis. Maka, mari kita bertindak seperti Yesus yang sepenuh hati percaya pada rencana Bapa. Apa yang dilakukan Yesus dalam jalan salib-Nya merupakan keteladanan betapa Yesus percaya Bapa akan memberi kemuliaan dan kebangkitan.

Rasio manusia memang penting, tetapi hidup kita bukan saja didukung hanya oleh kemampuan kita saja. Ada prakarsa ilahi yang memberi jaminan keselamatan kekal. Ketika rasio tidak mampu memberi jawaban, prakarsa ilahi selalu hadir menyelamatkan. Cara untuk menekuni hidup dalam keseimbangan antara rasio manusiawi kita dan prakarsa ilahi tergantung dari kualitas iman masing-masing. Maka, mari kita merawat iman bahwa Yesus itu bangkit. Yesus tidak kalah dengan maut. Iman kita adalah kebangkitan. Percaya bahwa rahmat kebangkitan akan menjamin hidup kita merupakan bukti betapa kita senantiasa yakin Allah akan memberi yang terbaik dalam hidup kita.

Keselamatan yang Menyejarah

Keselamatan yang Menyejarah

Kamis, 7 Mei 2020

Hari Biasa Paskah IV

Bacaan I Kis 13: 13-25

Bacaan Injil Yoh 13: 16-20

Paulus menceritakan kisah keselamatan, mulai dari nenek moyang bangsa Israel, pembebasan dari Mesir, para nabi sampai pada Yesus. Dalam sejarah keselamatan itu, Allah senantiasa hadir bagi umat-Nya dan memberi berkat melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi. Paulus hendak meyakinkan jemaat bahwa mereka semua merupakan ahli waris keselamatan. Warisan keselamatan itu harus dipegang sebagai penunjuk arah hidup sehingga jemaat mampu meyakini kuasa Allah. Untuk apa Paulus harus menarik wawasan jemaat sampai pada zaman nenek moyang bangsa Israel?

Rupa-rupanya Paulus hendak menyadarkan jemaat tentang rasa bersyukur. Dengan melihat sejarah perjalanan Israel, harapannya bahwa semakin tampaklah berkat Allah. Allah itu menyejarah, artinya sudah sejak dari dahulu Allah mempunyai prakarsa memberi keselamatan kepada umat-Nya. Keselamatan itu tidak terbatas pada perputaran waktu, pergantian para pemimpin maupun kelemahan manusia Israel. Di atas semuanya itu, Allah masih berkenan memberikan keselamatan pada umat-Nya, bahkan sampai akhirnya mengaruniakan Yesus, anak Tunggal-Nya untuk menebus manusia dari dosa. Maka, sudah seharusnya jemaat bersyukur atas kebaikan Allah bagi mereka.

Kita pun demikian. Pengalaman-pengalaman hidup yang telah terjadi bisa kita jadikan cara untuk mensyukuri rahmat Allah. Tentu ada banyak perkembangan diri yang bisa kita alami. Kita bukanlah makhluk yang serta merta bisa menjadi ideal secara instant, tetapi segalanya butuh proses, butuh sejarah. Dan, Allah setia menemani dalam proses kita, dalam sejarah kita. Dengan mengingat sejarah hidup kita masing-masing, maka ada kemungkinan kita bisa menjauhkan diri dari sikap sombong dan tidak peduli. Namun, semoga kerendahan hati semakin muncul dari diri kita, sebagaimana yang diajarkan Yesus dalam Injil melalui tindakan pembasuhan kaki.

Saat ini dunia sedang mengalami bencana wabah covid-19. Ini adalah sejarah kita bersama. Wabah ini semoga menuntun kita semakin menyadari kuasa Allah yang masih membuat kita kuat, semangat dan bertahan. Apakah kita sudah menemukan berkat Allah dan mensyukuri hidup dalam situasi aktual sekarang ini?

Translate »