Browsed by
Month: February 2021

Hanya Satu Tanda Yang Kita Perlukan

Hanya Satu Tanda Yang Kita Perlukan

Rabu, 24 Februari 2021

Yunus 3:1-10
Mazmur 51
Matius 11:29-32

Semua Injil menceritakan bagaimana orang-orang menantikan suatu tanda dari Yesus supaya mereka percaya. Di samping bacaan hari ini, ada juga peristiwa yang serupa di Lukas 11:29, Markus 8:11, dan Yohanes 6:30. Ketidakpuasan dan ketidakpercayaan orang akan perbuatan Tuhan pun sudah ada sejak jaman Musa. Walaupun bangsa Israel sudah dibebaskan dari Mesir dan diberi manna di gurun pasir, mereka masih saja tidak percaya. Tuhan berfirman kepada Musa: “Berapa lama lagi bangsa ini menista Aku, dan berapa lama lagi mereka tidak mau percaya kepada-Ku, sekalipun sudah ada segala tanda mujizat yang Kulakukan di tengah-tengah mereka!” (Bilangan 14:11)

Seringkali kita pun menanti-nanti tanda yang berupa mujizat dari Tuhan sebagai syarat untuk kita percaya. Seolah-olah, pondasi iman kita tergantung pada seberapa hebatnya Tuhan bisa menyembuhkan seseorang atau memberi kemakmuran.

Sebenarnya, tanda yang diberikan Yesus jauh lebih besar daripada tanda yang diberikan Yunus, lebih besar dari manna yang diberikan ke umat Israel di padang gurun. Tanda dari Yesus adalah sengsara dan wafatnya di salib, dan kebangkitanNya tiga hari kemudian. Inilah satu-satunya tanda yang mendasari iman kita. Cukupkah tanda ini membuat kita percaya kepadaNya?

Di Bumi seperti di Surga

Di Bumi seperti di Surga

Selasa, 23 Februari 2021

Yesaya 55:10-11
Mazmur 34
Matius 6:7-15

Bagi umat Protestan Pentekostal yang mengandalkan interpretasi Alkitab yang meramalkan akan terjadinya rapture (lihat penjelasan sebelumnya di https://lubukhati.org/?p=9976), keadaan di bumi sudah hampir seperti tidak ada harapan. Mereka menantikan dan berdoa supaya mereka cepat-cepat terangkat ke surga supaya bebas dari segala hal duniawi. Bagi mereka tidak ada gunanya lagi merawat bumi.

Sayangnya ada juga umat Katolik yang berpikiran serupa. Mereka inilah yang mengabaikan, atau malah menolak, ajaran Paus Fransiskus yang ada dalam surat ensiklikal Laudato Si’ (http://www.dokpenkwi.org/wp-content/uploads/2017/08/Seri-Dokumen-Gerejawi-No-98-LAUDATO-SI-1.pdf) atau surat apostolik Querida Amazonia (http://www.dokpenkwi.org/wp-content/uploads/2020/05/Seri-Dokumen-Gerejawi-No-114-QUERIDA-AMAZONIA.pdf). Beliau menyanyangkan bahwa “banyak upaya untuk mencari solusi konkret krisis lingkungan sering gagal, tidak hanya karena perlawanan dari mereka yang kuat, tetapi juga karena kurangnya minat dari yang lain. Sikap-sikap yang menghalangi, bahkan di antara orang-orang beriman, dapat berkisar dari penyangkalan masalah sampai dengan ketidakpedulian, pasrah secara acuh tak acuh, atau kepercayaan buta terhadap solusi teknis.” (Laudato Si’ 14)

Sikap ketidapedulian terhadap bumi sudah muncul sejak awal sejarah ke-Kristenan. Bidaah Gnostisisme memandang jahat segala hal duniawi. Hanya hal spiritual saja yang bisa dianggap baik. Karena itulah mereka menyangkal kemanusiaan Yesus.

Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus hari ini mengingatkan kita untuk berdoa dan berkarya supaya kehendak Allah terjadi di bumi seperti di dalam surga. Di dalam madah Kudus dalam misa kita mengumandangkan: “surga dan bumi penuh kemuliaanMu.” Bumi bukanlah tempat di mana kita semata-mata ingin tinggalkan cepat-cepat, tetapi tempat di mana kehendak dan kemuliaan Tuhan terjadi secara nyata.

Kursi Santo Petrus

Kursi Santo Petrus

Senin, 22 Februari 2021
Hari Raya Pesta Takhta Santo Petrus

1 Petrus 5:1-4
Mazmur 23
Matius 16:13-19

Perayaan istimewa hari ini sebenarnya berasal dari “kursi” atau bahasa Latinnya kathedra Santo Petrus. Karena itulah kita menamakan gereja di mana terdapat kursi Uskup sebagai “katedral.” Kursi di mana seorang pejabat pemerintahan Romawi duduk memiliki arti penting. Saat dia duduk di kursi itu, dia berkuasa untuk memberi perintah dan membuat keputusan penting.

Sejak masa awal Gereja sudah terdapat tradisi tentang kursi di mana Santo Petrus duduk sebagai pemimpin gereja di Roma, di mana dipercaya dia membaptis orang banyak. Kursi ini diturun-temurunkan kepada uskup-uskup Roma berikutnya sebagai simbol kesinambungan mereka sebagai penerus Petrus. Relik yang dipercaya berasal dari kursi ini sekarang berada di bawah ukiran perunggu dari artis Bernini di Basilika Santo Petrus di Vatikan.

Dnalor 01, CC BY-SA 3.0 https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0, via Wikimedia Commons

Sudah jelas bahwa sejak awal Gereja, kekuasaan Santo Petrus sudah menjadi bagian dari tradisi. Jika kita membaca Injil hari ini, jelas pula bagaimana Yesus sendiri menetapkan Petrus sebagai batu karang yang di atasnya GerejaNya akan dibangun.

Tetapi apa yang terjadi kemudian? Hanya dalam beberapa ayat sesudahnya, Petrus menolak untuk menerima rencana Yesus yang akan menderita dan dibunuh. Yesus sampai menghardiknya dengan sebutan “iblis.” Pada saat Yesus ditangkap, Petrus sempat menyangkal Yesus sampai tiga kali. Inikah sang batu karang pondasi Gereja?

Dari pengalaman kita sendiri, kita tahu bahwa Gereja Katolik tidak sempurna. Skandal dalam Gereja beberapa tahun belakangan ini kadang membuat kita merasa terguncang dan seperti kehilangan pondasi yang kuat. Sama seperti Petrus, kita pun juga manusia yang bisa jatuh dalam dosa. Tetapi sama juga seperti dia, kita pun diberi kesempatan bertobat dan memulihkan hubungan kita dengan Allah. Dengan demikian sungguh nyatalah janji Yesus, bahwa alam maut tidak akan pernah menguasai Gereja.

Empat Puluh Hari di Padang Gurun

Empat Puluh Hari di Padang Gurun

Minggu Pertama Prapaskah [B]

21 Februari 2021

 Markus 1: 12-15

Mengapa Yesus harus tinggal di padang gurun selama 40 hari? Jawabannya tidak sulit. Dia mengulangi apa yang dilakukan orang Israel ketika mereka dibebaskan dari perbudakan Mesir. Orang Israel tinggal selama 40 tahun di padang gurun sebelum mereka memasuki tanah perjanjian. Namun, ada satu hal lagi! Markus memberi kita detail kecil namun penting: di padang gurun, Yesus tinggal bersama binatang-binatang. Kenapa demikian? Jika ada satu orang yang hidup bersama para binatang di dalam kitab suci, dia tidak lain adalah Adam. Yesus bukan hanya Israel baru yang menanggung kondisi keras padang gurun, tetapi juga Adam baru yang menghadapi serangan setan.

Yesus memasuki padang gurun selama empat puluh hari dan Dia diuji di sana oleh kondisi keras gurun Yudea. Tidak hanya menghadapi tandusnya gurun, tetapi Yesus juga menghadapi iblis itu di sana. Dari sini saja, kita dapat melihat hubungan yang kuat antara bangsa Israel di padang gurun dan Yesus, serta antara Adam dan Yesus. Seperti Israel kuno yang bergumul dengan ego mereka sendiri, Yesus juga menanggung kelemahan manusia. Seperti Adam menghadapi si penggoda, Yesus juga dicobai oleh iblis. Namun terdapat perbedaan yang signifikan.

 Sementara orang Israel menggerutu dan mengeluh, Yesus dengan setia berpuasa dan berdoa. Sementara orang Israel menggerutu untuk mendapatkan makanan, dan Adam memakan buah terlarang, Yesus menolak godaan Setan untuk mengubah batu menjadi roti. Sementara orang Israel kehilangan iman dan menyembah iblis dalam bentuk anak lembu emas, dan Adam ingin menjadi seperti Tuhan, Yesus menolak untuk tunduk kepada iblis meskipun semua kemuliaan duniawi yang ditawarkannya. Sementara orang Israel kehilangan harapan atas tanah perjanjian dan Adam menyalahkan sang wanita, Yesus tetap teguh dan menolak untuk menguji Tuhan. Yesus adalah Israel baru dan Adam baru. Sementara Israel lama goyah dan Adam menyerah pada pencobaan dan godaan, Yesus tampil sebagai pemenang. Yesus mengoreksi dan menyempurnakan Israel lama dan Adam lama.

Kita adalah tubuh Kristus, dan kita adalah bagian dari Israel baru. Saat Yesus memasuki padang gurun, demikianlah kita pergi ke pertempuran rohani kita. Namun, kita hanya bisa menjadi pemenang ketika kita mengandalkan kepada Tuhan dan berpartisipasi di dalam Kristus. Iblis jauh lebih kuat dari kita, dan tanpa Tuhan, kita pasti akan kalah.

Bagaimana kita akan menang melawan pertempuran spiritual ini? Yesus memberi kita tipsnya: puasa-pantang, amal dan doa. Puasa membuat kita lapar namun menyadarkan kita bahwa tidak semua keinginan jasmani kita harus segera dipenuhi. Karya amal mungkin melukai kantong kita, tetapi itu membuka kita pada kebenaran bahwa kita bisa hidup bermakna dengan memberi, bukan menimbun. Doa mungkin terkesan hanya membuang-buang waktu, tetapi doa membawa kita kepada kenyataan paling mendasar bahwa tanpa Tuhan, kita bukan apa-apa. Kita adalah bagian dari Adam baru dan Israel baru, dan hanya di dalam Dia, kita mencapai kemenangan sejati kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Forty Days in the Wilderness

Forty Days in the Wilderness

First Sunday of Lent [B]

February 21, 2021

 Mark 1:12-15

Why did Jesus have to stay in the wilderness for 40 days? The answer is not difficult. He was reperforming what the Israelites did when they were liberated from Egypt. The Israelites stayed for 40 years in the wilderness before they entered the promised land. Yet, there is one more thing! Mark gives us a small, however important detail: in the wilderness, Jesus was staying with the beasts. Why so? If there is one man closely connected to the beasts in the scriptures, he is no other than Adam. Jesus is the new Israel who endured the harsh conditions of the desert and the new Adam who faced the onslaught of the devil.

Jesus entered the wilderness for forty days, and He was tested there by the harsh conditions of the Judean desert. Not only facing the barrenness of the desert, but Jesus was also confronting the devil himself. From here alone, we can draw a strong connection between the Israelites in the wilderness and Jesus, as well as Adam and Jesus. Like the old Israel who struggled with their own ego, Jesus was also enduring human weakness. Like Adam was facing the tempter, the devil tempted Jesus. However, there are significant differences.

 While the Israelites murmured and complained, Jesus faithfully fasted and prayed. While the Israelites were grumbling for the food and Adam ate the forbidden fruit, Jesus rejected Satan’s temptation to change stone to bread. While the Israelites were losing faith and worshipping the demon in the form of the golden calf, and Adam wanted to be like God, Jesus refused to bow down to the devil despite all the worldly glory it offered. While the Israelites losing hope in the promised land and Adam blamed the woman, Jesus remained steadfast and refused to test God. Jesus is the new Israel and the new Adam. While the old Israel faltered and Adam succumbed to the trials and temptations, Jesus emerged victorious. Jesus corrected and perfected ancient Israel and old Adam.

We are the body of Christ, and we are part of the new Israel. As Jesus enters the wilderness, so we are going to our spiritual battle. However, we can only become triumphant when we are holding on to God and participating in Christ. The devil is much stronger than us, and without God, we march for sure defeat.

How are we going to win against this spiritual battle? Jesus gives us the answer: fasting-abstinence, almsgiving, and prayer. Fasting makes us hungry, yet it makes us realize that not all our bodily desires need to be fulfilled immediately. Almsgiving may hurt our pockets, but it opens us to the truth that we live meaningfully by giving, not hoarding things. Prayer may be a waste of time, but it offers us the most fundamental reality that we are nothing without God. We are part of the new Adam and the new Israel, and only in Him, we achieve our real victory.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »