Browsed by
Month: February 2021

Apa yang keluar dari seseorang itulah yang menajiskannya

Apa yang keluar dari seseorang itulah yang menajiskannya

Markus 7:14-23

Dalam perikop Injil hari ini Yesus mengajarkan bahwa bukan apa yang masuk melainkan apa yang keluar dari dalam hati seseorang itulah yang membuatnya najis. Hati atau pikiran adalah pusat jiwa seseorang, kekuatan rohani manusia yang memungkinkan kita untuk mengenal, berpikir dan menghendaki. Semua yang kelihatan dari luar karena itu datang dari dalam hati manusia. Kalau kondisi batin seseorang baik maka kebaikan akan terpancar dari dalam. Sebaliknya, jika batinnya penuh dengan pikiran jahat, yang keluar adalah hal-hal jahat, dan itulah menajiskan atau merusak seseorang.

Sebagai orang-orang yang menerima rahmat pembaptisan kita diharapkan memiliki kontak batiniah dengan Kristus yang adalah jalan, kebenaran dan hidup. Hal ini mungkin karena Roh Kudus menyucikan hati dan pikiran, jiwa kita untuk mengenal dan menerima injil keselamatan dan sedapat mungkin menghayatinya dalam hidup kita. Relasi pribadi dengan Tuhan karena itu hendaknya selalu dibangun, dipupuk melalui hidup rohani yang sehat, yang baik, melalui Ekaristi, doa dan perenungan akan sabda Allah, melalui pertobatan terus-menerus, melalui kasih dan kerendahan hati, agar kita semakin memiliki keserupaan dengan Kristus, guru dan teladan keselamatan semua orang. Tidak gampang untuk menjadi pengikut setia Tuhan karena keinginan-keinginan daging dan pengaruh dunia selalu menantang kita. Mengikuti Yesus sesungguhnya berarti memikul salib, melalui jalan penderitaan, pengekangan dan penguasaan diri, agar kita kiranya boleh diselamatkan oleh pengorbanan dan kasih Kristus sendiri.

Korban yang benar

Korban yang benar

Markus 7:1-13

Bagian Injil hari ini mengisahkan bahwa selain orang-orang sakit yang dibawa kepada Yesus, datang pula mereka yang tidak sakit dan tidak butuh untuk disembuhkan, yakni kaum farisi dan ahli taurat; mereka yang merasa terpelajar dan punya tanggung jawab moral dan religius atas kaum kecil dan tak terpelajar ini. Mereka punya ciri-ciri seperti: suka mencari-cari kesalahan Yesus dan orang-orang yang mengikuti-Nya, suka mencari keselamatan sendiri sambil mengorbankan orang lain, terutama kaum miskin dan tak mampu baik dalam hal pengertian tentang hukum dan keagamaan maupun ekonomi dan kekuasaan. Inilah yang menjadi alasan Yesus ketika mengingatkan murid-murid agar menghindari “ragi”, yakni cara hidup dan mentalitas kaum farisi dan Herodes.

Mereka misalnya alih-alih menuntut para murid agar mencuci tangan sebelum makan, seharusnya hati mereka yang sudah kotor dan penuh kebusukan dibersihkan oleh Yesus, Air Hidup, sumber keselamatan; alih-alih menegakkan aturan tentang bagaimana makan roti, mereka justru menjauhkan diri dari Roti hidup yang turun dari surga; alih-alih mempersembahkan korban kepada Allah, mereka justru menolak untuk diselamatkan oleh Anak domba, korban yang menghapus dosa-dosa dunia; alih-alih menjaga dan meneruskan tradisi dan aturan nenek-moyang, mereka justru menolak Sabda dan Kasih Allah yang hidup.

Kita diingatkan agar tidak jatuh dalam berhala-berhala dunia, entah itu aturan, kebiasaan, tradisi, cara pikir, termasuk cara makan yang berlebihan, yakni praktik keagamaan yang wariskan turun-temurun, dianggap benar, dibenarkan oleh regim dan oknum-oknum yang mencari untung di atas penderitaan orang-orang kecil. Hidup rohani yang baik harus selalu dimulai dari rasa, sikap tobat, keterbukaan hati, untuk mengenal dan mencintai Allah, sumber hidup dan keselamatan; suatu kesadaran bahwa keselamatan turun atas mereka yang mengabdi Allah dengan kesetiaan, hati yang murni dan belas kasih kepada sesama — mereka yang dikorbankan dan paling menderita — itulah korban yang benar dari pihak kita yang butuh keselamatan dari Allah.

Semua orang yang menjamah Yesus menjadi sembuh

Semua orang yang menjamah Yesus menjadi sembuh

Markus 6:53-56

Injil hari ini mengisahkan tentang peristiwa penyembuhan yang dilakukan Yesus di Genesaret. Dikatakan bahwa ketika Yesus dan murid-murid tiba, orang-orang di situ langsung mengenal Dia sebagai penyembuh. Dan menariknya bahwa, tanpa berlama-lama mereka langsung masuk ke kampung, desa dan kota sekitar, dan membawa semua orang yang sakit supaya disembuhkan. Di mana saja Yesus lewat, di pinggir-pinggir jalan, di pasar, orang-orang sakit itu diletakkan, dan mereka semua disembuhkan.

Di tengah pandemi saat ini marilah kita belajar dari orang-orang Genesaret: pertama, mereka memiliki iman dan pandangan yang sangat positif terhadap Yesus. Bagi mereka, Tuhan tidak jauh. Mereka punya intuisi iman yang benar dan tulus akan Tuhan. Mereka mengenal Yesus dengan baik. Dan Tuhan memang menyembuhkan karena mengingat, mengenal, berbelas kasih dengan kita — mengingat adalah menyembuhkan. Karena itu kita butuh rahmat khusus dari Tuhan agar bisa mengingat dan mampu mengenal secara baik dan benar. Terutama agar mampu mengenal Tuhan yang diwahyukan. Yesus adalah kebenaran. Mengingat, mengenal Yesus, menyembuhkan kita. Dan bukan hanya kita tapi juga sesama, terutama yang sakit dan butuh pertolongan. Kedua, setiap pengalaman iman, termasuk pengalaman disembuhkan, harus membawa kita kepada pengalaman rohani, kesembuhan yang lebih besar, lebih dalam dan luas, yang melampaui kondisi-kondisi historis dan manusiawi kita, kepada kesatuan transendental dan mistis dengan Allah, dengan sesama dan semua ciptaan Tuhan, sumber kekudusan dan kebahagiaan sejati.

Jesus, Healer of Our Souls

Jesus, Healer of Our Souls

Fifth Sunday in Ordinary Time [B]

February 7, 2021

Mark 1:29-39

Jesus cannot be separated from His healing ministries. Some of the healings are remarkable, like the healing of a woman with the hemorrhage and Jarius’ daughter [Mark 5:321-43]. They are astonishing because these are practically impossible cases. The woman has suffered for twelve years without sign of hope, and Jarius’ daughter is as good as dead. Yet, Jesus does heal not only those with grave illness but also those with curable sickness.

Jesus is at the house of Simon, and He discovers that Simon’s mother-in-law has a fever. Fever is a symptom that points to an infection, from ordinary flu to covid-19. In the case of Simon’s mother-in-law, we can safely assume that she has a curable sickness. Without proper rest and treatment, she will get back to her usual activities. Yet, despite this fact, and even without a particular request from the person, Jesus decides to heal her anyway. Jesus understands that sickness, no matter insignificant it is, remains improper in our lives. To be a healthy person is God’s plan for us.

If we see our lives, we quickly recognize that getting sick is part of our life. Sickness becomes a constant reminder that our bodies are limited and fragile. Indeed, we have an immune system, but often this potent protection is not enough. With the pandemic caused by covid-19, we realize that human beings are not powerful as we think. As we struggle to find the cures, the virus, bacteria, and other sickness causes are also evolving and getting deadlier. The illness causes pain and suffering, and these weaknesses remind us of our death. Yet, despite this realization, deep down, we know that sickness is not the real deal, and it is a privation rather than perfection. We desire to be healthy. We fight to be healthy, and only by being healthy, we may achieve our potentials.

This is why we go to the doctors if we are sick, hit the gym, do other exercises, and live a healthy lifestyle. It is the same reason that the persons with the gift of healing are sought for. It is the same reason that many people want to see Jesus. 

We may ask, why does not Jesus heal all of us? The answer might not be that simple, but we can say that Jesus first comes to heal our broken relationship with God. He saves us from our sins. His miraculous healings are signs of this redemption. Even in His providential way, God can use our illness and suffering to make us even spiritually closer to Him. St. Dominic de Guzman is known to have very rigid mortification practices, and a witness said that a cord of chains was tied in his thigh and just removed when he died. Mortification is one of the favorites ways of the saints to seek God. They do not want that their healthy bodies become a hindrance to seek God. Meanwhile, Beato Carlo Acutis, who got sick of leukemia, a severe illness that eventually took his life, offered his suffering to the Lord. He said, “I offer all the suffering I will have to suffer for the Lord, for the Pope, and the Church.”

Jesus brings us healing to our souls and bodies. Yet, in His providential care, our bodily weakness can lead us even closer to God.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus, Penyembuh Jiwa Kita

Yesus, Penyembuh Jiwa Kita

Minggu Kelima dalam Masa Biasa [B]

7 Februari 2021

Markus 1: 29-39

Yesus tidak dapat dipisahkan dari pelayanan penyembuhan-Nya. Beberapa kisah kesembuhan merupakan kejadian yang luar biasa seperti kesembuhan seorang wanita dengan pendarahan dan juga anak perempuan Jarius [Markus 5: 321-43]. Penyembuhan ini adalah mujizat karena kasus-kasus yang dihadapi Yesus adalah hal-hal mustahil disembuhkan pada zaman-Nya. Sang wanita telah menderita pendarahan selama dua belas tahun tanpa harapan, dan putri Jarius sebenarnya sudah meninggal. Di sisi lain, Yesus tidak hanya menyembuhkan orang yang sakit parah, tapi juga mereka yang sakitnya tergolong tidak membahayakan.

Yesus ada di rumah Simon, dan Dia melihat bahwa ibu mertua Simon sedang demam. Demam adalah gejala yang biasanya terjadi karena adanya infeksi, bisa karena flu biasa hingga covid-19. Dalam kasus ibu mertua Simon, kita dapat berasumsi bahwa dia mengalami penyakit yang sebenarnya tidak berat. Dengan istirahat dan obat yang tepat, sang ibu mertua akan kembali beraktivitas dengan normal. Namun, walaupun sakitnya tergolong tidak membahayakan dan bahkan tanpa permintaan khusus dari sang wanita, Yesus memutuskan untuk menyembuhkannya. Yesus memahami bahwa penyakit, entah seberapa kecilnya, tetap sebuah hal yang tidak tepat bagi hidup kita. Menjadi orang yang sehat adalah rencana Tuhan bagi kita.

Jika kita melihat hidup kita, kita dengan mudah menyadari bahwa sakit adalah bagian dari hidup kita. Penyakit selalu menjadi pengingat bahwa tubuh kita terbatas dan rapuh. Memang, kita memiliki sistem kekebalan, tetapi seringkali perlindungan alami ini tidak cukup. Dengan pandemi yang disebabkan oleh Covid-19, kita menyadari bahwa manusia tidak sekuat yang kita pikirkan. Saat kita berjuang untuk menemukan berbagai obat dan alat-alat kesehatan, virus, bakteri, dan penyebab penyakit lainnya juga berkembang dan semakin mematikan. Penyakit menyebabkan rasa sakit dan penderitaan, dan kelemahan ini mengingatkan kita pada kematian kita. Namun, terlepas dari realisasi ini, jauh di lubuk hati, kita tahu bahwa penyakit ini adalah sesuatu yang tidak wajar, sebuah kekurangan, bukan kesempurnaan. Kita ingin sehat, kita berjuang untuk menjadi sehat dan hanya dengan sehat, kita dapat mencapai potensi kita sebagai manusia.

Inilah alasan mengapa kita pergi ke dokter jika kita sakit, kita melakukan olahraga lain, dan kita menjalani gaya hidup sehat. Inilah alasan yang sama yang dicari orang dengan karunia kesembuhan. Ini adalah alasan yang sama mengapa banyak orang ingin disembuhkan Yesus.

Kita mungkin bertanya, mengapa Yesus tidak menyembuhkan kita semua? Jawabannya tidak mudah, tetapi kita dapat mengatakan bahwa Yesus pertama-tama datang untuk menyembuhkan hubungan kita yang rusak dengan Allah Bapa. Dia menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita, sebuah penyakit rohani. Kesembuhan ragawi adalah tanda-tanda penebusan ini. Bahkan dalam misteri penyelenggaraan-Nya, Tuhan dapat menggunakan penyakit dan penderitaan kita untuk membuat kita semakin dekat secara rohani dengan-Nya. Kita bisa belajar dari para kudus.

St. Dominikus de Guzman dikenal melakukan mati raga yang sangat berat. Seorang saksi mata mengatakan bahwa tali rantai diikat erat-erat di pahanya dan baru dilepas ketika dia meninggal. Mortifikasi atau mati raga adalah salah satu cara favorit orang-orang kudus untuk mencari Tuhan. Mereka tidak ingin tubuh mereka yang sehat menjadi penghalang untuk mencari Tuhan. Sementara itu, Beato Carlo Acutis yang sakit leukemia, penyakit yang sangat menyakitkan yang akhirnya merenggut nyawanya, mempersembahkan penderitaannya kepada Tuhan. Dia berkata, “Saya mempersembahkan semua penderitaan yang harus saya derita untuk Tuhan, untuk Paus, dan Gereja”

Yesus memberi kita kesembuhan bagi jiwa dan raga kita. Namun, dalam misteri penyelenggaraan-Nya, kelemahan tubuh kitapun dapat membawa kita lebih dekat kepada Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »