Browsed by
Month: March 2021

Selasa, Prapaskah V

Selasa, Prapaskah V

Bacaan Injil Yoh 8: 21-30

Bacaan hari ini mengisahkan tentang pertentang Yesus dengan orang Farisi dan ahli agama. Mereka tidak percaya pada Yesus sebagai utusan Allah. Sampai Yesus merasa jengkel atas kedegilan hati mereka. Padahal mereka mengenal ajaran Musa dan para Nabi, juga mendalami hukum Taurat. Rupanya iman mereka akan Allah dan kepercayaan mereka pada para nabi, tidak membuka hati mereka akan kehadiran Yesus dalam hidup. Mengapa demikian? karena meraka sudah berfikir bahwa Mesias tidak mungkin berasal dari wilayah Nasaret, sebuah desa kecil di Galilea. Bagi mereka, Mesias harus berasal dari kota Daud, Bethlehem dekat Yerusalem.

Siapakah engkau? tanya orang-orang Farisi. Tapi Yesus menjawab, “Tak ada gunanya lagi aku berkata-kata dengan kamu!” Yesus kemudian mendeskripsikan siapa Bapa yang mengutusNya. Bapa yang mengutus adalah Dia yang menyertai dan memberi Roh Kudus. Ia tidak membiarkan Yesus sendirian dalam karya perutusan dan pekerjaan. Yesus pun tahu apa yang Bapa kehendaki untuk dilakukan. Satu hal yang menarik dari kata-kata Dia adalah bahwa Yesus tidak dapat berbuat apa-apa dari dirinya sendiri karena dia adalah seorang utusan Allah. Ada kesadaran bahwa yang mengutus lebih besar dan lebih berkuasa atas dirinya.

Semakin hari, kita akan mendekati kisah sengsara dan penderitaan Yesus. Konflik Yesus dengan orang Farisi dan pemuka agama juga akan semakin tajam. Kita diajak merenungkan lebih dalam bagaimana diri kita masing-masing mengenal Yesus secara pribadi. Apakah kita juga merasakan bagaimana kehadiranNya menguatkan hidup kita sehingga kita tidak merasa sendirian dalam pekerjaan yang kita lakukan. Kedekatan kita dengan Yesus akan membuat kita makin tahu apa yang Tuhan kehendaki kita lakukan di dunia ini. Semoga kita makin sadar akan tugas perutusan kita di bumi ini!

The True Glory

The True Glory

5th Sunday of Lent [B]
March 21, 2021
John 12:20-33

Traditionally, the Gospel of John is divided into two major divisions: the Book of Sign [chapter 1-12] and the Book of Glory [Chapter 13-21]. The book of Sign focuses on the public ministry of Jesus and presents the seven signs of Jesus. In John’s Gospel, Sign is a technical term for a miracle. Jesus’ signs begin with changing water into wine in Cana and reaching its culmination in raising Lazarus from the dead. Meanwhile, the book of Glory tells us how Jesus is glorified. The second part starts with Jesus and his disciples in the Upperroom and culminates in His Passion, death, and resurrection.

Today’s Gospel is coming from John chapter 12, and this chapter serves as a transition between the Book of Signs to the Book of Glory. This is also why the Church selected this reading: to prepare us to enter the Passion Sunday or the Holy Week.

One powerful lesson that we can see in today’s Gospel is how Jesus perceived His Passion and death. Undeniably, He would be crucified and die a horrible death. Crucifixion is a monstrous punishment reserved only for heinous criminals or violent rebels against the Romans. Crucifixion is dreadful because its purpose is to prolong the agony of the condemned before they met their death. On the cross, people are treated even lower than the animals. This is the kind of death that Jesus embraced.

Yet, in John’s Gospel, he did not see His crucifixion as a mere human event but divine providence. Jesus calls His crucifixion the glorification of the Son of Man. Jesus’ view does not only reverse the perspective of the cross but radically transform it. His crucifixion is not just something good or positive, but it is the victorious summit of His life. Jesus declared that the cross is the time of a judgment against the devil, the ruler of the world. Jesus also claimed that the cross is when people from all nations gather as one and receive salvation.

Does it mean Jesus simply dismisses His human side and acts ridiculously tough before the suffering of the cross? Jesus also recognized and admitted His human emotions. We know that Jesus manly faces the horror of His death in the garden of Gethsemane, yet when Jesus was firm to do the Father’s will and to love until the end.

From here, we can learn a profound lesson from Jesus. In following Christ, we might face trials and hardship in life, yet trusting in God’s providence, we can embrace them as our moment of glorification. Trusting in God’s providence is not running from the harsh realities of life, but in fact, it presupposes that we embrace all our humanity. It is not running but resolutely accepting it.

We can always see the lives of our saints. St. Agatha could easily escape death, but she refused to deny Christ and braved the horrifying tortures and death. Her torturers cut her breasts, and she was burned alive. In the eyes of the world, her death was senseless, but for them, it is sharing in the suffering of Christ, and thus, sharing in His Glory.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kemuliaan Sejati

Kemuliaan Sejati

Minggu ke-5 Prapaskah [B]
21 Maret 2021
Yohanes 12: 20-33

Injil Yohanes biasanya dibagi menjadi dua divisi utama: Buku Tanda-Tanda [bab 1-12] dan Buku Kemuliaan [Bab 13-21]. Buku Tanda-Tanda berfokus pada pelayanan publik Yesus dan juga tujuh ‘tanda’ Yesus. Dalam Injil Yohanes, ‘Tanda’ adalah istilah teknis untuk mukjizat. Tanda-tanda Yesus ini dimulai dengan mengubah air menjadi anggur di Kana dan mencapai puncaknya dengan membangkitkan Lazarus dari kematian. Sedangkan Buku Kemuliaan menjelaskan kepada kita bagaimana Yesus ‘dimuliakan’. Buku kedua dimulai dengan Yesus dan murid-murid-Nya di Ruang Atas dan berpuncak pada sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya.

Injil hari ini diambil dari Yohanes bab 12, dan bab ini berfungsi sebagai transisi antara Buku Tanda-Tanda ke Buku Kemuliaan. Ini juga mengapa Gereja memilih bacaan ini: untuk mempersiapkan kita memasuki Minggu Palma Sengsara Yesus dan Pekan Suci.

Satu pelajaran berharga yang dapat kita lihat dalam Injil hari ini adalah bagaimana Yesus memandang sengsara dan kematian-Nya. Tidak dapat disangkal, Yesus akan disalibkan dan wafat dengan cara yang mengerikan. Penyaliban adalah hukuman mengerikan yang hanya diperuntukkan bagi penjahat kelas berat dan pemberontak terhadap bangsa Romawi. Penyaliban ini mengerikan karena tujuannya adalah untuk memperpanjang penderitaan yang terhukum sebelum mereka menemui ajalnya. Di kayu salib, orang diperlakukan lebih rendah daripada hewan. Ini adalah kematian mengerikan yang Yesus akan rangkul.

Namun, dalam Injil Yohanes, Yesus tidak sekedar melihat penyaliban-Nya sebagai peristiwa manusia belaka tetapi sebagai penyelenggaraan ilahi. Yesus menyebut penyaliban-Nya sebagai kemuliaan Anak Manusia. Pandangan Yesus ini tidak hanya membalikkan perspektif salib tetapi secara radikal mentransformasinya. Penyaliban-Nya, bagi Yesus bukan hanya sesuatu yang baik atau positif, tetapi itu adalah puncak kemenangan dari hidup-Nya. Yesus menyatakan bahwa salib adalah waktu penghakiman terhadap iblis, penguasa dunia [Yoh 12:31]. Yesus juga mengklaim bahwa salib adalah saat orang-orang dari segala bangsa berkumpul menjadi satu dan menerima keselamatan [Yoh 12:32].

Apakah ini berarti Yesus mengabaikan sisi kemanusiaan-Nya dan menekan emosi-Nya sebelum menderita di kayu salib? Tentu tidak! Yesus juga mengenali dan menghidupi emosi manusiawi-Nya. Kita tahu bahwa Yesus menghadapi kengerian kematian-Nya di dalam sakratul maut di taman Getsemani, namun walaupun penuh pergulatan, Yesus tetap teguh untuk melakukan kehendak Bapa dan untuk mengasihi sampai akhir.

Dari sini, kita dapat mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari Yesus. Dalam mengikuti Kristus, kita mungkin menghadapi pencobaan dan kesulitan dalam hidup, namun kita diajak untuk percaya pada penyelenggaraan Tuhan, dan kita dapat merangkul penderitaan kita sebagai momen kemuliaan kita. Percaya pada penyelenggaraan Tuhan bukan berarti lari dari kenyataan hidup, tetapi sebaliknya, hal ini mengandaikan bahwa kita merangkul seluruh kemanusiaan kita.

Kita selalu bisa belajar dari kehidupan para kudus kita. Sebagai contoh, St Agatha dapat dengan mudah lolos dari kematian, tetapi dia menolak untuk menyangkal Kristus dan menantang siksaan dan kematian yang mengerikan. Para penyiksanya memotong payudaranya, dan dia dibakar hidup-hidup. Di mata dunia, kematiannya tidak masuk akal, tetapi bagi mereka, yang berbagi dalam penderitaan Kristus, dan dengan demikian, berbagi dalam Kemuliaan-Nya.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

SETIA DARI APA YANG KECIL

SETIA DARI APA YANG KECIL

Jumat, 19 Maret 2021

Matius 1:16.18-21.24a

            Allah memilih Maria dan Yusuf menjadi Ibu dan Ayah bagi kanak-kanak Yesus. Mereka telah dipilih untuk menjadi keluarga, tempat Yesus di besarkan. Peran Allah adalah yang paling utama dalam proses mereka menjadi satu keluarga. Pada awalnya Yusuf ragu, namun setelah diteguhkan oleh malaikat Tuhan yang diutus untuk menguatkan hati Yusuf, maka ia berani menerima panggilan suci tersebut. “Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya.”(Mat 1:24). Yusuf adalah pribadi yang taat pada kehendak Allah, dan rendah hati. Ia jarang tampil dimuka umum, namun ia mampu menjadi seorang kepala rumah tangga yang bertanggung jawab dan memberikan hidupnya untuk keselamatan keluarganya. “Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.”(Mat 2:14).  Yusuf tidak mementingkan dirinya sendiri, namun ia lebih banyak memperhatikan kehendak Allah untuk menjaga dan melindungi keluarga kudus Nasaret.

            Panggilan dan peran Yusuf ditopang oleh kekuatan Roh Kudus, oleh karena itu Yusuf selalu terbuka pada penyelengaraan Ilahi; mendengarkan Sabda Allah yang disampaikan dengan banyak cara dan berjuang untuk melaksanakannya. “Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: “Bangunlah, ambilah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggalah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.”(Mat 2:13). Yusuf percaya dan mau dituntun oleh Allah untuk menyelesaikan tugas dan pelayanannya. Ia tidak banyak bicara, namun banyak bekerja menyelesaikan apa yang dikehendaki Allah  di dalam hidupnya dan juga keluarga yang dipercayakan kepadanya. Ia bertanggung jawab karena ia percaya bahwa Allah memiliki rencana yang mulia atas hidupnya, yaitu menyiapkan Yesus Mesias sebelum tampil di muka umum untuk menyelamatkan umat manusia dengan penderitaan dan wafat di atas kayu salib. Dengan demikian Yusuf karena iman dan keterbukaannya, mampu melewati masa-masa yang sulit, dan akhirnya membawa kanak-kanak Yesus tumbuh semakin bijaksana dan siap mewartakan Kerajaan Allah.

            Santo Yusuf menjadi inspirator; pejuang kehidupan yang sederhana. Ditengah-tengah pandemi dan hirup-pikuk manusia jaman ini yang tenggelam di tengah-tengah kesibukan mengurus diri sendiri, dan kemajuan teknologi, sangat dibutuhkan sosok seperti Santo Yusuf yang rendah hati, sedikit bicara, namun gigih berjuang untuk kehidupan yang damai, dan demi kesejahteraan bersama.  Semua mulai dari diri sendiri, dari yang tindakan-tindakan yang kecil yang dilakukan dengan setia, dan dari tempat yang tersembunyi yaitu bersumber dari ketaatan kepada Allah. Tidak ada orang yang memperhitungkan Yusuf si tukang kayu dari Nasaret,  namun pengorbanan dirinya kepada keluarga Nasaret telah melahirkan dan menghantar Yesus menjadi penyelamat dunia. Yusuf telah menjukan kesetiaannya pada panggilannya dari hal-hal yang kecil dengan mengasuh, menemani, menjaga, dan melindungi keluarga kudus Nasaret. “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar.”(Mat 25:21).

                                                                                                        Serawai, ditulis oleh Rm. A. Didik Setiyawan, CM

MEMBUKA HATI

MEMBUKA HATI

Kamis, 18 Maret 2021

Yohanes 5:31-47

            Betapa sulit meyakinkan orang-orang Yahudi untuk bisa menerima Kristus sebagai Tuhan. Para nabi sudah menuliskannya di dalam Kitab Suci tentang kedatangan Sang Mesias; penyelamat.”Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, daripadamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.”(Mikha 5:1). Yohanes pembaptis sudah mengenalkan Yesus di muka umum dan memberikan kesaksian tentang siapa Yesus. “Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.”(Yoh 1:29). Tenyata semua itu juga belum membuat mereka bisa percaya.  Lalu Yesus mengatakan bahwa jika seseorang belum mau percaya maka cara terakhir adalah melihat apa saja yang telah dilakukan-Nya. “Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting dari pada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku.”(Yoh 5:36).

            Mengapa seseorang lamban untuk bisa percaya kepada Kristus Yesus, bahkan juga ada yang menolak-Nya? “Lalu Ia berkata kepada mereka: “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi.”(Luk 24:25). Seseorang lamban menerima, menangkap dan percaya, pada saat ia sedang memiliki pemikirannya sendiri. Jika seseorang sudah menutup hatinya, bagaimana mungkin ia bisa menerima hal yang baru? Oleh karena itu yang lama perlu diambil agar yang baru bisa hadir dalam hati manusia, Seperti halnya anggur yang baru membutuhkan kantong yang baru, agar kedua duanya aman dan anggur tidak terbuang. “Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.”(Mat 9:17). Anggur Baru adalah Yesus Kristus yang hadir untuk memperbahui dan kantong kulit adalah hati manusia. Jika seseorang mau menerima Yesus Kristus, maka yang perlu disiapkan adalah hati dan budinya. Kesiapan tersebut terjadi pada saat seseorang berani melepaskan apa yang sekarang digengamnya yang selama ini menjadikan kendala untuk percaya kepada Kristus. Dengan percaya kepada-Nya, maka Kristus membebaskanya dari perhambaan akan dosa. “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.”(Galatia 5:1).

            Dengan demikian hambatan yang perlu dilepaskan dari seseorang untuk bisa tinggal di dalam Kristus, Sang pokok anggur yang benar adalah dosa-dosanya sendiri. “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya.”(Yoh 15:1). Menerima Yesus sebagai Merias berarti meninggalkan dosa-dosa dan menjadi manusia yang baru, atau kantong kulit yang baru, sehingga karena Roh Kudus, ia menjadi sarana keselamatan atau sakramen bagi dunia; masyarakat dan alam semesta. Kini siapakah yang mau menerima dan percaya kepada-Nya? Jika Allah menghendaki maka tidak ada yang tidak mungkin. Oleh karena itu masing-masing orang perlu cukup dengan membuka pintu hatinya untuk Yesus Kristus. “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.”(Wahyu 3:20).

                                                                                                         Serawai, ditulis oleh Rm. A. Didik Setiyawan, CM

Translate »