Browsed by
Month: April 2021

Yesus adalah Jalan Keselamatan

Yesus adalah Jalan Keselamatan

Kisah Para Rausl 11:1-18

Yohanes 10:1-10

Saudara-i terkasih,

    Kemarin Yesus telah memproklamirkan diriNya sebagai Gembala yang baik. Oleh karena itu sehubungan dengan tema diatas, kita sekali lagi coba menyimak apa yang Yesus katakan: 

“Aku berkata kepadmu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok;” dengan kata lain bahwa hanya melalui Yesus, domba-domba itu akan selamat dan mendapat perlindungan, sembari akan masuk dan keluar menemukan padang rumput. Singkatnya, bahwa Yesus adalah satu-satunya gembala yang dapat memenuhi apa saja yang dibutuhkan oleh domba-domba itu untuk hidup. Sudah sangat pasti untuk semua dan setiap domba yang berlindung dibawah penggembalaanNya.

    Kata-kata Yesus diatas mengingatkan saya akan pengalaman masa kecil ketika membantu bapak, setiap akhir pekan bersama adik, kami menghabiskan waktu untuk menggembalakan sapi. Ada sekian banyak pengalaman bersama adik saya, bersama-sama harus menggiring sapi ke kandang, memberi rasa nyaman sampai akhrnya sapi-sapi dapat masuk ke kandang dengan selamat. Beberapa kali sejauh ingatan saya kami berdua harus menggiring sapi-sapi terutama yang masih sangat kecil untuk tidak terperangkap di tumpukan ular piton yang sudah menant menangkap mereka. Seringkali kami harus berteriak dan menciptakan suara yang sangat keras untuk menghindari agresifitas ular piton itu. itulah salah satu bahaya yang masih tertanam dalam ingatan saya ketika saya bersama adik menggembalakan sapi.

    Selain itu dalam bacaan pertama hari inipun kita semua diperkenankan untuk melihat kedalaman arti dari apa yang Yesus ungkapkan untuk kaum Farisi. Terutama ketika Roh Kudus telah turun atas Petrus dan ketika ia menerima orang kafir pertama kedalam keanggotaan gereja yang baru. Disini kita sudah bisa melihat bagaimana kekuatiran yang lurar biasa dari kaum Kristen Yahudi dari Yudea, sampai akhirnya Petrus menjelaskan secara gamblang bahwa Roh Kudus telah turun atas kaum bangsa Yahudi yang telah percaya pada hari Pentekosta. 

    Kata-kata Petrus sudah dapat memberi rasa lega kepada para murid yang kuatir/tidak aman – hingga akhirnya mereka bisa memuji dan memuliakan Allah atas belaskasih kehidupan yang mereka terima. Itulah akhirnya dengan sangat jelas kita bisa memahami mengapa Yesus sampai tiga kali memerintahkan Petrus untuk “menggembalakan domba-dombaNya.” Yesus tidak pernah memberikan satu alternatip lain kepada Petrus, selain hanya harus pergi dan melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Sebagai pemimpin untuk gereja yang baru, sudah tepat bahwa Petrus menerima mereka yang tak bersunat sekalipun. Tetutama dalam tugas mewartakan kabar gembira yang sudah dipercayakan kepadanya untuk orang-orang Yahudi. Situasi itu bergitu cepat terjadi dan mengalami perubahan yang radikal ketika Saulus menjadi Paulus, dimana kepada Paulus Yesus mempercayakan tugas mewartakan kabar gembira kepada kaum kafir.

    Inilah gereja yang dibangun oleh Kristus sendiri, dimana pintu keselamatan itu terbuka untuk semua orang yang mau datang dan mau percaya kepada Nya. Setiap orang yang sudah dibaptis menerima tugas yang sama untuk mewartakan Kristus kepada dunia yang lapar dan haus akan kebenaran dan Injil. Semoga Sabda Allah dan Sakramen-sakramenNya (dengan kata lain, semoga sakramen-sakramen yang adalahi tanda kehadiran Allah yang menyelamatkan) itu memberi rahmat dalam pelaksanaan tugas kita selanjutnya. Amin.

Gembala yang Baik dan Kudus

Gembala yang Baik dan Kudus

Minggu Paskah keempat [B]
25 April 2021
Yohanes 10: 11-18

Minggu Paskah keempat umumnya dikenal sebagai Minggu Gembala yang Baik. Alasannya adalah bahwa setiap tahun Gereja selalu memilih Injil dari Yohanes khususnya bab 10 [tahun A: Yoh 10: 1-10; tahun B: Yoh 10: 11-18; tahun C: Yoh 10: 27-30]. Dalam bab ini, Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai Gembala yang Baik. Minggu ini juga dikenal sebagai Minggu Panggilan. Pada tahun 1964, Paus Paulus VI menetapkan Hari Doa Sedunia bagi Panggilan pada hari Minggu keempat Paskah. Mengapa minggu Panggilan? Dalam Injil yang sama, Yesus berkata bahwa Sang Gembala ‘memanggil’ domba-domba-Nya menurut nama mereka dan mereka mendengar suara-Nya [lihat Yoh 10: 3-4].

Seringkali, kita mengasosiasikan panggilan dengan panggilan seorang imam atau kehidupan membiara, menjadi bruder atau menjadi suster. Namun, Yesus, Gembala yang Baik, tidak hanya memanggil sebagian kecil domba-domba-Nya, tetapi seluruh kawanan. Yesus mengundang setiap orang untuk mengikuti Dia, dan dengan demikian, setiap orang memiliki dipanggil dan memiliki panggilan.

Secara umum, di Gereja, kita memiliki kaum klerus dan kaum awam. Klerus adalah mereka yang menerima Sakramen Imamat atau tahbisan. Di bawah kelompok ini adalah para diakon, imam, dan uskup. Sedangkan yang tidak menerima tahbisan adalah kaum awam. Di dalam kelompok awam ini, ada yang menikah dan mereka yang tetap sendiri untuk Tuhan [disebut juga selibater awam]. Ada juga kategori khusus, yaitu orang-orang yang mengucapkan kaul. Secara tradisional, kita memiliki tiga kaul atau janji kepada Tuhan, kaul ketaatan, kaul kemurnian dan kaul kemiskinan. Umat Katolik yang mengikrarkan kaul biasanya tergabung dalam komunitas [secara teknis disebut lembaga hidup bakti] seperti Ordo Pengkhotbah, Serikat Yesus, dan banyak lainnya. Ketika seorang wanita awam mengikrarkan kaul, dia menjadi seorang suster dari komunitas tertentu seperti, Sr. Maria, OP, dan ketika seorang imam berkaul, dia disebut sebagai imam biarawan atau taraket, seperti Rm. Joseph, OFM. Seorang imam yang tidak mengikrarkan kaul, dan terikat pada keuskupan disebut imam projo, diosesan atau sekular. Tentu saja, kategori-kategori ini hanya sebuah penyederhanaan, dan masih banyak lagi bentuk kehidupan lain di dalam Gereja Katolik. Intinya adalah bahwa Gembala yang Baik memanggil kita semua untuk mengikuti-Nya dan bersama-Nya. Ini adalah panggilan universal menuju kekudusan.

Namun, apakah kekudusan itu? Apakah ini berarti ketika seseorang ditahbiskan menjadi imam, dia auto suci? Apakah mengenakan pakaian keagamaan merupakan tanda kesucian? Apakah doa terus menerus dan kesalehan merupakan manifestasi dari orang-orang kudus? Jika kekudusan mengikuti dan menjadi satu dengan Gembala yang Baik, maka menjadi suci adalah hidup dan bertindak seperti Gembala yang Baik itu sendiri. Lalu, apa karakter utama dari Gembala yang Baik? Yesus menyatakan, “Gembala yang Baik memberikan hidup-Nya untuk domba-dombanya [Yohanes 10:15].” Gembala yang Baik itu ‘Baik’ karena kasih-Nya yang radikal dan pengorbanan.

Menjadi kudus berarti mengasihi secara radikal dan rela berkorban, dan cinta kasih sejati dilakukan setiap hari dengan segala cara yang bahkan sangat sederhana. Kekudusan adalah saat seorang pria bekerja keras setiap hari untuk keluarganya. Kekudusan adalah seorang ibu yang merawat bayinya dan siap kehilangan waktu tidurnya setiap malam. St. Theresa dari Avila pernah berkata, “Ketahuilah bahwa jika kamu berada di dapur, Tuhan berjalan di antara panci dan wajan.”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Good and Holy Shepherd

The Good and Holy Shepherd

Fourth Sunday of Easter [B]
April 25, 2021
John 10:11-18

The fourth Sunday of Easter is commonly known as the Good Shepherd Sunday. The reason is that every year, the Church always chooses the Gospel from John, especially chapter 10 [year A: John 10:1-10; year B: John 10:11-18; year C: John 10:27-30]. In this chapter, Jesus introduces His identity as the Good Shepherd. This Sunday is also famously called the Vocations Sunday. In 1964, Pope Paul VI established the World Day of Prayer for Vocations on the fourth Sunday of Easter. Why ‘Vocations Sunday’? The word ‘vocation’ comes from the Latin word, ‘vocare’ that means ‘to call’. In the same Gospel, Jesus says that the shepherd ‘calls’ his sheep by name and they hear his voice [see John 10:3-4].

Often, we associate vocation with the vocation to the priesthood or religious life, become a priest, or become a religious sister. However, Jesus, the Good Shepherd, does not only call a few sheep to follow Him, but the entire flock. Jesus invites everyone to follow Him, and thus, everyone has a vocation.

Generally, in the Church, we have the clergy and the laity. The clergies are those who received the sacrament of Holy Orders or ordination. Under this group are the deacons, priests, and bishops. Meanwhile, those who do not receive the ordination are the laity. Under this distinction, we have married people and those who remain single for the Lord. There is also a special category, that is people with vows. Traditionally, we have three vows or promise to God, the vow of obedience, the vow of chastity and the vow of poverty. Christians who professed vows usually belong to communities [technically called institutes of consecrated life] like the Order of Preachers, the Society of Jesus, and many others. When a laywoman professes vows, she becomes a religious sister of a specific community like Sr. Maria, OP. When a priest has vows, he is called a religious priest, like Fr. Joseph, OFM. A priest who does not profess vows and attached to a diocese is called a diocesan priest. Indeed, these categories are oversimplified and fail to do justice to many other forms of lives within the Catholic Church. The point is that the Good Shepherd is calling all of us to follow and to be with Him. It is a universal call to holiness.

Yet, what is holiness? Does it mean when a man is ordained to be a priest, he is automatically holy? Is wearing a religious habit a sign of holiness? Is constant prayer and piety manifestation of holy persons? If holiness is following and becoming one with the Good Shepherd, then to be holy is to live and act like the Good Shepherd Himself. What, then, is the main character of the Good Shepherd? Jesus tells us, “The Good Shepherd lays down His life for His sheep [John 10:15].” The Good Shepherd is ‘Good’ because His love is radical and sacrificial.

To be holy is to love radically and sacrificially, and true love is performed every day in every way possible. Holiness is when a man works hard every day for his family. Holiness is a mother who cares for her baby and ready to lose her sleep every night. St. Theresa of Avila used to say, “Know that if you are in the kitchen, God walks among the pots and pans.”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

“Apakah kamu tidak mau pergi juga?”

“Apakah kamu tidak mau pergi juga?”

Kis 9:31-42; Yoh 6:60-69

Sabtu Pekan III Paskah

Injil hari ini dimulai dengan situasi dimana beberapa pengikut Yesus memutuskan untuk tidak lagi mengikuti-Nya. Mereka tidak dapat menerima ajaran yang telah Yesus berikan tentang identitasnya sebagai Roti Hidup dan tentang kebutuhan para pengikut-Nya untuk makan daging-Nya dan meminum darah-Nya. Mereka berkata, “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” 

Tampaknya tidak semua orang yang mulai mengikuti Yesus tetap menjadi pengikut-Nya. Itu adalah pengingat bagi kita bahwa kita tidak dapat meremehkan iman kita, hubungan kita dengan Tuhan. Fakta bahwa kita telah menjadi murid Tuhan di masa lalu tidak menjamin bahwa kita akan tetap menjadi murid-Nya di masa depan. Memang, setiap hari kita harus memperbarui tanggapan kita terhadap panggilan Tuhan. Kita harus terus secara sadar memutuskan untuk memilih Dia.  Iman adalah anugerah tetapi juga melibatkan keputusan di pihak kita. Itulah mengapa pada akhir Injil hari ini, Yesus berpaling kepada kedua belas murid dan bertanya kepada mereka, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Yesus bertanya kepada mereka, dan menyerahkan kepada kedua belas murid untuk memutuskan untuk memilih Yesus sebagaimana Dia telah memilih mereka. 

Saudari-saudaraku, Tuhan Yesus mengajukan pertanyaan yang sama kepada kita, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?”  Dia menunggu tanggapan kita. Kita tidak dapat melakukan yang lebih baik daripada tanggapan seorang Petrus, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal.” Setiap kali kita menghadiri perayaan Ekaristi, kita membuat tindakan iman yang luar biasa seperti yang Petrus lakukan. Hal ini karena ketika kita memilih untuk datang ke perayaan Ekaristi kita memilih Tuhan sebagai Roti Hidup; kita memperbarui baptisan kita. Kita kemudian diutus untuk menghidupi pilihan akan Tuhan itu dalam kehidupan kita sehari-hari.

Saudari-saudaraku yang terkasih, saya merasakan bahwa kehadiran kita, orang-orang yang mengikuti Yesus menjadi lebih penting ketika orang lain telah pergi. Mungkin tanpa kita sadari, kenyataan bahwa kesediaan salah satu dari kita untuk tetap tinggal (mengikuti Yesus) merupakan dorongan bagi semua orang. Seperti Gereja perdana di awal bacaan pertama hari ini yang digambarkan, “Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus”, kita perlu membangun satu sama lain dengan tetap berada dalam persekutuan dengan Tuhan dan hidup dari persekutuan ini untuk menjalani kehidupan kita sehari-hari: siapa pun kita, kapan pun dan dengan siapa pun kita hidup. 

TUHAN YANG SELALU MENGUNJUNGI KITA

TUHAN YANG SELALU MENGUNJUNGI KITA

Kis 9:1-20; Yoh 6:52-59

Jumat, Pekan ke III Paskah

Dalam Injil hari ini, Yesus berbicara tentang pentingnya makan daging-Nya dan meminum darah-Nya untuk mendapatkan kehidupan darinya. Namun, di masa Covid ini, banyak orang Katolik yang  belum bisa menerima Tubuh Kristus secara sakramental dalam perayaan Ekaristi. Kita harus hidup tanpanya dan ini merupakan kerugian besar bagi banyak umat Katolik. Namun, Tuhan menemukan cara lain untuk datang kepada kita ketika kita tidak dapat menerima-Nya dalam Ekaristi. 

Dalam bacaan pertama hari ini, Tuhan datang kepada Santo Paulus dengan cara yang sangat mencolok. Datanglah cahaya dari surga di sekelilingnya dan, sebagai hasilnya, dia jatuh ke tanah dan dia mendengar Tuhan berkata kepadanya, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya aku?” Pengalaman dramatis seperti itu tentu bukan pengalaman sehari-hari. Biasanya, Tuhan datang kepada kita dengan cara yang jauh lebih biasa. Tuhan dapat datang kepada kita melalui keindahan alam yang menyegarkan. Tuhan juga bisa datang kepada kita melalui orang lain, sama seperti Tuhan datang kepada Paulus melalui Ananias yang masuk ke rumah Saulus pada bacaan pertama hari ini. Tuhan yang datang kepada Paulus melalui Ananias sebelumnya datang kepada Ananias melalui sebuah penglihatan. Ananias mendengarkan Tuhan yang berbicara kepadanya dan mengarahkan dia ke tempat tinggal Saulus. Ananias mendengarkan dan melakukan apa yang Tuhan perintahkan.

Saudari-saudaraku yang terkasih, Tuhan terus datang dan berbicara kepada kita, melalui firman-Nya hari ini. Sabda Tuhan tetap menjadi firman yang hidup bagi kita masing-masing saat ini. Di masa-masa Covid ini, ketika kita tidak dapat menerima tubuh-Nya secara sakramental dalam perayaan Ekaristi, adalah baik bagi kita untuk waspada terhadap banyak cara lain dimana Tuhan datang dan berbicara kepada kita. Hari-hari ini marilah kita mempertajam kesadaran kita tentang banyak cara lain dimana Tuhan selalu mengunjungi kita.

Translate »