Browsed by
Month: April 2021

“Kamu adalah saksiKu”

“Kamu adalah saksiKu”

Kamis dalam Oktaf Paskah, 8 April 2021

Bacaan: Kis. 3:11-26; Luk. 24:35-48

Yesus yang bangkit mulia mendatangi pada muridNya dan menyapa mereka dengan Salam Damai. Inilah kekhasan Yesus yang bangkit, yang selalu membawa Damai kepada semua yang dijumpaiNya. Kebangkitan Yesus sungguh membuka tabir kehidupan baru yang membahagiakan dan membawa kedamian di dalam hidup semua manusia. Namun demikian para murid belum siap dan meereka masih ada dalam suasana duka cita yang mendalam karena kematian Yesus, yang tidak mereka harapakan. Kesediahan dan duka juga menjadi bagian kehidupan kita, khususnya di masa sekarang dengan pandemi Covid-19 ini dengan semua dampak yang diakibatkannya. Terkadang kita larut dan hanyut di dalamnya sehingga tidak memperhatikan Terang yang memancarkan sinar di tengah kegelapan ini. Yesus bisa memaklumi keadaan mereka itu dan juga keadaan kita sekarang ini. Oleh sebab itulah Yesus Kembali membuka hati dan pikiran mereka dengan mengingatkan mereka kembali akan semua yang pernah dikatakanNya selama Ia masih bersama mereka. Bahkan Yesus membuka tabir Kitab Suci, yang jelas sudah mereka ketahui sebagai orang Yahudi. Dengan sabar Yesus menjelaskan semuanya itu, sebagaimna yang pernah dikatakanNya bahwa Ia datang untuk menggenapi semua yang dikatakan dalam Kitab Suci. Apakah kita juga mampu menangkap dan semakin terbuka hati kita ketika mendegarkan Sabda Tuhan di dalam Kitab Suci dan apakah kita cukup tekun membacanya?

Dengan membuka tabir misteri kebangkitanNya ini, Tuhan Yesus mau meneguhkan semua muridNya agar semakin percaya dan siap menjadi saksi akan Misteri Paskah ini. Dengan tegas Yesus mengatakan kepada mereka semua, “Kamu adalah saksi dari semuanya ini”. Menjadi saksi berarti mengalami sendiri dan secara pribadi pengalaman akan Yesus Kristus yang bangkit mulia. Itu bukanlah cerita orang namun realita dan dialami langsung. Oleh sebab itulah mereka semua diutus untuk menjadi saksi kebangkitan Yesus kepada seluruh manusia. Selanjutnya dengan berani para murid Yesus pergi dan memberikan kesaksian akan Yesus yang membuka pintu keselamatan bagi semua manusia. Kesaksian ini juga untuk mengundang umat manusia agar datang kepada Sumber Keselamatan itu, Yesus Kristus. Kita semua pun adalah saksi Kristus di jaman sekarang ini, tentu saja bukan karena kita telah melihat Yesus ecara langsung namun karena karena kita mengalami secara pribadi Tuhan Yesus Kristus yang bangkit di dalam kehidupan kita. Semuanya itu kita alami melalui Sabda Tuhan dan pengalaman iman para murid Yesus yang terus bergema. Marilah kita terus bersaksi akan Tuhan Yesus yang menyelamatkan ini melalui kehidupan harian kita, sehingga semakin banyak orang ditarik menuju Yesus Kristus, Sang Keselamatan Abadi.

“Tuhan telah bangkit!”

“Tuhan telah bangkit!”

Rabu dalam Oktaf Paskah, 7 April 2021

Bacaan: Kis. 3:1-10; Luk. 24:13-35

Kisah pengalaman dua murid yang sedang berjalan pulang menuju ke Emaus ini sangat terkenal, karena menjadi sebuah peristiwa iman yang juga membuka mata iman kita kembali. Kekecewaan dan kesedihan mewarnai kedua murid ini, namun di tengah situasi itulah, Yesus hadir di tengah mereka. Yesus tidak pernah meninggalkan para muridNya dalam kesedihan, karena Ia tetap setia menemani mereka. Namun demikian tidak jarang kesedihan dan kekecewaan itulah yang menjadi fokus, sehingga kehadiran Tuhan tidak dilihat. Terkadang kita terlalu sibuk dengan diri kita dan persoalan kehidupan kita dan tidak sadar bahwa Tuhan ada dan hadir bersama kita. Dengan sabar Yesus membuka mata mereka terutama melalui Sabda Tuhan dalam Kitab Suci supaya mereka memahami yang telah diwartakan di dalamnya. Begitu pentingnya pula bagi kita untuk selalu membuka hati dalam membaca Kitab Suci, mendengarkan suara Tuhan dan meresapkannya.

Ketika mereka tiba di Emaus, Yesus diundang untuk tinggal bersama mereka dan saat itulah terjadi peristiwa yang membuka mata mereka. Dalam perjamuan makan, Yesus melakukan seperti yang selalu dilakukanNya ketika bersama mereka, Ia mengambil roti, mengucap syukur dan membagikannya kepada mereka. Peristiwa itulah yang membuka mata mereka sehingga mereka mengenal Yesus, namun Ia menghilang. Perjamuan menjadi bagian penting dalam perjalanan iman kita, yang selanjutnya kita kenal sebagai Perayaan Ekaristi, yang menghadirkan kembali Perjamuan Malam Terakhir Yesus bersama para rasulNya. Oleh sebab itulah kita dipanggil untuk setia ikut serta dalam Perayaan Ekaristi yang setiap hari dirayakan oleh para imam bersama semua umat di seluruh dunia.

Perayaan Paskah menyadarkan kita semua akan pentingnya mendasarkan hidup dan iman kita pada Sabda Tuhan dan Ekaristi, yang selalu disediakan bagi kita. Saatnya kita membaharui komitmen hidup kita sebagai seorang katolik dalam mengikuti Yesus Kristus untuk selamanya.

“Aku telah melihat Tuhan!”

“Aku telah melihat Tuhan!”

Selasa dalam Oktaf Paskah, 6 April 2021

Bacaan: Kis. 2:36-41; Yoh. 20 :11-18

“Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari ?’’ Perkataan yang disampaikan oleh malaekat ini diulangi oleh Yesus kepada Maria Magdalena. Kesedihan, itulah yang dialami oleh Maria karena wafat Yesus, pribadi yang sangat dicintainya. Pengampuan Yesus telah mengubah seluruh hidup Maria dan menjadi pribadi baru dan selalu mengikuti Yesus. Oleh sebab itu pula sekarang Maria mendapat anugerah istimewa karena ia disapa oleh Yesus yang bangkit mulia dengan sapaan, “Maria”.  Ketika namanya disebut, maka terbukalah mata dan hatinya sehingga ia mengenal Yesus. Hatinya bersukacita dan kesedihannya menjadi sukacita yang luar biasa. Inilah sukacita kebangkitan, sukacita Paskah yang meneguhkan kembali iman dan cintanya kepada Yesus. Dengan sukacita itu pulalah, Maria pergi menemui para rasul Yesus dan mewartakan bahwa ia melihat Tuhan. Luapan sukacita ini juga menjadi luapan iman Maria yang diungkapkan kepada semua pengikut Yesus lainnya.

Pengalaman iman Maria akan Yesus yang bangkit mulia ini hendaklah menjadi pengalaman iman kita pula. Perayaan Paskah yang sedang kita rayakan ini bukanlah menjadi perayaan rutin, namun inilah perayaan iman kita. Pusat dan pokok iman kita ada pada Pribadi Yesus Kristus yang sekarang bangkit mulia. Tentu kita juga sadar bahwa menjadi seorang beriman tidaklah sekali jadi, melainkan melalui sebuah proses yang terkadang cukup panjang. Iman membutuhkan sebuah pengalaman personal seperti Maria Magdalena, pengalaman akan Tuhan yang mencintai kita. Kita harus selalu terbuka akan rahmat Tuhan yang tercurah di dalam semua sisi kehidupan kita. Melalui berbagai tantangan kehidupan, bahkan terkadang merasakan Tuhan tidak ada, janganlah lari dariNya. Seperti Maria, ia datang kepada Yesus sebagai sumber kehidupan dan kekuatannya. Semoga Perayaan Paskah ini semakin meneguhkan kita dan membuat kita siap untuk membagikan pengalaman iman ini kepada sesama kita. Jadilah pewarta iman melalui hidup harian kita.

“Salam bagimu… jangan takut… pergilah..”

“Salam bagimu… jangan takut… pergilah..”

Senin dalam Oktaf Paskah, 5 April 2021

Bacaan: Kis. 2:14, 22-23; Mat. 28 :8-15

Gema kebangkitan Tuhan Yesus Kristus terus bergaung selama masa Paskah ini. Yesus yang bangkit mulai tetap setia hadir di tengah para muridNya dengan cara yang berbeda, Ia menampakkan diriNya kepada mereka. Demikianlah yang terjadi terhadap para wanita yang datang ke kuburnya, mereka tidak menemukan jenasahnya sementara makam sudah terbuka. Di tengah kebingungan dan kesedihan, Yesus hadir dan menyapa mereka “Salam bagimu”. Inilah salam yang selalu terdengar ketika Yesus menampakkan diri untuk meneguhkan para muridNya. Salam itu membawa kesejukkan dan damai bagi yang mendengarkannya. Itulah damai dan sukacita kebangkitan Tuhan Yesus. Damai itu pula yang disertai oleh peneguhan oleh Yesus dengan mengatakan ‘Jangan takut’, karena memang mereka ketakutan, baik karena kehilangan Yesus yang wafat maupun karena tidak menemukan jenasahNya. Setelah Yesus meneguhkan mereka. Ia mengutus mereka untuk pergi menemui para muridNya dan menyampaikan pesanNya.

Warta kebangkitan Yesus bukan hanya sebuah berita namun merupakan pengalaman nyata para murid Yesus dan sekaligus menjadi pengalaman iman mereka. Kita pun belajar dari mereka untuk selalu menegaskan iman kita karena Tuhan tertap hadir di tengah kita dalam terang kebangkitanNya yang selalu memancar di dalam kehidupan kita. Kesadaran dan iman inilah yang membawa damai dan ketenangan di dalam hidup kita. Ketakutan yang kita alami menjadi tanda kita kurang sungguh meletakkan iman kita kepada Yesus yang hidup dan tinggal di dalam hidup kita. Saatnya sekarang ini kita membagikan pengalaman iman kita ini kepada sesama kita terutama di tengah situasi yang tidak mudah ini, baik karena covid-19 maupun oleh berbagai teror yang masih terus saja terjadi. Dalam Injil tadi juga dikisahkan bagaimana kesaksian iman mereka juga berhadapan dengan berbagai berita palsu dari pihak penguasa. Realita tantangan selalu akan menjadi warna dalam perjalanan iman kita. Namun ingatlah sabda Yesus, ‘Jangan takut!’.  

Easter Joy

Easter Joy

Easter Sunday [B]
April 4, 2021
John 20:1-9

Jesus has risen! Alleluia! He is indeed alive, and we have reason to celebrate and rejoice exultantly. From Palm Sunday till Good Friday, we have witnessed the most excellent drama at the center of our faith. Jesus was received as a king by his people, who would eventually condemn Him. He gave up His body and blood to His disciples and brothers, who ultimately sold, betrayed, denied, and abandoned Him. He was innocent, yet He was condemned as a criminal and suffer horrible death on the cross. He is God, but He was buried just like any man. Yet, these dreadful things are not the end of the story. There is a marvelous twist! He rose from the dead and conquered death—his love triumphs over hatred and sin.
The good news is that Jesus’ story is real. His story is radically different from the box-office-hit movies like the Marvel series. The Avengers may dramatically defeat Thanos and resurrected the missing half of humanity, but they remain the great work of fiction. Jesus is real, as even more real than all of us. And because He has risen, our faith in Him is not in vain. We are saved, and we are redeemed. This is the unshakable foundation of our joy! Blaise Paschal, a Catholic French Philosopher, once commented, “Nobody is as happy as a real Christian.”
Yet, what does it mean to be joyful in our world now? Many of us are still struggling with pandemic covid-19, and we are not sure when this will end. Some of us are losing our beloved ones, and others must face an uncertain future due to economic meltdown. We are becoming more unsure of our lives. What should be joyful? We need to see that joy of redeemed people is not simply fleeting good feelings or outbursts of emotions. If we know this kind of sensation in the Church, we may get disappointed.
To have faith in Jesus means we believe that our lives will eventually make sense in Jesus. Thus, our joy is coming from following Jesus, participating in His drama of love and redemption, including in His cross and death. Jesus’ suffering is not the suffering of a helpless victim but a courageously loving man. Jesus’s death is not the death of a sore loser but a total sacrifice of the lover. Jesus loves us to the fullness, and absolute love demands death. In Christ, our suffering is not a sign of our weakness but our radical love. Our joy is following from the truth that we discover that in Christ, we are created beyond ourselves, but for the infinite love, for God Himself.
In this time of crisis, we may endure more uncertainties, but we may have this moment to die to our illusion that wealth, position, and power can save us. In this time of trials, we may face more hardship, but we can turn this opportunity to love deeply and even to offer ourselves in Christ.
On March 27, 1996, seven Trappist monks were kidnapped from the monastery of Tribhirine, Algeria, by the extremist group. All eventually murdered. They had been warned to leave the monastery as Algeria’s situation worsened, but they refused to go because they wanted to be with the people they served. Brother Christian, the leader, wrote in a letter, “I am certain that God loves the Algerians and that He has chosen to prove it by giving them our lives. So then, do we truly love them? Do we love them enough? This is a moment of truth for each one of us and a heavy responsibility in these times when our friends feel so little loved.”

Happy and Blessed Easter to all of you!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »