Browsed by
Month: April 2021

Sukacita Paskah

Sukacita Paskah

Minggu Paskah [B]
4 April 2021
Yohanes 20: 1-9

Yesus telah bangkit! Aleluya! Dia benar-benar hidup dan kita bersukacita. Dari Minggu Palma hingga Jumat Agung, kita telah menjadi saksi drama terbesar di pusat iman kita. Yesus diterima sebagai raja oleh rakyat-Nya yang pada akhirnya akan menghukum Dia. Dia menyerahkan tubuh dan darah-Nya kepada para murid dan saudara-Nya yang akhirnya menjual, mengkhianati, menyangkal, dan meninggalkan-Nya. Dia tidak bersalah, namun Dia dihukum sebagai penjahat dan menderita kematian yang mengerikan di kayu salib. Dia adalah Tuhan, tetapi Dia dikuburkan sama seperti manusia lainnya. Namun, hal-hal mengerikan ini bukanlah akhir dari cerita kita. Ada kejutan yang luar biasa! Dia bangkit dari kematian dan menaklukkan kematian. Kasih-Nya menang atas kebencian dan dosa.
Kabar baiknya adalah kisah Yesus itu nyata. Kisah-Nya sangat berbeda dari film-film box-office seperti film-film Marvel. Avengers mungkin secara dramatis mengalahkan Thanos dan membangkitkan separuh umat manusia yang hilang, tetapi mereka tetap merupakan karya fiksi. Yesus itu nyata, bahkan lebih nyata dari kita semua. Dan karena Dia benar-benar telah bangkit, iman kita kepada-Nya tidak sia-sia. Kita diselamatkan dan kita ditebus. Ini adalah fondasi yang tak tergoyahkan dari sukacita kita! Blaise Paschal, seorang Filsuf Prancis Katolik, pernah berkomentar, “Tidak ada yang sebahagia umat Kristiani sejati.”
Namun, apa artinya bersukacita di dunia kita sekarang? Banyak dari kita masih berjuang dengan pandemi COVID-19 dan kita tidak yakin kapan ini akan berakhir. Beberapa dari kita kehilangan orang yang kita cintai, dan yang lain harus menghadapi masa depan yang tidak pasti karena krisis ekonomi. Kita menjadi lebih tidak yakin dengan hidup kita. Apa bisa kita bersukacita? Kita perlu melihat bahwa sukacita kita bukan hanya perasaan enak yang cepat berlalu atau sebuah luapan emosi. Jika kita hanya mencari sensasi seperti ini di Gereja, kita mungkin kecewa.
Beriman kepada Yesus berarti kita percaya bahwa hidup kita pada akhirnya akan memiliki makna di dalam Yesus. Jadi, sukacita kita datang dari mengikuti Yesus, berpartisipasi dalam drama kasih dan penebusan-Nya, termasuk dalam salib dan kematian-Nya. Penderitaan Yesus bukanlah penderitaan korban yang tidak berdaya, melainkan penderitaan manusia berani. Kematian Yesus bukanlah kematian pecundang, tapi pengorbanan total. Yesus mengasihi kita sepenuhnya, dan kasih total menuntut kematian. Di dalam Kristus, penderitaan kita bukanlah tanda kelemahan kita, tetapi dari kasih radikal kita. Sukacita kita mengalir dari kebenaran yang kita temukan bahwa di dalam Kristus, kita diciptakan melampaui diri kita sendiri, tetapi untuk kasih yang tak terbatas, untuk Tuhan sendiri.
Di masa krisis ini, kita mungkin menanggung lebih banyak ketidakpastian, tetapi kita bisa menjadikan momen ini untuk mati terhadap ilusi kita bahwa kekayaan, posisi, dan kekuasaan dapat menyelamatkan kita. Di masa pencobaan ini, kita mungkin menghadapi lebih banyak kesulitan, tetapi di dalam Kristus, kita dapat mengubah kesempatan ini untuk mengasihi secara mendalam, dan bahkan memberikan diri kita sendiri.
Pada 27 Maret 1996, ada tujuh pertama Trappist diculik dari biara Tribhirine, Aljazair, oleh kelompok ekstremis. Semua akhirnya dibunuh. Beberapa bulan sebelumnya, mereka telah diperingatkan untuk meninggalkan biara karena situasi Aljazair memburuk, tetapi mereka menolak pergi karena mereka ingin tinggal bersama dengan orang yang mereka layani. Brother Christian, pemimpin biara, menulis dalam sebuah surat, “Saya yakin bahwa Tuhan mencintai orang Aljazair dan bahwa Dia telah memilih untuk membuktikannya dengan memberikan hidup kami kepada mereka. Jadi, apakah kami benar-benar mencintai mereka? Apakah kami cukup mencintai mereka? Ini adalah momen kebenaran bagi kami masing-masing dan tanggung jawab yang berat di saat-saat ini ketika teman-teman kami merasa sangat sedikit dicintai. ”

Selamat Paskah!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

“Yesus telah bangkit! …sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-muridNya”

“Yesus telah bangkit! …sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-muridNya”

HARI RAYA KEBANGKITAN

Mrk 16:1-8

            Saudara-saudari yang terkasih, selamat paskah, Yesus sungguh telah bangkit, Alleluya! Hari Raya Paskah menjadi pusat iman kita. Yesus Kristus yang sengsara dan wafat, telah bangkit membebaskan kita dari dosa, memberikan harapan dan sukacita. Paskah, Kebangkitan Kristus memperbaharui hidup kita. Namun tak jarang, hati kita tidak berkobar menanggapi sapaan Allah, hati menjadi dingin dan tidak berkobar. Paskah, adalah saat Cinta Kasih Allah menang atas dosa. Seperti kita ketahui bahwa setelah peristiwa sengsara, wafat Yesus Kristus, para murid bersembunyi, takut karena menjadi pengikut Kristus. Mereka takut dihukum mati seperti GuruNya. Untuk memahami Kebangkitan Kristus, marilah kita sejenak memahami kondisi para murid Yesus pada waktu itu. Mereka diliputi ketakutan, keputusasaan, kehilangan harapan, sikap kecewa, hati yang dingin. Namun dalam situasi yang demikian, Maria Magdalena memberikan berita yang menggetarkan para murid karena Yesus tidak ditemukan di makam. Yesus Kristus sungguh telah bangkit seperti disabdakanNya. Di depan peristiwa Kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus, kita semua diundang untuk mengenali kembali kehadiranNya dan kuasa kebangkitanNya.

            Sungguh sesuatu yang mengagumkan bahwa seorang wanita yaitu Maria Magdalena yang pertama kali memberi kesaksian mengenai kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Dengan mata iman, Maria Magdalena menerima kabar dari orang muda yang memakai jubah putih bahwa Yesus telah bangkit. Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus adalah bukti cintaNya dan Ia sungguh hidup dan menyertai kita. KebangkitanNya adalah suatu kabar gembira bagi seluruh umat manusia. Kita diutus menjadi saksi-saksi KebangkitanNya. Jaman sekarang orang muda, anak-anak kita, lebih akan tergerak melakukan suatu kebaikan bukan karena apa yang kita katakan tetapi pada apa yang kita lakukan. Jangan heran kalau anak-anak kita akan lambat mendengarkan nasihat-nasihat baik yang kita ajarkan, mungkin karena kita belum sungguh menjadi saksi. Kebangkitan Kristus ini menjadi sumber iman kita, sumber kekuatan kita, sumber pengharapan kita. Oleh karena itu, untuk menjadi saksi-saksi kebangkitan, kita perlu menimba dari Sang Sumber, berjumpa dengan Kristus dalam doa, dan santapan Sabda serta Ekaristi. Kristus yang Bangkit mengubah dan memberi kekuatan bagi kita. Yesus Kristus adalah Terang dalam hidup kita. Yesus Kristus yang bangkit mengangkat batu yang menutupi hati kita. Cahaya api kebangkitan membakar kegelapan dalam hidup kita. Kegelapan, kesedihan dan keputus-asaan kadang menutupi dan menghalangi kita untuk mengalami kegembiraan dan sukacita Paskah. Untuk mengenal Yesus yang bangkit, kita perlu mendengarkan Sabda Allah dan Ekaristi. Dengan demikian Kristus yang bangkit mengobarkan hati kita. “Pada hari ini Tuhan bertindak! Mari kita rayakan dengan gembira.”

SELAMAT PASKAH, ALLELUIA ALLELUIA

Salib adalah lambang cinta

Salib adalah lambang cinta

JUMAT AGUNG, 02 APRIL 2021

Yoh 18:1-19:42

            Setiap kali perayaan Jumat Agung, kita akan mendengarkan kisah sengsara menurut Injil Yohanes. Penuturan kisah sengsara Tuhan itu bukan bertujuan menampilkan kengerian dan kekejian yang dialami Yesus, melainkan hendak mengajak umat untuk melihat kekuatan cinta Allah yang begitu besar. Kekuatan cinta itu dibuktikan dengan penderitaan yang dialami PuteraNya. Salib bukan lagi menjadi lambang hukuman dan penghinaan, tetapi menjadi lambang cinta yang total dan tanpa syarat. Ungkapan Yesus: “Sudah selesai” menjadi ungkapan kemenangan atas maut, kemenangan atas belenggu dosa dan kemenangan atas kebencian. Apa yang dapat kita renungkan dalam perayaan Jumat Agung ini?           Pertama, salib adalah lambang kehidupan. “apabila Aku ditingikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepadaKu”. Ini dikatakanNya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati. (Yoh 12:32-33). Hal yang sama juga dikatakan Yesus ketika bercakap-cakap dengan Nikodemus. Juga dalam Yoh 3:14-15, “dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal. Salib itulah yang membuat kita hidup dan diberi kekuatan.

            Kedua, salib adalah lambang cinta. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga ia telah mengaruniakan Anaknya yang tunggal (Yoh 3:16). Mencintai senantiasa melalui suatu pengorbanan. Ketika seseorang mencintai, ia tidak lagi melihat dan memperhitungkan mengapa “mencintai”. Yesus mencintai manusia, Ia tidak melihat dan memperhitungkan situasi dan kondisi manusia. Berkorban menjadi wujud suatu cinta. Tidak lagi memperhitungkan dan mempertimbangkan pamrih. Allah tetap mencintai kita, kendati kita adalah orang berdosa.

            Ketiga, salib lambang kemuliaan. Salib menjadi lambang kemuliaan karena kematian telah dikalahkan. Salib telah membawa kehidupan. Salib menjadi berarti karena adanya kebangkitan. Kebangkitan akan kita alami apabila kita juga setia dan menghadapi penderitaan dan tidak takut menghadapi kematian. Oleh karena itu suatu penderitaan akan berarti apabila penderitaan itu mengubah hidup kita lebih baik lagi.

“Tuhan Yesus, dengan kematian pada salib, Engkau menang atas maut dan membebaskan kami dari dosa. Semoga kami hidup dalam sukacita karena karya penebusanMu”

Translate »