Browsed by
Month: June 2021

Misteri Kerajaan Allah

Misteri Kerajaan Allah

Minggu ke-11 pada Masa Biasa [B]
13 Juni 2021
Markus 4:25-34

Kerajaan Allah bisa dikatakan sebagai inti dari Injil Yesus. Di awal pelayanan Yesus, kalimat pertama-Nya adalah, “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” [Mar 1:15].” Misi Yesus tentu saja untuk mengungkapkan kasih Allah, menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita, sehingga kita dapat mengambil bagian dalam kehidupan Tuhan. Untuk mencapai misi ini, Dia mendirikan Kerajaan Allah. Karena Yesus adalah Allah, kita dapat mengatakan bahwa Kerajaan Allah adalah Kerajaan Yesus sendiri. Tidak heran, kita merayakan pesta Kristus Raja pada akhir masa liturgi, karena Dia adalah sungguh kepala Kerajaan Allah.

Namun, pertanyaan sebenarnya adalah apakah Kerajaan Allah itu? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita akan ke Perjanjian Lama. Dalam 2 Samuel 7, Daud berencana untuk membangun rumah Tuhan, Bait Allah di Yerusalem, tetapi Tuhan melalui nabi Natan, memberi nubuat kepada Daud bahwa alih-alih Daud yang membangun rumah Tuhan, Tuhanlah yang akan membangun rumah Daud. Tuhan berjanji bahwa Tuhan akan mendirikan kerajaan Daud, dan seorang anak Daud akan bertakhta akan memerintah selamanya. Namun, jika kita mempelajari sejarah, kita menyadari bahwa setelah Salomo, kerajaan Daud terpecah dan terus mengalami kemunduran. Kerajaan utara dihancurkan pada 721 SM oleh kekaisaran Asyur, dan kerajaan selatan dihancurkan pada 587 SM oleh negara adidaya Babel. Banyak orang Israel diasingkan dan dideportasi jauh dari tanah air mereka. Dimanakah janji Tuhan kepada Daud?

Jadi, ketika Yesus datang dan memberitakan Kerajaan, banyak orang Yahudi bertanya, “Apakah ini Kerajaan yang dijanjikan? Apakah Yesus ini benar atau hanya penyebar hoax?” Kepada publik, Yesus tidak memberikan jawaban langsung melainkan melalui perumpamaan. Perumpamaan ini menyembunyikan dan mengungkapkan kebenaran tentang Kerajaan Allah. Bagi mereka yang membenci Yesus, perumpamaan ini hanyalah cerita-cerita aneh. Bagi mereka yang mengharapkan Yesus menjadi Mesias dalam artian pemimpin militer atau politik, perumpamaan ini membingungkan. ‘Kerajaan Allah harus seperti pohon beringin yang perkasa, bukan seperti sesawi!’ Namun, bagi para murid yang percaya kepada Yesus, perumpamaan ini mengungkapkan misteri besar kerajaan Allah.

Memperkenalkan kerajaan Allah seperti biji sesawi pasti mengejutkan orang-orang yang mengharapkan kerajaan Allah seperti kerajaan Mesir atau kekaisaran Roma. Yang menakjubkan adalah, kerajaan Yesus benar-benar berperilaku seperti sesawi. Ini dimulai dengan Yesus dan murid-murid-Nya yang kecil dan tidak sempurna, tetapi secara bertahap dan perlahan memenuhi seluruh dunia. Kerajaan Allah ini tidak menaklukkan negara lain dengan manuver militer dan politik, dan pada kenyataannya, seperti sang Kepala, kerajaan ini telah mengalami penganiayaan kejam yang tak terhitung jumlahnya. Namun, terlepas dari penderitaan dan cobaan, kerajaan itu terus berkembang dan menjadi komunitas manusia terbesar di bumi ini.

Sebagai bagian dari kerajaan Allah, ini benar-benar kabar baik bagi kita. Kita tidak harus percaya bahwa kita adalah pohon beringin yang megah, dan berpikir bahwa kita dapat melakukan segalanya dengan kekuatan kita sendiri. Dengan pemikiran seperti ini, ketika kita gagal, kita akan tertekan dan kecewa. Namun, jika kita melihat diri kita seperti biji sesawi, kita membiarkan ujian dan kegagalan menjadi bagian dari hidup kita, dan membiarkan Tuhan mengerjakan keajaiban di dalam hidup kita, sama seperti Dia membangun kerajaan-Nya. Itulah betapa menakjubkannya Tuhan kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Mystery of the Kingdom of God

The Mystery of the Kingdom of God

11th Sunday in Ordinary Time [B]

June 13, 2021

Mark 4:25-34

The Kingdom of God is arguably the core of Jesus’ gospel. At the beginning of Jesus’ public ministry, His first sentence was, “This is the time of fulfilment. The Kingdom of God is at hand. Repent, and believe in the gospel [Mar 1:15].” Jesus’ mission is certainly to express love, save us from our sins, and so we will be able to partake in the life of God. To achieve this mission, He was establishing the Kingdom of God. Since Jesus is God, we can say that the Kingdom of God is the Kingdom of Jesus. No wonders, we celebrate the solemnity of Christ the King because He is the head of the Kingdom of God.

Yet, the real question is, what is the Kingdom of God? We shall go back a little to the Old Testament. In 2 Samuel 7, David was planning to build the house of God, the Temple in Jerusalem, but God, through the prophet Nathan, told David that instead of David constructing God’s house, it was God who would build the house of David. God promised that God would establish the Kingdom of David’s son, and the throne of his Kingdom would reign forever. However, if we learn the history, we are aware that after Solomon, the Kingdom of David was divided and declining. The northern Kingdom was demolished in 721 BC by the Assyrian empire, and the southern Kingdom was destroyed in 587 BC by the Babylonian superpower. Many Israelites were exiled and deported far from their homeland. Where was the promise of God to David?

Thus, when Jesus came and preached the Kingdom, many Jews were asking, “Is this the promised Kingdom? Is He for the real deal or just another mad man?” To the public, Jesus did not give a straightforward answer but parables. These parables both hide and reveal the truth of the Kingdom of God. For those who hated Jesus, these parables were just bizarre stories. For those who expected Jesus to be the militaristic messiah, these parables were confusing. ‘The kingdom of God should be like a mighty cedar tree, not like a mustard!’ However, for those disciples who believed in Jesus, these parables revealed the great mystery of the Kingdom.

Introducing the Kingdom of God like a mustard seed indeed shocked the people who hoped for the empires like Egypt or Rome. Surprisingly, the Kingdom of Jesus indeed behaved like mustard. It began with Jesus and His small and imperfect companions, but it gradually and slowly filled the whole world. The Kingdom does not conquer other nations with military and political maneuvering, and, like its head, the Kingdom has been subjected to countless cruel persecutions. However, despite the setback and trials, the Kingdom continues to grow and become the most prominent human community on the earth.

As part of the Kingdom of God, this is excellent news. We do not have to believe that we are majestic oak tree or mighty cedar and think that we can do everything with our strength. Otherwise, when we fail, we will get depressed. Yet, if we consider ourselves nothing but mustard seeds, we allow trials and failures to be part of our lives and let God work wonders. That is how amazing our God is.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hati Yesus yang kudus dan lemah lembut

Hati Yesus yang kudus dan lemah lembut

Perayaan Hati Kudus Yesus, Jumat 11 Juni 2021

“Salah seorang dari prajurit itu menikam lambung Yesus dengan tombak dan segera mengalirlah darah serta air keluar” (Yoh 19: 35)

Perayaan Hati Kudus Yesus mengundang semua orang untuk masuk pada kedalaman hati dan berfokus pada hidup afeksi Allah sendiri. Hati Yesus tidak hanya menunjukkan kasih, tapi hati itu adalah kasih itu sendiri. Ia mengundang setiap orang untuk datang, diterima dan diampuni, tak terbatasi oleh dosa dan kelemahan. Hati kudus Yesus menunjukkan pada kita kalau kasihnya tidak terhingga. Ia tak pernah lelah dan tak pernah menyerah. Dalam hatinya ada keinginan selalu untuk memberikan diri. Kita bisa menemukan dalam hatiNya sumber kasih setia yang lembut dan membebaskan.

Dalam bahasa Kitab Suci, hati menjadi pusat hidup orang beriman. Di sana ada banyak arti:  sumber pikiran dan kehendak, keinginan dan tempat pertemuan manusia dengan Allah. Kualitas hidup manusia diukur dari kualitas hatinya. Oleh karenanya, kita sering mendengar, “hatiku siap sedia ya Allah, hatiku siap sedia.” Dalam hati manusia itu seluruh kepribadian, jiwa dan badannya mendapatkan artinya. Oleh karenanya,  saat berkomtemplasi Hati Kudus, kita perlu  bertanya: kemanakah hati kita tertuju selama ini? Yesus sendiri berkata, “kemana hartamu berada, di situ hatimu juga berada.”

Santo Bonaventura merenungkan bagaimana dirinya ditangkap oleh kasih Kristus yang mengasihi sampai akhir: “Siapa yang tidak akan mengasihi karena telah dikasihi? Siapa tidak akan memeluk sebuah hati yang begitu murni? Kita yang dibuat dari daging, akan membalas kasih dengan kasih. Kita akan memeluk dia yang telah terluka, yang tangan dan kakinya dipaku di salib. Kita akan tergatung pada hatinya dan lukanya!”

Mempersembahkan kurban & kemarahan

Mempersembahkan kurban & kemarahan

Renungan Kamis 10 Juni 2021

“Jika engkau mempersembahkan kurban di atas mezbah, dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu” (Mat 5: 23).

Sebenarnya tidak ada salahnya orang marah karena kemarahan adalah sesuatu yang normal dan wajar. Sejauh orang mengekpresikan kemarahan itu tanpa merusak, tanpa kekerasan dan proporsional, orang lain biasanya masih bisa menerimanya. Kontek kemarahan disini dihubungkan dengan tuduhan sesorang pada orang lain, “kafir dan jahil.” Kata kafir dalam bahasa Yunani “raca” mengartikan sesuatu yang merendahkan, tidak ada penghargaan pada orang lain, serta penilaian pada orang lain kalau tidak percaya Allah. Bahkan Yesus berkata, kalau seseorang mengatakan pada orang lain “kafir”, dia harus dihadapkan pada makamah agama.

Yesus menghubungkan antara tindakan ritual yaitu mempersembahkan kurban dengan tindakan sosial. Kita sudah terbiasa melakukan berbagai ritual sebagai ekpresi dari praktek keagamaan. Ada banyak contoh tindakan ritual itu, seperti membuat tanda salib, berdoa devosi, adorasi, dan berbagai kegiatan keagamaan lain. Ketika seseorang melakukan tindakan ritual, buah dari tindakannya perlu diwujudkan dalam praktek sosial. Artinya, kegiatan keagamaan kita harus punya dampak sosial pada orang lain. Kalau kegiatan keagamaan tidak berdampak, kita akan jatuh pada tindakan ritualisme! Baik secara keagamaan, tapi tak berfaedah bagi hidup sosial bersama orang lain.

Dalam teks hari in, Yesus menghubungkan tindakan mempersembahkan kurban dengan membuat perdamaian. Jangan sampai hidup ritualnya baik dan sesuai dengan tuntutan, tidak diimbangi dengan kehidupan relasi sosial yang damai. Artinya, seorang yang baik hidup keagamaannya, harus menampakkan buah dari hidup rohani itu dalam relasi yang memberi rasa damai, tidak mudah marah, tidak menuduh orang seenaknya, serta mau berinisiatif memberi maaf dan meminta maaf atas kesalahannya. Itulah ciri orang yang jauh dari ritualisme!

Kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah

Kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah

Renungan Rabu, 9 Juni 2021, 2 Kor 3: 4-11

Selama 3 tahun Paulus berkarya di Korintus dan dia menemukan beberapa orang non Yahudi yang percaya pada Allah lalu dibaptis. Salah satu tantangan terbesar Paulus dalam bermisi di Korintus adalah saat dia berhadapan dengan budaya Romawi-Yunani yang mengagungkan keungulan diri. Orang Korintus berlomba-lomba menjadi yang terbaik, sehingga mereka dipandang cakap dan unggul dalam masyarakat. Bukan sesuatu yang buruk kalau orang itu unggul, pandai, menonjol dan cakap. Itulah yang dituntut saat itu.

Paulus melawan kebiasaan orang Korintus itu dengan mengatakan kalau dia adalah pelayan Allah. Pelayanan dia pada umat didasarkan pada Roh Allah yang bekerja dalam dirinya. Cobalah lihat sepak terjang orang Katolik yang telah dihinggapi Roh Allah. Mereka tidak takut-takut, berani bersaksi, menjadi pelayan yang total, serta kemauan untuk memberi diri pada sesama. Berbeda dengan orang yang hanya mencari kepentingan sendiri! Saat orang seperti ini melayani Tuhan, tetapi merasa tidak mendapat keuntungan pribadi, mereka menjadi lembek, menyerah, menggerutu dan mundur teratur dari tugas pelayanan dan perutusan.

Paus Fransiskus juga menyatakan hal yang sama dalam ensiklik Gaudete et Exsultate, “Kekudusan adalah parrhesia yaitu keberanian, suatu dorongan untuk mewartakan kebenaran Injil dan meninggalkan sesuatu tanda di dunia ini. Kebenarian, antusiasme, kebebasan untuk berbicara, gairah rasuli, itu semua termasuk dalam kata parrhesia.”

Parrhesia sendiri berarti keberanian untuk berbicara terus terang. Kalau anda orang yang terus terang, berani omong apa adanya, serta bisa mengatakannya tanpa menyakiti orang lain, itulah parrhesia. Roh Allah akan menggerakkan orang untuk berani mewartakan Injil, tidak melulu lelap dalam kemapanan hidup pribadi. Ia akan membongkar pola-pola lama yang usang, berkreatif mencari jalan agar pewartaan makin baru dan diterima dengan suka cita karena sesuai dengan keadaan. Kalau semua itu terjadi, itulah tanda dan buah dari Roh Pewarta yang merasuki hidup kita!

Translate »