Header image alt text

indonesian catholic online evangelization

MENJADI MILIK KRISTUS

Posted by admin on August 27, 2021
Posted in renungan 

Jumat, 27 Agustus 2021

Matius 25:1-13

            Yesus menyampaikan pesan kepada para murid-Nya agar senantiasa berjaga-jaga karena kapan saatnya Tuhan memanggil tidak ada yang tahu; apakah hari ini, besuk, atau kapan? Semua itu tidak ada yang tahu selain Allah sendiri. “Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun saatnya.”(Mat 25:13). Sikap berjaga-jaga ditunjukkan oleh Yesus dalam perumpamaan; seperti wanita yang bijaksana yang siap menyambut tuannya yang akan datang dengan membawa  pelita sekaligus minyak dalam buli-buli mereka. “Sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.”(Mat 25:4). Artinya, seorang yang berjaga-jaga adalah ia yang memiliki iman sebagai pelitanya dan iman tersebut bersumber dari relasi yang dipelihara dengan baik dalam hidup rohaninya. Iman tersebut akan terus menyalakan terang harapan, kasih dan damai sejahtera, sejauh iman tersebut dihayati dan dipelihara dalam hidup sehari-hari dalam ketekunan dan kesetiaan. “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.”(Luk 16:10).

            Dalam hidup, dimanakah letak iman ditempatkan? Artinya dimanakah Tuhan Yesus berada di dalam hidup manusia? Apakah diluar dirinya ataukan di dalam hatinya? Jika Kristus di hati seseorang, maka Kristus akan  selalu diajak untuk berbicara dalam doa. Kemudian Dia akan menyemangati dan mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal yang baik sesuai dengan kehendak-Nya. Jika Allah telah bertahta di dalam hati manusia, maka damai-Nya akan selalu tinggal di dalam hatinya. “Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” (Yoh 20:19).  

Jika seseorang telah menerima Kristus Yesus, maka jiwa orang tersebut, bukan lagi menjadi milik orang tersebut, apalagi bukan juga menjadi milik  kuasa kegelapan (kejahatan, kebencian, iri-dengki, dll.) akan tetapi menjadi milik Allah, dan dipimpin oleh Roh-Nya yang membawa damai, kasih, harapan dan keselamatan. “Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu.”(Yoh 17:6).  Jika hati manusia masih dipenuhi oleh kebencian, amarah, dendam, dan kesombongan,  hal-hal itu menjadi tanda bahwa bukan Yesus Kristus yang ada di sana. “Barangsiapa menjadi miliki Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.”(Galatia 5:24).

            Tidak jarang banyak orang yang sudah menerima Kristus lupa atau tidak menyadari bahwa Kristus ada di dalam diri mereka, sehingga mereka berjalan sendiri berdasarkan keinginan-keingian mereka sendiri. “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1 Kor 3:16). Sikap berjaga-jaga artinya selalu berada dalam kesadaran bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan bagi hidupnya, dan dengan imannya, ia melakukan semuanya di dalam nama-Nya dan untuk kemulian Allah. Dengan cara demikian, ia tidak lagi terjebak dalam oleh urusan-urusan yang sia-sia, yaitu mengurusi hal-hal yang fana, namun sebaliknya hati, pikiran dan tindakkannya berkenan pada Allah. Oleh karena itu, orang yang percaya pada Kristus akan selalu waspada dan membawa terang Kristus yang menuntun di jalan kebenaran, dan kehidupan. “Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yan percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.”(Yoh 12:46).

                                                                                                                                                               Serawai, Rm. Didik, CM

ADA SAAT MENABUR DAN ADA SAAT MENUAI

Posted by admin on August 26, 2021
Posted in renungan 

Kamis, 26 Agustus 2021

Matius 24:42-51

            Apa yang ada di dalam diri seseorang semuanya bukan 100 % milikinya, bahkan juga termasuk hidup atau nyawanya. Apakah benar-benar itu semua merupakan otonomi menjadi miliknya, sehingga seseorang sesuka hatinya mengunakannya dan menggengam dengan erat semua itu untuk dirinya sendiri?  Mengapa? Karena semua ada tidak akan terjadi, jika seseorang tidak hidup (atau tidak terlahir).  Dan siapakah yang menjadikan seseorang hidup? Kalau bukan Allah yang menciptakannya. “Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.”(Kej 2:7).  Akhirnya pada suatu saat, manusia juga harus menerima bahwa apa yang ia genggam, semuanya akan diambil dan harus meninggalkan dunia ini dan masuk ke dunia yang baru.  

            Jika seseorang menyadari siapa dirinya dan dari mana asalnya, maka ia akan memperoleh kebijaksanaan atau hikmat. Hikmat adalah harta mulia yang tidak bisa dinilai dengan emas dan berlian, sebab dengan hikmat tersebut seseorang bisa mengerti dan percaya kepada Allah dan hidup benar sesuai dengan kehendak-Nya. “Ia tidak dapat dinilai dengan emas ofir, ataupun dengan permata krisopras yang mahal atau dengan permata lazurite, tidak dapat diimbangi oleh emas, atau kaca, ataupun ditukar dengan permata dari emas tua. Baik gewang, baik hablur, tidak terhitung lagi; memiliki hikmat adalah lebih baik dari pada mutiara.” (Ayub 28: 16-18). Dengan demikian kebijaksanaan adalah anugerah yang bersumber dari Allah sendiri, sehingga orang akan mengerti apa yang dikehendaki oleh Allah dan melaksanannya.

            Ketika seseorang ada bersama dengan Allah, maka ia akan percaya kepada Yesus Kristus, Putera-Nya dan berjalan dalam terang Roh Kudus, sumber kebijaksanaan / hikmat. “… dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh Hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.”(Efesus 1:17). Oleh karena itu jalan yang dipilih oleh orang yang mengenal dan percaya kepada Yesus Kristus adalah jalan kebenaran dan penuh hikmat/bijak. Ia akan selalu berjaga-jaga dan waspada agar hidupnya selalu tearah kepada-Nya dan melakukan setiap keputusan dengan benar dan bijaksana. “Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? Berbahagalah  hamba , yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.”(Mat 24: 45-46).

            Orang yang bijaksana ada selalu bersama dengan Kristus, karena Dia adalah sumber kebijaksaan. Oleh karena itu, ia tidak melihat dunia dengan cara manusia, akan tetapi melihat dengan cara Tuhan, yaitu di dunia ini adalah saat menabur dalam terang Roh Kudus, yaitu menabur segala kebaikan dan kasih dari Allah, yang pada akhirnya tiba musim menuai atau panen, dimana benih yang telah tertanam telah berbuah dan dipetik. Saat itulah setiap orang mempertanggung jawabkan hidupnya dihadapan Allah. “Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” (Galatia 6:8).

                                                                                                                                                         Serawai, Rm. Didik, CM

KERINDUAN PADA ALLAH

Posted by admin on August 25, 2021
Posted in renungan 

Rabu, 25 Agustus 2021

Matius 23:27-32

            Yesus menyatakan dengan tegas sikap dan tindakan sebagian besar orang-orang farisi dan ahli-ahli Taurat yang sering menyerang Yesus baik dengan kata-kata, maupun dengan tindakan, bahwa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang merendahkan mereka sendiri, karena mereka dikendalikan oleh kejahatan dan kemunafikan. “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.”(Mat 23:27). Allah tahu apa yang ada di dalam hati setiap orang, sehingga bagi Allah, Dia tahu siapa yang tulus dan siapakah yang tidak. “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”(1 Samuel 16:7).

            Karena Allah adalah Maha Tahu, maka setiap orang yang ingin dekat dengan Dia, harus memiliki keberanian mengakui semua yang ada dalam diririnya dan untuk menyerahkan segala-galanya kepada kebijaksanaan Allah yang Maha Mulia. Dengan cara demikian, seseorang tidak akan menjadi orang yang merasa lebih dari pada orang lain, sebab ia menyadari siapa dirinya, akan segala dosa dan kelemahannya dihadapan Allah. Dia justru akan menerima mereka yang datang dengan segala kehancuran jiwanya yang rindu untuk menerima pengampunan Allah. “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.”(Mzm 51:19).

            Dengan demikian, setiap orang tidak perlu untuk menganggap diri lebih dari yang lain, sebab untuk bisa dekat dengan Allah, dan agar bisa menerima kasih karunia-Nya, dibutuhkan sikap rendah hati. Oleh karena itu tidak penting lagi suatu penghargaan dan penghormatan dari manusia, karena yang lebih penting adalah kedamaian di dalam hati dan keselamatan jiwa manusia. “Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan.”(Mzm 149:4). Hidup akan dipenuhi dengan sukacita jika seseorang dipenuhi oleh belas kasih Allah dan untuk menerima-Nya seseorang perlu menyadari akan segala kerapuhannya dan merindukan pengampunan-Nya. “Aku rindu kepada keselamatan dari pada-Mu, ya TUHAN, dan Taurat-Mu, menjadi kesukaanku. Biarlah jiwaku hidup, supaya memuji-muji Engkau dan biarlah hukum-hukum-Mu menolong aku.”(Mzm 119:174-175).

                                                                                                                                              Serawai, Rm. Didik, CM

TONGGAK-TONGGAK IMAN

Posted by admin on August 24, 2021
Posted in renungan 

Selasa, 24 Agustus 2021

Yohanes 1:45-51

            Ketika Natanael bertemu dengan Yesus, ia heran karena Yesus mengetahui apa yang telah terjadi dalam peristiwa/sejarah hidup dan sifat serta karakternya. “Kata Natanael kepada-Nya: “Bagaimana Engkau mengenal Aku?” Jawab Yesus kepadanya: Sebelum Filipus memanggil  engkau , Aku telah melihat engkau di bawah  pohon ara.”(Yoh 1:48). Di hadapan Allah tidak bisa menyembunyikan dirinya dan hanya Allah saja yang akan mampu melihat apa yang tersembunyi di hati dan pikiran setiap orang. Karena pengalaman mengalami sapaan dari Yesus tersebut, maka Natanael bertobat dan percaya kepada-Nya. “Kata Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” (Yoh 1: 49).

            Peristiwa pertobatan adalah peristiwa iman. Seseorang bisa kembali kepada jalan yang benar dan percaya kepada Yesus Kristus bukan semata-mata hasil kerja kerasnya. Artinya selain usaha dan perjuangan seseorang, juga semua terjadi karena karunia dan kemurahan hati Allah, yang menugerahi panggilan kepadanya.  Sehingga dengan proses yang demikian, seseorang tidak bisa menjadi sombong karena imannya. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.”(Yoh 15:16). Orang yang menerima panggilan dan dipilih oleh Kristus adalah orang yang berbahagia sebab sekalipun mereka tidak layak, namun karena kekuatan dan kemurahan Allah, damai dan keselamatan dianugerahkan kepada mereka. “Ya TUHAN semesta alam, berbahagialah manusia yang percaya kepada-Mu.”(Mzm 84:13).  “Berbahagialah orang yang tidak melihat, namun percaya.”(Yoh 20:29).

            Panggilan menjadi murid Kristus adalah pengalaman pribadi bersama dengan-Nya. Masing-masing orang memiliki pengalaman rohani yang unik bersama dengan Kristus. Pengalaman tersebut menjadi tonggak-tonggak hidup iman yang menyentuh dan menggerakkan seseorang karena saat itulah saat dimana Allah menyapa, dan mengubah hidupnya menjadi hidup yang baru bagi kemuliaan Allah karena telah menerima Kristus Yesus, Putera-Nya sebagai juruselamat. “Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kami telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Yesus.”(Roma 6:11). 

                                                                                                                                              Serawai, Rm. Didik, CM

Amazing Faith

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on August 21, 2021
Posted in renungan  | Tagged With: , ,

21st Sunday in the Ordinary Time [B]
August 22, 2021
John 6:60-69

For the past five Sundays, we have listened to John chapter 6. Jesus introduced Himself as the bread of life, and His flesh and blood are authentic food for eternal life. Today’s Gospel serves as the summit of our journey through John 6, and the Gospel begins with the response of Jesus’ listeners, “It is a hard saying.”

Jesus’ teaching this time is hard saying because it runs contrary to the essential Jewish tenets. It shocked their Jewish faith. To offer His flesh as food, is as appalling as cannibalism. Presenting His blood as a real drink is even blasphemous because it directly hits God’s commandment against eating blood [Lev 17:10]. Yet, Jesus did not waver.

Jesus’ followers were facing a tough decision. They had seen Jesus performing miracles, healing the sick and feeding thousands. Many of them were expecting that Jesus would be the Messiah like King David. However, things did not go smoothly according to their plans. If they accepted Jesus as the Messiah, they had to take Jesus’ words and indeed eat His body and blood. Eventually, many could not accept Jesus’ tough teaching, and perhaps, they considered Him another lunatic or even possessed man.

Fortunately, not everyone deserted Jesus. Peter, representing the twelve disciples, said that they believed in Jesus’ words. Peter might not be different from the rest of the crowd who failed the grasp Jesus’ hard teachings. Yet, Peter accepted Jesus’ hard teachings because he accepted who Jesus is, the Holy One of God. It is impossible for Jesus, the Holy One of God, to tell a lie. What the divine Son of God said must be real and true, however mysterious it may be. This is Peter’s faith, and this should be our faith.

Many aspects of our life and faith remain big question marks for us. We may not be able to understand the reality of the Trinity. We may still scratch our heads every time a priest speaks about the two natures of Christ. We may still feel dizzy every time a preacher explains about the transubstantiation. Yet, despite these hard sayings, we believe.

If we can have faith in Jesus despite the hard saying, we can have the same faith also despite hard lives. If we can say Yes to Jesus in the Eucharist, we shall be able to say Yes to Jesus in our lives, however, broken and disfigured it may be. This time of Pandemic, we often ask why God allows this terrible time and suffering. If we do not have the Eucharistic faith, we can easily fall into despair. Yet, we trust that God is in control with true faith, and He has a great plan for us. We might not understand the meaning of the suffering we endure, but we know it will make sense someday.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »