Header image alt text

indonesian catholic online evangelization

Neraka itu Nyata [Begitu juga Surga]

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on September 25, 2021
Posted in renungan  | Tagged With: ,

Minggu Biasa ke-26 [B]
26 September 2021
Markus 9:38-43, 45, 47-48

Bagi Yesus, neraka itu nyata. Yesus berbicara tentang neraka tanpa keraguan. Yesus tidak ragu untuk mengatakan apa yang sangat Dia benci: neraka dan apa yang menyebabkan orang pergi ke sana. Seperti orang-orang pada zaman-Nya, Yesus menyebut kenyataan yang paling mengerikan ini sebagai ‘Gehenna’. Kata ‘Gehenna’ sendiri berasal dari Bahasa Ibrani yang secara harfiah berarti ‘lembah Hinom’. Lembah ini sungguh tempat nyata yang terletak di selatan Yerusalem pada zaman Yesus. Orang-orang Yerusalem dan sekitarnya akan membuang sampah, kotoran dan limbah mereka di sana dan membakarnya. Ini adalah gunung sampah dimana api terus membara, bau menyengat, asap beracun memenuhi tempat itu, dan barang-barang terus membusuk. Yang lebih menakutkan adalah tempat yang sama untuk penyembahan berhala dan pengorbanan anak di zaman Perjanjian Lama [2 Raj 23:10]. Karena itu, tempat itu dikutuk oleh para nabi [Yer 7:31–32] dan kemudian menjadi lambang tempat terkutuk.

Yesus menggunakan dua simbolisme yang kuat untuk menjelaskan apa yang terjadi di sana, “di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam”. Beberapa orang mengira kedua hal ini adalah hal-hal yang sungguh terjadi di neraka, tetapi Gereja mengajarkan bahwa gambaran-gambaran ini berbicara sesuatu yang lebih dalam. Ulat adalah hewan yang terutama bertanggung jawab atas pembusukan tubuh. Di dalam kubur, cacing atau ulat hadir untuk mengurai jenasah. Api memang baik dan bermanfaat, tetapi api juga bisa menjadi sumber kehancuran dan sakit. Jika di dalam Gehenna, ulat-ulat ini tidak mati dan api tidak berhenti, ini melambangkan kerusakan dan penderitaan yang tiada akhir.

Yesus membenci neraka karena sangat bertentangan dengan Allah dan rencana-Nya. Jika surga adalah persatuan dengan Tuhan, maka neraka adalah pemisahan dengan Tuhan. Jika ada satu hal yang memutuskan hubungan kita dengan Tuhan adalah dosa. Jadi, tidak heran, Yesus sangat marah dengan orang-orang yang menyebabkan orang lain berdosa dan kecenderungan kita untuk berbuat dosa. Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan kita dari neraka, tetapi jika kita dengan sengaja berbuat dosa terhadap Allah, maka kita membuat penyaliban dan kematian-Nya sia-sia.

Yesus menggunakan metafora amputasi untuk menyelamatkan jiwa kita dari dosa. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa dosa seperti luka gangren spiritual yang lambat laun akan menyebar ke seluruh tubuh dan menghancurkannya seluruhnya. Ini mungkin dimulai dengan hal-hal kecil, tetapi secara bertahap tumbuh besar. Tindakan drastis harus diambil untuk menyelamatkan nyawa. Kita harus memotongnya sebelum menjadi liar dan tidak dapat disembuhkan. Apa yang membuat dosa ini bahkan keji tidak hanya menyebar ke seluruh jiwa, tetapi juga sangat menular sehingga orang-orang yang imun rohaninya lemah dapat dengan mudah terinfeksi. Tak heran, Yesus malah semakin murka dengan orang-orang yang menyebarkan penyakit rohani ini.

Apa yang perlu kita lakukan? Kita perlu memotongnya dengan pertobatan sejati dan kerendahan hati bahwa kita adalah orang berdosa. Kita lolos dari neraka dengan mengatakan tidak kepada diri kita sendiri setiap hari dan mengatakan ya kepada Tuhan. Kita kembali kepada rahmat Allah dengan memohon belas kasihan Tuhan dan pengampunan-Nya dalam sakramen pengakuan dosa. Kita menyembuhkan luka kita melalui kehidupan doa yang sejati. Kita memulai perjalanan kita ke surga dengan memikul salib kita setiap hari dan dengan mengasihi secara mendalam dan sungguh-sungguh.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Biarkan Allah yang Memegang Kendali

Posted by admin on September 24, 2021
Posted in renungan 

Sabtu, Pekan ke 25

Za 2:1-5,10-11a;  Mazmur Yer. 31:10,11-12ab,13; 

Luk. 9:43b-45.

Tidak mudah bagi kita untuk melepaskan kendali. Adalah naluri alamiah kita sebagai manusia untuk selalu ingin mengendalikan setiap situasi dalam hidup kita. Bacaan-bacaan hari ini memanggil kita untuk memahami bahwa kita perlu untuk melepaskan kontrol atau kendali. Ada saat-saat dalam hidup ini ketika kita perlu menyerahkan kendali atau kontrol atas hidup kita kepada Tuhan, yang mungkin atau kadang bertindak melalui sesama kita. 

Bacaan Injil hari ini mengisahkan bahwa pada saat orang-orang sangat mengagumi Yesus, Dia mengumumkan bahwa diri-Nya akan diserahkan ke dalam kuasa manusia. Yesus tidak terbawa oleh kekaguman orang-orang terhadap-Nya. Tepat ketika semuanya penuh dengan terang dan janji, Yesus memperkenalkan prospek yang lebih gelap. Murid-murid-Nya akan senang dengan kekaguman yang diterima Yesus, tetapi menurut Injil mereka tidak dapat menerima prospek yang gelap yang Yesus berikan kepada mereka. “Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya.” 

Saudari-saudaraku yang terkasih, kita semua menemukan sisi gelap kehidupan yang sulit untuk dihadapi. Ketika semua tampaknya berjalan sesuai keinginan dan kontrol kita, kita senang. Tetapi, ketika semua tampaknya bertentangan dengan kita dan di luar kontrol kita, kita menjadi putus asa. Namun, terutama di saat-saat yang gelap itulah, Tuhan bersama kita untuk mendukung kita. Itulah pesan Tuhan kepada umat-Nya dalam bacaan pertama, “Dan Aku sendiri, demikianlah firman TUHAN, akan menjadi tembok berapi baginya di sekelilingnya, dan Aku akan menjadi kemuliaan di dalamnya.” Tuhan berjanji untuk menjadi tembok api pelindung bagi umat-Nya. 

Hal yang sama dikisahkan  dalam mazmur tanggapan hari ini, “Tuhan akan menjaga kita seperti gembala menjaga kawanannya.” Di saat-saat kehidupan kita terasa gelap, kita dapat memercayai Tuhan untuk menopang kita. Ketika kita merasakan kelemahan dan kerentanan kita sendiri, Tuhan selalu ada sebagai perlindungan dan kekuatan kita. Saudari-saudaraku yang terkasih seringkali pengalaman hidup yang gelaplah yang membuka kita lebih penuh terhadap kehadiran Tuhan yang menopang dan memberi kehidupan bagi kita. Semoga Tuhan selalu menguatkan kita, terlebih ketika kita sedang terpuruk!

Siapakah Yesus?

Posted by admin on September 23, 2021
Posted in renungan 

Jumat, Pekan ke 25

Luk. 9:19-22.

Injil hari ini mengisahkan tentang pertanyaan Yesus  kepada para murid mengenai siapa diri-Nya. Yesus bertanya kepada mereka: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Dan Petrus menjawab, “Mesias dari Allah.”

Apa jawaban yang akan Anda berikan atas pertanyaan itu jika Yesus bertanya hal yang sama kepada Anda? Tentunya jawaban yang akan diberikan bukan sekedar jawaban dari aspek kognisi tetapi juga meliputi emosi dan relasi pribadi yang kita alami. Intinya jawaban itu adalah jawaban yang muncul dari pengalaman perjumpaan Anda dengan Yesus? Pernahkah Anda berjumpa dengan-Nya? Kapan? Bagaimana Anda memelihara relasi atau perjumpaan dengan-Nya?

Yesus mengharapkan jawaban yang personal yang ditimba dari pengalaman hidup kita masing-masing. “Menurut kamu, siapakah Aku ini?”

Tuhan memberkati!

Peringatan Wajib  St. Padre Pio dari Pietrelcina

Luk. 9:7-9 

Pada awal bacaan Injil hari ini, kita mendengar bahwa Raja Herodes dibuat bingung oleh Yesus, setelah mendengar semua yang dia lakukan. Pada jaman Yesus, Raja Herodes Antipas memerintah Provinsi Galilea atas nama Kaisar Roma. Lukas, pengarang injil, menggambarkan sikap Herodes ketika mereka akhirnya bertemu, yakni dalam kisah sengsara Yesus, ketika Pilatus mengirimkan Yesus kepada Herodes, Herodes menghina dan mengejek Yesus. “Maka mulailah Herodes dan pasukannya menista serta mengolok-olok Yesus. Ia mengenakan jubah kebesaran kepada Yesus, lalu mengirim Dia kembali kepada Pilatus” (Luk 23:11).

Raja Herodes berbeda dengan Natanael dan Nikodemus, yang juga dikisahkan dalam injil, tentang pencarian mereka untuk mengenal Yesus. Keingintahuan Natanael dan Nikodemus membawa mereka kepada iman.  Saudari-saudaraku, bagi orang-orang beriman ada banyak hal yang perlu dicari dan diperdalam mengenai kehidupan Yesus. Pertanyaan yang diajukan oleh Herodes, “Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?” adalah pertanyaan yang juga wajib kita renungkan. Kita harus selalu mencari siapa Yesus itu gerangan karena kita tidak pernah bisa sepenuhnya mengenal Dia. Seperti yang dikatakan Santo Paulus, “sekarang kita melihat samar-samar seperti di cermin.” 

Hari ini kita memperingati St. Padre Pio dari Pietrelcina, seorang biarawan Kapusin. Padre Pio adalah imam pertama yang menerima stigmata Kristus. Bagi Padre Pio, iman adalah hidup: ia menghendaki segala sesuatu dan mengerjakan segala sesuatu dalam terang iman. Seringkali ia tampak tenggelam dalam doa-doa yang khusuk. Ia melewatkan siang hari dan sebagian besar malam hari dalam percakapan mesra dengan Tuhan. Padre Pio mengatakan, “Dalam kitab-kitab kita mencari Tuhan, dalam doa kita menemukan-Nya. Doa adalah kunci yang membuka hati Tuhan.” Iman membimbingnya senantiasa untuk menerima kehendak Allah yang misterius. 

Padre Pio memiliki dua prakarsa dalam dua arah: arah vertikal kepada Tuhan, dengan membentuk “Kelompok Doa” pada tahun 1920 yang masih aktif hingga kini dengan 400.000 pendoa yang tersebar di seluruh dunia. Arah horizontal kepada komunitas yang menderita, dengan mendirikan sebuah rumah sakit modern “Casa Sollievo della Sofferenza” (Rumah untuk Meringankan Penderitaan) yang dibuka pada tanggal 5 Mei 1956, dan hingga kini melayani sekitar 60.000 pasien setiap tahunnya.

Saudari-saudaraku yang terkasih, sebagaimana dicontohkan oleh Natanael, Nikodemus dan Padre Pio, mari kita berusaha untuk mengenal Yesus lebih jelas, mencintai-Nya lebih dalam dan mengikuti-Nya lebih dekat. Tuhan memberkati!

Kita dipanggil untuk Mengusir Setan

Posted by admin on September 21, 2021
Posted in renungan  | 1 Comment

Rabu, Pekan ke 25

Luk 9:1-6

Ini adalah pertama kalinya Yesus mengutus para Rasul dalam sebuah misi. Dalam misi ini, Yesus menugaskan para Rasul untuk melakukan tiga hal: mengusir setan, menyembuhkan orang sakit dan mewartakan Kerajaan Allah.

Saudari-saudaraku yang terkasih, sama seperti para Rasul, kita dipanggil untuk memerangi iblis. Iblis tidak berdaya di hadapan Tuhan, dan Tuhan memberi kita otoritas spiritual atas mereka. Dan meskipun ada beberapa yang diberi pelayanan eksorsisme yang unik di dalam Gereja, kita semua memiliki otoritas spiritual atas iblis, terutama atas serangan godaan spiritual alami mereka.

Santo Ignatius dari Loyola, dalam buku Latihan Rohani, menjelaskan kepada kita strategi yang biasa digunakan oleh setan dan bagaimana kita mengenal dan menghadapinya. Kita diajak untuk memerangi setan terutama dengan mengungkapkan kebohongan-kebohongan yang mereka tawarkan. Setan selalu menawarkan kesenangan palsu yang ditimbulkan oleh dosa. Kita akan mampu mengatasi godaan ini dengan menerimanya dari Tuhan, berupa keberanian dan kekuatan, penghiburan, air mata, inspirasi, ketenangan, kemudahan dan dengan menyingkirkan semua rintangan.  Dengan kata lain, kita mengalahkan iblis dengan membiarkan Tuhan menguatkan kita, menjernihkan pikiran kita, menghilangkan semua rintangan palsu di jalan menuju kekudusan serta dengan menerima penghiburan berlimpah yang Tuhan berikan sebagai bantuan dalam perjalanan hidup kita.

Saudari-saudaraku, jika kita dapat bekerja, tentunya dengan bantuan rahmat Allah, untuk mengatasi rintangan yang ditempatkan di jalan kita oleh setan-setan seperti di atas, maka Anda dan saya berada dalam posisi yang baik untuk berbagi dalam dua misi lain yang Yesus berikan kepada para Rasul, yakni menyembuhkan orang sakit dan mewartawakan Kerajaan Allah.  Kita akan dapat mengalami penyembuhan mental, emosional dan spiritual dalam hidup kita, dan dengannya dapat membiarkan Kerajaan Allah tumbuh kuat di dalam jiwa kita. Dari sana, kita akan siap dikirim Tuhan untuk membawa rahmat ini kepada orang lain yang membutuhkan. Tuhan memberkati!

Translate »