Browsed by
Month: September 2021

Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria

Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria

Rabu, 8 September 2021

Mat 1:18-23)

            Hari ini kita merayakan Kelahiran Santa Perawan Maria, ratu pencinta damai yang melahirkan Tuhan kita Yesus Kristus. Dalam pesta hari ini, Gereja menampilkan genealogi (silsilah) Yesus Kristus, yang menyebutkan nama-nama tokoh dalam Kitab Suci. Silsilah tersebut mempresentasikan tokoh-tokoh yang menggambarkan kemanusiaan kita yang dipilih Allah meskipun kemanusiaan kita penuh luka karena dosa keserakahan, balas dendam, iri hati, kekerasan dan ketidakadilan. Silsilah tersebut juga menampilkan bukan hanya orang-orang saleh tetapi juga para pendosa. Dalam silsilah tersebut, ditampilkan nama Yusuf, suami Maria (Mat 1:16). Santa Perawan Maria dipilih Allah sebagai Bunda Yesus Kristus. Allah senantiasa menghendaki karya keselamatan yang melibatkan peran serta manusia yang mempunyai dosa dan penuh kerapuhan. Dosa dan kelemahannya tidak menghalangi Allah untuk memanggil dan memilih manusia dalam melaksanakan karya keselamatanNya. Kelahiran Bunda Maria tidak dapat dipisahkan dari kehadiran Pribadi Yesus sebagai Putera Allah. Kemiskinan dan kerendahan hati Bunda Maria menjadi teladan bagi kita untuk memahami arti penting menjadi rekan kerja Allah, menjadi taat pada kehendak Allah. Santo Yosef dan Bunda Maria menjadi rekan kerja Allah dalam menyelamatkan manusia. Allah memilih mereka menjadi “orang tua” Yesus Kristus.

            Bagi Allah, dosa dan kelemahan serat kerapuhan manusia bukanlah akhir segalanya tetapi Allah tetap melibatkan manusia dalam karya penebusan. Bunda Maria adalah buah pertama penebusan Yesus Kristus. Pusat dari pesta kelahiran Santa Perawan Maria ini adalah Yesus Kristus yang mendamaikan manusia dengan Allah. Bunda Maria telah melahirkan Sang Mesias, yang menebus umat manusia dari dosa dan memberikan harapan akan kehidupan kekal. Dalam pesta kelahiran Santa Perawan Maria, kita diundang untuk mengikuti teladan Bunda Maria dan Santo Yosef yang penuh iman dan rendah hati dan penuh ketaatan dalam melaksanaakan kehendak Allah. Dalam setiap keadaan Bunda Maria dan Santo Yosef menyatakan kesiapsediaan dan penyerahan diri kepada kehendak Allah (Patris Corde, 3)

“Tuhan Yesus Kristus, datanglah menyelamatkan kami dari segala dosa dan anugerahilah kami dengan rahmatMu sehingga kami mampu bersukacita dalam karya keselamatan dan berperan aktif daalam melayani sesama kami”

Doa dan panggilan menjadi rasul

Doa dan panggilan menjadi rasul

Selasa, 7 September 2021

Luk 6:12-19

            Dalam Injil hari ini, kita merenungkan dua hal yaitu: doa dan panggilan kedua belas rasul. Dikisahkan Yesus pergi mendaki sebuah bukit untuk berdoa semalam-malaman sebelum memanggil para rasul yang nantinya menjadi utusan, misionaris. Kita bisa mengimajinasikan bagaimana Yesus senantiasa berdoa dan melalui doa itu Yesus mengintegrasikan dalam karya pelayananNya termasuk dalam memilih para rasul.  Oleh karena itu doa dapat dikatakan menjadi semacam “kompas” yang memberikan arah bagi hidup kita. Doa menjadi sarana menegaskan kehendak Allah. Santo Vincentius de Paul, pendiri Kongregasi Misi (CM) dan Serikat Puteri Kasih (PK) juga menemukan bahwa “doa adalah sesuatu yang penting bagi jiwa untuk merawat hidup, seperti  oksigen udara bagi manusia atau air bagi seekor ikan untuk tetap bertahan hidup. Seperti manusia tidak dapat hidup tanpa air, tetapi ia akan mati kalau kekurangan oksigen. Hal yang sama terjadi bagi seorang Puteri Kasih tidak akan mampu hidup dalam roh apabila tanpa doa; dan jika kebutuhan-kebutuhan itu tidak terpenuhi, maka ia akan mati tubuhnya, ia mulai mati karenanya. Oleh Karena itu, mengapa kalian harus melakukan hal utama tersebut di antara kalian. Dan para Suster Abdi hendaknya menjaga tradisi tersebut. Dari waktu ke waktu saya memintanya, untuk menyenangkan Allah” (SV X, 604). Doa menjadi sumber kekuatan dalam hidup kita. Yesus memberikan teladan bagi kita untuk melibatkan Allah dalam mengambil setiap keputusan. Itulah pesan Injil yang pertama.         

            Selanjutnya Yesus memanggil para rasul untuk menjadi utusannya. Yesus memanggil para rasul secara personal dengan menyebut nama-nama mereka. Apa arti panggilan para rasul yang dikisahkan dalam bacaan Injil hari ini? Yesus memanggil dan memilih keduabelas rasul yang berasal dari kalangan orang-orang yang sederhana. Para rasul bukanlah orang yang berpendidikan tetapi orang yang mempunyai kapasitas dan kemauan untuk mendengarkan ajaranNya. Yesus mengundang kita untuk berpartisipasi dalam karya keselamatan. Ia mengundang kita untuk terlibat dalam karya keselamatan yang diwujudkan dalam tindakan melayani dan mengasihi sesama. Kisah Injil hari ini menegaskan bahwa doa menjadi kekuatan kita dalam mengemban tugas dan tanggung jawab kita dalam pekerjaan ataupun panggilan. Memulai bersama Allah, melakukan bersama Allah dan menyelesaikan pula bersama Allah. Terpujilah Allah!

“Tuhan Yesus Kristus, nyalakanlah di dalam hati kami kerinduan yang mendalam akan kehendakMu dan kobarkanlah dalam hati kami semangat sebagai rasul-rasulMu dalam mewartakankan kasihMu setiap hari”

Tidak cukup hanya persekutuan doa

Tidak cukup hanya persekutuan doa

Senin, 6 September 2021

Luke 6:6-11

            Makna Sabda Allah sebagai Kabar Gembira perlu kita temukan dalam bacaan-bacaan harian, terutama bacaan Injil karena makna sejati dari Injil adalah Kabar Sukacita (euangelion, artinya Kabar Baik). Hari ini kita merenungkan cuplikan kisah perjumpaan Yesus dengan orang yang mengalami kelumpuhan tangan kanan dan juga perjumpaan dengan ahli-ahli taurat. Yesus menghendaki setiap orang mengalami belas kasih Allah, mengalami keselamatan. Dikisahkan pada hari Sabat, Yesus menyembuhkan orang yang mengalami kelumpuhan tangannya. Ahli-ahli taurat dan orang Farisi mengamat-amati apa yang dilakukan Yesus yaitu menyembuhkan orang lumpuh. Mereka mengecam tindakan Yesus karena dianggap melanggar hukum, melanggar tradisi orang Yahudi. Yesus tentu mengetahui dan menyadari apa yang dipikirkan oleh para ahli taurat dan orang farisi. Bagi orang-orang farisi, menjadi suatu kewajiban untuk menguduskan hari sabat. “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat” (Kej 20:8) dan “tetaplah ingat dan kuduskanlah hari sabat, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu” (Ul 20:5). Oleh karena itu, tindakan  menyembuhkan orang sakit dianggap melanggar hukum. Melalui kisah Injil hari ini, Yesus menegaskan dan meluruskan cara pandang tersebut. Yesus menghadirkan Pribadi Allah yang menyembuhkan, menyelamatkan. Yesus adalah Penyelamat yang membebaskan manusia dari kematian melalui mukjijat penyembuhan. Dengan menyembuhkan orang yang mati tangannya, Yesus menyelamatkan orang yang lumpuh (tak berdaya, terasing, tersingkir). Yesus menjadi tanda kehadiran Allah, Bapa yang penuh belas kasih. Kita melihat keselamatan dan belas kasih dalam diri Yesus Kristus.

            Yesus meletakkan keselamatan dan tindakan belas kasih di atas segala peraturan atau hukum taurat. Merayakan hari Minggu sebagai hari Tuhan, dimaknai sebagai perayaan karya keselamatan Allah, karya penebusan Yesus Kristus melalui wafat dan kebangkitanNya. Hari sabat dimaknai sebagai karya keselamatan Allah itu yang dirayakan dan Kabar Gembira yang harus diwartakan. Persekutuan hidup kita bukan hanya persekutuan doa yang terisolir dari kondisi penderitaan, ketidakadilan, kehidupan orang miskin, melainkan persekutuan cinta kasih yang membebaskan: berpihak pada orang yang tertindas, menjadi teman perjalanan bagi mereka yang menderita dan terpinggirkan. Bagaimana menjadikan hari Minggu sebagai hari yang dikuduskan? Tentu tidak cukup hanya berpartisipasi dalam perayaan Ekaristi tetapi juga berpartisipasi dan terlibat dalam tindakan belas kasih, dengan melayani mereka yang sakit, miskin dan terlantar dan juga di saat yang sama kita juga menemukan sukacita dan kegembiraan dalam mencintai Allah dan sesama. “Hari ini adalah kudus bagi Tuhan Allahmu. Jangan kamu berdukacita dan menangis” (Neh 8:10).

“Tuhan Yesus, dalam kemenanganMu dan kebangkitanMu, Engkau memberikan kepada kami jaminan keselamatan. Ubahlah hati kami sehingga kami mampu untuk mengasihi dan melayani sesama dan menemukan sukacita sejati”

Miracle for a Better World

Miracle for a Better World

23rd Sunday in Ordinary Time [B]
September 5, 2021
Mark 7:30-37

A miracle is something extraordinary. Miracles make ordinarily impossible things possible. Yet, some miracles are more powerful and cause more wonder than others. In today’s Gospel, Jesus performed yet another stunning miracle. He healed a person with hearing and speech impairment. At first, the miracle seems familiar and another routine for Jesus, but we may discover remarkable details if we got closer to the story’s context.

The person who begged for healing was struggling with several disabilities. The man was deaf, and if he could not hear sounds and voices since birth, he would not be able to speak as well. His speech impediment significantly worsened the condition. He could not say not only because he never heard a word but also his speech faculty had defects. It was an almost impossible case.

Another detail is that the way Jesus healed the man. He did not act the usual routines. He neither touch the afflicted person nor performs distant healing. His actions were somewhat ‘eccentric’. Mark described that Jesus placed His fingers inside man’s ears as if He tried to clear what blocked the hearing passages. He also spat on his hands and put his wet hands on the man’s tongue, as if He tried to soften what was dry and petrified. Jesus looked up to heaven and uttered ‘Ephatha!’ as if giving the command to various body parts that were tightly closed. Then, a remarkable miracle took place.

What happened was truly unique. The man could not only hear, but he could speak plainly. A man who was deaf since birth would need some time to learn how to say, but the great miracle was that Jesus infused the man with the gift of language. Jesus did heal not only the bodily infirmities but also enlighten the man with knowledge and understanding. It was a whole package miracle!

However, the miracle did not stop there. The effects of Jesus’ miracles ripple through the ages. We may not always see miracles of healing like in the Gospel, but we can always perform a miracle of love and mercy. As disciples of Christ, we continue to build a better place for people with disabilities. Now, our world may not be perfect, but it is a much better place for our afflicted brothers and sisters. If we see the bible, the early Church was concerned with how to take care of the most disenfranchised and how the apostles appointed seven deacons to minister to the poor widows. St. James, in his letter, denounced a practice in some ancient parishes that gave a seat to the rich and not to the poor [Jam 2:1-5]. The culture to help the poorest of the poor and even building structures like hospitals, shelters for the homeless, orphanages dramatically begins with Jesus and His Church. This spirit will continue until the age of time.

We thank our brothers and sisters who continue becoming the miracles of Christ for those people with disabilities. They spend time and resources to take care of abandoned babies, learn sign language to introduce Good News to the people who cannot hear, and create a better place for everyone.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mukjizat untuk Dunia yang Lebih Baik

Mukjizat untuk Dunia yang Lebih Baik

Minggu Biasa ke-23 [B]
5 September 2021
Markus 7:30-37

Dalam Injil hari ini, Yesus melakukan mukjizat yang sungguh menakjubkan. Dia menyembuhkan seseorang yang tidak bisa mendengar dan mengalami gangguan berbicara. Jika dibaca sesaat, tampaknya mukjizat ini tidak berbeda dari mukjizat Yesus yang lain, tetapi jika kita melihat lebih dekat ke dalam konteks kisah ini, kita akan menemukan detail-detail yang luar biasa.

Yesus berhadapan dengan seorang pria yang tidak bisa mendengar atau tunarungu, dan jika dia tidak dapat mendengar suara sejak lahir, dia tentunya tidak akan dapat berbicara juga. Kondisinya diperparah oleh adanya gangguan pada kemampuannya berbicara. Dia tidak bisa berbicara bukan hanya karena dia tidak pernah mendengar sebelumnya, tetapi juga adanya cacat di bagian mulut atau lidahnya yang membuat dia kesulitan untuk membentuk kata. Bisa kita bayangkan penderitaan yang harus dihadapi orang ini.

Detail lainnya yang menarik adalah cara Yesus menyembuhkan orang ini. Yesus tidak melakukan rutinitas seperti biasanya dalam melakukan mukjizat. Dia tidak hanya menyentuh orang yang menderita atau melakukan penyembuhan jarak jauh. Gaya-Nya kali ini agak ‘anti mainstream’. Markus menggambarkan bahwa Yesus meletakkan jari-Nya di dalam telinga sang pria, seolah-olah Dia mencoba membersihkan apa yang menghalangi saluran pendengaran. Dia juga meludahi tangannya, dan meletakkan tangannya yang basah di lidah pria itu, seolah-olah Dia mencoba melunakkan apa yang kering dan membatu. Yesus menengadah ke langit dan mengucapkan ‘Efata!’ – seolah memberi perintah pada berbagai bagian tubuh yang tertutup rapat untuk terbuka. Kemudian, mukjizat yang luar biasa terjadi!

Apa yang terjadi benar-benar luar biasa. Pria itu tidak hanya bisa mendengar, tetapi dia bisa berbicara dengan jelas. Seorang pria yang tidak bisa mendengar sejak lahir akan membutuhkan beberapa waktu untuk belajar berbicara, tetapi mukjizat yang luar biasa adalah bahwa Yesus memberi orang ini karunia bahasa. Yesus tidak hanya menyembuhkan kelemahan dan cacat tubuh, tetapi juga menerangi manusia dengan pengetahuan dan pengertian. Itu adalah mukjizat seluruh paket!

Namun, mukjizat tidak berhenti di situ. Efek dari mukjizat Yesus terpancar selama berabad-abad. Kita mungkin tidak bisa melakukan mukjizat penyembuhan seperti dalam Injil, tetapi kita selalu dapat melakukan mukjizat cinta dan belas kasihan. Sebagai murid Kristus, kita diundang untuk terus membangun tempat yang lebih baik bagi orang-orang yang terpinggirkan secara khusus, para penyandang disabilitas. Jika kita melihat Alkitab, Gereja perdana juga fokus dengan bagaimana melayani mereka yang paling lemah, dan bagaimana para rasul menunjuk tujuh diakon untuk melayani para janda miskin [Kis 6]. St Yakobus dalam suratnya mengkritisi praktik di beberapa paroki kuno yang memberikan kursi kepada orang kaya dan bukan kepada orang miskin [Yakobus 2:1-5]. Budaya untuk membantu orang miskin dan terpinggirkan, dan bahkan membangun struktur seperti rumah sakit, tempat perlindungan bagi tunawisma, panti asuhan, secara dramatis dimulai dengan Yesus dan Gereja-Nya, dan semangat ini akan berlanjut sampai zaman.

Kita berterima kasih kepada saudara-saudari kita yang terus menjadi mujizat Kristus bagi mereka yang miskin, lemah dan para penyandang disabilitas. Mereka adalah orang-orang yang menghabiskan waktu dan sumber daya untuk merawat bayi terlantar, yang belajar bahasa isyarat untuk memperkenalkan Kabar Baik kepada orang-orang yang tidak dapat mendengar, dan yang menciptakan tempat yang lebih baik bagi semua orang.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »