Browsed by
Month: October 2021

SELASA 12 OKTOBER 2021

SELASA 12 OKTOBER 2021

Lukas 11: 37 – 41         

Di kalangan Yahudi, kaum Parisi adalah kelompok awam yang memiliki militansi dalam beragama. Mereka ini selalu mencari tafsiran yang baru dari hukum Taurat yang sangat mereka cintai dan taati sebagai jalan menuju keselamatan firdausi. Itulah sebabnya mereka dikenal sebagai penjaga hukum Taurat yang sangat jeli dan kadang berlebihan, terutama untuk memastikan bahwa orang lain menaatinya. Itulah yang mereka lakukan terhadap Yesus dan kelompoknya. Kaum Parisi akan menilai siapapun dari sudut taat tidaknya pada hukum Taurat. Bisa dimengerti kadangkala terjadi konflik dengan Yesus dan para muridNya. Sumber konflik bisa datang dari kebiasaan memelihara kebersihan dan kerapian berbagai perabot sesuai dengan Taurat, aturan kapan dan dimana berdoa, kapan dan kapan harus bekerja dan setersunya.

Hanya saja beberapa orang mengatakan bahwa kritik Yesus kali ini “terasa kurang pada tempatnya” karena disampaikan ketika Yesus diundang makan di rumah orang Parisi itu… Tapi inilah poinnya, yaitu kebenaran yang bisa berakibat pada jiwa dan keselamatan manusia, mesti menjadi prioritas dan mengatasi semuanya.

Sudah agak lama ada kritik agak tajam mengenai kualitas hidp manusia yang perlu kita simak. Banyak ahli mengatakan bahwa tahun-tahun belakangan ini terjadi proses pendangkalan hidup manusia: baik sebagai pribadi manusia maupun sebagai pribadi beriman. Kritik ini tidak mengingkari adanya berbagai kemajuan luar biasa dalam semua aspek peradaban manusia. Tetaapi berbagai kemajuan ini harus dibedakan dengan kualitas hidup manusia.

Pendangkalan hidup manusia antara lain terungkap ketika manusia sibuk dengan tampilan luar yang melahirkan hidup palsu, kenyamanan duniawi, miskinnya nilai universal yang berakibat tipisnya solidaritas, lumpuhnya pendidiplinan diri demi kesejahteraan bersama, makin tersisihnya keunikan pribadi dan kultural karena desakan globalisasi  …dst.

Pendangkalan juga terjadi dalam hidup rohani dan cara beriman. Semakin banyak manusia menemukan diri dan orang lain bahwa dimensi spiritual dan transendental hidup mereka makin tipis. Kita sendiri merasakan semakin mengeringnya religiositas hidup manusia sehingga kita alergi dan gagap dengan apapun yang terkait dengan nilai Injil dan Salib.  Kita akui bahwa kita lebih sibuk dengan selera kedagingan sehingga stamina rohani dan batinnya rapuh di hadapan tuntutan nilai Yesus …

Yesus dengan amat lugas mau mengembalikan martabat manusia sebagai citra Allah di dunia ini. Di tengah keterlibatan di dunia ini, manusia masih bisa mengembangkan martabatnya sebagai citra Allah dengan memperhatikan alam batin dan harta rohani di dalam dirinya. Beriman jauh lebih kaya dan lebih mendalam daripada sekedar sibuk mengikuti Ekaristi, retret, baca Kitab Suci. Membangun relasi dengan Tuhan jelas tidak cukup hanya dengan berpakaian gamis, hafal Kitab Suci atau menaati aturan agama.

Kita mesti berani menjawab: mengapa praktek keagamaan kita selama ini  kurang mengubah kualitas hidup kita seperti kita harapkan …

SENIN, 11 OKTOBER 2021

SENIN, 11 OKTOBER 2021

     

Lukas 11: 29-31

Allah kita ialah Bapa Pencipta yang terus berkarya dalam segala. Dia hadir dan berkarya dalam segala yang tertangkap oleh indra, yang bisa kita imaginasikan dan apapun yang bisa dipikirkan manusia. Bahkan jati diri kita yang diciptakan menurut citraNya, hingga kini belum selesai, tetapi masih masih dalam proses. Hanya saja kini kita diajak oleh Allah untuk menjadikan diri kita citraNya yang makin baik dan sempurna di dunia ini

Oleh karena itu, setiap ciptaan yang ada di alam semesta ini menjadi tanda kehadiran dan karyaNya. Setiap detail dalam diriku yang penuh misteri dan tidak bisa kita pahami, bisa menyadarkan kita akan Allah yang berkarya. Setiap relasi kita dengan ciptaan lai, bisa mengantar kita berjumpa denganNya. Tidak perlu heran kalau ada orang mengatakan bahwa mereka diajari oleh semut bagaimana bekerjasama dengan benar sebagai ciptaanNya dan tidak bermalas-malasan. Bisa dimengerti kalau kita merasa dekat dengan Tuhan ketika indra manusiawi kita bersentuhan dengan alam yang indah dan mengesankan. Begitu pula kita tidak perlu merasa kaget bahwa bisikan dan kecenderungan untuk berbohong atau korupsi, misalnya, kita rasakan sebagai  bisikan setan yang menjauhjan kita dari sumber Kebenaran, yaitu Allah.

Itulah pentingnya keheningan batin: suatu yang makin sulit dan langka di jaman ini.  Kita perlu latihan memiliki hati yang kontemplatif dan kehendak yang kuat untuk menjadi muridNya di dunia ramai ini. Jangan sampai terjadi bahwa kita yang manja dan malas, yang tumpul nurani dan miskin stamina batinnya, lalu serta merta menunjuk Tuhan sebagai yang salah karena tidak memberi cukup tanda, kurang bimbingan, ajaran dst.

Dengan nada yang mungin agak keras, Yesus memperingatkan para pendengarnya bahwa hanya tanda Yunus yang akan diberikan. Selebihnya kita diandaikan bisa menggunakan indra batin, pikiran, hati nurani, kehendak dan alam rasa kita untuk mengenaliNya.

Jesus and the Rich

Jesus and the Rich

28th Sunday in Ordinary Time [B]
October 10, 2021
Mark 10:17-27

When the rich man begged for eternal life from Jesus, He mentioned the two most fundamental tenets of the Jewish religion: the ‘Shema’ and the Ten Commandments. Shema is the first Hebrew is ‘Hear O Israel, the Lord is God, the Lord alone…” [Deu 6:4]. Shema has become a basic prayer and creedal statement for the Jewish people since Jesus’ time. A good Jew will recite ‘Shema’ at least thrice a day. Jesus slightly modified Shema when He said, “…Only God alone is good.” Jesus also recited the Ten Commandments, at least the second half of it. Jesus emphasized the rich man’s obligations to do good and avoid harm to others.

Jesus seemed to tell the man that living the Shema and doing the Lord’s commandment was what he needed to do to gain eternal life. However, there was an intriguing twist in the story. The rich man said that he had done that since he was young. Now, instead of feeling satisfied with his accomplishment, he felt something remained missing. Despite doing what the Law required and believing in one true God, he did not find what he was honestly longing for. He expected Jesus to give him the answer, the missing link.

Jesus recognized the sincerity of the man and loved him. Jesus offered him the final piece that would solve his life’s puzzle: to follow Jesus. Yet, through His divine wisdom, Jesus was able also to identify one enormous obstacle to follow Jesus and gain eternal life. This man was attached to his wealth. Thus, the solution was to radically detach himself from the wealth, like ‘camel through an eye of a needle.

Is wealth evil? Not at all! Material possessions are good because this too is created by God and God’s blessing. St. Paul reminded us that evil is not the richness itself but the love of money [1 Tim 6:10]. Wealth is good if it serves as a means to an end and not the end itself. Jesus allowed Himself and His ministry to be supported by resourceful men and women.

To follow Jesus means using our wealth to serve God and help others, especially the poor. To follow Jesus means that we recognize that richness is God’s blessing to be shared. To follow Jesus is acknowledging that pursuit of earthly possessions without God is bound to lose God, the source of all wealth.

However, following Jesus and making our other priorities like money, fame, and success as means rather than the end is a radical choice. These earthly possessions often give us an instant pleasure and feeling of security. With a lot of money, we can do what we want and have what we desire. Yet, these pleasures and security are nothing but a mirage. In 2008, the financial crisis hit many countries hard, and many economies collapsed. Pope Emeritus Benedict XVI reminded us, “those who seek success, career or money are building on sand.” True, wealth without God is nothing but a ‘sand’.
We seek first the Kingdom of God, and the rest will follow. We follow Jesus first, and the other things will fall into place.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
photocredit: vince gx

Yesus dan Orang Kaya

Yesus dan Orang Kaya

Minggu Biasa ke-28 [B]
10 Oktober 2021
Markus 10:17-27

Ketika seorang kaya datang dan memohon untuk kehidupan kekal, Yesus menyebutkan dua prinsip paling mendasar dari agama Yahudi: ‘Shema’ dan Sepuluh Perintah Allah. Shema adalah kata Ibrani pertama dalam “Dengarlah, hai orang Israel, TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa…” [Ul 6:4]. Shema telah menjadi doa dasar dan pernyataan kredo bagi orang-orang Yahudi sejak zaman Yesus. Seorang Yahudi yang baik akan mendaraskan ‘Shema’ setidaknya tiga kali sehari. Yesus sedikit memodifikasi Shema ketika Dia berkata, “…Hanya Tuhan saja yang baik.” Yesus juga menyebutkan Sepuluh Perintah Allah, setidaknya paruh keduanya. Yesus menekankan kewajiban manusia untuk berbuat baik dan menghindari hal-hal jahat bagi sesama.

Yesus mengajarkan pria itu bahwa menjalankan Shema dan melakukan perintah Tuhan adalah apa yang perlu dia lakukan untuk mendapatkan hidup yang kekal. Namun, ada sebuah kejutan yang menarik dalam cerita ini. Orang kaya itu mengatakan bahwa dia telah melakukan hal-hal itu sejak dia masih muda. Sekarang, alih-alih merasa puas dengan pencapaiannya, dia merasa ada sesuatu yang hilang. Meskipun melakukan apa yang dituntut Hukum Allah dan percaya pada satu Tuhan Allah yang benar, pria itu tidak menemukan apa yang benar-benar ia rindukan. Dia berharap Yesus memberikan jawabannya, sebuah mata rantai yang hilang.

Yesus mengenali ketulusan pria itu dan mengasihinya. Yesus menawarkan kepadanya bagian terakhir yang akan memecahkan teka-teki hidupnya: mengikuti Yesus. Namun, Yesus juga tahu persis satu hambatan besar untuk mengikuti-Nya dan memperoleh hidup yang kekal. Orang ini terikat pada kekayaannya. Jadi, solusinya adalah secara radikal melepaskan diri dari kekayaan, seperti ‘unta melalui lubang jarum’.

Apakah kekayaan itu jahat? Sama sekali tidak! Harta benda adalah baik karena ini juga diciptakan oleh Tuhan dan berkat Tuhan. St Paulus mengingatkan kita bahwa yang jahat bukanlah kekayaan itu sendiri, tetapi cinta akan uang [1 Tim 6:10]. Kekayaan itu baik jika berfungsi sebagai sarana untuk mencapai tujuan, dan bukan tujuan akhir itu sendiri. Jika kita membaca Injil, kita juga akan melihat bagaimana Yesus mengizinkan diri-Nya dan pelayanan-Nya didukung oleh pria dan wanita yang kaya.

Mengikuti Yesus berarti menggunakan kekayaan kita untuk melayani Tuhan dan membantu orang lain terutama yang miskin. Mengikuti Yesus berarti kita menyadari bahwa kekayaan adalah berkat Tuhan. Mengikuti Yesus berarti mengakui bahwa mengejar harta benda duniawi tanpa Allah pasti akan kehilangan Allah, sumber segala kekayaan.

Namun, keputusan untuk mengikuti Yesus dan menjadikan prioritas kita yang lain seperti uang, ketenaran, dan kesuksesan sebagai sarana daripada tujuan adalah pilihan yang radikal. Harta duniawi ini sering memberi kita kesenangan dan perasaan aman instan. Dengan banyak uang, kita dapat melakukan apa yang kita inginkan, dan kita dapat memiliki apa yang kita mau. Namun, kesenangan dan keamanan ini hannyalah fatamorgana. Pada tahun 2008, krisis keuangan melanda banyak negara, dan banyak ekonomi runtuh. Paus Emeritus Benediktus XVI mengingatkan kita, “mereka yang hanya mencari kesuksesan, karier atau uang sedang membangun di atas pasir.” Benar, kekayaan tanpa Tuhan, tidak lain adalah ‘pasir’.

Kita mencari dahulu Kerajaan Allah, dan sisanya akan diberikan. Kita mengikuti Yesus terlebih dahulu, dan hal-hal lain akan mengikuti.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

MENJADI SAKSI KRISTUS

MENJADI SAKSI KRISTUS

Sabtu, 9 Oktober 2021

Lukas 11:27-28

            Yesus mengajak kepada murid-Nya untuk meraih dan mengalami kebahagiaan yang kekal. Artinya kebahagiaan yang tidak tergantung pada hal-hal yang fisik dan profan, melainkan kebahagiaan yang bersumber pada iman, yaitu relasi dengan Sang Sabda Allah, dan Sabda tersebut kini telah menjadi manusia. “Tetapi Ia berkata: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan memeliharanya.”(Luk 11:28). Ketika seseorang memiliki relasi yang dekat dengan Yesus Kristus ia akan menerima daya / kekuatan dan damai yang berasal dari yang Ilahi, sebab Dia adalah Putera Allah yang hidup.

            Dengan demikian Yesus mengajak para murid-Nya untuk tidak berhenti atau bahkan berfokus pada hal-hal yang tidak tahan lama, yaitu kesenangan-kesengan jasmani, namun mencari kebenaran Kerajaan Alllah, yaitu relasi dekat dengan Yesus Kristus. “Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu.”(Luk 12:31).  Kerajaan Allah sungguh nyata dan hidup di dalam diri mereka yang percaya akan kenyelengaraan Ilahi, dimana Allah selalu ada dan menyertai dan menuntun setiap langkah orang beriman.

            Mereka yang percaya kepada Tuhan, bisa digambarkan seperti  pelita yang selalu menyala memancarkan di dalam hidup yang konkrit; belas kasih Allah, sehingga kehadirannya membawa damai, harapan dan suka-cita yang sejati.  Sekalipun manusia memiliki banyak kelemahan, namun karena firman Allah yang dihidup di dalam dirinya, maka ia akan kuduskan, diperbaharui, dan akhirnya diperkenankan menjadi terang yang menjadi berkat bagi orang-orang yang ada disekitarnya. “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan.”(Efesus 5:8).

            Oleh karena itu, relasi dengan Yesus Kristus menjadikan firman-Nya akan senantiasa hidup di dalam dirinya, sehingga hidupnya bukan lagi memancarkan ego pribadinya sendiri, namun belas kasih Allah yang membahagiakan. Untuk sampai kesana, maka seseorang diajak untuk selalu setia menjalin relasi dengan-Nya setia hari.  Hanya dengan kesetiaan kepada Kristus, maka seseorang akan menjadi saksi Kristus di dunia. “Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.”(Kis 2:32).

Serawai, Rm. Didik, CM

Translate »